Yumna tiba-tiba saja diculik oleh seseorang yang ternyata adalah kakak dari sahabat baiknya sendiri. Yumna lantas dikurung di villa milik Zayn, kakak dari sahabat baik Yumna, Zunia, yang baru saja meninggal karena sebuah kecelakaan mobil. Dan kenyataan bahwa ternyata Zayn sudah resmi menikahi Yumna membuat Yumna sangat syok.
Apa yang sebenarnya sudah terjadi? Kenapa Zayn ( kakak Zunia ) sampai menculik dan mengurung Yumna, bahkan sampai menikahi Yumna secara paksa? Dan ada rahasia apa sebenarnya dibalik kecelakaan yang sudah menewaskan Zunia itu?
Bahkan rahasia dari identitas Yumna yang sesungguhnya pun akhirnya diungkap secara mengejutkan oleh Zayn. Bagaimana Yumna menjalani takdir hidupnya yang tiba-tiba berubah drastis ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iin Nuryati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Ziarah Bersama
Susah payah Yumna membujuk Zayn agar Zayn bersedia untuk kembali tidur dan beristirahat. Yumna juga mengajak Zayn untuk berziarah ke makam Zunia pagi hari nanti bersama-sama. Baru setelah itu Zayn pun akhirnya mau untuk mencoba kembali melanjutkan tidurnya lagi.
Pagi harinya.
Setelah sholat subuh, Zayn langsung menghubungi nomor telepon Dennis.
📞 : Halo, Zayn. Ada apa pagi-pagi gini Lo telepon gue?
📞 : Den, Lo nanti langsung berangkat ke kantor aja, nggak usah jemput gue.
📞 : Loh, emangnya Lo mau ke mana dulu?
📞 : Gue sama Yumna mau ziarah ke makam Zunia dulu. Biar nanti dianter sama Antok aja.
📞 : Oh, oke deh kalau gitu.
📞 : Tolong Lo handle dulu semua urusan di kantor sebelum gue datang.
📞 : Siap, beres Bos.
🌿🌿🌿
Sesuai dengan kesepakatan mereka berdua semalam, pagi ini Zayn dan Yumna akan berziarah ke makam Zunia bersama-sama. Selesai sarapan pagi bersama, Zayn dan Yumna pun kemudian berangkat menuju ke pemakaman dengan diantar oleh Antok, pengawal yang merangkap sebagai sopir di villa milik Zayn tersebut.
"Nanti kita mampir beli bunga lily putih dulu ya, Kak. Itu bunga kesukaannya Nia," kata Yumna ketika mobil yang dikendarai oleh Antok itu sudah mulai berjalan meninggalkan halaman villa.
"Hmm," balas Zayn dengan bergumam. "Antok, nanti kita berhenti buat beli bunga dulu," perintah Zayn kepada Antok.
"Baik, Bos," balas Antok.
Dan seperti perintah Zayn tadi, Antok pun membawa mobilnya untuk mampir ke toko bunga terlebih dahulu. Yumna dan Zayn lalu turun untuk membeli satu buket bunga lily putih. Setelah itu barulah mereka bertiga melanjutkan perjalanan mereka menuju ke pemakaman.
Sesampainya di area pemakaman, Zayn dan Yumna langsung turun dari dalam mobil. Zayn meminta kepada Antok untuk menunggu dirinya dan Yumna di luar area pemakaman saja. Zayn dan Yumna pun kemudian mulai berjalan memasuki area pemakaman tersebut dan menuju ke makam Zunia.
"Assalamu'alaikum, Nia," sapa Yumna begitu dirinya dan Zayn tiba di samping makam Zunia.
Yumna kemudian bersimpuh di samping makam Zunia dan meletakkan buket bunga lily putih yang dia bawa itu ke dekat nisan Zunia. Zayn pun lalu ikut bersimpuh di sebelah Yumna.
"Kita berdo'a dulu ya, Kak," ajak Yumna dengan menoleh ke arah Zayn.
