Seberkas Cinta dari perjodohan, apakah ada?
Davina gadis berumur 25 tahun, mencoba ikhlas akan perjodohan yang dilayangkan oleh sang Ayah yang sedang berjuang melawan penyakit Kankernya.
Hati anak mana yang tidak sakit. Melihat sang Ayah berjuang untuk bertahan hidup. Di selah rasa kuatir sang Ayah akan dirinya, bila mana suatu saat nanti, selamanya menghilang dari dunia, tanpa ada sosok pria pengganti dirinya untuk sang putri.
Jadilah Albert nama sang Ayah, menjodohkan putri semata wayangnya Davina dengan cucu sahabat kakeknya Davina.
"Aku harus ikhlas, mungkin Rasyid bukan jodohku. Apakah kelak, ada seberkas cinta dari perjodohan ini? Mari kita coba." Davina duduk di koridor rumah sakit sambil mengusap air matanya.
.
Jangan lupa follow IG saya, @putritritrii_
Tolong jadi pembaca yang aktif
Tolong berikan dukungan kalian. Terima kasih ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putritritrii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB34 : SAKIT
Keesokan paginya saat lelaki dengan julukan si plin plan itu terbangun dari tidurnya, ia merasakan suasana berbeda dengan bau khas rumah sakit masuk ke indera penciumannya. Dave perlahan mengangkat wajahnya dan mendapati Ecca.
"Good morning, Dave," sapa Ecca dengan suara lemah.
Dave tersenyum dan mengusap wajahnya.
"Pagi, Ca. Bagaimana kabarmu?" tanya Dave dengan suara khas bangun tidur.
"Sudah sangat mendingan, Dave. Ada kamu di sini membuatku nyaman dan tenang. Aku senang kamu mau menamaniku di sini." Dave tersenyum, saat ia mengingat kalau dia bermalam di rumah sakit, senyumannya menyurut. Ya, Dave mengingat Davina sendiri di rumah mereka.
"Kenapa Dave?" tanya Ecca.
Dave terkesiap. Refleks kepalanya menggelang.
"Tidak apa-apa," balasnya. Senyuman tipis nyaris tak terlihat di bibirnya. Namun, kepalanya terisi dengan wajah Davina semalaman.
"Sial! aku benar-benar melupakan Davina!" umpatnya dalam hati. Nada dering ponsel Dave berbunyi hingga mengagetkannya. Dave menduga kalau itu panggilan dari Davina. Buru-buru tangannya mengambil benda pipih tersebut dari saku celana.
"Oma?" gumamnya.
"Omamu tahu kau di sini, Dave?"
"Tunggulah sebentar." Dave beranjak dari duduknya, lalu membawa kedua kakinya berjalan menuju pintu keluar. Sampai di luar, langsung saja ia menyentuh tombol terima dari ponselnya.
"Ya Oma," jawab Dave dengan menahan rasa takutnya.
"Apakah senang sudah membuat istrimu menangis?"
"Maksud Oma?"
"Jangan pura-pura bodoh, Dave! kau pikir Oma tidak tahu kau sedang di mana? Tega sekali kau meninggalkan Davina sendirian di kala hujan deras dan listrik juga padam, kau pikir enak!" sergah Oma Alexa.
"Listrik padam?" gumamnya pelan.
"Ya! Setelah kau pergi, pertir menerjang hingga memadamkan aliran listrik di rumah kalian. Sedangkan kau enak-enakan di rumah sakit sana. Jangan membuat Davina di nomor dua kan. Ingat, di istrimu Dave. Ecca cuma masa lalumu, dan nggak akan pernah menggantikan posisi Davina di keluarga kita. Jika kau masih mau mempertahankan rumah tanggamu, perbaiki keadaan. Selama ini Oma diam bukan berarti di sini aku tak tahu dengan segala ulahmu. Kau yang meminta Oma tak ikut campur dengan rumah tanggamu, setelah Oma mengikuti kemauanmu, kau abaikan Davina! Jika sampai terjadi sesuatu dengan Davina, kau yang harus bertanggung jawab, Dave."
"Oma! masalahnya genting. Ecca nggak punya keluarga di sini. Sama siapa dia meminta tolong terkecuali dengan Dave, Oma?"
"Dia bukan siapa-siapamu! kau ingat posisimu. Pulang sekarang, atau jangan sampai aku mengirimkan orangku untuk menyeretmu dari situ!" ketus Oma Alexa, kemudian mengakhiri sambungan dari panggilannya.
Dave membuang kasar napasnya. Dia benar-benar merasa bingung dengan keadaannya.
"Aku serba salah," ucapnya.
Kembali ke dalam kamar, Dave mlihat Ecca sedang menyisir rambutnya dengan bersusah payah. Karena keadaan yang masih lemas, akibat maag yang menyerangnya semalaman, nembuat dirinya merasa lemas.
"Sini aku bantu." Dave mengambil alih sisir dari genggaman tangan Ecca perlahan ia menyisir rambut Ecca. Senyuman mengembang di bibir wanita didepannya. Ia tahu, kalau Dave masih mencintainya.
"Ca ...." panggil Dave.
"Heemmm ...."
"Selesai ini aku pamit pulang."
