"Kenapa?"
"Kenapa bisa seperti ini?"
"Bukankah itu tak seharusnya di lakukan? Dan bukankah itu salah?"
"Seharusnya aku tak melakukan hal itu, karena aku sudah berjanji untuk melindungi Oliv bahkan dari diriku sendiri."
"Tapi tak bisa di bohongi, aku menginginkan dirinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evelyn12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 KIKUK
Mereka turun dari bianglala dengan perasaan yang berkecamuk. Semburat kemerahan memancar dari wajah keduanya serta detak jantung yang terus saja bergejolak.
Dre tak sanggup untuk menatap wajah Oliv, begitu juga sebaliknya. Mereka berdua sama-sama bingung dan diam dalam keheningan, membawa debaran masing-masing.
Suasana menjadi kikuk.
"Hei! Di sini kalian rupanya. Capek kita nyariin." Sally dan Javin datang menghampiri Oliv dan Dre.
Mereka masih hening, dan masih enggan saling tatap.
"Kalian kenapa?" Tanya Sally yang bingung memperhatikan kedua insan itu.
"Oh, gue tau!" Sally mencoba menebak, membuat mata Oliv membulat sempurna.
"Pasti lo masih gemetaran abis naik bianglala, kan?" Sally mengacungkan jari telunjuknya di depan wajah Oliv.
Oliv lega, Sally tak mengetahui apa yang sudah terjadi antara dirinya dan Dre.
Oliv mengangguk, seolah mengiyakan ucapan Sally.
"Halah! Gitu, doang. Gue nih, naik roller coaster ampe sepuluh putaran." Sally membanggakan diri, membuat Javin dan Oliv geleng-geleng kepala.
*****
Langit di barat sana sudah berwarna jingga kemerahan, memancarkan cahaya yang sangat indah.
Saat ini Dre dan Oliv hanya berdua, karena Javin dan Sally sudah diantar pada tujuan masing-masing.
Sally yang langsung di antar ke rumah, sedangkan Javin diantar ke Sekolah untuk mengambil motornya kembali.
Hening,
Siluet dari sunset menembus kaca mobil.
Suasana saat ini terasa berbeda. Ada rasa canggung setelah kejadian tadi. Kejadian yang entah di sengaja atau tidak di sengaja.
Apa perasaan cinta itu bisa datang karena ketidak-sengajaan?
"Liv," panggil Dre membuat Oliv kaget.
"Em?" Oliv melirik Dre,
"Gak apa-apa."
"Yaudah."
Mereka kembali hening, sampai mobil terparkir di halaman rumah.
Oliv segera bergegas masuk ke dalam rumah, di susul oleh Dre.
*
Sejak kejadian tadi siang, mereka masih di selimuti keheningan. Hening yang sebenarnya pengalihan untuk menutupi perasaan. Perasaan antara suka dan malu.
Ya,
Malu tapi mau.
*
Pagi selanjutnya,
Pagi yang agak berbeda. Suasana kikuk masih terasa antara Dre dan Oliv, apalagi saat mereka berpapasan saat menuju dapur. Oliv yang baru selesai membuat susu dan Dre yang hendak membuat kopi.
"Pagi," ucap Dre.
"Iya." Oliv menundukkan pandangan.
Gadis itu sendiri bingung dan heran pada dirinya sendiri. Padahal sebelum-sebelumnya dirinya sudah terbiasa nempel pada Dre, seperti memeluk.
Apa ciuman adalah hal yang berbeda? Apa ciuman adalah hal yang tidak boleh di lakukan? Lagi pun, itu adalah ciuman pertama untuk Oliv, apalagi di bagian yang bisa di bilang 'sensitif'.
Walau tak bisa di bohongi dia merasakan debaran tak biasa, dan merasakan bahagia yang teramat sangat.
"Apa aku sekarang menyukai Bang Dre? Entahlah, perasaan seperti ini sudah ada sejak dulu. Tapi kali ini terasa sangat berbeda, jantungku selalu berdetak kencang saat menatapnya. Apa ini cinta?"
*
"Liv," Dre memulai obrolan saat mereka duduk berhadapan di meja makan.
"Em?"
"Aku minta maaf,"
"Maaf apa?"
"Kejadian kemarin. Aku bukan bermaksud melakukannya ... " Ucapan Dre terputus, karena dia sendiri bingung mencari alasan.
Oliv hanya diam, sembari mengoles roti dengan selai.
"Apa kau tau cinta, Liv?" Tanya Dre tiba-tiba membuat Oliv menghentikan aktivitasnya,
Pandangan mereka saling bertemu. Tatapan itu seolah berbicara, memancarkan sinar dan perasaan yang ada di dalam hati.
Walau mulut tak bisa berucap, tapi mata dapat menjelaskan.
Dering gawai Dre membuyarkan keduanya. Seseorang menelpon, tertera nama Renata di layar itu.
"Halo, Ren." Dre mengangkat telepon dari Renata.
Oliv hanya bisa manyun dan melanjutkan aktivitasnya, memakan roti dan minum susu.
"Sibuk, gak? Aku mau minta tolong, nih." Lirih Renata dari seberang telepon.
Dre melirik Oliv, "Tolong apa?"
"Bisa gak kesini? Aku tiba-tiba demam. Aku gak bisa bangkit dari tempat tidur, nih. Lemes banget."
"Aku usahain."
Telepon di matikan.
Dre lagi-lagi melirik Oliv yang ternyata sudah beranjak dari tempat duduknya menuju pintu. Segera Dre mengejarnya.
"Mau kemana?" Tanya Dre, seolah menghadang.
"Main," jawab Oliv santai, menyembunyikan kekesalannya pada Dre.
"Kemana?"
"Apaan sih, kepo!"
"Aku bisa antar."
"Gak mau! Sana pergi ke rumah Tante Seksoy. Dia lagi butuh Bang Dre, kan?"
Segera Oliv berlari menuju gerbang, kebetulan ada angkot berhenti di depannya. Oliv segera berlalu. Dre hanya memandangi Angkot yang perlahan menghilang dari pandangan.
Dilema.
aq tunggu lanjutanx