Setelah 8 tahun mendekam dalam penjara, selama
8 tahun juga tidak pernah ada yang datang menjenguknya. Arlan, pria penuh kuasa yang haus akan balas dendam, tiba-tiba datang menjemputnya.
Bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk menjadikan Adira tawanan dalam ikatan suci pernikahan.
Arlan bersumpah akan menghancurkan hidup Adira hingga ayahnya muncul untuk menyerahkan diri. Dalam istana kemegahan yang dingin, Adira menyadari bahwa "Mahar Kebebasan" yang diberikan Arlan hanyalah awal dari hukuman mati yang berjalan perlahan.
Apakah cinta bisa tumbuh di atas tanah yang disirami kebencian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia dibalik
Keesokan harinya, saat Adira terbangun, ia tidak lagi menemukan Zo di rumah minimalis tersebut. Wanita itu mengedarkan pandangan dengan heran saat menyadari dirinya terbangun di atas tempat tidur yang empuk, lengkap dengan selimut lembut yang menyelimuti tubuhnya.
"Bukannya semalam aku tidur di sofa, ya?" gumamnya pelan, mencoba mengingat-ingat kejadian semalam.
Tak ingin ambil pusing, ia segera beranjak keluar kamar. Ternyata di ruang tamu, asisten Wira sudah berdiri menantinya dengan sopan.
"Selamat pagi, Nyonya," sapa pria itu.
"Pagi, kapan Anda datang? Dan di mana Tuan Zo?" Adira sengaja mencari pria itu karena tidak melihat keberadaannya di mana pun.
"Baru saja Nyonya. Dan Tuan Zo sudah pergi duluan, Tuan juga meminta saya untuk menjemput dan mengantar Anda pulang sekarang," jelas Wira.
"Oh, benarkah? Kalau begitu, ayo kita berangkat," jawab Adira lega.
"Mari, Nyonya."
Mereka pun bergegas meninggalkan rumah minimalis itu. Namun, di dalam mobil, jantung Adira mulai berdegup kencang. Ia tahu, setelah ini ia harus mempersiapkan diri untuk bertemu Arlan, pria yang terkenal kasar itu.
Sesampainya di kediaman Arlan, Adira langsung masuk dan segera membersihkan diri. Setelah siap, ia memberanikan diri menuju kamar utama tempat suaminya berada. Ia mengatur napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berpacu kencang. Dalam hati, ia berdoa semoga Arlan bisa diajak bekerja sama demi nasib kedua dokter yang kariernya kini bergantung penuh di tangan pria itu.
Tok.. tok.. tok..
Meski rasa ragu dan takut menghantuinya, Adira tetap melangkah maju. Ia siap menghadapi apa pun risikonya.
"Tuan Arlan, bolehkah saya masuk?" panggilnya pelan namun jelas.
Hening. Tak ada sahutan sedikit pun dari balik pintu tebal itu. Adira mengeratkan genggaman di ujung bajunya, lalu kembali mengetuk pintu itu dengan lebih berani.
Tok.. tok.. tok..
Namun lagi-lagi, tidak ada sahutan dari dalam kamar. "Ke mana dia? Apa dia tidak ada di dalam?" batin Adira.
"Nyonya? Nyonya Adira sudah pulang?" tanya Bibi Suri yang tiba-tiba muncul dari lorong.
"Iya, Bi. Oh ya, Bi, di mana Tuan Arlan? Apa dia ada di kamarnya?" tanya Adira dengan raut wajah tidak sabar sekaligus cemas.
Bibi tersenyum, kemudian menjawab, "Tuan Arlan katanya tidak mau diganggu, Nyonya. Tadi pagi Tuan menghubungi saya, katanya jangan ganggu Tuan untuk hari ini."
"Memang kenapa, Bi?" tanya Adira cepat dengan raut penasaran.
"Saya kurang tahu, Nyonya," sahut sang pembantu.
Adira terdiam sejenak, namun tiba-tiba ia tersentak. Ingatannya melayang pada kejadian mengerikan semalam saat ia disekap oleh sekelompok mafia. Jantungnya berdegup kencang saat menyadari satu hal yang sangat berharga tertinggal di sana.
"Astagfirullah! Semalam aku terlalu terburu-buru sampai lupa mengambil kalung ayahku!" serunya dalam hati.
Tanpa membuang waktu, ia langsung bergegas berlari menuruni anak tangga. Bibi Suri yang melihat majikannya tampak tergesa-gesa segera menyela dengan wajah khawatir.
"Nyonya? Nyonya mau ke mana?"
"Aku mau keluar sebentar, Bi!"
"Tapi... Tuan Arlan berpesan kalau Nyonya tidak boleh ke mana-mana setelah sampai di rumah," cegat Bibi Suri dengan nada takut-takut.
Langkah Adira terhenti. Ia menoleh ke arah Bibi Suri. "Dia bilang begitu?"
"Iya, Nyonya. Katanya Anda tidak diizinkan keluar rumah sama sekali kalau sudah pulang." Bibi Suri menatapnya dengan harap-harap cemas; takut Nyonya-nya tidak bisa diajak bicara dan justru menimbulkan kekacauan yang nantinya harus ia tanggung.
Adira terdiam membeku. Pikirannya berputar mencari akal. Kalung ayahnya adalah satu-satunya kenangan yang ia miliki, dan ia harus mengambilnya kembali. Namun, ia tiba-tiba teringat pada Teo dan Cindy yang kariernya terancam hancur karenanya. Jika ia memaksa pergi, itu artinya Bibi Suri dan pelayan lain juga akan terancam dipecat.
Ia hanya bisa menarik napas panjang, mengurung niatnya untuk pergi demi keselamatan orang lain.
"Baik, Bi." ujarnya lemas dan terpaksa kembali ke kamarnya.
Kasihan sekali Nyonya Adira, terpaksa harus terkurung di dalam sangkar emas ini. Batin bibi Suri simpati pada nyonyanya.
***
Di sebuah hotel berbintang lima, tiga pria tampan tampak duduk bersantai di ruang VIP. Ruangan mewah itu memang dikhususkan untuk para petinggi seperti mereka. Sambil menikmati minuman, ketiganya tampak asyik berdiskusi ringan.
"Gimana, Kak Arlan? Sampai kapan Kak Arlan mau pakai identitasku terus?"
ahhh ga berani dia Cemen 🤣🤣
ko aku jadi negatif thinking sana ayah nya dira jangan" ayah lucknat dia" kalau pengorbanan mu Dira kalau ayahmu ayah' durhakim
i hope sih beda orang buka satu orang