Novel ini sebuah novel kisah nyata tentang petugas yang bekerja di sebuah sawmill atau penggergajian kayu pada kisaran tahun 1997an yang letaknya di tengah hutan di daerah jawa timur
Dimana rumah tinggal petugas itu ternyata menyimpan misteri yang menakutkan, tetapi karena dia membutuhkan uang untuk biaya nikah sehingga dia tidak gentar meskipun menghadapi berbagai gangguan disana.
Kisah yang cukup mengerikan ini dikisahkan sendiri oleh mantan petugas itu kepada penulis yang merupakan masih saudara jauhnya.
Tidak ada jalan keluar, tidak ada solusi selain menghadapi gangguan yang hampir tiap malam selalu mendatanginya. Tidak ada penyelesaian selain keluar dari tempat itu.
Tetapi ada sesuatu yang membuat petugas itu enggan keluar dari sana, dan memilih bertahan disana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Bashi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. KEADAAN RUMAH YANG ANEH
“Mbak Tina saya ucapkan banyak terima kasih atas informasi, makan malam dan semuanya yang mbak Tina berikan kepada saya”
“Ini sudah pagi, saya mohon pamit dulu”
“Iya mas Agus, justru Tina yang seharusnya mengucapkan banyak terima kasih, karena mas Agus sudah mengingatkan Tina pada arti harga diri”
Pagi yang belum begitu cerah aku sudah mulai perjalanan menuju ke rumah di tengah hutan, motor buruk ini membawaku ke arah hutan yang ada di pinggiran desa ini.
Memasuki hutan hawa dingin dan sejuk mulai menerpa wajahku, suara burung yang berkicau melengkapi hari bahagiaku menuju ke rumah tengah hutan.
Sepanjang perjalanan yang ada di otakku hanya wajah dan seyum dari mbak Tina yang sudah merubah pandanganku tentang seorang perempuan.
Embun pagi yang dingin menyapu wajahku, sinar matahari pagi mengintip dari balik dedaunan. Pagi rasanya bersemangat sekali untuk kembali bekerja.
Tidak lama lagi rumah di tengah hutan sudah nampak di depan mata, dan kemungkinan besar para pekerja belum ada yang datang, karena bisanya mereka datang pada pukul 07.00 an
“Alhamdulillah sudah sampai rumah, rumah yang seharian ini aku tinggal ke desa”
“Semoga ndak ada apapun yang terjadi dengan rumah ini, Eh tapi ada baiknya aku berputar ke belakang dulu, untuk melihat keadaan pintu belakang rumah”
Motor kembali kuarahkan me bagian belakang rumah yang kami gunakan untuk proses penggergajian kayu. dan ternyata di bagian belakang rumah ini aman-aman saja.
Aku kembali ke depan rumah, motor diparkir di depan pagar, kubuka pintu pagar. Setelah motor diparkir dengan tenan, aku berjalan santai ke pintu depan rumah.
“Hmm ndak ada apa-apa kan, pintu ini terkunci rapat”
kucoba membuka pintu yang masih dalam keadaan terkunci.
Anak kunci kumasukan ke lubang kunci dan kemudian diputar sekaligus handle pintu kutekan ke bawah.
“ALLAHUAKBAR!......” aku terkejut ketika kubuka pintu ruang tamu
Meja ruang tamu dalam keadaan pindah posisi dan tidak hanya meja ruang tamu saja, tetapi kursi yang ada di ruang tamu semuanya dalam keadaan pindah posisi.
Perabotan rumah itu sekarang ada di sisi tembok dan depan pintu kamarku.
Meja yang awalnya ada di tengah, sekarang berpindah posisi ada di pinggir tembok, Kursi juga begitu posisinya semua ada di pinggir tembok, bahkan salah satu kursi menutupi pintu kamarku.
Meskipun dalam keadaan begitu, tetapi meja kursi itu tidak berantakan sama sekali, tertata dalam keadaan ada di pinggir semua.
