Andra dan Diana sudah menikah selama lima tahun. Namun selama itu pula Diana memilih untuk menunda kehamilannya. Dengan alasan jika saat ini sedang berada di puncak karir yang selama ini dia impikan.
Selain karena tekanan dari kedua orang tua Andra yang ingin segera punya cucu. Dalam hati kecilnya, Andra juga ingin segera punya anak. Hingga akhirnya dia bertemu sahabat lamanya bernama Nadhira.
Entah ada pikiran dari mana hingga tiba-tiba Andra meminta Nadhira hamil anaknya. Jelas Nadhira menolak apalagi Andra sudah menikah.
Apakah rencana Andra aka berhasil untuk mendapatkan anak dari keturunannya sendiri. Apakah Nadhira akhirnya akan setuju? Lalu bagaimana dengan Diana dan keluarga Andra?
Konflik apa lagi yang akan terjadi setelah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahim Untuk Sahabat 26
Sementara keheningan dan sunyi menyelimuti paviliun tempat Andra dan Nadhira berada. Atmosfer yang seratus delapan puluh derajat berbeda sedang tercipta di sebuah penthouse suite hotel mewah yang menghadap langsung ke pantai Anyer.
Aroma lilin aromaterapi mahal, sisa-sisa sampanye, dan pakaian-pakaian bermerek yang berserakan di lantai marmer menjadi saksi bisu kegilaan yang terjadi di sana. Di atas ranjang besar dengan seprai sutra yang kusut, Diana tidak sedang melakukan pemotretan fajar seperti yang dikatakannya pada Andra. Dia sedang berada di dalam dekapan Reno kembali.
Reno menyesap rokoknya, membiarkan asap tipis membubung ke langit-langit kamar sambil jemarinya mengelus bahu po-los Diana yang bersandar di dada bidangnya.
"Jadi, bagaimana dengan suamimu yang bodoh itu?" tanya Reno dengan nada meremehkan, disusul tawa kecil yang sinis.
"Apa dia masih mengemis meminta anak darimu?"
Diana mendengus, memutar bola matanya malas sambil memainkan jari-jarinya di da,-/da Reno.
"Jangan sebut nama dia di sini, Ren. Membuat selera ku hilang saja. Andra tadi pagi mengamuk karena ibunya mendesak soal ahli waris. Dia benar-benar mengira aku menolak hamil karena memikirkan karier modellingku." Reno terkekeh.
"Andra itu terlalu bodoh karena terlalu mencintaimu, Sayang," bisik Reno, senyum liciknya terkembang.
"Dia bahkan memberiku posisi strategis di perusahaannya hanya karena aku adalah sabatmu. Dia mengira dengan membantuku, dia sedang menyenangkan hatimu."
"Ya, dan kebodohannya itu sangat menguntungkan kita," sahut Diana sambil tersenyum puas. Dia membalikkan tubuhnya, menatap Reno dengan tatapan memikat.
"Kamu tahu, Ren? Tujuanku menikah dengan Andra apa?. Aku hanya menginginkan uang, fasilitas, dan nama besar Antanagara. Agar karirku semakin menanjak. Kita sudah merencanakan semua ini dari awal. Tak akan pernah ada bayi yang bersemayam di dalam perutku! Dan kau! Jangan pernah khianati aku hanya karena istri bodohmu itu juga sedang hamil!"
Reno menarik dagu Diana, menatap wanita itu dengan tatapan penuh gai-rah sekaligus kelicikan.
"Lalu bagaimana jika ibunya yang seperti monster itu benar-benar mendesak tentang anak?"
Diana tertawa meremehkan, tidak tahu sama sekali bahwa di Jakarta, Andra baru saja menikahi Nadhira secara siri untuk mencari rahim pengganti.
"Biarkan saja tua bangka itu mendesak. Aku sudah menyuruh Andra untuk mencari cara lain, entah itu mengadopsi atau menyewa ibu pengganti anonim di luar negeri jika dia memang seputus asa itu. Aku tidak peduli, yang penting posisiku sebagai menantu sah Antanagara tidak terusik dan aliran dana ke rekeningku tetap lancar. Dan aku tak pernah hamil. Sehingga badanku tak pernah ru-sak karena mengandung dan melahirkan!"
Diana kemudian bergerak mendekat, mengalungkan kedua tangannya di leher Reno dan membisikkan kata-kata manja yang membakar kembali gairah di antara mereka. Di bawah temaram lampu kamar hotel Anyer, Diana dan Reno kembali memadu kasih, menari di atas pengkhianatan menji-jikkan terhadap Andra yang selama ini mengorbankan segalanya demi menjaga pernikahan mereka.
