NovelToon NovelToon
Setelah Dikhianati Istri, Aku Menjadi Penguasa Jakarta

Setelah Dikhianati Istri, Aku Menjadi Penguasa Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Supernatural / Dokter Genius / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan / Harem
Popularitas:87.3k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Selama lima tahun, Arka Pradana hidup sebagai suami miskin yang dianggap gagal. Ia bekerja siang malam demi membayar utang keluarga istrinya, Hana. Namun semuanya hancur ketika Arka menemukan kenyataan pahit: Hana dan selingkuhannya diam-diam meracuninya selama bertahun-tahun.
Saat pernikahannya runtuh, sebuah liontin tua justru membangkitkan Warisan Hantala dalam tubuh Arka. Ilmu pengobatan, feng shui, tenaga dalam, dan kemampuan melihat rahasia manusia mengalir ke dalam dirinya.
Dari pelayan klub malam yang diremehkan, Arka berubah menjadi pria berbahaya yang ditakuti dunia bawah Jakarta. Di sisinya muncul Maya Santoso, wanita matang pemilik klub malam; Bianca Lestari, CEO cantik yang dingin dan penuh rahasia; serta wanita-wanita lain yang terseret oleh kekuatan dan pesonanya.
Dulu ia diinjak. Sekarang, siapa pun yang berani mengkhianati, menghina, atau menyentuh orang-orangnya harus siap berlutut di hadapannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34

Bima menatap Arka seperti ingin mengupas kulitnya.

"Wanita itu mencari apa darimu?"

Arka berhenti beberapa langkah di depannya.

"Dia bilang ingin membiayaiku. Aku sedang mempertimbangkan."

"Omong kosong!"

Bima maju satu langkah. Bau alkohol dan rokok dari tubuhnya tajam.

"Widya Anggraini itu siapa, kamu tahu? Janda pemilik Cakra Medika. Wanita seperti itu tidak akan melihat sampah bekas impotensi sepertimu."

Beberapa anak buahnya tertawa kasar.

Lorong VIP tidak panjang, tetapi malam itu terasa seperti jalan sempit menuju kandang. Di kiri kanan, pintu ruang karaoke tertutup rapat. Musik dari lantai bawah terdengar redup, seolah sengaja menjauh dari masalah yang akan pecah.

Arka melihat posisi kamera di sudut langit-langit. Ia juga melihat tangan kanan Bima beberapa kali turun ke dekat pinggang. Orang mabuk biasa akan menunjuk dan berteriak. Orang yang membawa senjata selalu punya gerak kecil yang tidak bisa disembunyikan.

Mata Bima terlalu panas.

Ini bukan sekadar cemburu pada Widya. Ini rasa malu yang menumpuk dari Hana, Maya, Jaya, dan semua kali ia dipaksa menelan kekalahan di depan Arka.

Arka justru mengangkat alis.

"Kamu tampak sangat peduli. Jangan-jangan kali ini targetmu janda juga?"

Wajah Bima merah padam.

Jaya memang memberi tekanan. Cakra Medika adalah daging besar. Jika Widya bisa didekati, banyak pintu akan terbuka. Bima sudah mencoba setengah bulan, mengirim bunga, hadiah, undangan makan, sampai memakai koneksi. Hasilnya nihil.

Widya tidak memberi satu pun celah.

Lalu malam ini, wanita itu membayar Rp1 miliar untuk memanggil Arka.

Bima merasa wajahnya diinjak di depan seluruh Nirwana.

"Aku peringatkan kamu," katanya dengan suara rendah. "Jauhi dia."

"Atas dasar apa?"

"Atas dasar aku bisa membuatmu tidak keluar dari lorong ini."

Arka melihat ke belakang Bima.

Pintu VIP 8 masih tertutup, tetapi dari dalam ia mendengar suara langkah. Widya dan Shania mungkin sebentar lagi keluar.

Ia tersenyum.

"Kalau begitu, saran saya, jangan keluarkan benda aneh."

"Takut?"

"Saya hanya tidak ingin kamu menyesal."

Bima tertawa dingin. Tangannya bergerak ke belakang pinggang.

