NovelToon NovelToon
Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Status: tamat
Genre:Romantis / Crazy Rich/Konglomerat / Percintaan Konglomerat / Tamat
Popularitas:7.8M
Nilai: 5
Nama Author: Quin

Cerita ini adalah cerita kelanjutan dari Novel Love, Revenge, And The Sea, tapi Anda bisa menikmati cerita ini tersendiri, namun sangat disaran membacanya dahulu untuk tahu tokoh-tokoh di dalamnya.



Cinta itu sebuah misteri, seberapa banyak pun orang yang mencoba memahaminya, namun tak ada yang pernah bisa benar-benar mengetahui apa itu cinta sebenarnya.


Dimana kah awalnya? bagaimana cara dia bekerja? pada siapa dia akan berlabuh? bagaimana dia berjalan? membawa suka kah? atau malah menambah derita.

Akan kah cinta berakhir bahagia atau malah menabur air mata, hanya yang mengalamai cinta yang tahu rasanya.

Beribu bahkan berjuta cerita cinta telah tertuliskan di dunia, namun tetap saja tak ada yang sama.

Ini sebuah cerita tentang penantian, ketulusan, dan pengorbanan, sedikit arti cinta yang indah dengan segala lika-likunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34 - Aku Sudah Menemukannya.

Jofan masuk ke dalam kamarnya, dia melihat kamar itu kosong, untunglah dia memang mengharapkan untuk tidak bertemu dengan Aurora sekarang karena dia tak tahu apa yang harus di katakan pada aurora nantinya.

Dia segera membersihkan dirinya namun saat dia membuka pintu kamar mandinya, dia menemukan Aurora sudah ada di dalam kamarnya, menyiapkan pakaian yang akan digunakan oleh Jofan, Jofan yang melihat Aurora tampak kaget, Aurora yang melihat Jofan yang hanya menggunakan jas mandi berwarna hitam langsung tersenyum manis menyambut suaminya dengan hangat, semalam dia benar-benar tidur dengan perasaan bahagia.

Jofan melihat senyum manis itu hanya membuang wajahnya karena merasa tak enak di dalam dadanya. Aurora yang melihat balasan dari Jofan itu hanya mengerutkan dahinya, ada apa dengan Jofan? berbeda sekali dengan semalam ataukah Aurora saja yang terlalu berharap lebih pada sikap Jofan kemarin, mungkin saja, Aurora segera mengulum senyumnya.

"Kau sudah makan?" tanya Aurora lembut.

"Aku akan makan sebentar lagi," kata Jofan seadanya sambil mengambil baju yang sudah di sediakan oleh Aurora.

"Oh, baiklah, aku akan menyuruh pelayan untuk membawakannya kemari, sebentar ya," Ujar Aurora yang segera ingin keluar dari kamar itu.

"Aurora," panggil Aurora lembut, mendengar itu langkah Aurora terhenti, kelembutan suara Jofan itu malah membuat Aurora merasa ada yang salah dengan hal ini, entah kenapa perasaannya seketika menjadi tak enak.

"Ya?” kata Aurora mencoba untuk mengatasi perasaannya, mungkin ini hanya perasaannya saja.

"Aku sudah menemukannya," kata Jofan menatap Aurora dengan mata yang penuh rasa bersalah, sebentar lagi dia akan membuat perasaan wanita di depannya ini terluka, entah kenapa dia merasa sangat bersalah melakukan hal ini.

Senyuman Aurora yang sangat manis itu perlahan-lahan hilang, wajahnya yang menatap Jofan itu tampak berubah syok, dia berdoa kepada Tuhan setiap malam untuk menguatkan dirinya jika momen ini terjadi, saat dia sah menjadi istri Jofan, dia tahu suatu saat momen ini akan terjadi padanya dan setiap hari dia menyiapkan dirinya untuk hari ini, bagaimana dia harus bertindak dan menanggapinya, tapi ternyata … dia sama sekali belum siap, tetap saja hatinya begitu sakit mendengarkannya, apakah ini tanda bahwa sebentar lagi dia bukan siapa-siapa di hidup Jofan? 18 tahun bersama dia sudah cukup senang karena bisa bersama dengan pria ini, tapi sebentar lagi, dia benar-benar bukan siapa-siapa, hal itu menyulut rasa sedihnya yang mendalam, matanya mulai berkabut memburamkan sosok pria yang sebantar lagi dia takut tidak bisa dia sebut lagi suaminya.

"Benarkah?" kata Aurora mencoba untuk tersenyum, namun raut wajahnya malah lebih terlihat menyedihkan membuat Jofan semakin merasa bersalah, apa lagi saat dia melihat Aurora tampak salah tingkah mencoba untuk menutupi perasaan sedihnya bahkan suara bergetar dari Aurora membuat perasaan Jofan makin tak nyaman.

Aurora tak ingin terlihat menangis di depan Jofan, 18 tahun dia tidak pernah menangis di depan Jofan sepahit apa pun yang dia rasa, dia tidak ingin di akhir hubungan mereka, Jofan malah melihatnya menangis.

"Sebentar, kita akan membicarakannya nanti, aku akan menyiapkan makananmu dulu, sudah sangat terlambat dari jadwal sarapanmu, sebentar," kata Aurora sekuat tenaga untuk mengatakannya, tidak ingin berkedip, karena jika berkedip, air matanya pasti langsung jatuh, dia segera pergi dari sana buru-buru, bahkan hampir berlari.

Jofan melihat hal itu hanya bisa menggigit bibirnya, kenapa sekarang malah merasa tak rela?.

