"Duniaku gelap, tapi aku tidak butuh lampu. Aku hanya butuh seseorang yang tidak memalingkan wajah saat aku memanggil 'Papa'."
Di kediaman Tenggara yang megah, Aurora Alandriana adalah sebuah anomali. Di tengah kesuksesan sang Ayah dan dominasi keempat kakak laki-lakinya—Eros, Gavin, Juna, dan Arvin—Aurora hidup seperti hantu. Baginya, rumah itu bukan tempat berteduh, melainkan sebuah pengadilan yang menghukumnya atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan: lahir ke dunia.
Tiap sudut rumah adalah pengingat akan kebencian. Meja makan adalah tempat penghinaan, dan lorong sekolah adalah tempat ia harus berpura-pura tidak mengenal darahnya sendiri. Terutama Arvin, kakak keempatnya yang paling dekat jarak usianya, yang memilih untuk menjadi perundung paling kejam di sekolah hanya untuk membuktikan bahwa Aurora tidak punya tempat di hidupnya.
Namun, saat sebuah rahasia besar di balik kematian sang Ibu mulai terkuak, dan saat tubuh Aurora yang rapuh mulai mencapai batas kemampuannya untuk ber
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Surat Persetujuan Berdarah
Keheningan malam di lantai VIP Rumah Sakit Pusat Tenggara terasa begitu mencekam. Udara di dalam ruang rapat kecil yang terletak tak jauh dari kamar rawat Aurora terasa begitu berat, seolah-olah pasokan oksigen telah habis disedot oleh ketegangan yang mendera keempat abang Tenggara.
Di atas meja kayu panjang, tergelit beberapa lembar kertas putih tebal. Itu adalah surat persetujuan tindakan operasi dada terbuka (Informed Consent) untuk penggantian katup jantung total. Di bagian bawah kertas, kolom tanda tangan perwakilan keluarga masih kosong melompong—sebuah ruang putih yang kini menjelma menjadi beban hidup dan mati.
"Tingkat kematian di atas tujuh puluh persen..." Arvin memecah keheningan dengan suara yang hancur. Ia mencengkeram rambutnya sendiri, menatap kosong ke arah lantai. "Kalau kita tanda tangan ini, dan Aurora nggak bangun lagi di atas meja operasi... itu artinya kita yang membunuh dia dengan tangan kita sendiri."
"Tapi kalau kita nggak tanda tangan, cairan di paru-parunya akan terus menumpuk, Arvin!" seru Gavin, suaranya naik satu oktav karena frustrasi yang membuncah. Ia berjalan mondar-mandir di dalam ruangan, jaket hitamnya yang kering kini tampak kusut. "Dia akan kehabisan napas dalam hitungan hari. Kita dihadapkan pada pilihan: membiarkan dia mati perlahan, atau bertaruh demi kesembuhan totalnya!"
"Juna, bagaimana menurut lo?" Eros mendongak, menatap anak ketiga Tenggara yang sejak tadi hanya diam menatap layar laptopnya yang menampilkan visualisasi 3D dari struktur katup jantung Aurora yang membengkak.
Juna meletakkan kacamata bacanya di atas meja, mengusap pangkal hidungnya yang terasa pening. "Secara medis dan matematis, peluangnya memang kecil. Tubuh Aurora sudah mengalami syok berkali-kali dalam minggu ini. Tapi..." Juna menjeda kalimatnya, matanya menatap tajam ke arah Eros dan Gavin. "Katup mekanis buatan yang disiapkan Profesor Gunawan adalah teknologi terbaru yang diimpor dari Jerman. Jika raga Aurora bisa bertahan dalam tiga jam pertama pembedahan, VAD akan membantu mempercepat pemulihannya. Ini satu-satunya jalur logis yang kita punya."
Eros menatap lembaran kertas itu. Sebagai anak sulung yang biasa menandatangani berkas akuisisi senilai triliunan rupiah tanpa berkedip, tangannya kini justru gemetar hebat saat meraih pulpen hitam di atas meja. Setiap huruf dari namanya yang akan terukir di sana membawa pertaruhan nyawa adik bungsu mereka.
