NovelToon NovelToon
Cygnus

Cygnus

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Action / Misteri / Romansa-Percintaan bebas / Sci-Fi
Popularitas:206.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: Ariya

Hai, nama ku Kyra. Aku sekarang ini bekerja di sebuah perusahaan yang berkecimpung dalam bidang teknologi. Aku memiliki cita-cita menjadi seorang Astronot. Sejak kecil aku suka dengan cerita mitologi Yunani.
Kali ini aku diberi kesempatan untuk membuktikan kualitas kinerjaku dengan cara diberi tugas menyelesaikan permasalahan di kantor cabang yang ada di Kanada. Aku menerima tawaran ini bukan sekedar membuktikan kualitas ku tapi berlibur.

Tak seperti ekspektasi ku, tak hanya bekerja dan berlibur tapi banyak sekali hal yang terjadi selama aku di Kanada....

Bahkan aku juga mendapat teror selama 5 tahun terakhir di liburanku ini. Siapakah pelaku teror yang tak lelah mengejarku bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun🙀

Aku butuh kalian untuk selalu mendukungku, memberi support dan semangat lewat jejak kalian 🥰

~ Happy reading ^_^

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Membuat Gosip Baru

Kian bergegas menjalankan mobilnya menuju kantor berita sesuai rencana pagi ini. Aku pergi bersama Kian setelah menjenguk Ray sementara Davin kembali ke kantor karena ada rapat bersama investor yang tidak dapat dihindari. Kondisi Ray tidak jauh beda dengan kemarin, dia masih berbaring lemah seperti orang mati di atas kasur.

Perusahaan media ZA, kantor berita yang kami tuju. Perusahaan ini cukup terkenal, setiap berita yang mereka keluarkan akan menjadi pusat perhatian publik, popularitasnya bersaing dengan perusahaan milik keluarga wali kota. Tak ku sangka ternyata perusahaan media sehebat itu memiliki hubungan baik dengan perusahaan Kian. Kian pasti memiliki hubungan dekat dengan pemilik perusahaan itu.

"Ada apa?" tanya Kian. Dia melihatku bingung ketika keluar dari mobil. Aku menatap gedung yang menjulang tinggi itu dengan tidak percaya diri.

Aku memantapkan hatiku, "tidak ada." Aku tersenyum menutupi luka di hatiku.

Kian menawarkan lengannya padaku. Aku menatap lengan itu dengan tatapan kosong. Aku terdiam menatap lengan itu, dalam benakku alangkah senangnya jika orang itu adalah Felix. Aku segera tersadar dari lamunanku dan meraih lengan Kian. Aku harus berakting dengan sempurna agar semua orang yang melihat percaya bahwa aku dan Kian bertunangan.

Aku memasuki lobi kantor media itu dengan menggandeng lengan Kian. Semua orang yang ada di lobi itu mengenal Kian. Tanpa basa-basi kami dibawa menuju ruangan CEO perusahaan itu. Aku dan Kian menunggu di suatu ruangan yang terhubung dengan ruangan CEO, menunggu CEO perusaahan yang sedang rapat kecil bersama karyawannya.

"Sepertinya semua orang di sini sudah mengenalmu," ucapku. Aku mencoba meredakan perasaan gelisah.

"Siapa yang tidak mengenal CEO jenius dari perusahaan X?" Kian membanggakan dirinya. Dia berlagak meminta pujian.

Aku tersenyum tipis, "sepertinya aku harus menarik pertanyaanku barusan."

Kian terkekeh kecil, "hahaha. Aku sering mondar-mandir di perusahaan ini begitupun sebaliknya. CEO perusahaan ZA juga sering mondar-mandir di perusahaan ku."

"Kalian memiliki kerjasama dalam jangka panjang?" tanyaku.

Kian tersenyum tipis, sepertinya dia senang melihatku banyak bertanya.

"Kami memang saling mengenal. Kami sahabatan," ucap Kian kalem.

