Setelah 1000 tahun berlalu, Putri Amora yang merupakan putri dari kerajaan vampir telah terlahir kembali sebagai manusia biasa yang bernama Shania. Takdir juga mempertemukannya kembali dengan Pangeran Leon, pangeran dari bangsa serigala, yang bereinkarnasi menjadi Adrian.
Kisah cinta terlarang di masa lalu membuat keduanya terbunuh, dan pangeran Leon mendapat kutukan, dia tetap menjadi manusia serigala yang menjelma di tubuh Adrian dan begitu tertarik dengan jiwa murni Amora yang berada di tubuh Shania.
Kisah cinta merekapun terulang kembali. Akankah mereka bisa bersatu atau hubungan mereka akan berakhir tragis seperti sebelumnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Di dalam kamar Adrian, Edo merebahkan Adrian di tempat tidurnya.
Shania kini menyelimuti tubuh Adrian yang semakin menggigil. "Ian..." Shania tak henti-hentinya menangis melihat keadaan Adrian yang sudah tidak sadarkan diri. Suhu badannya sangat panas.
"Edo, lalu apa yang harus kita lakuin? Keadaan Ian semakin memburuk." Shania memegang kedua pipi Adrian dan mengusapnya pelan. "Ian, please lo harus kuat. Gue gak mau kehilangan lo."
"Lo tenang Shan, Ian pasti kuat melawan racun itu." Edo berusaha menenangkan Shania meski sebenarnya dia juga tidak yakin.
Shania memegang tangan Adrian dan menciumnya. "Ian gue sayang banget sama lo." Air mata Shania terus mengalir di pipinya. "Lo harus kuat yah. Demi gue."
Edo menghela napas panjang melihat mereka, lalu dia duduk di sofa sambil mengusap wajahnya. Dia memikirkan jalan yang terbaik. Bagaimana caranya agar Adrian lepas dari maut tanpa melukai Shania.
...***...
"Ayah.." Aura menangis dan terjatuh di lantai karena di dorong paksa oleh ayahnya masuk ke dalam kamar.
"Kamu sekarang ayah kurung di dalam kamar sampai kamu benar-benar janji sama ayah, tidak akan lagi keluar dari istana, apalagi sampai hidup bersama manusia di luar sana."
"Kenapa ayah?"
"Karena ayah tidak mau kehilangan putri ayah untuk yang kedua kalinya." Lalu ayah Aura menutup pintu kamarnya dan menguncinya rapat-rapat.
Aura masih terus menangis dan menangkup kedua kakinya. "Sejak kak Mora gak ada, gue selalu sendirian. Dan sekarang gue udah nemuin kak Mora tapi ayah begitu melarang gue keluar dari sini. Kenapa hidup gue selalu begini? Gue benci sama hidup gue."
Aura menghapus air matanya sendiri lalu dia beralih duduk di kursi kamarnya dimana terdapat beberapa tumpukan buku di mejanya. Saat dia sendiri dan kesepian, dia selalu menuangkan perasaannya lewat kata-kata.
"Buku apa ini?" tanya Aura pada dirinya sendiri yang menemukan sebuah buku asing di matanya. "Kitab bangsa serigala?"
Dia mengingat-ingat asal buku itu. Aura menutup mulutnya saat dia berhasil mengingatnya. "Edo."
Sebelum dia pergi dari istana, dia sempat menyelinap masuk ke dalam ruangan Edo karena penasaran dengan buku yang terus dibaca Edo setiap malam. Ternyata Aura juga mengamati gerak-gerik Edo selama di istana.
Aura sekarang memegang buku itu. Buku yang belum sempat dibacanya dan untunglah ayahnya tidak tahu kalau buku itu ada di kamarnya. Aura mulai membuka buku itu, membacanya lembar demi lembar. Begitu mencermatinya karena bahasa yang digunakannya cukup sulit dimengerti.
Tiba-tiba dia menutupnya dengan keras. "Sekarang gue mengerti apa yang ada dipikiran Edo selama ini."
...***...
Malam itu, Shania terus menjaga Adrian. Suhu badan Adrian masih tinggi juga. Shania pun mengompresnya dengan telaten. Pelan, dia mengusap rambut Adrian dan terus menatap Adrian yang masih saja memejamkan matanya sambil sesekali merintih menahan sakitnya.
Shania sangat tidak sanggup melihat keadaan Adrian saat ini. "Yan, apa yang harus gue lakuin buat lo." Shania masih terus menangisi Adrian. Dia membungkukkan badannya dan memeluk Adrian. Menangis sesenggukan di dada Adrian. "Yan, gue gak mau kehilangan lo. Gue gak mau. Please, lo harus kuat. Lo harus bisa melawan racun itu."
Adrian mebuka matanya pelan. Perlahan dia mengarahkan tangannya ke rambut Shania dan mengusapnya.
Shania mendongak saat merasakan tangan Adrian. "Ian..."
Terulas senyum kecil di bibir Adrian yang telah membiru. "Shan, lo jangan sedih. Kalau gue pergi dari dunia ini, lo akan tenang. Gak ada yang akan melukai lo." kata Adrian dengan sangat lirih, hampir-hampir tidak bisa didengar Shania.
"Lo jangan bilang gitu. Gue gak mau kehilangan lo. Gue gak mau..."
"Shan, gue udah gak kuat lagi menahan sakit ini."
"Lo harus kuat, Yan. Demi gue.." tangis Shania semakin menjadi. Dia melepaskan pelukannya dan menggenggam tangan Adrian dengan kedua tangannya. Shania ingin memberinya kekuatan. "Gue sayang banget sama lo."
"Gue juga sayang..." belum selesai Adrian berbicara, dia menghentikan perkataannya. Dia memejamkan matanya lagi. Dunia seolah berputar-putar dan rasa sakit di sekujur tubuh Adrian semakin menjadi. Dadanya semakin sesak, rasanya dia tidak bisa lagi bernapas. "Aarrrggghhh!!!" teriak Adrian meronta. Dia mencengkeram kuat sepreinya. Badannya pun terasa kaku dan kejang, dengan napas yang tidak stabil.
"Ian! Ian lo kenapa? Ian!" Shania begitu panik. Apa yang harus dia perbuat? "Edo!" panggil Shania dengan keras. "Edo! Ian kenapa?"
Mendengar teriakan Shania, Edo langsung masuk ke dalam kamar bersama Ken. "Ian.." Edo memegang kedua pundak Adrian agar Adrian tenang. Beberapa saat kemudian Adrian melemas.
Melihat hal itu Shania langsung mendekat dan memegang kedua pipi Adrian. Lalu Shania menempelkan telunjuknya di bawah hidung Adrian.
Shania menutup mulutnya sambil menggelengkan kepalanya. "Ian udah gak bernapas lagi." kata Shania dengan terbata-bata yang diselingi dengan isak tangisnya.
jgn lupa mampir jg ke karyaku "faith"
ayok kita saling dukung😁