(SEASON 2)
Dengan Inti Emas Iblis di Dantian-nya, Shen Yuan kini meninggalkan benua kelahirannya. Ia melangkah menembus Gerbang Lintas Benua menuju jantung peradaban Sembilan Cakrawala, siap membawa badai darah mematikan bagi para dewa palsu yang pernah merenggut segalanya darinya. Perburuan yang sesungguhnya baru saja dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Matinya Sang Bintang
Di atas delapan ribu anak tangga pualam yang telah berubah warna menjadi lautan darah, sebuah sangkar raksasa yang terbuat dari ribuan kilatan petir perak bergemuruh hebat. Udara di dalam Alam Pengasingan Mutlak itu telah dipadatkan hingga melampaui kekerasan baja murni.
Pelindung Bintang Dua berdiri mengambang di luar sangkar tersebut. Hawa murni dari Ranah Pemisahan Duniawi Tahap Menengah memancar keluar, memutus semua ikatan hukum alam di sekitar Shen Yuan.
Bagi pendekar biasa, terjebak di dalam Alam Pengasingan berarti mereka tidak lagi bisa bernapas, tidak bisa menyerap hawa murni langit dan bumi, dan hanya bisa menunggu tubuh mereka dihancurkan oleh hukum ruang milik sang pencipta alam tersebut.
"Bakar dia menjadi abu!" raung Pelindung Bintang Dua, mengayunkan Tombak Perak Surgawi-nya ke bawah.
Bummmmm!
Ribuan pilar petir perak di dalam sangkar itu melesat serentak, menghantam sosok Shen Yuan di tengah-tengah. Cahaya yang luar biasa menyilaukan meledak, menutupi pandangan dari ribuan murid fana yang masih tersisa di lereng gunung. Suara ledakan petir itu sanggup membuat telinga mereka berdarah.
Di atas paviliun melayang, Bai Chen mencengkeram pembatas batu giok dengan napas memburu. "Mati! Dia pasti sudah mati! Tidak ada daging yang bisa selamat dari Petir Bintang milik Paman Pelindung!"
Namun, saat cahaya petir perak itu perlahan memudar...
Sebuah pemandangan yang menghancurkan akal sehat tersaji di dalam sangkar maut tersebut.
Shen Yuan masih berdiri tegak di tempatnya semula. Tubuh Emas Gelap-nya memancarkan pendaran perunggu kehitaman, sama sekali tidak retak atau hangus. Sebaliknya, tangan kanannya yang memegang Pecahan Gigi Naga diangkat tinggi-tinggi. Ujung pedang patah yang berkarat itu kini diselimuti oleh pusaran hitam raksasa yang terus berputar dengan kecepatan gila.
Sisa-sisa petir perak yang mematikan itu tidak menghantam tubuhnya, melainkan sedang disedot dan ditelan oleh rahang tak kasat mata dari pusaran pedang tersebut!
Roh Pedang purbakala di dalam Pecahan Gigi Naga mendengung kegirangan, memakan energi hukum ruang tersebut layaknya hidangan penutup yang lezat.
"Petir surgawi?" Suara Shen Yuan mengalun pelan dari dalam sangkar, namun terdengar sangat jelas mengiris keheningan. Ia mendongak, matanya yang segelap malam memancarkan kilatan merah darah. "Rasanya terlalu hambar."
"M-Mustahil!" Pelindung Bintang Dua terbelalak ngeri, cengkeramannya pada tombaknya mengerat. "Alam Pengasinganku adalah hukum mutlak! Bagaimana pusaka usang itu bisa menelan hukum duniaku?!"
"Karena duniaku... jauh lebih luas dari duniamu."
Shen Yuan tidak menunggu lebih lama. Ia memutar Sutra Penelan Surga, mengalirkan hawa murni dari Tahap Menengah Peleburan Jiwa-nya, dan memadukannya dengan energi petir perak yang baru saja ia telan.
"Kembalikan padanya."
Shen Yuan mengayunkan Pecahan Gigi Naga secara mendatar, menghantam dinding sangkar petir tersebut.
"Gulungan Pedang Penelan Langit: Belah Kehampaan!"
Klaaaaaaanggggg!
Sebuah pusaran sabit hitam yang kini dikelilingi oleh kilatan petir perak meledak keluar. Gelombang energi itu menghantam Alam Pengasingan Mutlak milik Pelindung Bintang Dua dari dalam. Suara pecahan kaca yang memekakkan telinga bergema. Sangkar petir yang diklaim tak bisa dihancurkan itu meledak berkeping-keping!
"Ukh!" Pelindung Bintang Dua memuntahkan seteguk darah perak. Pantulan dari hancurnya Alam Pengasingan menghantam organ dalamnya.
Sebelum ia sempat menstabilkan hawa murninya, sesosok bayangan hitam telah melesat keluar dari kepulan asap ledakan. Shen Yuan menggunakan Langkah Bayangan Hantu, membengkokkan jarak seratus anak tangga dalam sekejap mata, dan muncul tepat di depan wajah sang Pelindung!
"Mati kau, Iblis!"
Sebagai ahli Pemisahan Duniawi yang berpengalaman, Pelindung Bintang Dua bereaksi dengan kecepatan naluri. Ia menusukkan Tombak Perak Surgawi-nya lurus ke arah jantung Shen Yuan, membawa kekuatan yang sanggup melubangi lempeng benua.
