Keisha harus putus dengan seorang yang sangat ia cintai, hanya karena sebuah kebodohan.
Setelah ucapan yang membuatnya menyesal itu, Keisha harus terjebak dalam sebuah pernikahan yang sama sekali tidak terbayangkan.
Sebuah pernikahan kontrak yang membuatnya tidak bisa menolak, karena nyawa orangtuanya selalu dijadikan senjata sebagai ancaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
"Jangan memaksa siapapun untuk mencintai atau membenci, karena kita takkan pernah bisa mengatur hati seseorang"
ILONA SHANUM...
(Buat yang mau gabung GC tinggal ketik judul novel yang kalian baca ya biar aku gak usah buka profil)
_______________________________________
Beberapa jam menempuh jalur udara, ditambah waktu untuk mereka tiba di penginapan, tak sedikitpun Reynand melepaskan tangan istrinya sembari menggendong Nabila yang masih malas untuk berjalan sendiri.
Pria bertopi serta masker hitam tersebut, meletakkan tubuh putrinya di atas ranjang big size dan membiarkannya meregangkan tubuh.
Memilih hotel dengan fasilitas mewah untuk keluarga kecilnya, Reynand merasa hanya tempat itu yang aman dari musuh mungkin berkeliaran.Sebuah hotel dengan view indah kota Bangkok, kamar memiliki fasilitas dapur dipilihnya agar Keisha nyaman bersama putrinya.
"Dia sudah tertidur lagi" tawa kecil Keisha melihat putrinya sudah kembali terlelap.
"Nabila memang selalu tidur saat perjalanan" sahut lelaki sudah melepas topi juga masker tersebut duduk di atas ranjang.
"Pasti dia mirip dengan mamanya, sangat cantik" mengamati wajah putrinya, Keisha memuji dengan tersenyum.
"Dia memang sangat mirip dengan mamanya, semua sikap manjanya juga sangat mirip" cerita Reynand ikut mengamati wajah lelap amat polos Nabila.
"Kenapa kamu tidak menikahinya? bukankah kalian sudah memiliki anak?" penasaran Keisha bertanya.
"Kalau aku menikahinya, mana mungkin aku bisa menikah denganmu?" menoleh kearah perempuan masih berdiri di samping ranjang.
Membalas ucapan Reynand dengan tersenyum cantik, Keisha tidak pernah tahu bagaimana cara berpikir Reynand tentang sebuah hubungan. Sering mendapati dengan banyak wanita berganti ganti, Keisha tak percaya jika Reynand bisa mencintai dan menjalin hubungan dengan seorang wanita saja.
Mengamati wajah cantik Keisha, Reynand menariknya mendekat dan meletakan tepat di atas pangkuannya. Duduk memunggungi lelaki melingkarkan tangan pada perutnya, Keisha merasa risih dan sesekali menoleh kearah Nabila.
"Lepas, aku tidak mau Nabila melihat kita seperti ini" ucap Keisha mencoba melepaskan tangan lelaki yang semakin erat melingkar pada perutnya.
"Kapan anak kita tumbuh disini?" lembut Reynand mengusap perut istrinya, dengan dagu bersandar pada bahu.
"Rey, aku tidak ingin mengandung anakmu dan kamu tahu itu bukan? jangan mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin" ucap Keisha lirih, takut bila terdengar putrinya.
"Apa kamu akan bahagia bersama Reza?" tanya Reynand tiba tiba, menoleh Keisha cepat.
"Kenapa? kamu ingin berusaha melenyapkannya lagi?" tanya Keisha sinis.
"Aku akan mandi, setelah Nabila bangun kita bisa langsung mengajaknya jalan jalan" sahut Reynand.
Mengangkat tubuh Keisha dari pangkuannya, Reynand tak kuasa untuk melanjutkan membahas tentang Reza. Ia sebenarnya tak benar benar ingin tahu apakah Keisha akan bahagia bersama Reza atau tidak, karena hal itu akan menyakiti dirinya sendiri ketika mendengar.
"Tunggu! kamu belum jawab pertanyaan ku!" tegas Keisha mengejar lelaki sudah berjalan ke arah kamar mandi, menahan tangannya agar menjawab.
"Aku tidak akan melakukan apapun, kamu bahagia atau tidak aku tidak ingin mendengar. Karena aku cuma mau kamu bahagia denganku bukan lainnya" sahut Reynand.
"Mandilah, aku akan menyiapkan pakaian untuk Nabila" ucap Keisha menghindar dari ucapan tampak tulus kembali.
