Kebahagiaan Ayu dan Queen terenggut saat nyawa sang mama meregang nyawa di meja operasi karena melahirkan adik mereka.
Derita Ayu dan Queen di mulai saat ayah mereka Aditya menikah dengan Lisa dan tak lama dijebloskan ke penjara karena fitnah yang dilakukan oleh Rudi mantan pacar Lisa Ibu sambung mereka.
Sikap Lisa yang manis sebagai ibu sambung berubah menjadi iblis yang menakutkan buat Ayu dan Queen karena hasutan Rudi hingga membuat nyawa Queen melayang karena kekejamannya.
Kematian Queen dan siksaan yang dilakukan Lisa dan Rudi merubah sifat Ayu 180 derajat menjadi seorang pendendam, dan introver kepercayaannya terhadap orang lain luntur. Tidak ada lagi kasih sayang dalam kamus Ayu. Puncak dari semua ke kebiadaban Lisa dan Rudi adalah saat Ayu hampir di perkosa Rudi dan kepergok Lisa.
Rudi berdalih dia rayu oleh Ayu, seketika hal ini membuat Lisa kalap dan hampir membunuh Ayu.
Ayu berusaha kabur dan bertemu seseorang yang akan merubahnya untuk balas dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebebasan Di Sambut Duka
Grudukkkkkk
Pintu gerbang lapas dewasa di pinggiran kota metropolitan terbuka tampak sosok pria berbadan tegak dengan rahang tegas berhidung mancung dengan sorot mata tajam dan dia punya dipenuhi bulu lebat keluar dari balik pintu gerbang lapas, dia adalah Aditya.
"Alhamdulillah akhirnya udara kebebasan bisa kembali kurasakan." ucapnya sambil merentangkan kedua tangan dan menghirup nafas dalam-dalam.
"Aku harus cepat ke rumah," kembali Aditya berucap sambil bekerja sama angka akan kaki dengan pasti menuju rumahnya.
4 tahun sudah Aditya mendekat di penjara karena kesalahan yang tidak dilakukan, waktu 4 tahun membuat dia belajar banyak hal tentang kehidupan dan kejahatan. Hatinya sudah bertekad kuat untuk membalas perlakuan tidak adil yang dia terima karena fitnah seseorang.
Setelah menempuh perjalanan dengan menggunakan kendaraan umum sampailah Aditya di jalan masuk menuju perumahan tempat tinggal. Beberapa orang yang yang berpapasan dengannya tidak mengenali sama sekali bahwa orang itu adalah Aditya.
Beberapa kali Aditya menyapa dengan senyum atau anggukan kepala pada beberapa orang bapak-bapak di lingkungan itu tapi hanya dibalas dengan tatapan sinis dan curiga.
"Kenapa mereka menatapku seperti itu? Apa karena Aku seorang mantan napi sehingga mereka tidak lagi memandangku sebagai tetangganya?" batin Aditya berpraduga.
Saat langkah kakinya berhenti di depan pintu gerbang pagar rumahnya Aditya, pandangannya menyapu seluruh area dengan warna cat yang berbeda, begitu juga mobil dan motor yang terparkir di garasi. Tak lama kemudian muncul seorang gadis kecil berusia sekitar 3 tahun keluar dari pintu rumah berlari kecil.
"Rania jangan lari-lari sayang!" Suara perempuan berteriak dari dalam rumah.
"Siapa gadis kecil itu apa mungkin itu putriku dari Lisa?" Pertanyaan yang langsung memenuhi pikiran Aditya.
Tak lama kemudian muncul seorang wanita muda cantik berhijab sambil membawa mangkok kecil di tangannya.
"Rania! Jangan lari-lari, nanti jatuh sayang!" Suara larangan keluar dari bibir merah ibu muda berhijab itu yang sama sekali tidak Aditya kenal.
"Siapa mereka Apa mungkin mereka saudara dari Lisa?" Pertanyaan itulah yang langsung tersirat di pikiran Aditya.
Saat manik mata Aditya menatap wanita muda berhijab itu tanpa diduga wanita itu pun menoleh ke arah Aditya dan mereka saling bertatapan untuk beberapa detik sebelum wanita muda itu mengalihkan pandangannya sejenak dan kembali menoleh ke arah Aditya.
"Maaf Mas, cari siapa?" Pertanyaan biasa yang keluar dari bibir bergincu merah maroon wanita muda yang baru keluar dari rumah sambil menatap heran ke arah Aditya.
Siapapun saat melihat orang tidak terkenal ada di depan pintu gerbang rumahnya pasti akan mengantarkan kalimat yang sama, satu kalimat yang membuat Aditya bertambah bingung.
"Maaf Mbak saya yang harusnya bertanya siapa Mbak dan Kenapa ada di rumah saya?" Kebingungan dan keheranan Aditya langsung terucap keluar dari mulutnya dengan mata menatap tajam ke arah wanita muda itu.
"Loh! Kok malah mas bertanya balik? Saya pemilik rumah ini Mas," jelas wanita muda itu terlihat kesal dengan pertanyaan Aditya.
Tampak bingung bercampur kesal tapi dia berusaha untuk tetap tenang.
"Bisakah saya berbicara dengan suami Mbak." pinta Aditya dengan sopan mulai mengatur emosinya.