Detik berikutnya, sebuah pistol hitam menempel di dahi Arka.

Lorong mendadak sunyi.

Anak buah Bima sendiri ikut menahan napas. Mereka biasa melihat Bima gila, tetapi mengeluarkan pistol di area VIP saat banyak kamera tetap saja terlalu berisiko.

Dingin logam itu tidak besar, hanya satu titik di kulit. Namun satu titik itu cukup membuat naluri tubuh manusia berteriak mundur. Arka merasakan bahunya menegang. Bukan takut yang membuat lutut lemas, melainkan kesadaran jernih bahwa satu gerakan salah bisa mengakhiri semua rencana.

Cincin giok di jarinya mengalirkan qi tipis. Napasnya turun. Suara musik, langkah dari dalam ruang VIP, dan gesekan jari Bima di pelatuk menjadi jelas.

"Sekarang," Bima berbisik, "jawab. Widya mencari apa?"

Arka merasakan logam dingin di kulitnya. Ini pertama kali seseorang benar-benar menempelkan pistol di kepalanya. Tubuhnya tegang secara naluriah, tetapi pikirannya cepat stabil.

"Kamu tidak takut Maya marah?"

"Orang mati tidak punya nilai." Wajah Bima mulai bengkok oleh emosi. "Kamu mati, ya mati. Apa Kak Maya akan menghukumku lebih berat daripada kehilangan kesempatan Cakra Medika? Jangan terlalu tinggi menilai dirimu."

Arka hendak menjawab, tetapi telinganya menangkap bunyi pintu.

VIP 8 akan terbuka.

"Bima," katanya datar, "sebaiknya simpan pistol itu."

"Sekarang tahu takut?"

"Bukan. Benda itu mudah menambah pasal."

"Pasal?"

Pintu VIP 8 terbuka.

Widya keluar lebih dulu, Shania mengikuti di belakang. Mata Widya langsung berhenti pada pistol di dahi Arka. Langkahnya melambat.

Shania berubah dalam sekejap.

Santai yang tadi ada di wajahnya hilang. Matanya tajam, tubuhnya maju seperti pegas.

"Turunkan senjata!"

Bima tersentak, lalu menoleh dengan marah.

"Jangan ikut campur!"

Shania mengeluarkan kartu identitas polisi dari tas kecilnya dan menunjukkannya.

"Shania Anggraini. Unit Reserse Kriminal Polda Metro. Kamu berani mengarahkan senjata api ilegal di depan polisi?"

Wajah Bima berubah.

Anak buahnya langsung gelisah.

"Polisi?" Bima menatap Arka, lalu Widya. "Kamu menjebakku?"

Arka terlihat polos.

"Saya sudah bilang simpan. Kamu tidak dengar."

Bima melihat ke anak buahnya. Beberapa orang tanpa sadar mengangguk karena memang mendengar.

Itu membuat Bima makin kehilangan akal.

Jari telunjuknya bergerak ke pelatuk.

Arka bergerak lebih dulu.

Tangannya naik secepat bayangan. Ibu jarinya menyelip di belakang pelatuk, jari lain mengunci badan pistol, lalu pergelangan tangannya memutar. Bima merasakan sakit tajam menembus pergelangan.

"Ah!"

Pistol lepas.

Dalam satu gerakan, senjata itu sudah berada di tangan Arka, dan moncongnya berbalik menempel di dahi Bima.

Wajah Bima seketika pucat.

Ia bahkan tidak melihat bagaimana senjata berpindah.

Anak buah Bima mundur serempak. Tadi mereka masih merasa jumlah bisa memberi keberanian. Namun ketika pistol saja berpindah tangan dalam sekejap, keberanian itu rontok lebih cepat daripada puntung rokok yang diinjak.

Arka tidak menembak. Ia bahkan tidak membuka pengaman lebih jauh. Justru karena itu, wajahnya tampak lebih menakutkan. Orang yang panik akan menggertak. Orang yang benar-benar mampu membunuh biasanya tidak perlu bicara keras.

Shania juga membeku sepersekian detik.

