Arkhenia bukanlah tempat yang nyaman, namun mau tak mau kita harus memperjuangkan apa yang harusnya kita miliki.
Eurashia, salah satu benua terbesar di Arkhenia, terpecah menjadi dua akibat perang yang sudah berjalan ratusan tahun. Respher, benua yang dipenuhi ras murni seperti penyihir, elf, peri dan makhluk spiritual lainnya. Ceshier, benua yang dikuasai oleh demi human dan beberapa ras lain yang dianggap 'cacat' bagi para makhluk spiritual.
Mungkin dari luar, Respher dan Ceshier adalah langit dan bumi dengan Respher sebagai panutan bagi benua lain karena dianggap suci, namun apa benar kenyataannya seperti itu?
Saciel Arakawa, penyihir terbaik di Careol dan juga pahlawan perang, muak dengan kondisi perang yang terjadi dan ingin mengakhirinya. Hingga takdir mempertemukannya dangan Kezia Ata Lafoia, sang putri dari Ceshier yang terdampar di wilayahnya.
Rintangan dan cobaan terus menghalanginya hingga pada titik tertentu. Apakah ia mampu mengembalikan perdamaian di Eurashia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saciel Arakawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alkimia
Saciel merengut di bawah pohon sembari menekuk kedua kakinya dan memeluknya seerat mungkin. Phillip nyaris ingin mencakar wajah cantiknya karena alasan konyol yang ia lontarkan saat adu mulut dengan Rubedo, beruntung Nero dan Kezia menghentikannya. Max hanya menyeringai.
“Dikira membuat benda itu mudah, heh? Bodoh juga kau penyihir merah,” sindir Max. Yang disindir semakin mengkerut dan berbalik memunggunginya.
“Jangan nambah minyak pada api, Max. Kau hanya akan memperburuk suasana hatinya,” tegur Nero. “Kurasa wajar dia berpikir benda itu bisa dengan mudah dibuat karena alkimia juga bisa dibilang nyaris seperti sihir. Daripada itu, kita bisa melakukan hal lain selain merengut karena kalah debat.”
“Kalian sama saja, bodoh,” maki Phillip sembari mendekati Saciel dan menyodorkan sebuah kertas.
“Kau ingin aku melakukan apa dengan kertas ini?” tanya Saciel sembari mengambil benda itu dan menggoyangkannya di depan mata Phillip.
“Belajarlah mengendalikan manamu lagi. Kau masih belum pulih seutuhnya,” balas Phillip kalem. Saciel menatap kertas tersebut dengan lempeng, lalu perlahan kertas tersebut berubah menjadi puluhan kupu-kupu kertas yang terbang mengitari Kezia.
“Heh, kau pikir aku selemah itu?” ejek Saciel, menikmati Kezia yang bermain sambil tertawa bahagia bersama kupu-kupu kertasnya.
“Kau kan kadang jadi bodoh setelah sakit, makanya aku melatihmu dari awal. Tapi baguslah kalau sudah kembali normal. Nah, sekarang kau main saja dan tenangkan pikiranmu. Kalau terjadi apa-apa denganmu, bisa-bisa arwah mendiang duke dan duchess bakal menghantuiku,” balas Phillip.
“Cih, emangnya hantu ada?”
“Ada,” balas para demi human tenang. Saciel berpaling dengan tatapan horor, membuat keinginan jahil Max mencuat.
“Kenapa, kau takut?” ejeknya santai.
“Tidak,” jawab Saciel cepat, meski ia tidak bisa menutupi wajahnya yang mulai pucat. Seringainya makin melebar ketika Saciel berpaling darinya dan kabur secepat mungkin. Kezia berlari kecil, namun langsung berhenti ketika tangan Nero menarik kerah bajunya.
“Lepas!” sahutnya sembari memberontak untuk membebaskan diri, namun cekalan Nero semakin kuat hingga membuatnya sesak. “Kak, lepas.”
“Tidak perlu mengejarnya, oke? Dia akan segera kembali,” ujar Nero sembari melepaskannya dan mengelus puncak kepala Sky. Tepat apa yang dikatakan Nero, Saciel kembali dengan beberapa tangkai bunga chocolate cosmos di tangannya, membuat Phillip sedikit penasaran dari mana gadis itu mendapatkannya.
“Ada padang bunga tersembunyi sekitar lima puluh meter dari sini,” celetuk Saciel sembari memberikan bunganya ke setiap orang. Phillip menatap lekat-lekat bunga di genggamannya dengan tatapan menerawang, ada sedikit kerinduan akan masa lalu yang ia jalani bersama si kembar. Ia berkedip dan mengawetkannya dengan sihir, lalu menyimpannya di saku.