Seakan akan tadi malam disini ada acara yang mengharuskan duduk di lantai rumah, sehingga perabotan rumah dipinggirkan semua.
Aku tidak masuk ke dalam rumah….
Perasaan ketakutan kembali menyerangku, aku hanya berdiri di ambang pintu tanpa berani masuk ke dalam rumah.
“Kenapa semua meja dan kursi posisinya di pepetkan di dinding dan pintu kamarku, siapa yang melakukan ini”
“Apakah semalam ada acara kenduri atau apa gitu disini?”
Ndak, aku tidak berani masuk ke dalam rumah, lebih baik kutunggu dulu saja para pekerja, khususnya pak Solikin
Aku tidak mau ambil resiko dengan keadaan rumah yang aku belum tau bagaimana, aku jelas takut apabila ada apa-apa di dalam rumah.
Kutunggu para pekerja datang dengan duduk di bangku panjang yang ada di depan rumah.
Tidak, mereka para pekerja kan akan lewat jalan belakang, jadi lebih baik kutunggu mereka disana saja.
Aku berjalan kaki menuju ke arah belakang rumah, hingga dari kejauhan terlihat beberapa orang pekerja yang sedang berjalan ke arah kemari.
“Ada apa pak Agus, kenapa kok ada di belakang sini” sapa pak Solikin
“Ikut saya pak, ada yang tidak beres dengan yang ada di dalam rumah pak”
Aku mengajak pak Solikin ke depan rumah.
Sementara itu pak Solikin menyuruh salah satu pekerja untuk membuka pintu gerbang belakang, sedangkan aku bersama pak Solikin menuju ke rumah bagian depan
Pintu rumah kubuka lagi, tadi memang pintu itu ditutup sementara aku menuju ke area belakang tadi.
kubuka pintu rumah…
“Itu pak, meja kursi itu sekarang posisinya ada di pinggir mepet dengan tembok. seolah olah semalam habis ada acara disini pak”
“Lho pak Agus semalam kan tidur disini, kok ndak tau kalau ada sesuatu yang terjadi disini pak?”
“Tidak pak, saya ketakutan, saya pergi ke desa sebelah untuk interlokal, tapi saya tidak berani pulang”
“Kemudian saya tidur di semacam pos kamling di desa sana, ternyata paginya saya dibangunakan oleh beberapa orang yang sedang menuju masjid”
“Karena saya tidur di semacam pos tempat menyimpan keranda mayat dan meja tempat memandikan mayat”
“Padahal malamnya ada penjaganya disana pak dan saya juga minta ijin dengan penjaganya untuk tidur disana, ternyata itu adalah area pekuburan”
Tentu saja aku ndak cerita tentang Tina sama sekali, tapi untungnya pak Solikin tidak tanya-tanya tentang Tina.
Pak Solikin menatapku tidak percaya dia melihatku keatas dan kebawah kemudian dia memegang bahuku.
“Alhamdulillah tidak ada yang terjadi dengan sampeyan pak. saya tau tempat itu pak, itu jauh dari wartel desa. kenapa pak Agus bisa sampai sana?”
“Setelah saya dari wartel saya tidak berani pulang pak, maka saya cari tempat untuk tidur, saya mau tidur di masjid desa takutnya malah tidak boleh pak”
“Kuburan itu kuburan yang angker pak, tidak ada yang berani lewat sana kalau malam hari, dan untungnya pak Agus tidak diajak jalan-jalan oleh penjaga pos itu”
“Lalu ini bagaimana pak, apa yang terjadi dengan rumah ini?”
“Saya tidak tau pak Agus, tetapi kalau lihat posisi meja kursi yang ada di pinggir semua dan bagian tengah ruangan ini terbuka, berarti semalam ada acara disini”
“Ayo kita masuk pak Agus, kita lihat apakah ada sesuatu yang tertinggal disini”
“Maksudnya gimana pak Solikin?”
