mohon bijak 21+
cerita sederhana, tentang cinta yang butuh perjuangan, tentang wanita yang harus memilih antara cinta dan suaminya.
apa dia akan memilih cinta yang dia idamkan atau memilih cinta suaminya yang sudah bnyak memberinya luka, atau dia memilih jalan lain dari keduanya?
ini akan ada dua versi cerita, yang pertama Dila dan Andri, dan cerita kedua ada Diana dan Rusdy...
jadi simak ya gaes... karena ini tentang PIL yang di miliki oleh para wanita, meski tidak semua🤫🤫🤫
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
penjelasan
"jadi kenapa tadi mencariku, kamu kan tau aku tak suka bicara saat sedang bekerja, berhubung kita sedang istirahat, apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Hendra yang baru duduk dan membawa makanan yang di belinya.
"eh tumben, kemana kotak bekal dari istri tercintamu itu, bukankah biasanya selalu di bawakan bekal," kata Andi.
"ya gak di kasih lah, orang bekalnya di kasih pria lain, bahkan mereka berpelukan di taman ujung komplek firdaus," kata Ridwan.
"apa maksud mu?" tanya Hendra yang kaget.
"kamu tak tau, istrimu tadi itu berpelukan dengan pria, bahkan mereka terlihat begitu mesra, aku punya buktinya jika tak percaya," kata Ridwan.
dia pun menyerahkan ponselnya pada Hendra, ternyata itu foto Dila yang sedang memeluk pria.
tapi sayangnya wajah pria itu tak terlihat, dan hanya terlihat begitu sedih.
"bagaimana Hendra, istri mu bukan, aku tak mengira jika gadis desa itu juga bisa liar juga," ledek Ridwan.
"brengsek tutup mulutmu," maki Hendra yang mencengkram kerah baju Ridwan.
Andi dan beberapa pegawai memisahkan mereka, sedang abdi mengejek temannya itu.
"ayolah, istrimu bertingkah sok suci dari awal, padahal kemarin aku bercanda, malah dapat tamparan darinya, bikin orang kesal saja," kata Andi.
"apa maksud mu?" kata Hendra yang mulai tenang.
"ya aku hanya bilang jika kau bisa bermain dengan kekasihku, aku pun bisa bermain dengannya bukan," kata Andi tertawa.
"goblok!" marah Hendra yang menonjok wajah Andi, sedang Ridwan juga marah karena Andi begitu lancang.
jadilah tempat itu arena adu jotos, pasalnya Hendra benar-benar tak bisa menahan amarahnya.
"kalian bertiga, ikut saya ke ruangan," panggil manajer pabrik.
akhirnya ketiganya di panggil, "jadi kenapa kalian membawa urusan pribadi ke pabrik, berhenti bertingkah seperti hewan, ini tempat bekerja, bukan arena tanding bebas," marah bang Tomo.
"Hendra yang memulai bang, kami awalnya cuma berbincang saja," kata Andi melempar kesalahan.
"jika kamu yang tak memulainya, aku juga tak akan memukul mu," kata Hendra yang masih terdengar marah.
"sudah berhenti bertengkar, Hendra kamu tetap disini, dan kalian berdua kembali ke tempat kerja, dan tunggu Surat peringatan dari saya," kata bang Tomo.
"baik bang," jawab Ridwan dan Andi yang kembali ke bagian mereka masing-masing.
bang Tomo melihat Hendra, "sudah ku katakan dari awal, jangan berteman dengan mereka, tapi kau tak mendengarkan, sekarang lihat apa yang terjadi, dan untuk istrimu, apa kamu yakin dia berselingkuh," kata bang Tomo.
"tapi dia memeluk pria lain, apa gadis baik seperti itu?" marah Hendra
"Hendra, dulu kamu adalah pria baik dengan pengelolaan emosi yang sangat bagus, tapi sekarang apa ini, kamu mudah marah, berteriak bahkan main tangan," kata bang Tomo melihat Hendra.
"entahlah bang, aku selalu merasa jika aku hidup bukan hanya untukku tapi keluargaku, dan sekarang istriku, bahkan aku melakukan hal terburuk untuk mendapatkan uang," kata Hendra.
"sudah, sekarang pulang dan tenangkan dirimu, istirahat baru bicarakan dengan istrimu, dan ingat jangan pakai kekerasan untuk menyelesaikan, utamakan mendengar semua penjelasan," kata bang Tomo menginggatkan.
"iya bang, aku permisi dan terima kasih," kata Hendra yang juga mendapat surat peringatan tentang perkelahian tadi.
akhirnya hendra pun pulang dan memilih menenangkan diri, tapi saat pulang dia juga melihat sosok Dila yang ternyata baru pulang juga.