Aku cukup terkejut mendengar ucapan Kian. Mereka sahabatan, ternyata orang yang berada di lingkup kehidupan Kian semuanya orang hebat, kecuali aku. Menyadari kenyataan itu membuatku sedikit minder untuk melanjutkan rencana ini. Apa yang akan publik pikirkan ketika melihat berita mengenai pertunangan orang sehebat Kian dengan orang biasa sepertiku? Tiba-tiba aku menciut.

Kian mengusap kepalaku, "santai saja," ucapnya. Sepertinya dia mengetahui kegusaranku ketika melihat wajahku sedikit murung.

Pintu ruangan terbuka, seorang pria seusia Kian memasuki ruangan. Dia memiliki postur tubuh yang bagus dibalut dengan setelan jas rapi. Rambutnya juga tertata rapi. Bahkan senyumnya pun menawan. Ku ingat kembali ternyata aku sudah pernah bertemu dengannya. Dia Brian, penerus keluarga Scwadel yang diperkenalkan Kian sewaktu pesta ulang tahun.

"Lama tidak bertemu," ucap Kian menyambut kedatangan pria itu.

"Sekarang kamu terkena penyakit lupa? Kita baru saja bertemu kemarin lusa," ucap Brian. Brian melirik ke arahku, aku diam saja.

"Tak kusangka kamu membawa seorang wanita yang sedang diburu massa." Brian melirikku. Aku menarik lengan Kian.

"Aku ke sini ingin meminta bantuanmu," ucap Kian. Brian duduk di kursi yang ada di depan Kian.

"Kamu ingin aku melakukan apa?" tanya Brian santai.

"Buatkan berita panas. Kamu pasti sudah tau mengenai gosip mengenai wanita ini. Kamu juga sempat berkenalan dengan dia saat pesta kemarin. Dia adalah adikku, aku ingin membuat berita bahwa kami bertunangan. Aku ingin kamu mengekspos berita mengenai kami. Kamu pasti mengerti ucapanku," ujar Kian.

Pria itu menatap Kian tak percaya, "dia tunanganmu? Sejak kapan kamu memilki tunangan? Apa yang akan dikatakan publik?"

Kian menghembuskan nafas, "dia adalah wanita yang sedang menjadi pembicaraan panas dari kemarin bukankah perusahaanmu akan menarik perhatian jika meliput berita tentangnya."

"Lalu apa yang harus aku angkat? Kamu memiliki tunangan, selama ini nggak ada kabar kamu memiliki kekasih, bahkan tunanganmu adalah dia?" Pria itu terlihat kesal.

"Apa yang harus ku lakukan jika ada pihak yang menuntut dan mengatakan bahwa beritaku tidak benar?" Brian menghela nafas.

Aku menatap Brian dengan tenang, "Tuan, berita mana yang akan lebih menarik perhatian publik, berita mengenai pasangan yang sudah dikabarkan sejak lama atau pasangan baru yang tak pernah terpikirkan sama sekali?"

Brian terlihat berpikir sebentar, Kian melirikku. Aku menatap Kian dengan tegas.

"Jika perusahaan Anda mengeluarkan berita yang tak terduga terlebih lagi berkaitan dengan topik yang sedang memanas, berita itu akan menjadi sorotan," ucapku tegas.

"Saya tau perusahaan Anda bersaing dengan perusahaan keluarga wali kota. Kami menawarkan berita yang akan membuat Anda tidak kalah saing tapi sepetinya Anda menolak." Aku berakting seakan menyayangkan sebuah kesempatan.

Aku menarik lengan Kian, "kita cari perusahaan lain saja. Sepertinya perusahaan ini lebih suka menyia-nyiakan umpan, tidak berminat memancing ikan." Tentu saja bukan memancing ikan beneran melainkan memancing sensasi dengan memakai berita panas sebagai umpan.

Kian menatapku, "baiklah. Kita pergi."

Kian hendak berdiri tapi dihentikan oleh Brian.

"Tunggu. Aku akan mengeluarkan berita itu." Brian mencegah kami pergi.

Kian melirik ke arahku, aku menatap Brian.

"Kalau begitu kita wawancara hari ini," ucapku tegas.

