Namaku Aliqa Mardika, setelah lulus SMA orangtuaku menjodohkan ku dengan putra dari sahabatnya, yang bernama Davin Aryasatya dia berprofesi sebagai seorang Dokter Spesialis di Rumah Sakit Swasta.
Dengan berat hati aku menerima perjodohan ini, dengan harapan seiring kita bersama cinta akan hadir dengan sendirinya.
Ternyata aku memasuki hubungan yang salah, pria yang di jodohkan dengan ku telah memiliki hubungan dengan wanita lain.
Akan kah pernikahan ini berjalan dengan semestinya?
Ini adalah novel pertama ku, mohon maaf jika mengalami kesalahan dalam penulisan, mohon koreksinya.
Ditunggu like, komen & vote nya ya reader.. terimakasih 🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divty Hardyfani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan Davin
Waktu telah menunjukan pukul 11 malam, entah kenapa beberapa hari ini mata Davin sulit untuk terpejam. Sementara Mila telah tidur begitu lelapnya.
Davin keluar dari dalam kamarnya, kemudian menuju dapur untuk mengambil air minum, setelah selesai Davin kembali menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya. Langkah Davin terhenti kemudian melangkah ke arah lain, menuju kamar Aliqa.
Davin memasuki kamar Aliqa, terlihat Aliqa sedang berdiri di balkon kamarnya seraya menatap kearah luar sehingga Aliqa tak menyadari kehadiran Davin. Davin langsung menghampiri Aliqa kemudian memeluknya dari belakang.
Aliqa terperanjat kaget mendapati lengan kekar yang melingkar di pinggang ramping miliknya. Davin menumpukan dagunya di bahu Aliqa, Aliqa merasa tenang ketika yang memeluknya adalah Davin, suaminya.
"Mas kenapa memasuki kamar ku?"
"Bukan kah ini kamar ku juga?"
"Iya Mas, maksud ku seharusnya hari ini Mas bersama dengan Mila, bukan kah kemarin Mas tidur di kamar ku? Emhh.. Maksudnya kamar kita!"
Davin tak menjawab pertanyaan yang du ajukan Aliqa, "Kenapa belum tidur? Ini sudah malam, kamu bisa masuk angin jika berdiam diri diluar," tanya Davin.
"Aku belum ngantuk, Mas sendiri kenapa belum tidur?"
"Aku juga belum ngantuk Al, lagi mikirin apa sih?"
"Aku hanya memikirkan kelakuan ku yang menyebabkan mu marah Mas. Aku tak bisa mengontrol perasaan ku untuk tak cemburu Mas, aku harusnya tau bagaimana konsekuensi jika tinggal satu atap bersama madu ku Mas," ucap Aliqa seraya membalikan tubuhnya kemudian menatap manik mata Davin.
"Maafkan Mila, gak seharusnya dia bersikap begitu, seharusnya Mila bisa lebih menjaga perasaan mu. Terimakasih untuk pengertian dan keihklasan mu Al."
"Karena aku mencintai mu Mas," jawab Aliqa kemudian memeluk Davin erat.
"Aku pun mencintai mu."Davin mencium pucuk kepala Aliqa lama.
Davin tak ingin terlambat untuk menyadari perasaanya bahwa kini dia memang telah mencintai Aliqa, rasa takut akan kehilangan, Aliqa yang terus bermain dipikirannya. Memang Davin telah mencintainya.
"M..mas mencintaiku?" tanya Aliqa terbata.
"Iya Mas mencintai mu."
"Terimakasih Mas, aku merasa bahagia."
Aliqa benar-benar merasa bersyukur karena kini suaminya menyatakan cinta kepada nya, dia tak lagi khawatir akan perasaan Davin terhadapnya. Rasa cinta Aliqa kini terbalaskan.
"Mas aku tak bermaksud untuk mengusir mu, tapi kembalilah ke kamar Mila. Bukan kah Mas bilang akan berlaku adil!"
"Baiklah, ayo masuk angin malam tak baik untuk kesehatan mu." Davin mengajak Aliqa untuk kembali memasuki kamarnya, kemudian menutup pintu balkon.
"Tidurlah, sudah malam." Davin mencium pucuk kepala Aliqa, kemudian menyelimutinya hingga sebatas dada. "Mimpi indah ya Al."
"Iya Mas, Mas juga mimpi indah ya."
Davin keluar dari dalam kamar Aliqa, kemudian menuju kamarnya dengan Mila.
Setelah memasuki kamar, Davin merebahkan tubuhnya di sebelah Mila.
Ada kelegaan di dalah hati Davin setelah mengungkapkan perasaanya kepada Aliqa, rasanya seperti ABG yang baru saja jatuh cinta.