Hendra memarkirkan sepeda motornya di samping sepeda motor milik istrinya itu.
"kenapa kamu pulang cepat?" tanya Hendra dengan suara dingin.
Dila hanya melihat Hendra yang bahkan masih belum mau menatap dirinya.
Dila pun tak menjawab, tiba-tiba matanya gelap dan tak sadarkan diri.
Hendra yang kesal ingin marah, tapi dia kaget melihat Dila yang sudah jatuh ke tanah.
"dek kamu kenapa?" kaget Hendra yang langsung mengendong istrinya itu masuk kedalam rumah.
Hendra panik karena Dila yang nampak begitu pucat, dia segera menelpon dokter.
tak lama dokter datang dan mulai memeriksa kondisi dari Dila, ternyata wanita itu stres dan juga kelelahan.
hendra yang awalnya ingin marah malah terdiam melihat Dila yang tak membuka matanya.
Dila membuka matanya dan melihat Hendra di sampingnya, dia ingin bangun tapi Hendra menahan istrinya itu.
"tidur saja, kamu masih lemah, memang kenapa kamu bisa sampai pingsan?" tanya Hendra yang mengambilkan air teh manis untuk Dila.
"aku hanya masuk angin biasa," jawab Dila dengan suara lirih
"kenapa, bukankah kamu baru selesai bertemu kekasih gelap mu, bahkan terang-terangan berpelukan dengan pria asing di pinggir jalan," kesal hendra.
"apa maksud mas, aku tak mengerti, karena aku hanya bertemu kakak sepupu ku, dia putra pakde gun," terang Dila.
Hendra pun merasa malu, pasalnya dia curiga pada keluarga Dila, "tapi kamu tak pernah bilang dia kerja disini?"
"karena dia batu menemui ku satu kali, dan tadi dia memberikan sebuah titipan dari pakde, jadi kami bertemu sebelum ke pabrik," jelas Dila.
Hendra pun langsung memeluk Dila, "maaf ... seharusnya aku mempercayai dirimu, bukan membela teman gila ku itu, yang ternyata ingin melecehkan mu,"
"iya mas," jawab Dila singkat.
Keduanya pun memilih bersandar di dinding, "dek sebaiknya kita pulang ke desa, dan mas mungkin akan mulai usaha, apa kamu keberatan,"
"tentu tidak mas, kita lebih baik mulai Semuanya dari nol ya, dan melupakan semua masa lalu buruk," jawab Dila.
"baiklah, kita pulang dan mengundurkan diri, terlebih aku juga tak mau jika terus curiga, kita tutup semua lembaran buruk ya," kata Hendra yang di angguki oleh Dila.
kali ini Dila memutuskan untuk memberikan kesempatan pada pernikahannya.
terlebih dia melihat kesungguhan dari Hendra yang ingin mulai semuanya dari awal dan hidup sederhana di desa.
sore hari keduanya pun segera membuat surat pengunduran diri, bahkan Hendra terus memeluk tubuh dila dari belakang.
"ada apa? kenapa sedih lagi?" tanya Hendra.
"aku ingin bertanya, saat mas berkata ingin lembur tapi pulang jam dua belas malam, di tubuhmu tercium aroma alkohol dan juga aroma parfum wanita yang menempel di tubuhmu," kata Dila yang masih belum dapat penjelasan.
"ah itu, ya aku sedang pusing jadi kami langsung pergi minum-minum setelah selesai lembut, dan kekasih dari Andi memelukku dan itulah kenapa di tubuhku tercium aroma parfum wanita,"kelas Hendra.
"itulah kenapa dia ingin memakai aku, karena ma yang memakai kekasihnya, padahal mas sudah berjanji untuk tidak melakukannya," kata Dila sedih.
"tidak sayang, dia hanya memeluk diriku, tapi kenapa Andi ingin melecehkan mu, apa dia tak melihatku yang selalu membantunya, pria itu harus di beri pelajaran sepertinya," marah Hendra.
"tidak mas, oh ya nanti kakak sepupuku ingin bertemu dengan mu, dan menjelaskan semuanya, agar mas tak salah paham lagi," kata dila tersenyum sambil bersandar di tubuh Hendra.
sukses
semangat
mksh
udah tahan nafas nih bacanya dr tadiiii
hamil gak yaa dia???
tp klo fatin uda lupa ingat.an bkalan susah.
mending mahi sam husna ajj.
kasian husna nya sdah tdak perawan di tnggl calon nya meninggal