Rayya kemala putri, Wanita yang selama ini selalu di anggap menjadi beban suaminya. Menjelma sebagai wanita karir yang sukses setelah mengetahui perselingkuhan sang suami, apalagi kenyataan yang ia terima bahwa ternyata kakak iparnya sendiri mendukung perselingkuhan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rana putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Tok tok tok!
Tak berselang lama, Pintu rumah raisa terbuka. Raisa memutar bola mata malas melihat kehadiran rayya, Tapi ada juga ketakutan. Takut rayya tau kalau dia lah yang mencuri tablet arra di rumah mpok leha.
“Ngapain lagi kamu kesini?” Tanya raisa ketus
Rayya tersenyum “Dimana tablet arra.”
Raisa mengerutkan kening nya, Pura pura memasang wajah tak mengerti “Maksud kamu apa? Ngapain kamu cari tablet anak mu disini. Kamu kira aku ini penitipan!” Ucapnya.
“Aku tau kok mbak, kalau kamu yang ngambil tablet arra di rumah mpok leha. Jadi daripada masalah ini tambah panjang lebih baik sekarang mbak kembalikan.”
“Heh, enak aja ya kamu nuduh nuduh aku. Jangan sembarangan kalau ngomong, Mau aku kasih cabe mulut busuk mu itu!!” bentak raisa, Rayya sama sekali tak marah. Ia hanya tersenyum, Tapi senyuman itu sangat mengerikan di mata raisa. Entah sejak kapan rayya berani bersikap seperti ini pada nya.
Prok! Prok! Prok!
Rayya bertepuk tangan 3x membuat raisa kebingungan, Tak lama kemudian. Dua orang polisi datang menghampiri nya, Membuat rayya mundur seketika. Raisa yang melihat kehadiran polisi seketika tercengang, Jantung nya berdegub kencang. Tubuh nya gemetar tak karuan.
“Selamat sore ibu, apakah benar ini rumah saudari Raisa?” Tanya polisi itu, Raisa hanya menganggukkan kepalanya
“B-benar. A-ada apa ya pak?”
“Kami kesini membawa surat penangkapan atas saudari raisa, atas kasus pencurian tablet milik arrabella putri dari ibu rayya kemala.”
Raisa menggelengkan kepalanya “Nggak pak! Saya gak pernah mencuri, Jangan termakan fitnahan wanita jalang ini.”
“Tapi kami membawa serta bukti cctv. Dan disana jelas terlihat anda membawa keluar tablet milik arrabella dari rumah saudara mpok leha.”
Mata raisa membulat “Cctv?”
“Nggak pakk! Nggak! Saya gak salah, Tablet itu memang seharusnya Milik maira bukan milik arra. Jadi saya hanya mengambil apa yang menjadi hak saya..” akhirnya mengaku juga, Membuat rayya tersenyum penuh kemenangan.
“Nanti anda bisa jelaskan di kantor polisi, Mari ikut kami.” Dua polisi itu lansung membekuk raisa, Raisa histeris menolak nya. Hingga suara teriakan raisa membuat para tetangga samping kanan kiri berhambur keluar dari rumah masing masing.
“Tidakkk!!! Saya gak mauu… Rayya , Kurang ajar kamu. Awas aja aku akan bales kamu..”
“Aku sudah bilang sama kamu, Kembalikan tablet itu. Tapi kamu kekeuh gak mau, Yasudah sekarang selesaikan di kantor polisi saja.” Jawab rayya santai
“Mamaaaa..” Maira keluar dari dalam rumah setelah mendengar keributan, Di pelukan nya ada tablet milik arra. Ia menangis histeris melihat mama nya di tangkap polisi.
“Mama, mama mau kemana. Jangan tinggalin maira…”
Rayya sebenarnya tak tega dengan maira, Bagaimanapun maira keponakan nya. Tapi kelakuan raisa sudah tak bisa di tolerir lagi. Terlalu membuat rayya muak
Rayya menarik maira yang terus terusan menarik baju raisa “Maira, Sini sama tantee.” Ajak rayya
“Gakkk!!!! Tante jahatttt!!!! Aku gak mau sama tante, Aku mau sama mama aja.” Teriak maira.
