Satu demi satu penduduk di Kota Bjork menghilang secara misterius. Jose, anak lelaki keempat dari keluarga Argent memutuskan untuk menyelidiki hal tersebut setelah pelayan di keluarganya mati mendadak. Hal yang aneh adalah, mayatnya ditemukan kering tanpa darah. Sejak itu rentetan kematian dan orang hilang mulai muncul dalam jumlah besar. Kecurigaan Jose tertuju pada orang baru di kota tersebut, William. Penyelidikan Jose malah membawa dirinya ke rahasia gelap di Bjork.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara Zwei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35
Ketika melihatnya datang, Sir William menunduk dengan sopan dan memberi salam dengan gaya lama. Mau tak mau, Maria jadi ingat pada Jose. Keluarga Argent juga selalu memberi salam dalam gaya lama. Mereka hampir tidak pernah hanya memberi anggukan singkat seperti yang dilakukan para pria sekarang. Banyak orang merasa sikap keluarga itu terlalu dibuat-buat agar terlihat jelas sebagai keluarga dengan sejarah tua, tetapi Maria tahu bahwa setiap anggota keluarga tersebut melakukannya dengan sangat alami tanpa dibuat-buat, sebab mereka memang hanya mendapat didikan cara lama.
Seperti yang dilakukan Sir William sekarang. Pria itu bergerak tanpa terlihat dibuat-buat, seakan ia memang sudah berada di istana sejak kerajaan dijadikan.
Kepala pelayan serta dayangnya menemani Maria menemui Sir William agar tidak timbul kabar buruk karena gadis perawan menemui pria lajang berduaan saja. Mereka berdua mengobrol tanpa arah. Segala kelelahan dan kecurigaan Maria segera lenyap karena terlalu asyik mengobrol. Pria itu punya suara yang merdu yang bisa membuat para gadis terlena. Maria juga mendapati dirinya tidak bisa melepaskan pandangan dari mata biru Sir William yang dalam dan tenang, rasanya seakan-akan ia sedang menatap langit tak berujung.
“Dan saya dengar, dua hari lagi kota ini akan mengadakan pesta?” Sir William bertanya, matanya berbinar penuh ketertarikan.
Maria, yang senang melihat pendar di mata biru itu, segera mengangguk antusias. “Ya, ada festival tahunan. Biasanya orang-orang akan turun ke jalan, menyalakan kembang api, yah seperti itu.”
“Orang-orang turun ke jalan? Semuanya?”
“Tentu saja, tahun lalu seperti itu. Ada banyak bazar dan panggung! Mungkin akan ada sirkus."
“Kembang api?” William mengusap rahang pelan-pelan, kelihatan sangat tertarik. “Berarti festivalnya akan diadakan malam hari?”
Maria mengangguk pelan, berusaha keras menenangkan debar jantungnya yang masih tidak mau tenang. Ia jadi khawatir ada yang salah dengan tubuhnya. “Tahun lalu diadakan malam hari, tetapi untuk sekarang ini entahlah. Mungkin tidak akan seperti itu mengingat Bjork sedang dalam kondisi makin mencekam. Polisi pasti tidak mengizinkan festival dilaksanakan terlalu larut.”
“Dan kalau mereka tetap mengizinkannya?” Sir William menampilkan seulas senyum yang tipis, hampir terlihat seperti sedang main-main.
“Kalau mereka mengizinkannya?” Maria tertawa. “Apa Anda sedang menawarkan diri untuk menemani saya?” Ia hanya menggoda.
“Saya akan merasa sangat senang kalau Anda bersedia menemani saya,” balas Sir William serius.
“Kalau festival itu jadi diadakan,” Maria mengulang.
“Tentu, kalau festivalnya diadakan.” Sir William mengangguk lembut. Mata birunya berkilat lebih redup, tetapi hal tersebut luput dari penglihatan Maria.
***
Nolan baru saja menyusun kayu bakar dengan rapi di dalam gudang menjadi tumpukan berbentuk piramida. Ia menatap susunan barunya dengan puas, senang karena berhasil mendapat lebih banyak dari rata-rata yang biasa didapatkannya.
Ia mengusap pipi pelan-pelan, mendadak teringat akan tamparan yang dilayangkan kepadanya malam lalu. Hatinya masih terasa panas dan dongkol mengingat apa yang ia alami semalam, tetapi Nolan tidak menyalahkan Jose. Ia memang sudah selalu diberi tahu agar menjaga mulutnya, apalagi di hadapan orang-orang kaya.
