Cerita ini mengkisahkan seorang wanita cantik yang bekerja di sebuah perusahaan besar milik seorang pria terhormat,sesuatu terjadi pada kedua nya dan memaksa mereka untuk menikah dan mengikat sebuah status di antara mereka,namun keterpaksaan menikah di antara kedua nya membuat mereka yang dekat tinggal satu atap tapi berasa berjarak.
pernikahan ini, hanya mereka dan keluarga yang tahu,tak ada satu orang pun yang di perusahaan yang mengira mereka adalah suami istri,kira - kira seperti apa kisah Rara dan Rehan menjalani status suami istri mereka,Yuk di simak.
Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shanti san, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34 - Tidak Bersemangat
"Ingat lah perjanjian ini,jangan sampai ada yang tahu tentang ini,terutama orang tua ku,jika kau ingin ceritakan soal ini pada teman mu,maka pilih teman yang bisa menjaga rahasia ini,kalau sampai bocor maka kau yang tetap akan di salah kan." Tutur Rehan dengan tegas.
Rara hanya terdiam dan mengangguk saja,ia tak sanggup lagi berkata,berdiam dan ikut saja permainan ini,itu lah yang dapat Rara lakukan.
"Setelah menikah,kau akan tinggal bersama ku di rumah baru ku,kau bisa bebas melakukan apa pun,begitu juga dengan aku. tak perlu mencampuri urusan ku."Ucap Rehan lagi sedikit mempertegas suara nya agar Rara mengerti maksud nya.
"Iya."Balas Rara dengan suara tak bersemangat.
Setelah malam itu.
Keluarga Rehan pun pamit pulang,setelah mengantar kepulangan keluarga Rehan di teras rumah,Rara terduduk di tangga teras rumah rumah,sejenak ia membayangkan bagaimana kisah kehidupan yang akan ia rajut setelah tinggal bersama dengan Rehan nanti.
Menghela nafas berkali - kali,menundukkan kepala dengan begitu tidak bersemangat,ingin rasa ia menangis,tapi ia tak melakukan nya,mencoba menguatkan hati nya dari jeritan yang ingin tersalur di bibir nya,tak ada lagi yang dapat ia lakukan,semua sudah di bicarakan di setujui dan akan segera di laksanakan.
Dering ponsel Rara berbunyi. ia menoleh ke ponsel nya yang ia letakan di samping ia duduk saat ini,sahabat nya menelepon,ia mengacuhkan nya,ia sedang tidak ingin bicara dengan siapa pun,membiarkan ponsel itu berbunyi terus dan akhirnya mati dengan sendirinya.
Yogi yang berdiri di pintu menatap kakak nya yang duduk di teras rumah saat mendengar ponsel Rara terus berbunyi. Ia bisa melihat kesedihan di wajah kakak nya itu,meski ia sendiri tak mengerti kenapa kakak nya harus merasa sedih ketika ia bisa menikah dengan laki - laki yang menjadi kekasih nya dan pasti ia sayangi.
•••
Keesokan pagi nya.
Seperti biasa Rara akan kembali ke kantor bekerja,siap lansung berangkat kapan saja jika di jam kerja nya ia harus di ajak untuk soal pernikahan mereka.
Pagi ini Rara sudah siap lebih awal untuk ke kantor,ia bahkan sudah duduk di ruang tamu menunggu mobil Rehan datang.
Saat mobil Rehan datang,Rara lekas menghampiri agar tidak perlu lagi bos serta calon suami nya itu turun memanggil nya. Tidak lupa ia berpamitan dengan sang nenek sebelum ia berangkat.
Namun saat mendekati mobil dan membuka pintu mobil itu,ia bukan melihat Rehan,namun Sekertaris Rans yang menjemput nya.
"Silakan masuk Nona."Ucap Sekertaris Rans dengan raut wajah datar dan dingin seperti biasa nya.
"I - iya."Balas Rara yang masih sangat canggung dengan pria itu.
Rans menjalankan mobil,Rara pun hanya duduk diam memandangi jalanan,tidak ada percakapan diantara mereka. sangat sunyi dan sepi meski ada suara radio yang menyala.
Rara pun Tak bertanya kenapa Rans yang menjemput diri nya,bukan Rehan,karena merasa itu bukan lah hal yang penting ,sama saja siapa pun yang menjemput dirinya,sama - sama akan merasakan hawa dan suasana yang sama meski dengan orang yang berbeda.
Mobil berhenti di halte tempat biasa Rara menunggu bus. "Sudah sampai Nona."Ucap Rans.
Rara melihat sekitaran,karena ini tepi jalan dan ternyata Halte tempat biasa ia turun saat di antar Rehan,Rans bisa tahu ia turun disini,mungkin Rehan sudah memberi tahu nya. "Pikir Rara.
"Terima kasih."Balas Rara dan Turun dari mobil.
Rans kembali menjalankan mobil nya,berbalik arah entah mau ke mana.
"Apa dia menjemput pak Rehan?."Pikir Rara.
"Ah sudah lah,ngapain mikirin dia."Gumam Rara lagi dan berjalan ke arah kantor nya.
Rans kembali menjalankan mobil nya ke rumah Rehan,untuk menjemput Rehan ke kantor setelah mengantar Rara sesuai dengan permintaan bos nya. "Kau sudah menjemput nya?." Tanya Rehan.
"Sudah bos."Balas Rans mengangguk.
"Kalau begitu,ayo berangkat."Ucap Rehan dan Rans pun mengiyakan. menjalan kan kembali mobil ke kantor,melewati pagi yang melelahkan,menjadi supir dan bolak balik padahal di arah jalan yang searah.