Rayya pun melepaskan cekalan tangan nya “Yaudah kalau kamu mau ikut mama mu ke penjara, sana ikut. Asal kamu tau, disana banyak polisi berbadan besar. Apa kamu gak takut?” Ucap rayya membuat maira melepaskan cekalan tangan nya pada baju mama nya.
Raisa terus memberontak, Tak ingin ikut dengan para polisi itu. Ia juga tak henti hentinya mencaci maki rayya, Tapi rayya tak perduli. Bukan nya ia tega, Tapi ia hanya ingin memberikan pelajaran pada raisa supaya tak terus terusan bertingkah yang membuat nya muak.
Dan ini cukup membuktikan bahwa semua ucapan nya kemarin bukan hanya sekedar ancaman.
“Rayya, itu kenapa raisa di bawa polisi gtu?”
Rayya hanya tersenyum “Terlibat kasus pencurian bu.” Jawab rayya singkat.
Ibu ibu disana terkejut mendengar jawaban dari rayya, Mereka saling berbisik satu sama lain. Rayya kembali menatap maira yang masih menangis sesenggukkan “Maira, kamu mau ikut pulang tante. Apa mau dirumah sendirian?” Tanya rayya dengan Lembut. Bagaimanapun, Maira masih keponakan nya.
“Gak! Aku mau dirumah aja, Aku gak mau ikut tante yang jahat. Cuih..” Maira meludahi kaki rayya, Untung saja rayya cepat menghindar jadi ludahan itu tak terkena kakinya.
Setelah itu maira masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rumah nya dengan keras, “Yaallah kenapa maira kasar seperti itu ya. Gk sopan banget sama kamu rayya..” Ucap tetangga rumah raisa
“Gak papa bu, Mungkin maira masih syok karna ibu nya di bawa ke kantor polisi. Maklum masih anak anak, Yaudah kalau gtu . Saya permisi dulu yaa bu.. anak saya dirumah sendirian.”
Ibu ibu itu mengangguk, Setelah rayya pulang mereka pun membubarkan diri pulang kerumah masing masing.
***
“Kenapa gak ada ojek sih? Astagaa, cape banget nunggu daritadi.” Gumam reino, yang daritadi tak menemukan ojek. Mau naik taxi , tapi sayang uang nya. Jarak rumah dan kantor lumayan jauh, Pasti argo nya sedikit mahal. Sedangkan reino harus berhemat uang. Karna uang nya sudah sangat menipis
Drtttt. Drrrttt. Drrrttt.
Tibatiba ponselnya berdering membuat reino yang sudah kesal semakin kesal, Ia mengambil ponselnya yang ada di saku celana ,dahinya mengerut ketika melihat nomor tak di kenal.
Tanpa tunggu lama, Reino pun menggeser tombol hijau dan menempelkan ponselnya di samping telinga “Halo?”
“Halo rei, rei ini mbak. Rei tolongin mbak.”
“Mbak raisa? Ini kamu mbak? Kamu kenapa mbak? Kok suaranya panik gtu?”
“Rei mbak di tangkap polisi rei, Tolongin mbak rei.”
Mata reino melebar mendengar ucapan kakaknya itu “A-apa ? Polisi? Kok bisa? Memang nya kenapa mbak ditangkep polisi?”
“Ini semua gara gara istrimu yang kurang ajar itu, Dia melaporkan mbak ke polisi gara gara mbak ngambil tablet arra di rumah mpok leha.”
Reino menepuk jidatnya, Kakak nya itu selalu saja berulah yang bisa merugikan diri sendiri. Sudah di bilang rayya bukan perempuan seperti dulu lagi, Malah berani berani nya mencuri barang Milik rayya padahal rayya sudah pernah mengancam nya.
“Astaga mbak, Kamu ini jugaa. Kenapa harus bikin masalah lagi sama rayya sih, ngapain juga mbak ngambil tabletnya arra. Padahal dulu rayya sudah mewanti wanti mbak..”
“Itu semua gara gara kamu rei, Coba aja kamu belikan maira tablet. Maira gak akan terus merengek minta tablet, mbak juga gak akan ngambil tabletnya arra. Udahlah pokoknya sekarang kamu harus bebasin mbak dari sini, Mbak gak mau disini. Kasihan maira dirumah sendiri. Dia pasti ketakutan rei..” Ucap raisa, Suaranya bergetar menahan tangis.
“Yaudah, nanti aku coba ngomong sama rayya. Buat cabut tuntutan nya. Sekarang aku mau pulang dulu liat kondisi maira..”