Semburat kekecewaan terlukis di wajah Ecca, senyuman tadi hilang tah ke mana.
"Apakah kau di ancam Omamu?"
"Lebih tepatnya, Oma tahu aku di sini. Davina sendirian, Ca. Aku sudah mengecewakannya."
"Tapu kau mengecewakan aku, Dave." Ecca berbalik menatap sendu dan tak terima ke arah Dave.
"Tolong pahami posisiku, Ca. Aku sudah punya istri yang juga harus aku lindungi dengan kedua tanganku." Dave mencakup pundak Ecca.
"Tapi kau tidak mencintainya, Dave!" serunya.
Dave terdiam.
"Kau masih mencintaiku, Dave. Aku yakin dan karena itu kau ada di sini bersamaku," ucap Ecca dengan lirih.
"Aku sendiri juga gak pahan sama perasaanku, Ca. Di satu sisi, aku tak mau kehilangan Davina. Jadi aku mohon, pahami posisiku. Aku gak mau Oma melakukan macam-macak ke kamu, kalau dia benar-benar murka." Dave menjambak rambutnya sendiri.
"Baiklah ... kali ini aku akan mengalah. Pergilah ...." Ecca memunggungi Dave. Air matanya hampir saja tumpah. Semakin ia kehilangan Dave, semakin besar perasaannya untuk Dave. Ecca takut, selama ini hanya Dave yang menemaninya meskipun di awal Ecca cuma mengiginkan hartanya. Lambat laun, ia paham akan perasaannya setelah kehilangan Dave.
"Aku pergi, Ca. Aku akan meminta pihak rumah sakit, untuk memperhatikanmu selama kau di sini." Dave bergumam lirih. Rasa pedihnya akan keadaan Ecca membuat kepalanya pusing.
***
Dengan tubuh yang berat, Davina tiba di rumah sakit. Ia merasakan sekujur tubuhnya dingin. Entahlah, efek mandi hujan kemarin mungkin ia rasakan. Apa lagi ia tertidur di atas lantai marmer yang dingin saat menunggu kepulangan Dave yang tak kunjung terlihat hingga ia terbangun.
"Lo sakit, Vin?" Aldi yang disampinya memperhatikan wajah pucat di wajah Davina.
"Sepertinya, Al. Gue menggil," ucap Davina. Ia merasa dingin dengan hidup tersumbat.
"Lo kena hujan semalam? nggak di jemput ya sama suami, lo?" Dinda pun ikut menimpali. Kedua kakinya berjalan mendekat ke arah Davina.
"Lo panas, Vin." Aldi terjingkat kaget saat punggung tangannya menyentuh dahi Davina. Dinda juga nggak kalah kaget, saat ia juga memeriksa dengan punggung tangannya.
"Gue baik-baik aja, cuma kelelahan teman-teman."
"Apaan yang baik-baik aja. Lo panasnya tinggi, Vin. Mana lo menggigil, kenapa sih lo masuk kantor, kalau lo kurang sehat begini?" Aldi sibuk sendiri.
"Lo ada bawa obat peredah panas, nggak?" tanya Dinda.
"Gue nggak punya, Din."
"Ada apa dengan Davina?" tanya Rasyid tiba-tiba.
Aldi dan Dinda sama-sama menoleh ke belakang.
"Bukan urusan lo! urusi aja calon istri, lo!" ketus Dinda.
"Tolong jangan kasar, Din. Gue kan cuma nanya, siapa tahu bisa membantu."
"Masalahnya, lo di sini yang ada membuat tubuh Davina semakin pasa, Syid. Sudalah, biar kami yang urus." Aldi menimpali.
"Gue bawa ke rumah sakit yuk, Vin," ajak Aldi.
"Duh ... mak lampir satu lagi datang tuh," sindir Dinda.
"Lo kenapa, Vin?" Savira ikut khawatir.
"Kalian kenapa sih, gue nggak apa-apa. Jangan ribut, rasanya kepala gue mau pecah." Davina yang sedang merebahkan kepalanya di atas meja kembali terangkat saat ia mendapati sahabat-sahabatnya pada ribut.
"Ke rumah sakit aja yuk, Vin." Savira membujuk.
"Sok baik!" gerutu Dinda pelan.
"Tidak perlu. Aku mau ke toilet." Davina berusaha menghindar, bangkit dari duduknya ia melewati semuanya.
"Gue temani, Vin." Davina menolak kebaikan Dinda. Ia pengen sendiri saat itu. Dengan wajah pucat dan kepala yang sakit, Davina mencoba biasa. Meskipun ia merasakan pandangannya mulai kabur hingga gelap.
Brrruuuugggg ...
Tubuh Davina ambruk di dalam pelukan seseorang yang baru saja tiba dengan raut wajah kekhawatiran. Seluruh sahabatnya sempat berteriak sebelum tangan pria itu menopang tubuh Davina dengan sigap.
"Kau membuatku khawatir."
Bersambung.
Maaf, ini nggak update tiap hari. Dan kedepannya juga agak lama. Jadi, jangan tanya² saya lagi kapan update ya, kakak. Kalau ada waktu luang bakalan update. Mohon maaf sebelumnya.
kirain bener Dave mulai menyukai Davina 🤔🤔🤔🤔