Vina Aulia mengalami nasib buruk yang menimpanya selama satu hari penuh, bertekad pindah keluar negeri demi kehidupan baru. Bertemunya dengan wanita bernama Gladi membuatnya tahu apa arti saudara, saudara tidak perlu harus memiliki hubungan darah namun dia yang baik pada kita pantas menjadi saudara.
Siapa yang tahu dirinya hamil hanya karena di tiduri satu malam oleh Rengga Cafanza. Rengga yang ingin meyakinkan bahwa wanita yang di tidurinya hamil anaknya atau tidak terus melakukan pencarian tanpa henti, hingga saat menemukan Vina dirinya menggunakan seribu cara untuk kembali mengambil anaknya.
" Jodoh Tuan Kejam "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cici aremanita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Vina duduk di ruang tamu sambil memangku putranya, di lihatnya Rengga berjalan ke arah dapur mengambilkan nya segelas susu hangat yang langsung di taruh di depan.
Kriiiiiiing, kriiiiiing, kriiiiiiing...
Rengga yang mendengar ponselnya berdering bergegas menjauh dari Vina, Aldo yang memberitahukan bahwa sudah berhasil menculik Gladi membuatnya kembali menghampiri Vina sambil tersenyum.
"Aku ingin memberimu hadiah" ucap Rengga sambil bersiap memperlihatkan sesuatu ke Vina.
"Hadiah apa?" tanya Vina.
"Lihatlah, ini hadiah dari ku" sahut Rengga yang langsung menunjukkan foto Gladi yang di ikat di kursi sama sepertinya dulu.
"Apa kamu gila! apa yang kamu lakukan lepaskan Gladi" teriak Vina yang terlihat sangat marah besar.
"Tenanglah, aku rasa kamu pasti tahu bagaimana bisa dia berakhir ke tangan ku. Aku tahu kamu mengetahui jika teman mu adalah mata-mata" ucap Rengga sambil tersenyum licik.
"Memangnya kenapa itu pekerjaanya, kenapa kamu menculiknya" sahut Vina.
"Oh aku lupa, aku menculiknya karena dua alasan" ucap Rengga santai tanpa beban.
"Apa maksudmu?" tanya Vina.
"Alasan pertama aku menculiknya karena dia berani memata-matai ku, dan untuk alasan kedua karena kamu bersikeras tidak mau memberikan Raka pada ku" ucap Rengga.
"Bukannya kamu sudah menyerah untuk mengambil Raka dariku, kenapa kamu melakukan hal seperti itu" sahut Vina setengah berteriak.
"Diamlah, aku berencana ingin mendekati mu hanya untuk mengambil anak ku kembali. Tapi sekarang itu sudah tidak perlu lagi aku akan memberikan mu pilihan semua terserah pada mu" ucap Rengga yang langsung duduk sambil menyilangkan kakinya.
"Pilihan apa?" tanya Vina, jika itu bisa membuat Gladi bebas pasti akan di lakukannya.
"Pilihan pertama kamu harus memberikan Raka padaku, dan pilihan kedua kamu harus menikah denganku" sahut Rengga.
"Tentunya setelah kamu memilih salah satunya aku akan melepaskan teman mu itu" ucap Rengga sambil menatap Vina.
"Aku tidak bisa memberikan Raka padamu, Raka masih terlalu kecil" sahut Vina yang langsung memeluk anaknya.
"Kalau begitu kamu bisa memilih yang ke dua, tapi kamu jangan salah paham aku meminta mu menikah denganku hanya sampai Raka lebih besar sedikit, setelah itu aku tidak lagi membutuhkan mu" ucap Rengga sambil tersenyum licik.
"Tapi apa kamu berani berjanji akan melepaskan Gladi" sahut Vina.
"Aku berjanji, untuk apa aku mengingkarinya" ucap Rengga.
"Baik, aku akan memilih yang kedua" sahut Vina pasrah, yang terpenting Gladi bisa bebas pikirnya.
"Hahahahaha, akhirnya yang seharusnya menjadi milik ku tetap akan menjadi milikku" teriak Rengga sambil terus tertawa.
"Kamu tetaplah di sini, jika kamu berani pergi aku akan membuat teman mu mati menggenaskan" ucap Rengga yang langsung berjalan keluar.
Heeeeh, inilah sifat aslinya kenapa aku merubah pikiranku tentangnya" dalam hati Vina yang langsung memeluk anaknya sambil menangis.
Di tempat berbeda Rengga bergegas ke rumah Andreas, Rengga sengaja ingin memberitahu Andreas bahwa miliknya akan tetap menjadi miliknya dan dia jangan pernah mengharapkan apapun walau hanya sisanya.
"Keluar cepat" teriak Rengga yang berdiri di depan rumah Andreas.
"Berisik sekali, ini bukan jam kerja kamu tidak berhak mengganggu ku" ucap Andreas yang berdiri di depan Rengga.
"Benarkah, tapi aku harus memberitahukan mu sesuatu yang sangat penting" sahut Rengga sambil tersenyum.
"Cepat katakan" ucap Andreas.
"Tiga hari lagi pernikahan ku, aku mau kamu menjadi pengurus semuanya. Sebagai asisiten ku kamu tidak mungkin keberatan bukan" sahut Rengga.
"Tidak keberatan, hanya saja aku penasaran wanita mana yang ingin menikah dengan mu" ucap Andreas sambil tertawa kecil.
"Tentu saja aku akan menikahi ibu dari putra ku" sahut Rengga yang langsung membuat Andreas terkejut mendengarnya.
"Apa!" teriak Andreas.
