TAMAT
Karna ayah yang sedang sakit-sakitan membuat Putri Mentari harus menikahi seorang duda beranak satu yang merupakan dosen mata kuliah umum di fakultasnya.
"Kamu jangan berharap lebih dengan pernikahan ini! Aku pastikan pernikahan ini tidak bertahan lama!" - TAMA BATARA
"Ya ampun Pak... Jangan galak-galak napa. Entar makin nambah loh keriputannya." - PUTRI MENTARI.
Tama yang masih mencintai mendiang istrinya membuat pernikahan yang dijalani wanita yang akrab dipanggil Tari itu terasa berat.
Tari yang ceria terus berusaha mendapatkan cinta sang suami.
Akankah pernikahan yang berat ini berubah menjadi pernikahan bahagia?
fb : Kacan
=> Mari follow akun Noveltoon Othor Kacan🤗🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis Istimewa
Tiupan angin menyambut kedatangan Fajar, rambut yang ia sugar ke belakang sedikit bergerak karena ulah angin. Langkahnya yang tegas, menambah ketampanan pria itu.
Semua orang terpanah melihat ketampanan pengusaha muda yang kini memasuki area kampus mereka. Beberapa mahasiswa centil berusaha mendapatkan atensi Fajar. Namun, tidak sedikit pun pria itu menatap ke lain arah. Karna yang menarik hatinya hanya ada satu gadis, yaitu Putri Mentari.
Semua yang ada pada Tari, terasa begitu berbeda di matanya. Entah kenapa, gadis bertubuh pendek itu dapat menarik pandangan matanya untuk terus tertuju padanya.
Suara ricuh semakin terdengar ketika Fajar sudah berada di hadapan Tari. Mata gadis itu mengerjap tak percaya dengan apa yang ia lihat. Pria yang pernah menghiburnya di kala sedih, kini berada di hadapannya.
"Hai cantik," sapa Fajar.
Nadia menyikut pelan perut Tari, karna sahabatnya itu malah terbengong dan tidak menjawab sapaan manis dari pria yang hari ini membuat para mahasiswa blingsatan.
Raihan dengan tengilnya mengikuti gerakkan menyugar rambut ala Fajar, untung saja ia memang berparas tampan. Jadi tidak terlihat begitu narsis.
"Tar, lo jangan bengong aja. Itu di depan lo ada cowok cakep," bisik Nadia, menyadarkan sahabatnya.
"Eh, hehehe. Hai juga, Kak. Loh ... Kak Fajar kok bisa tau Tari ngampus di sini?" tanya Tari.
Pria bernama Fajar itu hanya membalas pertanyaan gadis pujaannya dengan mengendikkan bahu seraya menarik kedua sudut bibirnya.
"Kakak ke sini mau mengajak kamu pergi," ucap Fajar to the point.
Raihan sebagai sahabat yang baik, membisikkan sesuatu di telinga Tari. "Tar, inget ... Lo udah jadi bini orang, tahan n4fsu."
Tangan Tari mencubit perut Raihan dengan pelan. Namun, tetap terasa sakit. Karna gadis itu mencubit perut sahabatnya dengan cubitan kecil.
"Aw! Kalau nyubit itu jangan secuil, Tar. Sakitnya minta ampun," keluh Raihan sambil mengusap-usap perutnya.
"Makanya, kalau ngomong itu jangan sembarangan," cebik Tari.
Gadis itu tidak sungkan menunjukkan sifat cerewetnya di depan Fajar. Ia tidak suka berpura-pura lemah lembut untuk menarik perhatian orang, karna baginya menjadi orang lain demi disukai itu sangat tidak mengasyikkan.
Disisi lain, bukannya tidak menyukai sifat Tari. Fajar malah semakin jatuh hati dengan sikap apa adanya gadis itu. Seperti inilah wanita yang ia cari selama ini, Fajar merasa beruntung karna tuhan mempertemukan dirinya dengan gadis seperti Tari. Tekad untuk mendapatkan gadis pujaannya pun semakin besar membara.
"Tar, kita balik duluan ya ... ," pamit Nadia dan Raihan berbarengan.
"Ingat, Tar. Lo udah ada suami sama anak, jangan selingkuh," bisik Raihan. Setelah mengucapkan hal itu, Raihan langsung lari terbirit-birit, dirinya takut terkena cubitan pedas ala jari-jemari Tari.
"Woi, Rai. Tungguin gue! Raihan monyet!" teriak Nadia kala melihat sahabatnya itu pergu meninggalkannya.
"Hehehe, gue balik duluan ya. Dah Tari ... permisi, Kak ganteng." Nadia menyusul Raihan yang sudah siap sedia dengan sepeda motornya.
Tinggal lah Tari dengan Fajar, Pria itu kembali mengajak gadis itu untuk ikut dengan dirinya ke suatu tempat. Tampak Tari yang menimbang-nimbang ajakkan dari Fajar.
"Memangnya mau pergi ke mana sih, Kak," tanya Tari.