Memejamkan mata, menelan saliva dengan tangan mengurut kening. Reynand tidak tahu lagi bagaimana cara meyakinkan Keisha akan ketulusan cintanya. Terlampau sulit untuk menggapai hati yang telah tergores luka selama ini olehnya.
Sedangkan di kediaman Reynand, sudah datang Anita ke sana karena tak bisa menghubungi kekasih yang semalam berjanji untuk bertemu. Seorang pelayan menghampiri Anita dengan sopan, dan bertanya pada wanita berekspresi geram di tengah pintu.
"Dimana Reynand?!" tegas Anita bertanya.
"Tuan sudah berangkat bekerja, Nona" sahut pelayan wanita berseragam hitam putih tersebut membungkuk, disingkirkan segera tubuhnya kasar oleh Anita.
Terburu bur masuk dalam hati ingin memaki, Anita di cegah oleh kepala pelayan dan semakin membuatnya ingin meledak. Tak menyukai siapapun menghalangi ketika dirinya ingin bertemu Reynand, wanita cantik dengan rambut Curly itu melotot mengisyaratkan sebuah ancaman.
"Menyingkir dari jalanku pria tua!" kasar Anita, dibalas senyum pria di hadapannya.
"Maafkan saya Nona, tapi Tuan tidak ada di rumah" sopan pria masih tersenyum itu membungkuk untuk menjawab.
"Minggir! aku akan melihatnya sendiri!" tegas kasar Anita.
"Maaf, Nona. Anda tidak bisa sembarangan masuk ke dalam" sopan kembali pria paruh baya tersebut menghadang.
"REYNAND!" teriak kuat wanita dengan setelan blazer biru tosca tersebut menatap ke lantai atas rumah.
Mengisyaratkan dengan mata pada dua penjaga ingin menyeret keluar Anita, kepala pelayan yang memiliki tanggung jawab besar akan rumah Reynand itu malah memanggil seorang pelayan.
"Antarkan Nona Anita ke kamar Tuan!" perintahnya pada seorang pelayan yang tadi sempat menemui Anita lebih dulu.
"Baik" sahut pelayan perempuan tersebut penuh hormat.
Mempersilahkan Anita untuk mengecek sendiri ke kamar Reynand, ia memahami betul jika Anita takkan berhenti membuat keributan sebelum memastikan sendiri.
Menyingkirkan tubuh orang kepercayaan Reynand di rumah, Anita melewatinya dan berjalan ke arah anak tangga. Seorang pelayan juga dua orang pengawal mengikuti dari belakang, demi memastikan jika Anita takkan melakukan apapun pada kamar Tuannya.
Begitu ia sampai di depan kamar dengan pintu tinggi tertutup rapat, segera ia membuka dan masuk. Tak mendapati adanya lelaki yang berjanji menemaninya satu hati ini, Anita berjalan menyusuri semua kamar dan mengeceknya sendiri.
"Brengsek kamu Rey!" memaki Anita kesal.
Melampiaskan amarah juga rasa kecewa dengan memukul pengawal tak bersalah, Anita kembali turun dengan emosi membumbung tinggi. Panggilan tidak dijawab, juga tak bisa ditemui membuat Anita sangat marah dari pagi hingga memutuskan untuk datang sendiri.
Kembali mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh, Anita berniat menghampiri Vano dirumahnya dan mencari keberadaan Reynand di sana.
Dalam perjalanan, ia memerintahkan seseorang melalui sambungan telpon untuk mencari keberadaan Keisha juga Reza. Bersumpah dalam hati akan melenyapkan Keisha, jika kini ia menghalangi kembali hubungannya dengan Reynand.
"Sekali saja aku tahu kamu bersama dengan Reynand, aku tidak akan pernah melepaskan mu Keisha!" geram Anita, menekan kuat pedal menuju kediaman sahabat yang mencintai dirinya tulus.
"Orangtuamu akan menanggung semua kesalahanmu! kita lihat saja!" tambah kembali wanita berekspresi layaknya singa kelaparan.
Tidak mengetahui jika Reynand telah menahan kepergian Keisha untuk satu Minggu, kemenangan yang ia rasakan sebagai permaisuri atas diri Reynand kini harus terluka.
Tidak peduli siapapun akan ia lenyapkan untuk membalas Keisha atas apa yang terjadi. Sempat meremehkan Keisha sebagai istri kontrak Reynand, kini ia sangat menyesal karena tak mau dinikahi dulu.
**LIKE ya... Bantu RATE 5 STAR juga, di halaman cover novel tinggal klik bintang. Makasih😘😘
**
**
**