“Aromanya enak, seperti coklat,” ujar Kezia sembari menyesap aroma chocolate cosmos yang ia pegang. “Kak, ini bisa dimakan?”
“Kau ini lapar, hah?” tanya Max.
“Ehehehe, iya.”
“Perasaan baru sejam kau makan sudah lapar lagi?” Phillip membeo. Kezia memeluk pinggang Max dan memasang ekspresi anak anjing imut dengan mata bulat berbinarnya, membuat Max nyaris lepas kendali jika ia tidak diberi kode oleh sepupunya berupa batuk sekali.
“Tidak, Kezia. Kau tidak boleh makan lagi,” tolak Max. Kezia mulai merajuk, menarik-narik pakaian Max dengan rengekan dan isakan kecil yang meluncur dari bibir kecilnya hingga membuat Phillip sedikit iba padanya, namun Nero menggelengkan kepala agar tidak memanjakannya. Saciel mengulurkan tangannya pada Kezia dengan tatapan lembut hingga membuat Max sempat terkejut melihatnya.
“Ayo kita berkeliling kota untuk beli cemilan. Kudengar di sini banyak makanan enak yang bisa kita coba,” ajaknya.
“Hei, bukankah sudah kubilang dia tidak boleh makan lagi? Kau ini tuli apa?” sahut Max ketus.
“Memang apa salahnya dia makan lagi? Dia juga masih anak-anak, wajar kalau makan banyak,” balas Saciel heran. “Kau ini beneran kakaknya bukan, sih?”
“Dia itu…” kalimatnya terputus ketika tepukan pelan di bahu menghentikannya. Max menoleh dan melihat Nero menggelengkan kepala samar. Ia menghela napas pelan dan menatap Saciel lekat-lekat dengan penuh keyakinan.
“Aku kakaknya dan aku tahu apa yang terbaik untuknya. Daripada membelikannya jajanan, kenapa tidak membeli buah saja? Bukankah itu lebih baik dibandingkan makanan berkalori dan bertepung?” balasnya tenang. Nero nyaris bersiul mendengarnya, tidak menyangka Max akan mengatakan hal bijak di hadapan gadis muda yang pernah menjadi musuhnya di medan perang. Saciel berpikir sejenak, memikirkan alasan Max yang dirasa masuk akal. Kesehatan Kezia memang prioritas, jadi wajar kalau kakaknya cukup keras dalam urusan dietnya. Phillip mengulum senyum tipis dan maju untuk mendinginkan suasana.
“Bagaimana kalau kita coba salad buah saja? Kudengar ada kedai salad tak jauh dari sini,” tawar Phillip. Nero dan Max berpandangan, lalu mengangguk. Lain halnya dengan Kezia yang memasang ekspresi tidak suka.
“Tidak suka buah dan sayur,” keluhnya.
“Bocah ini emang mau dihukum ya?” bisik Max.
“Kezia, kalau kau tidak mau salad, kau tidak boleh jajan lainnya,” tegur Nero tenang, namun aura dingin nan menyakitkan menguar darinya. Kezia langsung ciut dan bersembunyi di balik punggung Phillip yang mencoba menenangkan Nero sebelum terjadi perang dingin yang lebih merepotkan.
“Sudah, sudah. Semakin lama kita menghabiskan waktu untuk bertengkar, hanya akan membuang energi kita. Ayo pergi,” lerai Phillip. Saciel tertawa sinis.
“Heh, rasakan.”
“Diam kau, bocah,” desis Phillip dengan tatapan tajam mengarah padanya. Saciel langsung tutup mulut dan berjalan cepat menuju alun-alun Archolen yang dipenuhi banyak kedai, bar dan penginapan. Beragam ras terlihat berlalu lalang sembari menikmati camilan yang tersedia, tidak sedikit yang asyik menonton para pandai besi tengah menantang diri di depan bara api yang melelehkan besi untuk senjata.
“Kak Saciel, apa mereka juga termasuk alkemis?” tanya Kezia sembari menunjuk salah satu pandai besi yang sibuk.
“Tidak semua, Kezia. Kebanyakan alkemis lebih suka bereksperimen di tempat tertutup dan jauh dari kerumunan. Kalau kau ingin melihat alkemis di sini, kau harus lihat di sebelah sana,” jawab Saciel sembari menunjuk sebuah kedai sederhana dengan seorang wanita muda berpakaian urakan yang tengah sibuk membaca buku di tangan kirinya.
“Dia alkemis?” tanya Nero heran.
“Berbeda dari bayanganku,” beo Max. Saciel mengulum senyum dan membawa mereka mendekati wanita itu. Sang alkemis langsung melirik dan menutup bukunya dengan kasar.