Namun Shen Yuan tidak menghindar. Ia membuang pedangnya ke tangan kiri, dan tangan kanannya yang diselimuti oleh hawa murni iblis langsung mencengkeram ujung tombak pusaka tersebut!
Traanggg! Darah menetes dari telapak tangan Shen Yuan, namun laju tombak itu terhenti sepenuhnya. Kekuatan fisik dari Penyempurnaan Tanpa Celah yang dipadukan dengan hawa murni Peleburan Jiwa bertabrakan secara berhadapan langsung dengan kekuatan Pemisahan Duniawi!
"Kau mencoba beradu tenaga fisik denganku?! Bodoh!" Pelindung Bintang Dua meraung, menyalurkan seluruh hawa murninya ke dalam tombaknya untuk membelah tangan Shen Yuan.
"Bodoh? Coba lihat ke sekelilingmu," bisik Shen Yuan dengan seulas senyum mematikan.
Tiba-tiba, langit di sekitar Pelindung Bintang Dua menjadi gelap gulita. Tidak ada cahaya bintang, tidak ada cahaya lampion sekte. Kehampaan mutlak menyelimuti lingkup lima ratus tombak di atas anak tangga tersebut.
"Alam Jiwa: Neraka Penelanan Langit!"
Shen Yuan sengaja mendekat bukan untuk beradu tenaga, melainkan untuk menyeret sang Pelindung ke dalam Alam Jiwa pribadinya! Di dalam kegelapan ini, ikatan sang Pelindung dengan hukum alam benar-benar terputus. Cahaya peraknya meredup, dan hawa murninya mulai bocor disedot oleh kegelapan di sekelilingnya.
"S-Sialan! Alam Jiwa macam apa ini?! Aku tidak bisa merasakan udara!" Pelindung Bintang Dua mulai panik. Ia mencoba menarik tombaknya, namun cengkeraman Shen Yuan sekuat jepitan neraka.
Di dalam Neraka Penelanan Langit, Shen Yuan adalah penguasa mutlak. Ia melepaskan cengkeramannya dari tombak, dan sebagai gantinya, empat untai Rantai Hantu melesat dari kegelapan, melilit lengan dan kaki sang Pelindung dengan kecepatan yang tak bisa dihindari.
"Lepaskan aku!" Pelindung Bintang Dua memberontak hebat. Hawa murni Pemisahan Duniawi-nya mencoba membakar rantai-rantai tersebut, namun setiap kali ia mengeluarkan energi, kegelapan di sekitarnya menelannya mentah-mentah.
Shen Yuan melayang di depannya. Tangan kirinya mengangkat Pecahan Gigi Naga.
"Di alam bawah, kalian menganggap diri kalian sebagai bintang," ucap Shen Yuan perlahan, ujung pedang berkaratnya diarahkan ke dada sang Pelindung. "Tapi di hadapan lubang hitam, bahkan bintang yang paling terang pun akan ditelan menjadi ketiadaan."
Craaaassshhh!
Shen Yuan menusukkan Pecahan Gigi Naga lurus menembus dada Pelindung Bintang Dua.
Darah tidak menyembur. Pedang pusaka kuno itu membuka 'rahangnya', langsung menyedot esensi kehidupan dan wujud jiwa sang Pelindung.
"Tidaaaaak... Kuil Dewa Perak... Leluhur Tertinggi... akan memusnahkan—"
Kata-kata terakhir Pelindung Bintang Dua terputus selamanya saat jiwanya hancur ditelan. Tubuhnya yang agung mengering dengan kecepatan mengerikan, berubah menjadi kerangka layu yang keriput.
Shen Yuan mencabut pedangnya. Kubah Neraka Penelanan Langit ditarik kembali ke dalam tubuhnya. Cahaya bulan kembali menyinari Tangga Penekan Jiwa. Mayat kering Pelindung Bintang Dua jatuh berdebum, menggelinding menuruni anak tangga giok, melewati sisa-sisa Pasukan Perak yang kini hanya bisa membelalakkan mata dalam keputusasaan yang tak terlukiskan.
Dewa pelindung mereka, panglima tertinggi yang ditugaskan menjaga gerbang sekte, telah mati dalam waktu kurang dari sebatang dupa!
Shen Yuan memejamkan matanya di udara. Hawa murni yang luar biasa melimpah dari seorang ahli Pemisahan Duniawi Tahap Menengah membanjiri Dantian-nya. Energi ini begitu kental hingga membuat Lautan Qi Iblisnya mendidih dan meluap. Fondasi Ranah Peleburan Jiwa Tahap Menengahnya langsung memadat hingga ke titik mutlak, meraba dinding pembatas menuju Tahap Akhir.
Ia membuka matanya. Tidak ada lagi kelelahan di wajahnya.
Ia menoleh ke arah puncak Gunung Pilar Langit, tempat gerbang raksasa dari Kuil Dewa Perak menjulang. Di atas sana, di paviliun melayang yang kini sepi, Bai Chen duduk mematung dengan wajah seputih kertas. Cangkir araknya telah lama jatuh ke lantai.
Pemuda berjubah abu-abu itu tidak berlari. Ia melangkah naik, selangkah demi selangkah, meniti sisa seribu anak tangga terakhir. Sepatu botnya tidak lagi meneteskan darah fana, melainkan menyapu aura kematian yang membuat udara sekte raksasa itu membeku.
"Bai Chen," suara Shen Yuan menggema pelan, namun mampu menggetarkan setiap pilar di puncak gunung. "Sembilan ribu anak tangga telah kulewati. Sekarang... giliranmu."