Aira dan Airin adalah kembar yang tak pernah serupa. Airin adalah "Permata Maheswari"—cantik, cerdas, dan dicintai. Sementara Aira hanyalah "Cacat Produksi"—kusam, bodoh, dan terbuang di gudang belakang karena tak mampu bersaing dengan standar keluarga yang gila gelar.
Satu-satunya cahaya dalam hidup Aira adalah ingatan tentang Alvaro, bocah laki-laki kumal yang dulu ia selamatkan dan ia beri seluruh hatinya. Namun, ketika Alvaro kembali sebagai pewaris tunggal konglomerat yang tampan dan berkuasa, takdir mempermainkan Aira dengan kejam.
Alvaro salah mengenali "Ai" sahabat kecilnya. Berkat kelicikan dan nama mereka yang hampir mirip, Airin dengan mudah mencuri identitas Aira. Kini, pria yang paling dicintai Aira justru menjadi orang yang paling rajin menghina dan merundungnya demi membela sang kembaran palsu.
Di tengah luka yang menganga, muncul Bara—sang bad boy penguasa sekolah yang menolak tunduk pada siapa pun. Bara berjanji akan memberikan dunia pada Aira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
"Loe mau nunggu sampai lampu jalannya karatan baru naik, atau nunggu gue gendong paksa?"
Suara berat Bara membelah sunyinya area parkir bengkel yang hanya diterangi satu bohlam kuning redup. Cowok itu sudah nangkring dengan angkuh di atas jok Kawasaki Ninja ZX-25R hitam miliknya yang terlihat begitu garang. Ia tidak menoleh, jemarinya yang panjang dan sedikit kasar karena sisa-sisa oli tadi sedang sibuk memasang sarung tangan kulit.
Aku tertegun di samping motor besarnya. Jaket kulit hitam miliknya masih tersampir di bahuku, terasa sangat berat tapi memberikan kehangatan yang asing. "Aku... aku bisa naik sendiri, Bara. Cuma joknya terlalu tinggi."
Bara menoleh sedikit, memberikan seringai tipis yang sanggup membuat jantungku berdetak dua kali lebih cepat. "Makanya, pegangan pundak gue. Jangan manja, duni loe nggak bakal runtuh cuma karena nyentuh jaket gue."
Aku mendengus pelan, menahan senyum yang nyaris terbit. Aku menumpukan tanganku di bahu tegapnya, lalu dengan sedikit perjuangan, akhirnya aku berhasil duduk di jok belakang yang cukup tinggi. Rasanya seperti sedang berada di atas menara, menatap punggung lebar Bara yang seolah sanggup menjadi benteng dari segala badai.
"Udah? Pegangan yang bener. Kalau loe jatuh, gue males mungutnya di jalan," ucapnya ketus, tapi ada nada protektif yang terselip di sana.
"Iya, sudah." Aku memegang sisi jaketnya dengan ragu.
Vroom!
Mesin motor itu menderu liar saat Bara memutar gasnya. Suaranya yang jantan memecah keheningan malam, menciptakan getaran yang merambat dari jok motor langsung ke jantungku. Tanpa aba-aba, Bara melesat keluar dari bengkel, membelah jalanan kota yang mulai dihiasi pendar lampu merkuri.
Angin malam langsung menerjang wajahku, menerbangkan rambutku yang berantakan di balik kacamata tebal ini. Aku memejamkan mata sesaat, menghirup aroma maskulin yang menguar dari tubuh Bara—campuran antara kayu cendana, aroma mesin, dan sisa tembakau yang entah kenapa terasa sangat menenangkan. Di atas aspal ini, aku merasa seolah-olah semua beban di rumah Maheswari tertinggal jauh di belakang. Tidak ada Airin yang licik, tidak ada Alvaro yang buta, hanya ada aku, Bara, dan kecepatan.
Kami melaju di jalanan protokol yang mulai lengang. Bara membawa motornya dengan lihai, selap-selip di antara beberapa mobil dengan presisi yang luar biasa.
