"Mengapa wajahmu selalu merasuki pikiranku setelah mencuri ciuman pertama darimu" Kim Charlos Antony
"Sialan wajah laki-laki itu merusak pikiranku setelah ia mencuri ciuman ini" Puput Fernandez
"Mengapa hati ini begitu sulit mengungkapkan perasaan padanya" Devander
Kisah cinta segitiga antara seorang anggota TNI dengan seorang agen rahasia yang memperebutkan sebuah hati beku dari wanita tomboy
Dapatkan mereka memperjuangkan cinta & juga akan mengulik masa lalu dari agen rahasia yang di panggil jendral tersebut yang merupakan anak dari ketua mafia yang berjaya pada masanya.
cuss baca aja cerita lengkapnya.
SILAKAN PROMO DI LAPAKKU
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon othor_si_tomboi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 31
Tidak lama kemudian, saat Mia dan Hariansyah tiba di depan kamar rawat inap tersebut, membuat mereka menghela nafas berat, dan saat membuka kamar tersebut, alangkah terkejutnya mereka pun tidak mendapati sahabatnya yang berada di atas brankar rumah sakit.
Karena terlalu lama menunggu, mereka tidak menyadari, bahwa sahabat mereka berada di sekitaran taman rumah sakit tersebut.
“Lah kemana lagi tuh anak?” gumam Hariansyah yang di dengar oleh sang istri.
Di dalam kamar rawat inap milik sahabatnya tersebut, baik Hariansyah dan Mia pun, di buat kalang kabut, karena tidak mendapati sahabatnya di atas brankar miliknya.
“Sayang lebih baik kita cari dia, kalau perlu kita tanya sama suster yang berlalu lalang itu,” ajak Mia pada sang suami tercinta.
Hal tersebut membuat mereka memutuskan, untuk bertanya pada beberapa suster yang lalu lalang lewat di depan mereka, yang berdiri tidak jauh dari pintu kamar rawat inap tersebut.
Dari arah berlawanan, ada seorang suster berjalan melintas tersebut, di buat heran dengan sepasang suami istri yang tengah kebingungan mencari keberadaan sahabat mereka.
Dan sepasang suami istri tersebut itu pun, memutuskan untuk bertanya pada seorang suster yang melintas di depan mereka.
“Permisi sus, saya ingin bertanya, dimana kah pasien yang ada di kamar ini?” tanya Hariansyah sembari menunjuk ruangan rawat inap milik sahabatnya.
“Oh itu tadi saya yang mengantarnya di sekitar taman rumah sakit ini, dan juga jangan lupa sampaikan pada dia, bahwa saya hanya minta tolong ke kalian, untuk mengingatkan pesan dokter pada dia, untuk tidak terlalu lama berada di luar, karena jahitan luka di punggung itu, tidak bisa terkena angin malam,” jawab suster tersebut yang langsung mengingat sebuah pesan dari dokter Ummi Ninis.
“Terima kasih banyak sus informasinya, saya pastikan akan membawa langsung kembali ke dalam kamarnya,” ucap Mia sembari berterima kasih pada suster tersebut.
Setelah mendapatkan informasi dari seorang suster, tanpa banyak kata Mia dan Hariansyah, bergegas ke sebuah sekitaran taman rumah sakit, untuk membawa sang sahabat kembali ke dalam kamar rawat inap miliknya.
Menyusuri lorong rumah sakit tersebut, sembari mencari sebuah taman di sekitaran rumah sakit, membuat ke dua orang tersebut berhasil menemukan taman tersebut.
Netra mata sepasang suami istri tersebut, tidak berhenti berkeliling untuk mencari seseorang yang mereka cari, kemudian pandangan mereka terhenti, pada seorang yang tengah duduk di kursi roda sembari menatap langit yang akan berganti malam tersebut merupakan sahabatnya.
Sementara itu, sang pasien yang tengah duduk di atas kursi roda tersebut, melampiaskan semua yang ada di hati dan pikirannya tersebut lebih tenang dan damai, ia sangat yakin dan selalu optimis, untuk tetap bisa bangkit dari masa lalunya.
Menghapus air mata yang menetes dengan sendirinya, dan juga tidak lupa, ia berusaha menguatkan segala yang ada pada dirinya.
Namun sesaat kemudian sekelabat bayangan seorang pria yang tidak lain Chars tersebut, telah mencuri ciuman pertamanya melintas secara tiba-tiba di pikirannya.
“Ingat om, kalau sampai gua ketemu lagi sama lua, gua akan buat perhitungan dengan lu, bisa-bisanya lu mencuri ciuman pertama gua,” umpatnya sembari mengacak-ngacak rambut frustasi.
Saat netra mata hazel miliknya berkeliling, secara tidak sengaja ia bertemu netra mata milik sahabatnya.
“Ngapain tuh duo curut kemari, pasti ada yang enggak beres,” gumamnya dengan seringai licik di wajahnya.
