Davina pikir dia akan menjadi pengantin paling bahagia hari ini. Pernikahannya berjalan dengan baik bahkan sampai dia mengucapkan janji setianya pada lelaki impiannya.
Namun, tiba-tiba seseorang bangkit dari tempat duduknya untuk merusak segalanya.
"Calon pengantin perempuan itu milik saya, Pak Pendeta! Dia tidak boleh jadi milik orang lain!" kata Raka, tegas.
Seluruh jemaat yang hadir langsung gaduh.
Apakah Davina jadi menikah hari ini? Atau dia harus mengenyahkan terlebih dahulu si iblis yang selalu mengganggu hidupnya selama ini?
Covers obtained from pexels, free to use.
IG Author : @ingrid.nadya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingrid nadya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Always Gonna Find Her
Raka menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Tia. Dia baru sadar bahwa ini adalah kali pertama dia menjemput seorang wanita lagi setelah dua tahun lamanya. Setelah dipikir-pikir, Raka tidak pernah berniat mencari wanita lagi setelah hubungannya dengan Dvaina berakhir.
“Buset! Mandi parfum segalon, Bu?” komentar Raka saat Tia masuk ke dalam mobilnya.
“Shut up and just drive!” desis Tia.
(Diam dan nyupir aja deh!)
Raka tertawa lalu mulai menjalankan mobilnya.
“Cowok mana sih yang mau lo gaet, Ti?” tanya Raka.
“Mau tau aja lo.” Tia mengalihkan wajah pada jalanan.
“Cie, main rahasia-rahasiaan! Lo mah tipenya gak jauh-jauh dari mantan lo kan? Siapa namanya? Yang penyiar radio?”
“Berisik, Ka!!!”
“Dih, marah. Tapi gue sih cuma mau confirm sesuatu, Ti. Lo gak lagi ngegebet gue kan? Lo gak salah paham kan gue ajak ke kondangan?”
Tia melirik Raka dari atas sampai ke bawah dengan pandangan meremehkan.
“Sorry, Ka. Gue gak demen cowok kayak lo.”
Raka tertawa, “Sial! Gue sih seneng kalau lo gak naksir sama gue. Tapi gue tersinggung juga sih. Emang cowok kayak gue ini, gimana?”
“Petakilan. Dan pastinya, brengsek.”
Raka tertawa lagi. Segitu jeleknya kah citra dirinya di mata para wanita? Tapi dia tidak terlalu peduli. Hanya pendapat satu wanita saja yang penting untuknya saat ini. Dia tidak perlu pendapat lain.
“Kita gak usah lama-lama ya disana, Ti.”
“Iya lah. Ngapain juga lama-lama.”
“Siapa tahu lo emang pengen tebar pesona sama om-om tajir kenalan Pak Rizal.”
“Gelaaaa! Gue udah kaya, gak perlu sugar daddy!”
Raka tertawa. Jika dia adalah iblis pria, maka Tia adalah iblis wanita. Sebenarnya kalau dia bisa menyukai Tia, mereka akan menjadi pasangan yang sangat cocok.
Tapi hati Raka hanya milik seseorang. Dari dulu sampai seterusnya.
Mobil pun melaju, tanpa banyak perbincangan berarti setelah itu.
***
Begitu Raka dan Tia tiba di grand ballroom hotel yang tertera di undangan, mereka langsung berdecak kagum.
“Ini mah nikahan sultan,” kata Raka.
“Ini bukan sultan lagi, Ka. Crazy rich.”
“Pantesan kelakuan Pak Rizal begitu ya.”
“Iya. Kayaknya dia lahir di tengah batangan emas deh.”
“Kayak orang zaman dulu bahasa lo. Yang modern dikit dong.”
“Apa?”
“Dia lahir di tengah tambang bitcoin.”
Tia tertawa.
“Anjiiiiirr! Sampe ngundang artis!” Tia kembali terpukau saat melihat band pengiring acara ini.
“Lo harus lihat di arah jam dua, Ti...”
“Kenapa emang?” Tia langsung menoleh ke arah yang di maksud.
“Itu kan...”
“Presiden Indonesia.”
“Pantesan tadi kita pas mau masuk diperiksanya kayak apaan tau ya.”
Raka mengangguk-angguk.
“Gue penasaran. Pak Rizal itu sebenarnya siapa sih?” Tia langsung mengambil ponsel dan mencari tahu sosok kliennya.
