Nadira selalu hidup dalam bayang-bayang saudara kembarnya, Nayla. Wajah mereka identik, tetapi nasib mereka sangat berbeda. Nayla adalah anak kebanggaan keluarga—cantik, pintar, dan selalu diprioritaskan. Sementara Nadira dianggap cadangan, seseorang yang hanya dipanggil saat keluarga membutuhkan “pengganti.”
Semua berubah ketika Nayla mengalami kecelakaan misterius sehari sebelum pertunangannya dengan Arsen Wijaya, pewaris keluarga kaya yang dingin dan sulit ditebak. Demi menjaga nama baik keluarga dan kontrak bisnis miliaran rupiah, Nadira dipaksa menyamar menjadi Nayla sampai kondisi saudara kembarnya pulih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 — Rahasia yang Disimpan Ayah
“Dia sudah tahu sejak dua puluh tahun lalu.”
Kalimat itu menghantam ruangan seperti ledakan.
Tidak ada yang bergerak.
Tidak ada yang bernapas dengan normal.
Semua mata langsung tertuju pada satu orang.
Papa Nadira.
Pria itu membeku.
Wajahnya pucat.
Tatapannya jatuh ke foto tua yang masih berada di tangan Nadira.
Dan diamnya...
Sudah menjadi jawaban yang paling menakutkan.
“Papa?”
Suara Nadira bergetar.
“Apa ini benar?”
Sunyi.
“Jawab aku.”
Nadira berdiri.
Air mata mulai memenuhi matanya.
“Papa, jawab aku!”
Pria itu menutup mata perlahan.
Seolah beban yang selama dua puluh tahun ia sembunyikan akhirnya runtuh malam ini.
“Benar.”
Deg.
Dunia seperti berhenti.
Nadira mundur satu langkah.
Tidak percaya.
Tidak mau percaya.
Namun suara papanya sendiri yang mengatakannya.
“Papa tahu?”
Suara Nayla terdengar pelan.
“Selama ini?”
Pria itu mengangguk.
Pelan.
Sangat pelan.
Deg.
“Kenapa?”
Pertanyaan itu keluar dari bibir Nadira.
Dan terdengar jauh lebih menyakitkan daripada teriakan.
“Kenapa Papa diam?”
Pria itu tertawa kecil.
Tawa yang terdengar hancur.
“Karena aku pengecut.”
Sunyi.
“Aku takut.”
Mahendra tersenyum dari kursinya.
Seolah menikmati semuanya.
“Akhirnya ada yang jujur.”
katanya santai.
“Diam!”
bentak Nadira.
Namun Mahendra hanya tertawa.
Karena untuk pertama kalinya—
Bukan dia yang sedang dihancurkan.
Melainkan keluarga Nadira sendiri.
“Aku mau dengar dari Papa.”
kata Nadira.
Matanya merah.
“Semuanya.”
Pria itu menatap putrinya lama.
Lalu mengembuskan napas berat.
“Dua puluh tahun lalu…”
Suaranya pelan.
“…aku memang tahu Mahendra masih hidup.”
Deg.
“Waktu kebakaran itu terjadi…”
Tatapannya kosong.
“Semua orang percaya dia mati.”
“Tapi nggak dengan Papa?”
tanya Arsen.
Pria itu menggeleng.
“Aku lihat dia keluar.”
Sunyi.
“Dengan mata kepala sendiri.”
Ruangan langsung terasa semakin dingin.
“Terus kenapa nggak lapor polisi?”
tanya Damar.
Pria itu tertawa pahit.
“Karena saat itu…”
Tatapannya jatuh ke Mahendra.
“…aku berutang nyawa padanya.”
Deg.
Tidak ada yang menyangka jawaban itu.
“Mahendra pernah nyelamatin hidupku.”
lanjutnya.
“Aku hampir mati dalam satu kecelakaan.”
“Dan dia yang narik aku keluar.”
Sunyi.
“Jadi saat aku lihat dia kabur…”
Pria itu mengepalkan tangan.
“…aku nggak sanggup menyerahkannya.”
Mahendra tersenyum.
“Aku selalu suka bagian itu.”
katanya santai.
“Karena itu bukti manusia selalu lemah.”
“Nggak.”
Suara Arsen terdengar dingin.
Semua menoleh.
“Itu bukti manusia bisa berutang budi.”
Mahendra langsung diam.
Untuk pertama kalinya malam itu—
Senyumnya menghilang.
Karena Arsen benar.
Ada perbedaan besar antara kelemahan dan rasa terima kasih.
Namun sayangnya...
Keputusan itu tetap menghancurkan banyak kehidupan.
“Papa.”
Suara Nadira kembali terdengar.
Lebih pelan sekarang.
Lebih menyakitkan.
“Papa tahu dia hidup.”
Pria itu mengangguk.
“Papa tahu dia berbahaya.”
Mengangguk lagi.
“Papa tahu banyak orang mati gara-gara dia.”
Air mata mulai jatuh dari mata pria itu.
“Iya.”
Deg.
“Dan Papa tetap diam?”
Tidak ada jawaban.
Karena tidak ada pembelaan yang cukup.
Nadira menunduk.
Dadanya terasa sesak.
Karena selama ini...
Ia selalu menganggap papanya orang baik.
Orang yang mungkin membuat kesalahan.
Tapi tetap baik.
Namun malam ini—
Ia sadar sesuatu.
Orang baik juga bisa melakukan kesalahan yang menghancurkan hidup orang lain.
Dan terkadang...
Kesalahan itu berlangsung puluhan tahun.
“Maaf.”
Suara papanya pecah.
“Aku benar-benar minta maaf.”
Namun kata maaf terasa terlalu kecil sekarang.
Terlalu terlambat.
Tiba-tiba—
Suara tepuk tangan terdengar.