"Kakak butuh bantuan kamu cantik, mencari hadiah untuk gadis istimewa," ujar Fajar sambil menatap Tari.
Gadis itu manggut-manggut, mengerti. Dirinya berpikir sejenak, lalu ia pun memutuskan untuk ikut bersama Fajar untuk membantu pria yang selalu baik padanya.
Wajah Fajar tampak bahagia atas kesediaan Tari. Ia segera menarik tangan gadis pujaannya, membuat semua mata mahasiswa menatap ke arah mereka. Ada yang menatap dengan pandangan iri, hingga tatapan tidak suka.
Tari segera menarik tanganya, ia takut ketahuan Pak Tama. Ia tidak ingin pikiran buruk tentang dirinya semakin bertambah di kepala suaminya.
"Kak, Tari mau izin dulu sama--"
"Iya, izinlah terlebih dahulu. Nanti dikira Kakak penculik lagi," potong Fajar, ia terkekeh mengingat Tari pernah mengiranya sebagai penculik.
Tari menggaruk kepalanya yang tak gatal, gadis itu ingin meminta izin terlebih dahulu pada suami galaknya. Beruntung Pak Tama masih berada di kampus, tepatnya di ruang dosen. Jadi, ia tidak bisa lebih leluasa meminta izin dibanding lewat ponsel genggam.
"Tari ke dalam dulu ya, Kak," pamit Tari.
Fajar mengangguk, ia memilih untuk menunggu di dalam mobil. Dirinya risih dengan tatapan genit dari para mahasiswa perempuan yang tadi mengedipkan mata padanya.
Tari berjalan menuju fakultas tempat suaminya mengajar. Sang Suami berada di Fakultas Ekonomi, pria itu menjabat sebagai kajur di prodi kewirausahaan. Suaminya juga mengajar di Fakultas Tata Boga, sebagai dosen mata kuliah umum.
Akhirnya langkah kecil gadis itu membawanya di depan pintu jurusan. Beruntung keadaan di dalam tidak ramai akan dosen lainnya. Ia melewati beberapa dosen sambil mengangguk dan tersenyum sopan.
Ia masuk ke dalam ruangan ketua jurusan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, gadis itu lupa sangking gugupnya, karna tadi ada dosen yang menanyai tujuannya menjumpai Pak Tama.
Tari yang notabennya adalah mahasiswa dari prodi lain kebingungan membuat alasan. Jadilah ia harus berbohong, dan bahwa dirinya adalah keponakan Pak Tama
"Tolong ketu--" Tama belum sempat menyelesaikan ucapannya, ketika mata itu menangkap gadis di depannya.
"Pak Tama ... ," panggil Tari, ia terpesona melihat penampilan suaminya yang sangat berkarismatik dengan kacamata yang bertengger di hidung pria itu.
"Ada apa kau datang ke sini?" tanya Tama dengan ketus.
Tari menutup pintu sebelum dirinya menjawab pertanyaan dari suaminya. "Tari mau izin sama Pak Tama. Jadi, teman Tari ada yang ngajak pergi, boleh ti--"
"Boleh, sudah sana pergi! Menganggu saja!" usir Tama.
Pria itu berdiri dari duduknya, karna Tari yang tak kunjung beranjak pergi. Dengan tidak berperasaannya Tama menggerakkan tangannya menunjuk pintu keluar.
"Pak Tama, Tari perginya sama c--"
"Aku tidak peduli! Sudah sana pergi!" potong Tama dengan ketus.
Tari mencebikkan bibirnya dengan wajah yang ditekuk ke dalam. Entah bagaimana caranya agar hati pria itu bisa luluh padanya. Tapi, Tari tidak pernah kehabisan akal. Cinta datang karna terbiasa. Maka ia akan membuat Tama terbiasa dengan kehadirannya.
"Salim," ucap Tari seraya menjulurkan tangannya.
Gadis itu tersenyum bahagia karna suaminya tidak menolak. Mata Tama menangkap lengkungan indah itu, tapi ia berusaha memperingati dirinya sendiri untuk bersikap tidak perduli, ia terus mengingat ucapan Mami Sun.
Tari melangkah keluar, dirinya segera menuju mobil Fajar yang terparkir di luar kampus, gadis itu tidak ingin membuat pria baik yang sudah dianggapnya seperti kakak sendiri menungggu lama.
"Kakak kelamaan nunggu ya?" tanya Tari sungkan, begitu ia masuk ke dalam mobik milik Fajar.
"Tidak kok," jawab Fajar dengan lembutnya.
Pria itu menyalakan mobilnya. Sepanjang perjalanan menuju tempat yang dimaksud Fajar diisi dengan percapakan yang menyenangkan. Sangat berbeda ketika Tari satu mobil dengan suaminya.
`
`
`
Mulai besok, othor update-nya setiap pukul 07.00 WIB.
Ojo lali jempole ya readers♡
mantap kaka pantun nyaaa 👍👍😄