“Yaudah, Mbak tunggu. Jangan lama lama rei.”
“Iyaa.”
Reino mematikan panggilan secara sepihak, Ia mengurut dahinya. Rasanya masalah terus datang bertubi tubi padanya, Belum selesai masalah di kantor. Sekarang ada lagi masalah raisa..
tak lama kemudian, Sebuah motor berhenti di pangkalan ojek. Reino pun segera memanggil tukang ojek itu, Lalu motor melesat meninggalkan area pangkal ojek menuju rumah raisa.
***
”Mama, tablet arra mana?” Tanya arra pada rayya, Rayya tersenyum lalu mengelus rambut putri semata wayang nya itu.
“Besok kita beli ya, Tablet arra ternyata sudah rusak. Gapapa kan?”
“Kenapa bisa rusak? Memang nya tablet arra di ambil siapa mama?” Tanya arra.
“Sudahlah gapapa. Mungkin memang waktunya arra ganti tablet, nanti mama belikan tablet yang jauh lebih bagus dan canggih dari sebelum nya. Arra mau kan?” Dengan cepat arra mengangguk, Tanpa bertanya lagi. Ia pun sibuk kembali bermain rumah barbie yang tadi siang di bawakan mama nya.
Tak berapa lama, Tiba tiba saja rumah rayya yang memang belum di kunci di buka secara kasar. Membuat rayya maupun arra terkejut, Mereka sama sama menoleh ke arah pintu. Arra tampak ketakutan ketika melihat kehadiran papa nya disana.
Rayya hanya bisa menghela nafas panjang melihat kedatangan sang suami yang sudah bisa rayya tebak , Mengapa ia bisa bersikap sekasar ini.
“Arra, Kamu masuk ke kamar dulu ya. Nanti mama nyusul.” Titah rayya pada arra, Tanpa bantahan arra pun lansung berlari ke dalam kamarnya dan menutup pintu kamar.
Sedangkan rayya kini harus siap berhadapan dengan sang suami , “Bisa nggak masuk kerumah orang yang sopan. Jangan sembarangan nendang pintu, Kamu kira pintu itu murah. Kalau rusak kamu emang bisa gantinya.” Omel rayya
Reino yang sedang menggendong maira itu wajah nya merah padam mendengar ocehan sang istri “Jangan kurang ajar ya kamu rayya! Rumah ini masih milikku, Jadi aku berhak berbuat apapun di rumah ini. Paham kamu..”
“Terserah kamu aja mas, Gapapa kamu kan cuman bisa ngakuin. Nyatanya rumah ini tetep milikku. Ada apa kamu kesini?” Tanya rayya to the point tak ingin berlama lama berdebat dengan sang suami.
“Apa maksud mu melaporkan mbakku ke polisi hah! Kamu mau cari mati sama aku?”
Rayya hanya bisa tersenyum miring mendengar ucapan nya “Seharusnya kamu tanya itu ke mbak mu , Kenapa aku bisa nglaporin dia ke polisi. Mana mungkin dong, Polisi nangkap mbak mu kalau mbak mu itu gak berbuat salah..”
“Rayya! Itu cuman masalah sepele, Mbak raisa ngambil tablet itu karna memang itu hak nya. Apa salah nya sih kamu minjemin tablet nya sebentar.. Lagian itu juga pasti kamu pake uangku juga buat belinya.”
Rayya tertawa terbahak bahak mendengar ucapan reino yang dengan pedenya mengucap jika tablet itu ada campur tangan uang nya “Uang mu? Uang mu yang mana mas? Coba kamu jelasin sini. Dulu walaupun aku masih dapet nafkah bulanan dari kamu , Aku aja ga bisa beli tablet itu. Buat kebutuhan sehari hari aja aku kadang masih nambelin pake uang kerjaku. Jadi buruh cuci…”
“Yaa itu memang sudah tugas mu membantu suami mencari nafkah..” Bela reino
Rayya hanya geleng geleng kepala mendengarnya “Di perusahaan jabatan kamu itu seorang Manager keuangan, Setiap bulan kamu di gaji 15 juta. Trus belum lagi kamu korupsi senilai 2Miliar. Lantas dimana semua uang nya mas? Bahkan aku ga dikasih seperempat gajimu..”
degh!