Terlahir kembali di dunia yang dipenuhi Iblis dan Malaikat Jatuh bukanlah rencana Saiba Ren. Sebagai mantan Raja Dewa yang pernah mengguncang Alam Ilahi, ia kini harus memulai segalanya dari nol di Akademi Kuoh dengan identitas baru.
Namun, Ren tidak datang sendirian. Di balik penutup matanya yang misterius, tersimpan kekuatan Six Eyes yang mampu menembus struktur semesta, dan di dalam jiwanya, istri-istri tercintanya masih tertidur dalam dimensi rahasia yang menunggu untuk dibangkitkan. Di dunia di mana Sacred Gear dan garis keturunan adalah segalanya, Ren hadir sebagai anomali yang tidak bisa diukur oleh logika sistem mana pun.
Saat faksi-faksi besar mulai mengincar kekuatannya, Ren hanya memiliki satu prinsip: "Dunia ini boleh punya aturannya sendiri, tapi akulah yang menentukan kapan aturan itu berlaku bagiku." Bisakah ia membangun kembali kejayaannya sambil menjaga kedamaian haremnya yang perlahan terbangun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34.Cahaya Pertama & Perubahan
Fajar menyingsing di cakrawala Kota Kuoh, menyebarkan garis-garis emas yang membelah kabut pagi di sekitar gedung tua Akademi Kuoh. Embun masih menggelantung jernih di ujung daun-daun mawar taman sekolah, namun ketenangan itu terasa semu. Di atap gedung, sosok Rias Gremory berdiri dengan gelisah. Rambut merahnya yang biasanya tertata rapi kini sedikit berantakan tertiup angin fajar, sementara di sampingnya, Xenovia Quarta menyilangkan tangan dengan ekspresi yang sangat skeptis.
"Kau benar-benar percaya dia bisa mengubah Issei hanya dalam satu malam, Rias?" Xenovia bertanya, suaranya mengandung nada ejekan yang tajam. "Bahkan pelatihan keras dari Vatikan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mensinkronisasi pengguna Sacred Gear dengan senjatanya."
Rias tidak menjawab. Matanya tertuju pada pintu menuju atap yang perlahan terbuka.
Langkah kaki yang tenang terdengar, diikuti oleh sosok Ren yang melangkah keluar dengan tangan di saku celana. Ia mengenakan kacamata hitamnya, melindungi matanya dari sinar matahari yang mulai meninggi. Di sampingnya, Bibi Dong berjalan dengan keanggunan yang tak tergoyahkan, seolah-olah atap sekolah yang berdebu ini adalah karpet merah di istana pribadinya.
Namun, yang membuat Rias dan Xenovia terdiam bukanlah kehadiran pasangan itu, melainkan sosok yang berjalan di belakang mereka.
Issei Hyodo melangkah maju. Seragamnya tampak berantakan, wajahnya dipenuhi luka goresan kecil dan memar, namun sorot matanya telah berubah total. Tidak ada lagi keraguan atau ketakutan yang biasanya menyelimuti wajah mesum pemuda itu. Yang tersisa hanyalah tatapan tajam yang fokus, dengan aura keberanian yang berdenyut stabil di sekeliling tubuhnya.
"Issei?" Rias berbisik, tidak percaya dengan tekanan energi yang dirasakannya dari bidak Pawn-nya itu.
"Dia sudah kembali, Rias," ucap Ren sambil berdiri di samping Rias, menatap pemandangan kota di bawah mereka. "Dan dia membawa 'hadiah' untuk pertemuan pagi ini."
Bibi Dong melirik Xenovia dengan senyum tipis yang memprovokasi. "Ksatria Gereja, bukankah kau bilang semalam bahwa pedangmu meredup di hadapanku? Mungkin kau harus melihat bagaimana naga kecil ini mengasah taringnya saat kalian semua sedang tertidur lelap."
Xenovia mendengus, ia melangkah maju dan menghujamkan tatapan tajam pada Issei. "Hanya karena auranya berubah, bukan berarti dia sudah siap menghadapi Kokabiel. Tunjukkan padaku, Issei Hyodo. Tunjukkan apa yang kau pelajari dari pria misterius ini."
Issei tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menarik napas dalam-dalam, membiarkan paru-parunya terisi udara pagi yang dingin. Ia melirik Ren sebentar, mendapatkan anggukan kecil yang nyaris tak terlihat, lalu ia mengangkat tangan kirinya.
"Ddraig... jangan biarkan aku malu di depan mereka," bisik Issei.
BOOST!
Suara digital yang berat dan menggelegar meledak di keheningan pagi. Cahaya merah yang intens menyelimuti tangan kiri Issei, dan dalam sekejap, Boosted Gear bermanifestasi dengan bentuk yang jauh lebih solid dan berkilau daripada sebelumnya. Namun, itu belum berakhir.
BOOST! BOOST! BOOST!
Tiga peningkatan berturut-turut terjadi hanya dalam hitungan detik. Udara di sekitar Issei mulai bergetar karena tekanan energi naga yang meluap. Rias terpaksa mundur satu langkah, tangannya menutupi wajah dari embusan angin kencang yang dihasilkan oleh aura Issei.
"Tiga kali peningkatan dalam waktu sesingkat itu tanpa kehilangan kesadaran?" Xenovia tertegun. Tangannya secara otomatis meraba gagang Excalibur Destruction di punggungnya. "Ini tidak masuk akal... bagaimana mungkin?"
Ren terkekeh pelan, suaranya terdengar sangat puas. "Sederhana. Aku hanya menghancurkan mentalnya dan memaksanya membangunnya kembali dari nol. Manusia sering kali lupa bahwa batas kemampuan mereka hanyalah dinding tipis yang dibangun oleh rasa takut."
Bibi Dong berjalan mendekati Issei, jemarinya yang lentik menyentuh kristal hijau pada Boosted Gear yang panas membara. "Kerja bagus, Naga Kecil. Setidaknya sekarang kau tidak akan mati hanya karena hembusan napas Malaikat Jatuh."
[SISTEM: Target Issei Hyodo telah mencapai tingkat sinkronisasi 15% dengan jiwa Ddraig. Status: Stabil.]
[SISTEM: Reaksi faksi Gremory dan Gereja—Terintimidasi (75%). Posisi tawar-menawar Anda meningkat secara signifikan.]
Ren berbalik menatap Rias yang masih terpaku. "Sekarang, Rias Gremory... apakah kau masih meragukan kesepakatan yang aku tawarkan semalam? Kokabiel akan bergerak malam ini, dan Issei akan menjadi ujung tombakmu. Tapi ingat, informasi yang aku minta adalah harga mati."
Rias menatap Issei, lalu beralih ke Ren. Ia bisa merasakan bahwa dinamika kekuasaan di Kuoh telah bergeser sepenuhnya pagi ini. Ia bukan lagi sang penguasa yang memberikan perlindungan, melainkan sekutu yang bergantung pada kemurahan hati sang anomali berambut putih.
"Aku mengerti, Ren," ucap Rias dengan nada yang jauh lebih rendah hati. "Kesepakatan tetap berlaku. Kami akan mempersiapkan segalanya untuk konfrontasi malam ini."
Xenovia hanya bisa terdiam, menatap Issei dengan rasa hormat yang baru tumbuh secara paksa di hatinya. Ia menyadari bahwa di bawah pengawasan Ren dan Bibi Dong, bahkan seekor pion yang hina bisa berubah menjadi ancaman bagi para dewa.