Tak berselang lama Davin pun terlelap dalam tidurnya dan merajut mimpi indahnya.
***
Pagi sekali Aliqa telah bangun dari tidurnya, senyum terus terukir diwajahnya. Setelah mandi, Aliqa membantu Bi Atik membereskan rumah dan mempersiapkan sarapan untuk suaminya.
"Selamat pagi Bi," ucap Aliqa seraya mengukir senyum manisnya.
"Pagi nyonya, nyonya cantik lalo tersenyum, sedang bahagia nyonya?" ucap Bi Atik seraya membalas senyuman Aliqa.
"Iya Bi, aku merasa bahagia."
Bi Atik merasa heran dengan kelakuan majikannya yang satu ini, karena Aliqa baru saja kemarin menangis, pagi ini sudah tersenyum ceria. Meskipun begitu Bi Atik turut senang jika nyonya Aliqa merasa bahagia.
"Alhamdulillah nyonya," ucap Bi Atik mensyukuri kebahagiaan Aliqa. "Hari ini mau masak apa nyonya? Biar Bibi bantu nyuci dan potongin sayurnya."
"Hari ini mau bikin nasi goreng pake telur ceplok aja Bi, Bibi potongin tomat sama timun aja ya Bi."
"Baik nyonya."
Mila melihat Aliqa telah menata masakan yang di buatnya di atas meja makan, Mila merasa tak senang ketika mendapati Aliqa terus mengukir senyum manisnya.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" Tanya Mila seraya duduk di kursi meja makan, sehingga membuat Aliqa terperanjat kaget dan menarik senyumannya.
"Gak kenapa-kenapa ko!" Aliqa merasa senang karena mengetahui Davin mempunyaai perasaan yang sama dengannya.
Aliqa menatap kearah tangga, Davin kini sedang menuruni anak tangga, Aliqa kembali mengukir senyum indahnya kepada Davin, Davin membalas senyuman Aliqa. Sementara Mila merasa kesal ketika melihat mereka saling melempar senyum.
Mila beranjak dari duduknya berlalu menghampiri Davin, kemudian bergelayut manja di lengan milik Davin.
Davin mencium pucuk kepala Mila, kemudian menghampiri Aliqa yang kini tengah berdiri di samping meja makan, Davin mencium lembut pucuk kepala Aliqa.
Aliqa tak merasa cemburu ataupun risih ketika Mila dengan manja berdekatan dengan Davin, karena memang itu suatu hal yang wajar ketika dia memilih untuk siap di madu oleh suaminya.
"Selamat pagi Mas."
"Pagi Al," jawab Davin
Aliqa telah mempersiapkan tiga piring nasi goreng di atas meja makan, mereka memakan nasi gorengnya lahap. Sesekali Davin memberikan pujian atas masakan buatan Aliqa.
"Aku menyukai masakan mu Al, masakan mu selalu terasa enak dan pas dilidah," ucap Davin memuji masakan Aliqa.
"Syukurlah kalo Mas suka." Aliqa tersipu malu mendengar pujian dari Davin.
"Vin yang benar saja, hanya sepiring nasi goreng. Aku rasa semua nasi goreng rasanya sama." Mila merasa tak suka Davin memuji masakan buatan Aliqa.
"Menurut ku rasanya beda sayang, sekalipun ini hanya nasi goreng."
"Ya sudahlah terserah kamu saja." Mila memakan nasi goreng dengan malas.
Davin telah menyelesaikan sarapan paginya, nasi goreng habis tak tersisa diatas piringnya. Sementara Mila tak menghabiskan nasi goreng diatas piringnya.
"Sayang ko gak di habisin," tanya Davin melihat nasi goreng masih penuh di atas piring Mila.
"Aku merasa mual Vin, sepertinya anak mu tak menyukai nasi goreng," ucap Mila seraya mengelus perutnya. "Vin bolehkah saat kau istirahat aku menemui mu? Aku ingin makan siang bersama mu."
"Boleh, nanti kita makan di cafe biasa aja ya sayang! Al apa kau mau ikut makan siang bersama?" tanya Davin kepada Aliqa.
Aliqa sekilas melihat mimik wajah Mila yang seketika berubah, terlihat raut wajah tak suka kepada dirinya. Aliqa tak akan memperdulikan sikap Mila kepadanya, yang penting kali ini Aliqa tahu bawa Davin mencintainya itu sudah cukup untuk tetap bertahan.
"Engga Mas, aku mau makan siang dirumah aja sama Bi Atik."
"Ya udah kalo kamu gak ikut, nanti aku akan makan siang bersama dengan Mila ya."
"Iya Mas."
"Aku berangkat kerja sekarang ya."
Seperti biasa Aliqa akan mengantar Davin hingga ke depan pintu.