“Eh, buset! Mantan menteri, coy!”
“Lah? Lo baru tahu? Infitro udah tiga bulan kali jadi klien kita! Waktu pertama kali masuk kan, anak-anak langsung heboh.”
“Yah, waktu itu kan gue tipes.”
“Bener juga!”
“Gelaaaaa! Koneksi lo hebat juga, Ka. Sampe bisa dapat klien kayak Pak Rizal.”
Raka tertawa saja. Koneksi yang dimaksud, siapa lagi kalau bukan Mahardhika Family. Ya, kalau saja, Dave tidak mengenal Raka sejak kecil, mungkin Raka sudah ditenggelamkan ke dasar Samudera Hindia karena telah merusak pernikahan Davina. Sudah dibantu kenalan dengan klien-klien potensial, malah tidak tahu berterima kasih.
Raka diam-diam menghela nafas.
Dalam hati dia berjanji, kalau sampai dia bisa mendapatkan Davina lagi, dia akan jadikan wanita itu sebagai wanita paling bahagia di muka bumi. Dia tidak akan pernah membiarkan wanita itu menangis lagi. Apalagi karena dirinya sendiri. Hell no!
Tapi, boro-boro membahagiakan Davina. Melihat Raka saja, Davina seperti melihat setan. Well, memang kelakuan Raka sebelas dua belas dengan setan sih.
Perhatian Raka teralih ke panggung, saat MC berdehem, ingin memulai acara. Raka sempat terdiam begitu melihat sang MC. Itu kan...
Dia pun cepat-cepat menoleh pada Tia dan menatapnya dengan tatapan menuduh. Si terdakwa hanya membuang muka.
“Pantesan lo mau ikut ya!” Raka menyindir.
“Tadinya gue juga ogah kalau sendirian. Gengsi dong kalau gue masih kelihatan jomblo. Tapi mumpung ada lo, bisalah gue manfaatkan.”
“Gelaaaaa! Gue diperalat!!!”
“Ya, sekali-sekali balas jasa lo! Gue udah keseringan didamprat sama Pak Rizal karena lo.”
Raka tertawa, lalu melihat lagi ke arah panggung. Mantan kekasih Tia ternyata selain jago sepik di acara radionya, ternyata juga jago memandu acara nikahan.
“Jadi, lo pengen buat dia cemburu?”
“Enggak dong. Najis! Gue cuma gak pengen terlihat menyedihkan di depan dia.”
“Lo pengen dia lihat lo baik-baik aja tanpa dia?”
“Yep!”
“Kenapa sih cewek harus selalu buru-buru pengen kelihatan bahagia di depan mantannya?! Gak bisa nunggu mantannya nyesel dulu apa, sadar sama kesalahannya. Baru deh balikan lagi.” Raka bermisuh-misuh.
Tia sadar betul sekarang ini Raka hanya sedang membicarakan isi hatinya.
“Itu bukan buru-buru pengen kelihatan bahagia. Kita emang bener-bener pengen bahagia sama orang yang tepat. Karena udah disia-siain sama orang yang gak tepat selama ini.”
“Ah, ribet!”
“Laki-laki yang brengsek, laki-laki juga yang bilang kita ribet!”
Raka tertawa. Dia tidak akan pernah menang beradu pendapat dengan Tia.
“Jadi kita mau nyalamnya kapan?” tanya Raka, mengalihkan pembicaraan.
“Ntar deh, tunggu dia turun panggung aja.”
“Oke.”
“Mau cari makanan dulu gak?” tanya Tia.
“Eh, buset! Nyalam pengantin belum, da nyari makanan aja.”
“Bodooo! Gue kan orang Indonesia sejati!” Tia melenggang pergi. Raka terkekeh, hanya bisa mengekor pada Tia.
Saat itulah dia melihat Davina.
Sedang berjalan menjauh dari Nikolas.
Raka sempat tertegun.
Bagaimana mungkin dia selalu bisa menemukan Davina dimana pun wanita itu berada? Di tengah ribuan orang yang memenuhi Grand Ballroom ini, kenapa satu wanita mungil itu bisa mencuri perhatiannya?
Dia mengamati Davina yang terlihat sangat cantik dan mempersona malam ini. Bertahun-tahun melihat Davina tumbuh, dari kecil sampai sudah sedewasa ini, hatinya tetap selalu berdesir saat Davina berdandan.
“I must be crazy...” gumam Raka.