Tiba-tiba...
Cittt!
Bara menginjak rem dengan cukup mendadak karena ada kucing yang melintas di depannya. Tubuhku terdorong ke depan dengan keras, menabrak punggung kokohnya. Secara refleks, kedua tanganku melingkar erat di pinggang Bara, memeluknya dengan sangat kencang karena takut terpental.
Hening sejenak di tengah jalanan yang sepi. Aku bisa merasakan otot perut Bara yang mengeras di bawah pelukanku. Napasku memburu, wajahku terkubur di punggung jaketnya yang dingin.
"A-ah, maaf... aku nggak sengaja..." aku baru saja ingin menarik tanganku kembali, tapi suara Bara menghentikanku.
"Tetap di situ."
"Eh?"
"Tangan loe. Tetap di situ kalau nggak mau gue rem mendadak lagi sengaja," ucapnya parau. Aku tidak bisa melihat wajahnya, tapi aku yakin dia sedang menyeringai sekarang.
Wajahku memanas. Aku tidak melepaskan pelukanku, namun juga tidak menekannya terlalu erat. Rasanya aneh, tapi manis. Sepanjang sisa perjalanan, aku membiarkan tanganku melingkar di pinggangnya, merasakan setiap tarikan napas Bara yang teratur.
Kami sampai di persimpangan jalan besar saat lampu berubah merah. Bara menghentikan motornya tepat di baris paling depan. Suara mesin yang menderu halus menjadi satu-satunya melodi di antara kami. Tiba-tiba, Bara melepas kaitan helm full-face-nya dan menariknya hingga lepas.
Ia mengacak rambut hitamnya yang sedikit lepek karena keringat, lalu menoleh ke belakang. Di bawah sorotan lampu jalan yang berwarna kekuningan, wajah Bara tampak berkali-kali lipat lebih tampan. Rahangnya yang tegas, hidungnya yang bangir, dan luka kecil di sudut bibirnya memberikan kesan 'bad boy' yang sangat berkelas.
"Kacamata loe melorot terus, nggak risih?" tanyanya datar.
Aku baru menyadari kalau kacamata besarku sudah berada di ujung hidung karena terpaan angin tadi. "Eh, iya... aku lupa benahi."
Sebelum tanganku sempat bergerak, Bara sudah lebih dulu mengulurkan tangannya. Dengan jemarinya yang besar, ia dengan sangat lembut menaikkan kacamata itu kembali ke pangkal hidungku. Sentuhan ujung jarinya yang hangat secara tidak sengaja menyentuh kulit pipiku, mengirimkan sengatan listrik yang membuat bulu kudukku meremang.
Ia tidak langsung menarik tangannya. Matanya yang liar menatapku intens, mengunci pandanganku di balik lensa kacamata ini.
"Lain kali, ikat pake karet kalau perlu. Biar loe bisa liat dunia dengan jelas, Ra. Biar loe sadar siapa yang beneran ada buat loe dan siapa yang cuma akting," bisiknya dengan suara yang begitu dalam, seolah setiap katanya memiliki berat tersendiri.
Aku terpaku, kehilangan kemampuan untuk bicara. Jantungku berdentum gila-gilaan, suaranya seolah beradu dengan deru mesin motor di bawah kami. Aku merasa paru-paruku menyempit, bukan karena asap knalpot kendaraan di sekitar kami, tapi karena pesona Bara yang begitu mendominasi.
"Jangan takut jatuh kalau bareng gue," ucapnya lagi, kali ini dengan nada yang lebih serius sambil kembali memakai helmnya. "Karena ada gue yang bakal selalu nahan loe."
Lampu berubah hijau.
Bara kembali memutar gas, dan kali ini ia melaju dengan kecepatan yang lebih stabil, seolah ingin memberikan aku waktu lebih lama untuk menikmati momen ini. Aku menyandarkan kepalaku di bahunya, menutup mata, dan membiarkan angin membawa pergi semua kesedihanku.