Sementara itu, di dalam kamar rawatnya yang sunyi, Aurora berjuang melawan rasa sesak yang mulai menyerang dadanya kembali. Setiap kali ia menarik napas, ada sensasi berat dan panas di dalam paru-parunya. Namun, sepasang matanya yang bulat tetap fokus menatap layar tablet digital yang menyala di pangkuannya.
Dengan sisa tenaganya yang terus menyusut, Aurora menggoreskan warna keemasan terakhir di atas sketsanya. Sesuai dengan permintaan dari klien anonimnya, gambar itu kini telah selesai sempurna: seorang gadis kecil berpakaian lusuh, berdiri kokoh di tengah kegelapan malam sembari mengangkat sebuah lampu petromak yang memancarkan cahaya keemasan yang sangat hangat. Di depan gadis itu, sebuah jalan setapak yang dipenuhi bunga-bunga kecil tampak membentang luas menuju masa depan.
Aurora tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang sangat langka. Dengan tangan yang gemetar, ia menyimpan hasil gambarnya dan membuka aplikasi pesan langsung untuk mengirimkannya kepada sang klien.
[Aura_Art]: Selamat malam. Sketsa berwarna untuk pesanan Anda sudah selesai saya kerjakan. Maaf jika hasilnya agak sedikit lama karena kondisi saya malam ini kurang baik.
Terima kasih banyak sudah memesan di tempat saya. Uang dua puluh juta yang Anda kirimkan... membuat saya merasa kalau hidup saya yang cacat ini ternyata masih ada harganya untuk orang lain. Terima kasih sudah menjadi cahaya kecil di kamar rumah sakit saya yang menakutkan.
Di luar ruangan, ponsel di dalam saku jaket Gavin bergetar pendek. Gavin yang sedang berdebat langsung terdiam dan merogoh ponselnya. Begitu membaca pesan teks dan melihat lampiran gambar dari Aurora, pertahanan pria berwajah tegas itu runtuh seketika. Air matanya menetes tanpa bisa ditahan, membasahi layar ponsel.
Gavin memperlihatkan gambar itu kepada Eros, Juna, dan Arvin. "Lihat..." bisik Gavin, suaranya bergetar hebat karena rasa haru yang bercampur kepedihan. "Dia menyelesaikan gambar ini di tengah rasa sesaknya. Dia bilang... uang itu membuat dia merasa berharga. Dia mau bertahan hidup karena ini."
Arvin membekap mulutnya, tangisnya pecah seketika melihat ilustrasi yang dibuat adiknya—sebuah ilustrasi yang seolah menggambarkan jeritan hati Aurora yang ingin keluar dari kegelapan masa lalunya.
Eros menarik napas dalam-dalam, menghapus sisa air mata di sudut matanya yang mengeras. Ia menarik surat persetujuan operasi itu ke hadapannya, lalu dengan satu tarikan napas yang mantap, ia menorehkan tanda tangannya di atas materai.
Sret.
"Operasinya akan dilakukan besok subuh," ucap Eros tegas, menatap ketiga adiknya dengan sorot mata penuh komitmen. "Gavin, balas pesannya sekarang. Katakan pada Aurora bahwa gambarnya sangat indah, dan minta dia untuk beristirahat total malam ini. Sampaikan bahwa besok... dia akan menghadapi pertempuran terakhirnya untuk bisa melihat dunia yang sebenarnya bersama kita."
Gavin mengangguk cepat, jemarinya dengan segera mengetik balasan untuk adiknya, menyembunyikan identitas abangnya di balik untaian kata penyemangat dari seorang asing yang teramat menyayanginya.
Banyak pelajaran yg bisa kita ambil dari cerita kk
sungguh sangat sedih dan menguras air mata🥹🥹🥹
tapi gak kuat bacanya
soalnya sedih banget 😭😭🥹🥹