(Gue emang udah gila...)
“Heh?” tanya Tia, menyadarkan Raka.
“Ti, gue gak pengen makan berat. Gue mau ngemil aja. Gue kesana ya.” Raka menunjuk ke sembarang arah.
Tia mengangguk.
Mereka pun berpisah.
Raka memutar dari arah sebaliknya agar Nikolas tidak melihatnya. Tapi matanya tidak berhenti memandangi Davina yang berjalan ke sudut ruangan. Dia menyadari ada sesuatu yang tidak beres saat Davina berjalan. Apakah kakinya sakit? Atau itu hanya karena dia jarang mengenakan high heels?
Raka mengambil marshmellow dan mencelupkannya pada cokelat fondue. Dia ingin punya bahan obrolan dengan Davina.
Lalu dia mendekat.
“Cinta banget ya sampe ngikutin terus?” tanya Raka, berniat mengisengi Davina.
Mata Davina membulat, wajahnya memerah. Dia ingin sekali memuntahkan amarahnya.
“Siapa juga yang ngikutin kamu???” Suara Davina melengking, membuat perhatian semua orang jadi tertuju padanya.
Dia langsung mengatupkan mulut. Raka terkekeh karena berhasil menggoda wanita itu.
Raka baru akan membuka mulut lagi, tapi tiba-tiba sebuah tangan melingkari lengannya. Dia kaget.
“Ka, darimana aja sih?” Tia muncul ntah darimana, bersuara semanja mungkin.
Raka mengernyit heran, Davina kehilangan kata-katanya.
***
Lalalalalalalala 🤪🤪
Oh iya, readers, mulai besok aku update jam 0.00 aja ya hihihi
Biar kalian lebih bebas mau baca jam berapa
Maaciiiih
IG : @ingrid.nadya
aku tantang author nya jika kau diposisi raka apakah kau akan Terima saja diperlakukan kayak gitu
jadi wanita punya hati sedikit dalam berkarya lihat juga perasaan pemeran utama pria jangan egois hanya semua tentang pemeran utama wanita (posisi diri kalian)
kalian bangga lihat novel yang merendahkan lelaki, di novel kelihatan sekali kalian tidak peduli perasaan pemeran utama pria kalian buat pemeran utama pria kayak orang bodoh yang Terima saja diperlakukan dan dipermain
ini contoh kalian merendahkan karakter raka (pria)
*dibuat kayak pengemis yang terus mengemis cinta
*dibuat kayak lelaki bodoh diperlakukan seperti apapun dia Terima begitu saja
*dibuat hanya sebagai pelarian dia Terima begitu saja
*raka yang ditolak dan campakkna tapi dia juga yang terus mengejar devina
*dipermalukan didepan banyak orang kayak pengemis
*digantung dan dibuat kayak boneka yang bisa dipermainkan begitu saja
*saat diperlukan dia harus ada tapi saat tidak dibutuhkan dia di campakan kayak sampah
author punya hati, coba kau diposisi raka apakah kau Terima begitu saja,
novel memang bagus tapi keegoisan mu sebagia wanuta sangat jelas disini
raka jelas hanya dibuat pelarian oleh davina tapi author seakan karakter raka jadi lelaki bodoh yang harus Terima saja dipermainkan devina, dipermalukan devina, dibuat pelarian devina
aku tantang author jika author diposisi raka, apakah author mau diperlakukan kayak gini
jadi novelis juga harus punya hati dalam membuat novel, jadi novel bisa adil
lihat saat raka melakukan kesalahan pada devina kalian buat devina tegas dan tidak mudah memaafkan raka
tapi saat devina yang mempermainkan raka kalian buat raga menerima begitu saja kayak lelaki bodoh
pakai hati sedikit saja thor dalam berkarya biar kelihatan betapa egois dirimu sebagai wanita dalam membuat novel
dan mirisnya jadi pemeran utama pria ketika dia salah dia akan dibuat dapat balasan dan kayak pengemis, tapi ketika dia disakiti dia dibuat harus menerima begitu saja dan kayak lelaki bodoh yang selalu siap untuk pemeran utama wanita
*aku tantang kalian (author) jika kalian diposisi raka apakah kalian akan Terima begitu saja diperlakukan kayak gitu
pakai hati sedikit dalam membuat novel jadi kalian juga memikir pemeran utama pria jangan hanya melihat dari sudut pandang pemeran utama wanita
sekian