Karena masih ingin menikmati hembusan angin, ia pun memutuskan berpura-pura acuh sambil menatap langit di atas awan, dan juga sembari menunggu kedatangan sahabat yang akan mengajaknya untuk kembali ke dalam kamar rawat inap miliknya.
Sementara itu, baik Mia dan Hariansyah tidak menyadari, bahwa sahabatnya sudah menanti kehadirannya di sebuah taman sekitaran rumah sakit tersebut.
“Ayok sayang kita kesana untuk menyeretnya kembali ke dalam kamar rawat inap miliknya,” ajak Mia pada Hariansyah sembari bersungut-sungut.
Dengan keadaan pasrah, Hariansyah pun di buat tidak bisa berkutik saat berhadapan dengan Mia, yang sekarang telah berstatus menjadi seorang istri.
Sembari setengah berlari, menahan nafas yang tersengal, Mia pun mengendap-ngendap, untuk bisa membuat sahabatnya terkejut, Namun ia tidak menyadari, bahwa sahabatnya tidak terkejut dengan kehadiran mereka.
“Ya, kenapa dia diam saja?” keluh Mia dengan raut wajah yang cemberut.
“Sayang kamu lupa ya, kalau sahabatmu itu memilikki kepekaan yang tinggi, jadi jangan cemberut gitu dong, atau kamu mau aku cium disini, hm?” jawab Hariansyah sambil mengancam sang istri, dan hal tersebut sukses, membuat sang istri tercinta melongo, saat mendengar ancaman dari sang suami tercinta.
“Kamu kenapa mesum sekali,” sahut Mia sembari mencubit perut sang suami tercinta.
Sedangkan Hariansyah, mengiris menahan sakit di perut sixpacknya, akibat cubitan pedas dari sang istri tercinta.
Namun tidak lama kemudian, sahabat mereka memanggil mereka dengan sebutan duo curut, yang membuat keduanya melongo tidak percaya dengan sikap yang di lakukan oleh sahabatnya.
“Woi curut, sini lu pada,” ucapnya setengah berteriak pada dua orang tersebut, yang tidak lain, ialah Mia dan Hariansyah.
“Sue, lu manggil kita curut, memang kita paan coba?” jawab Mia sembari bersungut-sungut.
“Lagian, kalian ini darimana coba? Gua nunggu di kamar serasa lumutan, tahu enggak, eh kalian malah pacaran sendiri,” cerocosnya panjang lebar pada Mia dan Hariansyah.
Yang membuat kedua pipi, sepasang pengantin tersebut merona malu, bagaikan kepiting yang di rebus.
Namun tidak pada sahabatnya yang tengah di duduk kursi roda tersebut, tertawa terbahak-bahak, menyaksikan dua orang pengantin dengan pipi yang merona malu itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sementara itu di sore hari menjelang malam tiba lah sebuah mobil sport hitam kemerahan yang di tumpangi oleh sekeluarga, di parkiran rumah sakit.
Dan keluar lah sekeluarga itu dari mobil, menuju kamar rawat inap yang akan di tuju oleh mereka.
“Sayang apa kamu tahu dimana kamar putri kita?” tanya Afkar pada sang istri.
“Papi berisik banget deh, kenapa tadi enggak nanya sama kita? Kan yang ngerti ruangan kakak kita berdua, ya enggak Nat,” sindir Joya pada sang papi tercinta.
“Kamu Jo, kenapa daritadi enggak bilang sama papi, ya sudah dimana ruangan kakakmu itu” sungut Afkar seraya mendengus, karena selama ini baik Afkar dan Joya tidak pernah akur masalah perdebatan hal yang sepele.
Namun tidak berselang lama kemudian, saat akan membalas kembali perkataan Joya, Afkar mendapat cubitan pedas dari sang istri serta tatapan datar dan dingin itu membuatnya bungkam, namun ia hanya bisa mengumpat secara tidak jelas dalam batinnya.
“Joya dan Nathan jalan ke depan, kalau kalian tahu kamar rawat inap kakak,” perintah Kezia dengan nada tegas.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
pas koma nengoin pas udah sadar lupa ruangan nya...
MAAF YA ALUR YANG KU BUAT INI SANGAT MEMBAGONGKAN KARENA INI MURNI HASIL PEMIKIRANKU SENDIRI
JADI BILA KALIAN TAK KUAT DENGAN ALUR YANG BERTELE-TELE SILAKAN SKIP AJA LAGIAN GAK NGARUH JUGA D AKU YANG PENTING AKU TETAP BUAT NERUSIN ALUR SAYANG KAN KALAU GAK D TERUSIN JADI NIKMATIN AJA YA ALUR YANG SANGAT MEMBAGONGKAN DAN TERIMA KASIH BUAT YANG SUDAH MAU MAMPIR MAAF BILA AKU TAK MEMBALAS KOMEN KALIAN BUKAN BERARTI AKU SOMBONG KARENA KALIAN NGOMEN JELEK DI KARYA INI PUN GAK NGARUH BUAT AKU KITA KETEMU LAGI UNTUK BAB BARU YA TERIMA KASIH SALAM LITERASI 😊😊😊