Aurora segera keluar dari kamarnya, tepat dia membalikkan tubuhnya untuk keluar dari kamar itu saat itu pula air matanya yang tulus jatuh tanpa lagi bisa dibendung, mengalir hangat membasahi pipinya yang putih kemerahan, dia menekan kedua bibirnya untuk menyembunyikan suara tangisnya, sekuat tenaga tetap berjalan menuju ke dapur namun akhirnya menyerah karena merasa sangat sakit di sekujur tubuhnya dan dia hanya bisa menyender di salah satu pilar lorong istana yang kosong itu, mencoba menuangkan rasa sakitnya sejenak, dia ingin bisa menghadapi Jofan nantinya dengan senyuman, bukankah perpisahan harus meninggalkan kenangan yang indah?.

Tak lama dia menuangkan perasaannya di sana, takut ada yang melihat dan lagi pula dia harus cepat mengantar makanan untuk Jofan, Jofan sudah terlambat sekali untuk sarapan, Aurora takut Jofan akan sakit nantinya, dihapusnya air mantanya dengan sedikit kasar, hidungnya yang berair disekanya dengan sapu tangan yang selalu dibawanya, dengan menyakinkan dirinya sendiri dia harus tersenyum, dia mencoba untuk tersenyum, awalnya sulit, dia kembali inign menangis, namun dia terus menguatkan dirinya dan berkata dalam hati.

Ayo, Aurora, kita bisa, bukannya sudah pasti hal ini akan terjadi? harus terus tersenyum, kita bisa melawatinya.

Aurora kembali menyeka air matanya namun matanya sudah terlihat merah karena menangis, hidungnya juga memerah karena tadi dia menyekanya terlalu kuat.

"Selamat pagi Nyonya," sapa seorang pelayan pada Aurora.

"Pagi, oh, bolehkah aku meminta tolong padamu, tolong antarkan makanan ke kamarku untuk Tuan Jofan, hanya makanan, biar teh aku yang membuat, dan aku ingin bertanya, apakah ada toilet di dekat sini?" kata Aurora ingin memperbaiki sedikit penampilannya, seumur pernikahan mereka Aurora selalu ingin terlihat cantik di depan Jofan dan kali ini dia tidak ingin terlihat menyedihkan.

"Oh, di ujung lorong ada toilet tamu Nyonya, silakan, akan saya antar," kata pelayan itu.

"Baik, terima kasih," kata Aurora segera mengikuti pelayan itu.

Setelah sampai di toilet itu, Aurora segera memasukinya, dia segera mengamati wajahnya yang tampak sedikit sembab, dia langsung mencuci wajahnya beberapa kali dan untunglah wajahnya sudah mulai membaik, setelah itu dia segera keluar, Jofan pasti sudah menunggunya membuatkan minuman.

Aurora segera memasuki kamarnya, benar saja Jofan sudah terlihat duduk sambil menikmati sarapannya, Aurora segera pergi ke pojok tempat dia biasa membuatkan teh untuk Jofan, dia segera menyeduh teh itu, semerbak wangi teh bercampur mawar tercium oleh Aurora, dia menarik napas panjang sebelum dia mengantarkan teh itu pada Jofan.

"Ini, silakan," kata Aurora dengan senyuman yang tampak manis seperti biasanya, Jofan melirik ke arahnya, perasaannya masih tak enak, namun melihat senyuman Aurora itu, hatinya cukup terobati.   Aurora lalu duduk di samping Jofan.

"Kau sudah makan?" tanya Jofan

"Sudah, aku sudah makan bersama anak-anak tadi," kata Aurora lagi masih dengan wajah senyumnya.

"Aurora aku ingin mengatakan padamu tentang Sania," kata Jofan lagi, cepat atau lambat dia harus mengatakan ini pada Aurora. Aurora terdiam sejenak, dia menarik napas panjang kembali, mencoba untuk kembali menyiapkan dirinya, namun tetap saja dia tak bisa siap dengan apa yang akan dikatakan oleh Jofan, tapi mau tak mau, dia harus mendengarkannya.

1
Betty Wulansari
Ceritanya benar benar menguras emosi dan air mata, jalan ceritanya susah ditebak, cerita dari Kak Quin selalu all out, Kak Quin keren 😍😍😍
Betty Wulansari
😭😭😭
elsaanisya
sebelum ini udh ada novel ceritanya ya ? belum ngeh hubungan Archie sama suri
annisya yulianti
Huxley klo bucin serem ya, Angga vs Aksa dulu aja sampe ribet culik2an, tunggu ada yg mati dulu baru adem 😅
annisya yulianti
suri bego!
Tya Afat
Johan betul2 ksatria
Tya Afat
aku udah baca yg ke 4 kalinya. tetap suka
Tya Afat
aku mampir lagi. heheheh....ini sdh ke sekian kalinya membaca ulang. belum move on
Ayu Annisa
Jared Suri🫶🏻
Jin Noona
baca novel Quin dari tahun 2019, seingatku . sebelum adanya grup chat , dan mt nt hits d awal 2020 pas Corona sampe sepi seperti skrg . tapi aku ga pernah hapus mt , karena sering bolak-balik baca lagi karya ka Quin . entah sudah berapa kali. dan novel ini yang paling aku suka .
Tya Afat: samaaa....aku jg sukaaaaaaaa
total 2 replies
palupi
terimakasih 💐💕
palupi
Luar biasa
Wangintowe Tundugi
acting
Wangintowe Tundugi
tanya author pasti tau bang archi 😆
Wangintowe Tundugi
keren kamu ceyasa
Wangintowe Tundugi
hujan hehe
Wangintowe Tundugi
hanya author yg tau
Wangintowe Tundugi
siena entah utusan siapa
Wangintowe Tundugi
di part ini suri egois
Wangintowe Tundugi
kok sy merasa bukan ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!