Mahendra.
Pria tua itu berdiri perlahan.
“Indah sekali.”
katanya.
“Sungguh mengharukan.”
Tatapannya menyapu seluruh ruangan.
“Lihat?”
Senyumnya kembali muncul.
“Semua orang di sini punya dosa.”
Deg.
“Dia diam.”
Menunjuk papa Nadira.
“Adrian membunuh.”
Menunjuk Arsen.
“Pak Surya menculik.”
“Dan aku?”
Mahendra tertawa kecil.
“Aku cuma sedikit lebih jujur.”
“Lo gila.”
gumam Rey.
Mahendra menoleh.
“Bisa jadi.”
Lalu tiba-tiba—
Ekspresinya berubah serius.
Sangat serius.
“Makanya aku capek.”
katanya pelan.
Sunyi.
“Aku capek berpura-pura.”
Tatapannya kosong.
“Dua puluh tahun aku sembunyi.”
“Dua puluh tahun aku lihat orang-orang yang lebih kotor dari aku berpura-pura suci.”
Deg.
Ada sesuatu yang berbeda di suaranya sekarang.
Bukan amarah.
Melainkan kelelahan.
Kelelahan seseorang yang sudah terlalu lama hidup dalam kebencian.
“Apa yang sebenarnya lo mau?”
tanya Arsen.
Mahendra menatapnya.
Lama.
Lalu tersenyum kecil.
“Akhirnya pertanyaan yang benar.”
Pria itu berjalan perlahan menuju jendela besar.
Hujan masih turun di luar.
Kabut menutupi sebagian taman.
“Aku mau mengakhiri semuanya.”
katanya.
Deg.
“Maksudnya?”
tanya Nayla.
Mahendra menoleh.
“Semuanya.”
“Organisasi ini.”
“Rahasia ini.”
“Dan semua orang yang terlibat.”
Deg.
Ruangan langsung membeku.
Karena cara Mahendra mengatakannya...
Terdengar seperti seseorang yang sudah membuat keputusan.
Keputusan besar.
Dan berbahaya.
“Aku tua.”
katanya pelan.
“Aku nggak akan hidup selamanya.”
Tatapannya jatuh ke semua orang.
“Jadi sebelum mati…”
Senyumnya tipis.
“…aku mau lihat siapa yang pantas bertahan.”
Deg.
“Apa itu sebabnya Raka diculik?”
tanya Nadira.
Mahendra mengangguk.
“Iya.”
“Kenapa?”
Pria itu tersenyum.
“Karena dia satu-satunya yang nggak pernah memilih masuk ke permainan ini.”
Sunyi.
Kalimat itu membuat semua orang terdiam.
Karena anehnya...
Ada benarnya.
Raka memang korban.
Bukan pemain.
Bukan pelaku.
Bukan bagian dari semuanya.
Hanya anak kecil yang hidupnya dicuri.
“Dan karena itu…”
lanjut Mahendra.
“…aku penasaran.”
“Penasaran apa?”
Tatapannya jatuh ke Nadira.
“Seberapa jauh kamu akan pergi demi dia.”
Deg.
Jantung Nadira langsung berdetak keras.
Karena akhirnya ia mengerti.
Ini bukan soal uang.
Bukan soal organisasi.
Bukan soal kekuasaan.
Setidaknya bukan lagi.
Ini soal obsesi.
Mahendra sedang memainkan permainan yang jauh lebih berbahaya.
Permainan manusia.
Permainan emosi.
Permainan pengorbanan.
Tepat saat itu—
Suara langkah kaki terdengar dari lantai atas.
Semua langsung menoleh.
Dan beberapa detik kemudian—
Raka muncul.
Namun dia tidak sendirian.
Di sampingnya berjalan Aluna.
Gadis misterius yang ditemuinya sebelumnya.
Deg.
Begitu melihat Nadira—
Raka langsung berlari.
“KAK!”
Nadira refleks membuka tangan.
Dan adiknya langsung memeluknya erat.
Sangat erat.
Seolah takut terpisah lagi.
“Aku takut…”
bisiknya sambil menangis.
Nadira memeluknya lebih kuat.
“Nggak apa-apa.”
“Kakak di sini.”
Untuk sesaat—
Suasana menjadi hening.
Bahkan Mahendra hanya memperhatikan.
Tanpa mengganggu.
Namun perhatian Nadira justru tertuju pada Aluna.
Karena gadis itu masih berdiri diam di tangga.
Dan ada sesuatu yang aneh.
Sangat aneh.
Wajahnya.
Semakin lama Nadira melihatnya...
Semakin terasa familiar.
Seolah ia pernah melihat wajah itu sebelumnya.
Bukan sekali.
Berkali-kali.
Deg.
Lalu tiba-tiba—
Sebuah ingatan muncul.
Foto lama di rumah.
Album keluarga.
Foto mamanya saat remaja.
Dan wajah Aluna...
Sangat mirip dengan seseorang dalam foto itu.
Seseorang yang sudah lama
menghilang.
Deg!
Nadira langsung membeku.
“Tidak mungkin…”
bisiknya.
Mamanya yang berdiri tak jauh darinya ikut menoleh ke arah Aluna.
Dan dalam sepersekian detik—
Wajah wanita itu langsung kehilangan warna.
Air matanya jatuh begitu saja.
Karena ia mengenali gadis itu.
Atau lebih tepatnya...
Ia mengenali siapa ibunya.
Dengan suara gemetar—
Wanita itu akhirnya mengucapkan satu nama.
“Melati…”
Dan Mahendra langsung tersenyum.
Senyum yang membuat seluruh ruangan merinding.
Karena Melati bukan nama sembarang.
Melati adalah adik mereka.
Saudara yang dinyatakan meninggal lima belas tahun lalu.