“Ya kita cari saja apa yang janggal pak, pokoknya sesuatu yang pak Agus tidak pernah melakukan atau tidak pernah tinggalkan atau buang disini”
“Ayo masuk pak, sudah jangan takut, kan ada saya pak Agus” pak Solikin berusaha untuk membesarkan hatiku
“Coba pak Agus periksa di tiap pojokan ruang tamu, siapa tau ada sesuatu yang ditinggalkan oleh orang yang sudah melakukan ini”
Kami berjalan masuk ke dalam rumah, ketika kakiku melangkah masuk, rasanya ada bau yang samar namun sedikit menyengat di dalam rumah ini.
“Bau itu… harusnya ada bekasnya di sekitar sini pak Agus” kata pak Solikin yang masih saja melihat ke sekeliling ruang tamu
“Mak…maksudnya bau apa ini pak?”
“Ini bau kemenyan yang biasanya digunakan untuk orang mati, dan harusnya ada bekas abunya di sekitar sini. coba pak Agus cari pak”
Seketika bulu kuduku berdiri mendengar apa yang pak Solikin omongkan.
Jelas saja karena maksud dari bicaranya pak Solikin itu pasti tentang adanya sekelompok manusia yang semalam sedang menyemayamkan jenazah disini.
Karena waktu mbah Karyo meninggal di bawah jenazahnya kan juga ada kemenyan yang asapnya bikin pedih mata.
“Itu nak.. di depan pintu kamar mu, ada semacam bekas pembakaran sesuatu” tunjuk pak Solikin”
“A..apa itu berbahaya pak?”
“Tidak lah pak Agus, abu sisa pembakaran yang saya duga kemenyan itu jelas tidak berbahaya, tetapi kenapa tidak ada tungkunya ya?’
“Biasanya kemenyan itu kan ada semacam tungku yang terbuat dari tanah liat”
“Sudahlah, jangan dipikirkan terlalu dalam pak Agus, yang penting sekarang pak Agus baik-baik saja pak”
“Mari saya bantu untuk merapikan meja kursi ini lagi pak” kata pak Solikin yang mulai mengangkati meja kursi yang tadi ada di pinggir semua”
“lalu…..”
“Sudahlah pak Agus, ayo bantu saya mengatur kursi ini, karena saya harus ke belakang rumah untuk bekerja pak”
“Oh iya pak Agus, tolong bilang kepada bos, pallet yang ada di belakang sudah siap untuk diangkut, kalau bisa besok pagi sudah ada truk disini”
“Karena tempat di belakang sudah penuh dengan palet”
“Ba..baik pak, nanti malam saya akan telepon bos untuk mengirim truk kesini”
Sebenarnya apa yang sedang disembunyikan oleh pak Solikin, kenapa dia tidak mau menjelaskan apa yang sedang terjadi disini?
Aku bergidik setelah mendengar pendapat pak Solikin tentang keadaan rumah ini, dan kenapa sampai ada bekas pembakaran kemenyan disana?
Pak Solikin bisa saja santai menanggapi apa yang terjadi dengan keadaan rumah ini, dia santai saja ketika tau bahwa ada kegiatan sesuatu di dalam sini.
Tetapi bagiku ini bukan hal biasa, berarti ada orang, bukan satu orang, melainkan banyak orang yang ada disini. Dan mereka habis melakukan sesuatu disini.
Meja dan kursi yang dipinggirkan , bearti tengah ruang tamu ini tadinya ada sesuatu yang besar ditaruh disini, dan kenapa kemenyan itu ada di depan pintu kamar?
Ada kemungkinan karena tengah ruang tamu ini sudah penuh sesak dengan orang, atau tengah ruang tamu ada benda besar yang diletakan.
Yang jadi pertanyaan adalah, benda apa yang tadinya ada di tengah ruang tamu itu.
Semakin dipikir, semakin mengerikan yang muncul di kepalaku!
muter2 bosen