Perjanjian antara Prabu Dira Pratakarsa Diwana dengan Putri Ani Saraswani, memicu perang yang melengserkan Prabu Galang Digdaya, ayah sang putri sendiri.
Setelah menggulingkan Prabu Galang dari tahtanya, Prabu Dira menikahi Putri Ani yang telah bersekutu dengannya. Putri Ani mau menikah dengan salah satu syaratnya, di hari pernikahan tidak ada istri Prabu Dira yang lain hadir.
Para istri Prabu Dira setuju suami mereka menikah dengan Putri Ani dengan tujuan bisa membangun benteng dan armada laut di kerajaan pesisir tersebut. Prabu Dira harus segera membangun armada laut yang kuat untuk menghadapi perang besar melawan Negeri Tanduk dan sekutunya.
Namun, syarat yang diajukan oleh Putri Ani yang melarang kehadiran istri Prabu Dira di hari pernikahan, justru menyinggung perasaan beberapa orang permaisuri.
Puncaknya, setelah Putri Ani menjadi istri muda Prabu Dira dan menjadi ratu di kerajaannya sendiri, dia ditemukan telah tewas. Salah satu permaisuri Prabu Dira diduga pelakunya. (RH)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DRM 35: Akhir Sang Ratu
*Dendam Ratu Muda (DRM)*
“Rincing Kilaaa!” jerit Ratu Ani melihat dengan jelas pedang menusuk perut Rincing Kila.
Dengan gerakan yang pelan, kaki Permaisuri Sanggana Kecil turun dari posisi terbaliknya di atas pedang. Dia memandang kepada Ratu Ani yang berteriak dengan sepasang mata yang berair.
Setelah mencabut pedangnya dari perut Rincing Kila. Permaisuri Sanggana kembali melakukan tusukan ke dada Rincing Kila. Pengawal yang baru saja setuju untuk menikah itu, hanya tersentak ketika pedang berlogam ungu itu menusuk dadanya.
Tusukan kedua itu sebagai penjelas bahwa Rincing Kila tidak akan bertahan hidup lagi. Begitu dinginnya. Permaisuri Sanggana menusuk Rincing Kila dengan pandangan tetap menatap kepada Ratu Ani.
Dengan demikian, tinggallah Ratu Ani Saraswani yang tadi katanya akan dibunuh juga.
“Apakah kau takut, Gusti Ratu?” tanya Permaisuri Sanggana datar.
“Ti-ti-tidak!” tegas Ratu Ani, tapi tergagap.
“Tentunya mati pun kau tidak akan menyesal, karena kau sudah pernah merasakan apa yang namanya kenikmatan bercinta dengan Raja Sanggana Kecil yang perkasa. Entah … apakah suatu kebodohan atau suatu kenekatan karena kau memutuskan menikah dengan Kakang Prabu Dira?” kata Permaisuri Sanggana.
“Aku tidak akan membiarkan diriku mati tanpa adanya perlawanan sedikit pun!” desis Ratu Ani yang kini mendendam atas kematian Rincing Kila.
Sess sess sess…!
Ratu Ani lalu mengerahkan seluruh energi kesaktiannya yang kemudian diwujudkan dalam lesatan-lesatan sinar putih berbentuk kipas. Tidak tanggung-tanggung, sepuluh Kipas Cahaya Ratu Ani lesatkan menyerbu Permaisuri Sanggana.
Permaisuri Sanggana melakukan lompatan mundur dengan tubuh berputar indah di udara, menghindari serbuan kipas sinar putih. Gerakan hindar itu membuat Permaisuri Sanggana kian menjauhi Ratu Ani.
Beberapa kipas sinar putih lewat tipis di sekitar tubuh Permaisuri Sanggana di udara.
Sess!
Satu kipas sinar bahkan berhasil memusnahkan satu ujung jubah hijau Permaisuri Sanggana yang menjuntai saat gerakan berputar di udara tersebut.
Jleg! Wess!