Di atas motor ini, di atas aspal yang hitam, aku menyadari satu hal. Cinta masa muda mungkin memang terasa naif dan penuh risiko, tapi bersamanya, risiko itu terasa seperti petualangan yang layak diperjuangkan.
"Bara..." panggilku pelan, suaraku tertelan angin.
"Hm?"
"Terima kasih... sudah tidak meninggalkanku di jalanan."
Aku bisa merasakan getaran tawa pelan dari dadanya yang merambat ke punggungku. "Gue nggak bakal ninggalin barang berharga gue di pinggir jalan, Aira. Gue bukan pengecut kayak pangeran loe itu."
Aku tersenyum manis di balik punggungnya. Sebuah senyum yang sudah bertahun-tahun tidak pernah muncul secara tulus. Malam ini, melodi di atas aspal ini menceritakan sebuah kisah baru. Kisah tentang Sang Serigala yang perlahan mulai meluluhkan hati Sang Gadis Bayangan.
Kami hampir sampai di kawasan perumahan elit keluarga Maheswari. Suasana berubah menjadi lebih sunyi dan dingin. Gerbang besar rumahku sudah terlihat di kejauhan, berdiri tegak seperti mulut monster yang siap menelanku kembali ke dalam penderitaan.
Namun, genggaman tanganku di pinggang Bara semakin erat. Selama ia ada di sini, aku tahu... neraka di dalam rumah itu tidak akan terasa sesakit biasanya. Karena sekarang, aku punya melodi sendiri yang akan selalu menemaniku pulang.
"Bara, berhenti di depan pohon besar itu saja," bisikku saat kami sudah dekat.
"Kenapa? Takut pangeran loe liat?"
"Aku cuma nggak mau kamu kena masalah sama Papa."
Bara tidak menjawab, tapi ia melambatkan laju motornya dan berhenti tepat di bawah bayangan pohon besar yang gelap, beberapa meter dari gerbang rumahku. Ia mematikan mesin, membuat kesunyian malam kembali menyergap dengan begitu cepat.
Aku turun dari motor dengan perlahan, menyerahkan jaket kulitnya kembali. "Ini... jaketmu."
Bara menerimanya, tapi matanya tetap menatap ke arah gerbang rumahku yang dijaga ketat. "Loe yakin mau masuk ke sana sekarang? Muka loe masih pucat."
"Aku harus pulang, Bara. Ini rumahku."
Bara turun dari motornya, melangkah mendekat hingga aku harus mendongak untuk menatapnya. Ia menyelipkan beberapa helai rambutku yang berantakan ke belakang telinga. Gerakannya sangat pelan, seolah-olah aku adalah sesuatu yang sangat rapuh.
"Inget kata-kata gue di bengkel tadi," bisiknya tepat di depan wajahku. "Kalau ada apa-apa, loe punya nomor gue. Jangan sok kuat sendirian."
Aku mengangguk pelan. "Iya, aku ingat."
Bara menatapku lama, seolah ingin memastikan aku benar-benar akan baik-baik saja, sebelum akhirnya ia kembali naik ke motornya.
"Gue tunggu sampai loe masuk ke dalem," ucapnya tegas.
Aku berbalik, melangkah menuju gerbang rumah dengan perasaan yang campur aduk. Manisnya perjalanan tadi masih tertinggal di bibirku, namun pahitnya kenyataan di depan mata mulai membayang. Aku sempat menoleh ke belakang sekali lagi, melihat siluet Bara yang masih mematung di atas motornya, menjagaku dari kejauhan seperti seorang ksatria kegelapan.
Malam ini, aspal yang biasanya dingin terasa begitu hangat. Karena di atasnya, aku baru saja menulis bab pertama dari sebuah cinta yang mungkin akan menghancurkan segalanya, tapi juga akan menyelamatkan nyawaku.
Aku menarik napas panjang, lalu melangkah masuk ke dalam gerbang, siap menghadapi apa pun yang menantiku di dalam 'istana' palsu itu.