Kalau ayahnya masih hidup dan tahu bahwa ia berani membentak dan mengata-ngatai orang terpandang dari Bjork sebelah utara, Nolan tahu ia pasti akan dimarahi. Ayahnya adalah orang yang sangat menjunjung etika dan tata krama. Orang-orang bilang pria itu orang Utara. Nolan belajar banyak tentang cara berbicara dan bertutur yang sopan dari sang ayah. Kalau mau, Nolan bisa saja betutur dan berlaku lebih santun daripada nona-nona kaya di sebelah Utara, tetapi ia lebih suka bicara dengan menggunakan adat lokal. Ia benci orang-orang Utara, terlebih para pemudanya yang tak tahu adat.
Nolan menyentuh rambut pendeknya, lalu bergidik sendiri.
Ia masih ingat dengan jelas tatapan menghina yang didapatnya dari Nyonya Argent. Kalau mau diakui, yang memberinya sikap paling baik memang Nyonya Argent, tetapi Nolan berpendapat bahwa itu tidak tulus. Wanita itu hanya menghibur dirinya sendiri alih-alih menolong Nolan. Wanita itu mungkin merasa derajatnya terangkat naik dengan mengasihani orang lain. Nolan justru lebih menghargai penolakan terus-terang dan tatapan tanpa belas kasihan dari Marco.
Sekarang Nolan jadi ingat kalung yang diserahkannya kepada Marco. Ia menemukannya ketika pulang dari mengantar Jose ke jembatan. Kalung itu ada di dekat rumah, tepat di tempat mereka bertabrakan.
Nolan masih memikirkan kalung indah itu untuk beberapa saat, kemudian menggeleng pelan. “Tak ada gunanya memikirkan itu. Sudah bukan urusanku lagi.”
“Apanya yang bukan urusanmu?”
Suara itu terdengar penasaran dan polos, membuat Nolan berbalik kaget. “Sejak kapan kau di situ?!” serunya kesal ketika melihat siapa yang ada di belakangnya.
Jose Argent. Kali ini pemuda itu mengenakan kemeja hitam polos dipadu jas bergaya kasual yang tidak dikancing serta celana kain polos. Meski sederhana, dilihat sekilas pun semua setelannya jelas mahal. Tekstur kainnya, kelimannya, jahitannya yang tak terlihat, bahannya. Nolan mencibir penampilan itu dalam hati. Ia selalu benci melihat orang kaya yang berusaha berpenampilan sederhana tetapi tetap terlihat kaya.
“Apa kau selalu bicara sendiri saat sedang melamun?” Jose memberi cengiran lebar yang kelihatan lucu.
“Apa kalian orang kaya selalu muncul seenaknya di daerah orang lain?” balas Nolan sengit.
“Namaku Jose. Bisakah kau berhenti bicara soal orang kaya ini atau orang kaya itu?”
“Bisa saja kalau kau bukan orang kaya.”
“Kau pernah punya pengalaman buruk dengan orang kaya? Kenapa antipati sekali?” selidik Jose sambil berjalan mendekat. Suara sol sepatunya teredam rerumputan hijau yang dia injak. Matanya mengamati Nolan, tertuju jelas ke arah rambutnya, atau mungkin pemuda itu hanya mengamati wajahnya, Nolan tidak tahu. Jose tampak serius saat melanjutkan, "Kau juga bersikap panik berlebihan saat kita bertemu pertama kali. Apa ... apa ada orang utara yang melakukan sesuatu padamu?"
Seluruh tubuh Nolan terasa seperti disiram air dingin. Pandangan Jose barusan, nada dinginnya yang menyimpan amarah, semua itu membuat Nolan merasa Jose bisa membaca apa yang terjadi dalam hidupnya. Itu membuatnya malu, dan berang. “Kau datang untuk mengorek-ngorek kehidupanku?” sahutnya pedas. Ada banyak kayu di sini, ada banyak senjata. Ia bisa memukul kepala Jose kalau lelaki itu kurang ajar. Nolan bahkan sudah membayangkan skenario terbaik.
Seperti dulu, saat didorong jatuh, ia akan meraup segenggam tanah, melemparkannya ke mata lelaki itu, kemudian mengambil titik buta dan memukul. Ia akan memukul, memukul, dan memukul sebelum lelaki itu sempat menjerit.
Jose tinggal di rumah besar yang seperti istana. Kelihatannya pemuda itu bukan orang kaya biasa, jadi ia pasti akan repot mengurus akibatnya, tapi setiap hari orang hilang di Bjork.
Setiap hari, Nolan mengepalkan kedua tangannya erat-erat, kaget menyadari dirinya gemetaran.
***
kak Nara gk ada niatan nerbitin karyamu kah?
pengen punya versi buku fisiknya😔
dari baca sambil nunggu kaka up sampe baca ulang karna kangen😞😞