Permaisuri Sanggana mendarat di lantai seperti gaya hewan, dengan dua kaki dan satu tangan kiri. Kejap berikutnya, tiba-tiba tubuh langsing itu melesat sangat cepat, bahkan tidak terlihat oleh Ratu Ani yang hanya mendelik ketika tubuh depannya ditabrak.
Ratu Ani Saraswani melesat mundur tanpa ia kehendaki ketika dirinya tahu-tahu ditabrak.
Srekr!
“Hekrrr!” erang Ratu Ani dengan mulut menganga sedikit, tetapi mengeluarkan darah. Sepasang matanya mendelik merah dan menangis karena merasakan rasa sakit yang teramat sangat.
Kini, punggung Ratu Ani rapat di dinding ruang pemandian. Di depannya berdiri merapat sosok Permaisuri Sanggana yang beraroma harum. Tangan kanan Permaisuri Sanggana yang menggenggam pedang ungu menempel di dada kiri sang ratu, tepat di titik di mana posisi jantung berada.
Permaisuri Sanggana telah menusukkan pedang pada dada Ratu Ani, tepat menghujam jantung. Pangkal pedang menekan kuat. Setelah itu, Permaisuri Sanggana melepas gagang pedangnya, membiarkannya menancap pada dada Ratu Ani.
Tubuh Ratu Ani menempel pada dinding karena bagian ujung hingga lebih dari separuh pedang menancap di dinding batu ruang pemandian. Kondisi itu membuat tubuh Ratu Ani yang telah banjir darah tidak bisa lepas dari dinding. Tubuh indah itu telah dipaku menggunakan pedang. Sementara itu, darah terus keluar dari celah bibirnya.
Bibir dan wajah Ratu Ani bergetar. Sepasang matanya mulai sayu seiring pandangannya yang menggelap.
Sebelum Ratu Ani menutup rasa, Permaisuri Sanggana berkata kepadanya.
“Aku akan meninggalkan pedang ini sebagai bukti. Jadi, ketika suami kita melihatnya, dia akan tahu siapa Permaisuri Sanggana yang telah membunuhmu. Semoga harimu menyenangkan di alam kematian.”
Meski sudah tidak bisa memandang wajah Permaisuri Sanggana dengan jelas, Ratu Ani masih bisa mendengar perkataan tersebut. Namun, tetap saja Ratu Ani tidak bisa mengadukan apa yang didengarnya, karena setelah itu dia mengembuskan napas terakhirnya dengan wajah yang terkulai ke depan.
Dengan tewasnya Ratu Ani, maka kosonglah tahta Kerajaan Pasir Langit.
Satu jam setelah dibunuhnya Ratu Ani Saraswani, totokan pada kelima dayang terlepas sendiri.
Kelima dayang itu seketika menjerit histeris setelah memendam rasa ketakutan yang luar biasa. Mereka menjadi saksi dibunuhnya Ratu Ani dan pengawalnya Rincing Kila. Dua dayang sampai jatuh pingsan.
Apa yang akan mereka alami kemudian pasti sangat berat. Sebagai saksi mata, mereka jelas akan terancam hukuman mati. Namun, itu harus mereka laporkan.
Setelah kelima dayang, orang berikutnya yang tahu tentang kematian sang ratu dan pengawalnya adalah prajurit Pasukan Pengawal Ratu.
Maka, pejabat tinggi yang pertama tahu berita duka yang mengejutkan itu adalah Kepala Pasukan Pengawal Ratu, Komandan Adur Garuk.
Alangkah terkejutnya sang komandan dan alangkah pusingnya dia. Keselamatan Ratu Ani jelas adalah tanggung jawabnya. Namun ini, Ratu Ani bukan lagi cedera, tapi mati. Dia bingung bukan main, kepada siapa dia harus melapor terlebih dahulu, sedangkan Prabu Dira tidak ada di Istana.
“Bagaimana ini? Apakah aku harus memberi tahu Gusti Prabu Galang atau kepada Gusti Mahapatih?” tanyanya, tapi entah dia bertanya kepada siapa.
“Lebih baik Gusti Komandan melapor kepada Gusti Mahapatih. Meski Gusti Prabu Galang adalah orangtua Gusti Ratu, tetapi Gusti Prabu Galang tidak memiliki wewenang saat ini,” kata wakil Komandan Adur Garuk berusul.