Zayn hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Zayn dan Yumna kemudian menengadahkan kedua telapak tangan mereka masing-masing dan mulai berdo'a untuk almarhumah Zunia.
Zayn sudah tidak mampu menahan air matanya lagi, begitu juga dengan Yumna. Air mata sudah mengalir membasahi wajah Zayn dan Yumna. Bahkan Zayn juga sudah kembali menangis sesenggukan saat ini.
"Kak Zayn," lirih Yumna seraya menoleh ke arah Zayn.
Kembali, hati Yumna rasanya perih sekali melihat Zayn yang berada dalam keadaan terpuruk seperti itu.
"Aku bukan kakak yang baik, Na. Aku udah gagal," kata Zayn di sela tangisannya.
Tangan kanan Yumna terangkat kemudian memegang lengan Zayn.
"Kak Zayn nggak boleh ngomong seperti itu. Jangan memiliki pemikiran seperti itu, Kak," ucap Yumna.
"Tapi aku emang nggak bisa jadi kakak yang baik untuk Nia, Na. Aku nggak bisa menjaga dan melindungi Nia dengan baik sampai akhirnya semua hal buruk ini terjadi. Aku udah gagal jadi kakak yang baik untuk Nia, Na," keluh Zayn, lagi dan lagi.
Yumna menarik kepala Zayn kemudian meletakkannya di bahu Yumna. Tidak ada penolakan dari Zayn. Yumna juga kemudian menggenggam tangan Zayn.
"Kak Zayn, seperti yang udah aku bilang semalam, semua ini sudah menjadi ketetapan takdir dari Tuhan yang memang harus terjadi dan harus kita jalani, Kak. Jadi Kak Zayn nggak boleh menyalahkan diri Kak Zayn seperti itu lagi," nasehat Yumna.
"Aku sangat bisa memahami perasaan Kak Zayn. Aku juga merasa sangat sedih dan kehilangan Nia juga, Kak. Tapi kita juga nggak boleh terlalu larut dalam kesedihan kita seperti ini. Kasihan Nia di sana kalau kita terus menangisi dan meratapi kepergian dia seperti ini, Kak. Yang paling Nia butuhkan saat ini adalah do'a dari kita untuk Nia," lanjut Yumna.
Mendengar semua perkataan Yumna, Zayn mulai berhenti menangis dan bisa sedikit tenang kembali. Yumna kemudian mengusap-usap tangan Zayn yang sedang digenggamnya saat ini.
"Udah ya, Kak. Jangan seperti ini lagi. Nia pasti juga akan merasa sangat sedih kalau melihat Kak Zayn yang seperti ini. Ikhlaskan Nia, ikhlaskan semua yang sudah terjadi ya, Kak. Kita do'akan saja Nia bersama-sama, semoga Nia tenang di sana dan mendapatkan tempat yang terbaik di sisi Allah Subhanahu wa ta'ala. Aamiin yaa robbal 'aalamiin,"ucap Yumna, menasehati Zayn sekaligus mengajak Zayn untuk bersama-sama mendo'akan Zunia.
"Aamiin," lirih Zayn, meng-amin-kan perkataan Yumna tadi.
Sepasang suami istri itu masih berangkulan seraya bersimpuh di samping makam Zunia, mencoba untuk bisa saling menguatkan satu sama lain.
Tanpa sepengetahuan Zayn dan Yumna, tidak jauh dari makam Zunia saat ini, tepatnya di balik sebuah pohon yang terdapat di tepi jalan area pemakaman, ada dua orang laki-laki yang sedang memperhatikan Zayn dan Yumna sekarang.
"Tidak salah lagi, Tuan. Saya sangat yakin kalau gadis itu adalah gadis yang kita cari selama ini," kata salah satu dari dua orang laki-laki tersebut.
"Bagus. Ternyata ada untungnya juga aku ziarah ke makam kakek dan kakak sepupuku tersayang itu pagi-pagi begini," balas laki-laki yang satunya lagi.