Brian kaget, "hari ini? Tidak bisa. Kami sudah ada jadwal sendiri," tolaknya.

"Anda lebih mementingkan jadwal biasa dari pada permintaan sahabat sekaligus relasi bisnis. Kalau begitu tidak usah liput." Aku mengalihkan tatapanku.

"Ck, aku akan meliput berita kalian hari ini," ucap Brian. Dia menggaruk belakang kepalanya. Dia terlihat sangat kesal. Aku tertawa dalam hati.

Kian melirikku, dia seakan ingin tertawa melihat tingkahku.

***

Setelah kesepakatan diantara aku, Kian, dan Brian jelas kami langsung melakukan wawancara. Aku dan Kian membuat skenario dan berakting seakan kami bertunangan sungguhan. Aku dan Kian bahkan berakting mesra di depan kamera untuk dijadikan bukti. Kami menaruh harapan gosip yang kami buat akan menenggelamkan gosip mengenai diriku yang merebut tunangan orang lain. Setiap memikirkan gosip itu hatiku terasa sakit karena teringat Felix.

Kain mengantarku ke rumah sakit setelah wawancara selesai.

"Ky, ada yang mau aku tanyakan," ucap Kian di dalam mobil saat perjalanan menuju rumah sakit.

"Hm?" Aku menoleh ke arah Kian.

"Waktu di rumah sakit kamu memintaku untuk menjauh darimu. Kenapa?" tanya Kian. Dia masih fokus menghadap depan. Aku menelan ludah tak tau harus menjawab apa.

"Kamu juga bilang kalau Ray seperti itu karena mu. Sebenarnya ada apa?" Kian melirikku.

Aku gugup harus menjawab apa. Tanganku bergetar.

"Kalau kamu tidak mampu menjawab sekarang tidak apa. Tapi aku berharap kamu akan mengatakannya padaku saat kamu sudah siap mengatakannya," ucap Kian. Dia sadar dengan tanganku yang bergetar.

"A.... Aku diteror," ucapku. Suaraku bergetar seakan hendak menangis.

Kian menepikan mobilnya segera dan menatapku kaget, "apa? Kamu diteror?"

Air mataku menetes. Perasaan bersalah pada Ray kembali memenuhi lubuk hatiku. Kian memegang pundakku, menarik tubuhku menghadap dirinya. Kian menatapku, aku menatap Kian dengan ketakutan.

Ponselku bergetar, mengalihkan perhatian kami.

1
Leya channel
udah mampir ya thor..
klo diliat sekilas, pemilihan kata2nya cukup baik. semoga didalamnya banyak ilmu baru yg bermanfaat.. 😘
❖ƬʜᴇLeͥadͣeͫrᴳᵒᵈ
Hallo
✈전Arynn: aamiin tysm 😍🥰🥰
total 5 replies
ANAA K
Semangat yah thor🙏🏿 jangan lupa mampir yah😉🙏🏿
ANAA K
Semangat selalu yah thor
ANAA K
Semangat upnya thor.. aku mendukungmu. Jangan lupa mampir kembali yah thor.👍🏾
ANAA K
Mantap thor. Membuatku penasaran
ANAA K
Waah keren thor
ANAA K
Semangat thor
R_armylove ❤❤❤❤
like ❤❤❤❤
R_armylove ❤❤❤❤
selalu mampir kesini
R_armylove ❤❤❤❤
jejak
R_armylove ❤❤❤❤
3 like mendarat.. plus rate bintang 5
R_armylove ❤❤❤❤
aku mampir lagi
Lidia Tikla
belum up up ya??
R_armylove ❤❤❤❤
aku mampir lagi ❤️
R_armylove ❤❤❤❤
balik lagi aku ka...
mampir bawa 3 like ya ❤️❤️❤️❤️
Nissa sakhi.
semangat kak.
Aerik_chan
Lanjut kak...ceritanya seru...

Boleh intip "Pengantin Pengganti"
R_armylove ❤❤❤❤
semangat selalu
R_armylove ❤❤❤❤
Hay...kau balik lagi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!