"Jangan terkejut seperti itu, aku pergi dulu. Ingat tiga hari lagi" sahut Rengga yang langsung berjalan pergi meninggalkan Andreas.
Kak Vina tidak mungkin mau menikah dengannya, pasti paman melakukan sesuatu untuk mengancamnya. Tidak bagaimanapun caranya kak Vina tidak boleh menikah dengannya, aku harus melaporkannya pada Kakek" dalam hati Andreas yang langsung mengeluarkan ponselnya.
Andreas yang menelpon Kakeknya membuat sang Kakek terkejut mendengarnya, sang Kakek berpikir jika Rengga benar-benar menikah harapannya untuk kembali membuat Rengga menurutinya gagal sudah.
Di tempat lain Aldo terus menatap wajah Gladi yang masih tidak sadarkan diri, wajah Gladi yang menurutnya lumayan cantik membuatnya tidak bisa memalingkan wajahnya.
"Di mana aku?" ucap Gladi yang baru saja membuka matanya.
"Hay, apa kamu masih mengingat ku" sahut Aldo sambil tersenyum.
"Kamu, kenapa kamu menculik ku" teriak Gladi yang merasa kaki dan tangannya terikat.
"Aku hanya menjalankan perintah" sahut Aldo.
"Perintah siapa?" tanya Gladi.
"Tentu saja Rengga, dia ingin memaksa Vina untuk menikah dengannya sebagai ganti untuk melapaskan mu" sahut Aldo yang tidak sengaja membocorkan rencana Rengga.
"Apa!" Gladi yang mendengar perkataan Aldo merasa sangat terkejut.
"Untuk sementara kamu di sini dulu, tidak lama mungkin 3 hari saja. Aku pergi dulu, Bay" sahut Aldo yang langsung berjalan pergi meninggalkan Gladi.
"Tunggu lepaskan aku, Vina tidak boleh menikah dengannya" teriak Gladi yang sama sekali tidak di hiraukan Aldo.
"Sial, kenapa aku seperti ini. Kenapa aku harus membahayakan nya. Arrrrrrkkkkhhh, bodohnya aku" ucap Gladi yang terus memaki dirinya sendiri.
Rengga yang merasa puas melihat ekspresi Andreas bergegas pulang, di rumah dirinya masih harus memperhatikan dua peliharaan barunya.
"Vina" panggil Rengga yang baru masuk ke dalam rumah.
"Ada apa lagi" sahut Vina sambil menggendong putranya.
"Tidak ada, aku mengira kamu sudah kabur" ucap Rengga yang langsung duduk sambil tersenyum.
"Rengga" teriak suara dari luar rumahnya yang langsung membuat Rengga berdiri.
"Apa maksudmu ingin menikah, apa maksudmu ingin menikahi wanita tidak jelas itu" ucap sang kakek yang langsung menghampiri Rengga di ikuti Andreas di belakangnya.
"Memangnya apa yang salah, dia ibu dari anak ku" sahut Rengga yang di sambut ekspresi berubah dari Kakeknya.
"Apa ini cicit ku, apa benar" ucap sang kakek yang langsung mengambil Raka dari gendongan Vina.
"Iya dia anak ku, cicit mu" sahut Rengga.
"Hahahahaha, aku sudah punya cicit sekarang" teriak sang Kakek sambil terus tertawa.
"Ehem, aku menerima anak ini masuk ke keluarga Cafanza tapi tidak dengan wanita itu" ucap Sang Kakek sambil menunjuk Vina.
"Tapi itu anak ku, kalian tidak bisa mengambilnya dari ku" sahut Vina.
"Kakek benar kata wanita itu" ucap Andreas.
"Kamu diamlah" sahut sang Kakek tanpa menoleh ke arah Andreas.
"Aku setuju dengan mu kek, aku juga merasa wanita ini tidak cocok dengan ku tapi aku mau kamu menjelaskan tentang identitasnya" ucap Rengga sambil menunjuk Andreas.
"Karena kamu menuruti ku aku tidak memiliki alasan untuk menolak. Andreas mulai dari sekarang kamu bukan lagi bagian dari keluarga Cafanza, sebenarnya kamu dulu hanya anak angkat yang di asuh kakaknya Rengga sebelum meninggal dan hari ini aku akan mengakhiri segalanya. Pergilah jangan menunjukan wajahmu lagi di hadapan ku" ucap sang Kakek yang membuat Andreas langsung membisu.
Andreas tidak menyangka dirinya akan berakhir seperti ini, dengan berat hati Andreas berjalan pergi meninggalkan rumah Rengga, hatinya benar-benar merasa sangat sakit ingin rasanya dia membunuh Rengga dan Kakeknya di tempat itu juga.
"Tunggu, kenapa kalian melakukan itu pada Andreas walau bagaimanapun Andreas tetap anggota keluarga kalian, jangan seperti itu padanya" ucap Vina yang melihat Andreas berjalan pergi.
"Diam. Rengga ku beri kamu waktu satu hari untuk mengurus wanita ini, aku tidak mau melihat wanita ini lagi" sahut sang Kakek yang langsung membawa Raka pergi.
"Itu anak ku, kalian jangan membawanya pergi" teriak Vina.
"Diamlah, teman mu masih ada pada ku, jika kamu ingin dia selamat pergilah sekarang aku tidak ingin melihat mu lagi. Dan satu lagi pergilah sejauh mungkin, jika ku tahu kamu masih ada di negara ini akan ku buat anak mu menderita" sahut Rengga sambil menatap Vina dengan tajam.
opo aq kurang seksi mas