Mereka berdua merasa berada di atas angin, merayakan kebodohan Andra yang mereka anggap sebagai mangsa yang empuk. Namun, mereka tidak pernah tahu bahwa roda takdir di Jakarta telah berputar dengan sangat seru. Andra yang mereka sebut bodoh kini telah mengikat Nadhira dalam pernikahan siri, dan sebuah rahasia besar yang sedang dipersiapkan di paviliun kelak akan menjadi bom waktu yang siap menghancurkan seluruh rencana busuk Diana dan Reno hingga tak bersisa.
Di saat yang sama di paviliun, jam dinding menunjukkan pukul enam pagi.
Nadhira terbangun dari tidurnya yang tidak nyenyak. Begitu membuka mata, hal pertama yang dia lihat adalah Andra yang sudah rapi mengenakan kemeja bersih, sedang duduk di kursi dekat jendela sambil menatap keluar dengan pandangan yang dalam. Pria itu tampak tidak tidur semalaman, menjaga jarak dan memegang janjinya untuk tidak menyentuh Nadhira sedikit pun.
Nadhira membetulkan letak selimutnya, lalu duduk di tepi ranjang.
"Andra..." panggilnya lirih.
Andra menoleh, lalu tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang sudah lama tidak Nadhira lihat.
"Kamu sudah bangun, Dhira? Maaf membuatmu terbangun. Aku baru saja mendapat telepon dari rumah sakit. Operasi ibumu berjalan sangat baik pagi ini, kondisinya terus stabil."
Mendengar kabar itu, Nadhira mengembuskan napas lega yang teramat sangat. Air mata kesyukuran menggenang di sudut matanya.
"Terima kasih, Andra..."
Andra bangkit berdiri, melangkah mendekat namun berhenti sekitar dua langkah di depan Nadhira.
"Jangan berterima kasih padaku. Ini adalah hakmu setelah apa yang harus kamu lalui."
Wajah Andra kembali berubah serius.
"Dhira, kita harus bersiap. Beberapa jam lagi, Mama pasti akan mengirim pelayan untuk mengecek kita, atau bahkan meminta laporan dari Dokter Haryo. Kita harus memulai sandiwara kita hari ini. Di depan Mama, kita harus bersikap seolah-olah proses alami itu sudah terjadi semalam. Dan kita bersikap lebih dekat."
Nadhira menunduk, pipinya merona merah karena rasa malu yang mendalam, meskipun mereka tidak melakukan apa pun. Tapi ucapan Andra membuatnya lega.
"Aku mengerti. Aku akan mengikuti skenariomu."
Andra menatap Nadhira lekat-lekat, ada rasa kagum sekaligus rasa bersalah yang kian menumpuk di dadanya saat melihat kecantikan alami sahabatnya tanpa riasan. Andra tahu, keputusannya untuk melindungi kesucian Nadhira semalam adalah hal yang benar, namun hal itu justru membuat benteng pertahanan di hatinya mulai goyah.
Tepat pukul delapan pagi, ketukan berirama di pintu paviliun memecah ketegangan yang menyelimuti Andra dan Nadhira. Seorang pelayan senior kepercayaan Viona masuk membawa nampan berisi sarapan, matanya melirik tajam ke arah ranjang yang kusut dan kerudung Nadhira yang tergeletak di kursi. Pelayan itu menunduk hormat lalu lapor melalui tatapan mata kepada Andra bahwa pesan "situasi aman" telah diteruskan kepada Viona.
Setelah pelayan itu pergi, Nadhira langsung beranjak dari ranjang. Kembali merapikan dirinya.
"Andra, aku harus pergi ke kantor sekarang," ucap Nadhira tegas, mencoba mengembalikan kesadaran profesionalnya.
"Ada laporan keuangan bulanan yang belum selesai, dan aku tidak mau dicurigai oleh rekan kerja jika mendadak menghilang. Setelah dari kantor, aku izin untuk menengok Ibuku di RSUD."
Andra bangkit dari sofa, mengambil kunci mobilnya.
"Aku antar, Dhira. Kamu istriku juga sekarang, aku bertanggung jawab atas keselamatanmu."
"Tidak," tolak Nadhira dingin, menatap Andra lurus-lurus.
"Ingat syarat kita. Di luar kamar ini, kita tidak saling kenal. Jangan memancing kecurigaan pelayan atau supirmu. Aku akan naik angkutan umum seperti biasa."
Andra terpaksa mengalah melihat kilat keras kepala di mata Nadhira. Dia hanya bisa mengantarkan wanita itu sampai ke pintu samping paviliun yang menembus taman belakang, membiarkan Nadhira berjalan sendirian menyusuri jalan setapak menuju gerbang samping kediaman Antanagara.
gx sadar diri ,,
dr awal pernikahan atau mungkin dr sebelum menikah situ juga udh berzina ,,
sedangkan nadhira msh suci ,,
siti sehat Diana😒😒😒😒😒😏😏😏😏