"Suami saya sedang tidak ada di rumah Dia sedang bekerja dan untuk apa Anda mau bicara dengan suami saya? Kalau mau bicara tentang rumah ini Anda bisa bicara dengan saya." Wanita muda itu menjawab letus dan sorot mata tajam penuh curiga menatap ke arah Aditya.
Aditya menghela nafas panjang.
"Kalau aku hanya berbicara berdua dengannya pasti yang ada ketegangan lebih baik Aku datangi Pak Karjo," batin Aditya dengan ujung mata melirik ke arah wanita muda di dalam halaman rumahnya yang sedang menggendong anak kecil.
Tanpa permisi Aditya berbalik badan dan pergi meninggalkan rumahnya menyusuri gang kompleknya menuju rumah seseorang. Begitu sampai di pintu gerbang pagar teralis bercak hitam yang tertutup rapat, Aditya berdiri memandang sejenak rumah di mana dia dulu biasanya bermain catur dengan pemilik rumah yang tak lain adalah Pak Jumali RT setempat.
Tangan Aditya terulur menjangkau bel pintu yang ada di sisi kanan tempatnya berdiri lalu jari telunjuknya menekan bel itu.
Ting tong ting tong
Suara bel pintu yang terletak di gerbang pagar menarik perhatian sang pemilik rumah hingga dari luar Aditya dengan jelas mendengar suara langkah kaki berjalan santai menuju teras.
Tampak dari balik pintu depan keluar sesosok pria bertubuh tambun berkepala setengah botak dengan kacamata nangkring di hidungnya yang mampir lepas memicingkan mata melihat ke arah pintu pagar
"Sahrul!" teriak Aditya sambil melambaikan tangan ke arah pria paruh baya pemilik rumah.
Wajah pria itu terlihat makin penasaran dengan mengerutkan dahi berjalan menghampiri pagar. Wajah Aditya memasang senyum mengembang menyambut pria sang pemilik rumah.
"Sahrul," panggil Aditya saat jarang di antara keduanya makin dekat.
Pria tambun berkacamata yang di panggil Sahrul itu memicingkan matanya ke arah Aditya dan dalam sekejap bola matanya melotot seperti ingin meloncat keluar begitu balik mata itu mengenali sosok di depannya.
"ADIITTTT!!" teriak Sahrul langsung bergegas berjalan setengah berlari menghampiri pintu pagar.
DRREETTTT
"Ditt!" suara serak keluar dari bibir hitam tebal Sahrul.
Genangan bening tak pelak membanjiri kelopak mata Aditya saat sahabatnya itu memeluk erat tubuhnya yang terlihat lebih kurus dari 4 tahun yang lalu saat kali terakhir Aditya di gelandang masuk ke dalam mobil polisi.
"Rul, hiksss," ucap Aditya lirih di telinga Sahrul sambil terisak.
Sahrul mengelus punggung Aditya turun naik beberapa kali dengan mata tergenang.
"Sabar Le, sabar," ucap Sahrul mencoba menguatkan Aditya.
Beberapa saat keduanya hanya terdiam saling berpelukan sambil sesekali terdengar isap tangis Aditya. Setelah merasa lega dan tenang Aditya mulai melepaskan pelukannya, tatapan matanya yang redup dengan air tergenang menatap Sahrul penuh keputusasaan dan kebingungan.
"Dimana Ayu sama Lisa Rul?" tanya Aditya cemas.
"Kenapa Lisa menjual rumah itu? Apa yang terjadi? Ayu, Ayu di mana?" berondongan pertanyaan meluncur tanpa henti dari bibir Aditya yang bergetar.
Detak jantung Aditya berpacu lebih kencang penuh kecemasan bercampur kebingungan.
"Le, sejak lu masuk penjara, Lisa semakin tertutup dengan lingkungan begitu dengan Ayu. Beberapa kali datang teman kerjamu Rudi datang dan rumah mu makin tertutup. Kami menurut tebakan kami sepertinya suruh di dunia hubungan khusus dengan istrinya Lisa. Tapi entahlah kita belum menemukan bukti yang kuat apakah mereka sepasang kekasih atau hanya sebatas teman yang bersimpati dengan keluargamu." ucap Sahrul bercerita dengan setenang mungkin.
"Kalau dari cerita Bu Lince, beberapa kali dia pernah mendengar suara jeritan dari rumahnya. Kami tidak tahu, apakah itu jeritan Ayu atau siapa, tapi setiap kami tanya, Ayu selalu menjawab bahwa dia baik-baik saja," kembali Sahrul bercerita.
"Lalu, di mana Ayu dan Lisa pindah Rul?" tanya Aditya makin cemas.
"Sorry Le, aku tidak tahu dan kita semua warga juga tidak tahu kemana mereka berdua pergi karena mereka pindah secara diam-diam tanpa memberi kabar apapun pada aku sebagai pihak RT," jawab Sahrul sambil menggelengkan kepala.
Tubuh kurus Aditya seketika lemas terduduk di lantai dengan mata terpejam sambil tertunduk lesu.
"Ayu, di mana kamu Nak? Ayah harus cari Ayu kemana?"
duh ngeriiiii, pembully an, kekerasan, obrolan serampangan
masih ada typo
duhh anak sekarang ngerii pintar tapi gak ada norma dan atittude jadi nya gitu bisanya mbully omongan nya ngabsen Kebon binatang
dan Lisa... tunggu karmanya