“Ada yang kau inginkan, penyihir?” tanyanya ketus.
“Buatkan sebatang emas murni seberat 100 gram,” ujar Saciel tenang, sama sekali tidak terusik akan tingkah si alkemis yang menurut mereka sudah termasuk kurang ajar. Dia memutar bola matanya dan berdiri, mengambil beberapa bahan yang ada di etalase seperti rumput, pasir dan air bening.
“Apa itu bahannya?” tanya Max.
“Entahlah. Alkimia adalah hal tersulit untuk dipahami, bahkan untuk diriku sendiri,” balas Saciel sembari memainkan salah satu hiasan yang ada di meja.
“Kau tidak akan bisa menggantikan miniatur naga itu, penyihir. Sebaiknya jauhkan benda itu dari tanganmu,” ancam si alkemis dingin. Saciel mengangkat benda itu tinggi-tinggi dan menyeringai, lalu meletakkannya di tempat semula dan berbisik di telinga Phillip. Para demi human malah terlalu larut pada keterampilan sang alkemis yang memasukkan semua bahan ke dalam kuali berisi air dan mengaduknya beberapa kali hingga air di dalam menyusut dan menampilkan sebatang emas yang berada di dasar kuali.
“Bagaimana bisa?” tanya Nero kagum.
“Ilmu alkimia bukan sesuatu yang mudah dipahami, bahkan untukku sendiri. Nih, barangmu sudah jadi,” balasnya sembari meletakkan emas tadi di meja.
“Timbangan,” ujar Saciel dingin, kini mulai menunjukkan taringnya setelah kesal diperlakukan tidak sopan. Sang alkemis mendelik, lalu menarik keluar timbangan dan meletakkan emas tersebut hingga jarum menunjukkan angka 100, sesuai dengan permintaan Saciel. Penyihir itu menarik cek dan menulis, lalu memberikannya pada alkemis tersebut.
“Kau memberikan nolnya terlalu banyak, penyihir,” celetuk si alkemis.
“Anggap saja bayaran karena sudah menghibur tamuku,” balas Saciel sembari mengambil emas tersebut dan berjalan meninggalkan tempat itu dengan seringai jahil, membuat si alkemis nyaris merobek cek karena kesal sudah dipermainkan olehnya. Saciel melepas tawa setelah cukup jauh dari si alkemis dan memberikan emas tadi pada Kezia.
“Apa yang lucu?” tanya Max dengan kening berkerut.
“Kau penasaran?” sindir Saciel.
“Max, sudahlah. Kau hanya akan terpancing ke dalam keisengannya,” celetuk Nero. Saciel mengulum senyum puas.
“Kurasa sepupumu lebih pintar daripada kau, eh?”
“Jangan buat aku ke sana dan menjambakmu, penyihir merah,” ancam Nero dengan tatapan dingin. Saciel menurunkan ujung bibirnya hingga membentuk garis lurus. Phillip hanya bisa menghela napas dengan tingkah mereka, sementara ia menghibur dan mengawasi Kezia agar tidak terpisah dengan rombongan mereka. Meski Sky bersamanya, terkadang ia bisa bertingkah kekanakan demi menghibur sang demi human yang sangat dekat setelah tuannya. Max mengambil emas di tangan Kezia dan menggoyangkannya.
“Penyihir, apa benda ini asli?” tanya Max.
“Kau bisa bertanya pada pandai besi untuk memastikannya. Jika kau masih tidak percaya, bawa saja ke tempatmu dan tanyakan pada pandai besi kepercayaanmu untuk memvalidasi keasliannya,” jawab Saciel. Max membawa benda itu ke salah satu pandai besi terdekat, berbincang sejenak dan kembali dengan wajah datar.
“Asli.”
“Baguslah, berarti alkemis itu tidak bohong,” ujar Saciel lembut. Mereka kini tiba di depan kedai salad yang dibahas Phillip, namun keinginan mereka musnah ketika suara berat khas milik Sara memanggil mereka.
“Kalian! Ayah memanggil kalian untuk kembali!”
salam dari Carlos'Revenge
Salam dari novelku : "Cinta Tulus Viola" bila berkenan, mampir ya kak.. hehe ditunggu😅
jangan inget mampir yuk dinovelku judulnya
AKU HARUS BAIK
AKU HARUS JAHAT
Kutunggu upnya lagi
Jangan lupa Jaga kesehatan thor
Salam dari
-Cinta Terlarang
-Mencintai Pelayanku
Kutunggu upnya lagi
Jangan lupa jaga kesehatan thor
Salam dari
-Cinta Terlarang
-Mencintai Pelayanku