Maka, atas usulan anak buahnya, Komandan Adur Garuk mengirim utusan ke kediaman Mahapatih Badaragi yang ada di luar Istana. Itu dilakukan dengan senyap.
Alangkah terkejutnya Mahapatih Badaragi mendapat kabar tersebut. Dia segera berangkat masuk ke Istana dan pergi ke Wisma Keratuan.
Mayat Ratu Ani dan Rincing Kila belum dievakuasi, masih dibiarkan dalam posisi aslinya saat mati.
“Panggil Rempak Tujuh!” perintah Mahapatih Badaragi kepada seorang prajurit, merujuk kepada kepala investigasi Istana.
“Pilih kuda terbaik, kejar rombongan Gusti Prabu Dira ke Sanggana Kecil. Jangan melakukan penundaan perjalanan yang tidak perlu!” perintah Mahapatih Badaragi kepada seorang prajurit pembawa pesan yang sudah diberi surat rahasia.
Mahapatih Badaragi dengan penuh pertimbangan mengambil sejumlah keputusan dalam waktu singkat.
“Jangan sampai berita kematian Gusti Ratu menyebar ke telinga orang-orang yang tidak perlu,” kata Mahapatih kepada Komandan Adur Garuk.
Mahapatih Badaragi tidak langsung menginterogasi kelima pelayan. Dia menunggu kedatangan Rempak Tujuh.
Setelah Rempak Tujuh datang dengan tanpa berbaju karena saking buru-burunya, Badaragi dan Komandan Adur Garuk masuk kembali ke dalam ruang pemandian.
Rempak Tujuh menilai keadaan kedua mayat dan kondisi ruang pemandian. Setelah itu, barulah kelima dayang diinterogasi oleh ketiga pejabat tinggi itu. Para dayang menjawab sambil terus menangis. Selain karena kehilangan seorang ratu, mereka juga merasa takut akan dihukum mati.
“Wa-wa-wanita cantik itu sangat sakti, Gu-gu-gusti. Samar-samar kami mendengar, dia mengaku….”
Salah satu dayang yang bercerita memutuskan kata-katanya. Dia terus terisak. Dia menengok kepada rekan-rekannya yang hanya menunduk.
“Cepat lanjutkan!” bentak Rempak Tujuh marah.
“Mohon ampun, Gusti. Mohon ampun, Gusti. Hamba tidak berani menyebutnyaaa! Huuu…!” kata dayang itu lalu buru-buru bersujud sambil menangis meraung. Terlalu berat beban yang dirasakannya.
Cras!
“Aaakk…!” jerit keempat dayang lainnya sangat histeris, saat melihat kepala rekan mereka yang bersujud menggelinding setelah pedang Komandan Adur Garuk memenggalnya dengan cepat.
Dua dayang seketika pingsan karena syok dan lemas.
Tinggal dua dayang menangis sangat ketakutan. Keduanya sampai mundur-mundur dengan kedua tangan menjura di depan wajah.
“Katakan, nama siapa yang kalian dengar! Siapa perempuan yang menyusup itu?” bentak Rempak Tujuh.
“Pe-pe-permaisuri Sa-sa-sanggana Kecil, Gusti! Huuu…!” teriak salah satu dari dayang itu. Dia gagap karena ketakutan dan berlanjut menangis kejer.
Terkesiap wajah Mahapatih Badaragi, Komandan Adur Garuk dan Rempak Tujuh mendengar jawaban itu. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Catatan: Karya Om Rudi "Pendekar Sanggana" akan ditamatkan paksa. Om Rudi akan berkelana ke Negeri Paijo. Di sana ada Kultivator Dewa Phoenix, Joko Tenang versi Tiongkok. Silakan kunjungi Om Rudi di sana.
Mudah-mudahan lanjutan Pendekar Sanggana edisi "Dendam Ratu Muda" akan berlanjut suatu hari nanti. Om Rudi sedang fokus di Kultivator Dewa Phoenix. Harap maklum.