Ia terlatih. Ia tahu teknik melucuti senjata. Justru karena tahu, ia paham gerakan Arka barusan tidak normal. Terlalu cepat, terlalu bersih, terlalu tenang.

Arka menatap Bima.

"Sekarang siapa yang harus menjawab?"

Bima menelan ludah.

Sebelum ia sempat bicara, Shania sudah maju dan menendang sisi tubuhnya. Tendangan itu keras, presisi, dan penuh amarah tertahan.

Bima terlempar ke dinding, lalu jatuh terduduk sambil memegangi perut.

"Berani bawa pistol di depan polisi?" Shania melangkah lagi dan menendang lengannya agar ia tidak bergerak. "Kamu kira Nirwana ini negara sendiri?"

Bima mengerang.

Arka meletakkan pistol di meja kecil dekat lorong, menjauhkan jarinya dari pelatuk.

"Bu Shania, saya tadi membela diri?"

Shania menatapnya tajam.

"Ya. Tapi kamu tetap harus--"

"Kalau begitu saya pergi dulu."

Arka langsung berbalik.

"Arka!"

Ia pura-pura tidak mendengar.

Shania hampir mengejar, tetapi Bima masih di lantai dan pistol masih harus diamankan. Ia menggertakkan gigi.

"Licin sekali."

Widya berdiri beberapa langkah di belakang. Sejak awal ia tidak panik. Matanya mengikuti punggung Arka yang menghilang di ujung lorong, lalu turun ke Bima yang meringkuk.

Sudut bibirnya naik sangat tipis.

"Shania."

"Apa?"

"Kurasa aku tidak salah memilih."

Shania mengambil pistol dengan tisu dari meja.

"Kakak memilih masalah."

"Kadang masalah yang tepat bisa menjadi perlindungan."

Bima yang mulai sadar diri mencoba mengangkat kepala.

"Kamu... kamu tahu aku siapa? Aku anak angkat Bang Jaya..."

Shania tidak menunggu ia selesai. Kakinya turun keras di dekat wajah Bima, cukup membuatnya menutup mulut.

"Bagus. Nanti di kantor, kamu bisa menyebut semua nama yang kamu mau."

Ia mengeluarkan ponsel dan menghubungi timnya.

Tidak lama kemudian, suara sirene terdengar dari luar Nirwana.

Arka sudah berada di parkiran ketika ponselnya bergetar.

Pesan dari Yulia masuk.

`Yulia: Ayah sudah lihat fotonya. Dia bilang pria itu benar Pak Wira, rekan lama Ayah.`

Arka berhenti.

Wira.

Ayah Bianca.

Orang yang selama ini Bianca kira hilang ternyata benar terhubung dengan Pak Mahendra. Jika begitu, bukti lama, kematian, Jaya, Maya, dan Bianca semuanya berada dalam satu jaring yang sama.

Ia membuka pintu mobil dengan wajah serius.

Malam ini tidak bisa lagi dianggap kebetulan.

1
Sampe Batara
bagus menarik untuk dibaca
Don Juan
Lanjut Thor
Sampe Batara
👍 menarik untuk dibaca
Ismed Aidil
sudah 3 hari gak bisa lanjutan cerita, ya saya hapus aja aplikasi ini ! kecewa banget !
Jefry Maarebia
kalau di baca enak alur ceritanya ,aku puas membacanya ,lanjut..bosku.......
Ismed Aidil
mantap...lanjut thor !
Ismed Aidil
wau seru banget
Don Juan
Mantap thor👍
Ismed Aidil
lanjut cerita
Eva Rosita
up yg banyak and tiap hari ya thor💪
Ismed Aidil
seru sekali cerita nya
Don Juan
Good job Thor
Ismed Aidil
tambah seru !
Dian Purnomo
lanjut thor
Dian Purnomo
tnkyu thor
Don Juan
Terima kasih updatenya thor👍
Don Juan
Ditunggu kelanjutan ceritanya thor👍
Don Juan
Good job
Ismed Aidil
seru, lanjut !
Ismed Aidil
seru banget ! lanjut !
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!