Reina Wulandari,seorang gadis yang terpaksa harus menjual dirinya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan sang nenek. Dia anak yang pintar namun sayang kepintarannya tidak dia manfaatkan dengan baik dan justru harus terjerumus ke dalam hal yang tidak seharusnya dia lakukan. Bagaimana kisahnya mari ikuti ceritanya.
( Hanya cerita fiktif belaka jadi tolong jangan hina karyaku ya 🙏 tolong komentar dengan bijak dan ambil hal yang baik saja ).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KheyraPutri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang
" Nggak papa Tan,aku bisa sendiri kok lagipula aku udah sehat." Ucap Reina meyakinkan.
" Tapi kamu sendirian nak,mending ikut Tante aja nemenin Tante." Ucap Rita yang masih tidak tega kalau Reina sendirian di rumah.
" Nanti biar aku suruh Shasa nemenin ke rumah,tante tenang saja..." Ucap Reina tersenyum.
" Kalau begitu biar Tante antar kamu pulang ya...Tante belum tau rumah kamu." Ucap Rita menggandeng tangan Reina dan mereka pun berjalan keluar rumah sakit menuju parkiran.
Sesampainya di parkiran Reina dan Rita langsung masuk ke dalam mobil duduk di jok belakang berdua.
" Kita antar Reina pulang ke rumah ya pak." Ucap Rita memberi tau.
" Baik nyonya...tapi saya belum tau alamat rumahnya." Ucap pak sopir.
" Jalan aja dulu pak biar nanti Reina yang ngasih tau arah-arahnya." Rita menyuruh sopirnya menjalankan mobilnya terlebih dahulu.
" Oh baik nyonya." Pak sopir melajukan mobilnya meninggalkan parkiran rumah sakit.
Keluar dari rumah sakit Reina menoleh memandang sedih, harusnya nenek juga ikut pulang ke rumah. Tanpa terasa air matanya kembali lagi menetes karena ia akan sendirian di rumah.
" Reina..." Panggil Rita lembut sambil menggenggam tangannya. " Nangis boleh nak,tapi jangan berlarut-larut ya,masih ada Tante. Kamu bisa nganggep tante mama kamu sendiri sayang..." Ucap Rita yang lalu memeluk Reina,ia juga tidak bisa melihat orang bersedih.
Pak Mamat mendengar dan melihat dari spion pun juga ikut sedih karena nasib Reina yang kurang beruntung. Ia mendengar cerita dari pembantu lain kalau Reina mengalami nasib kurang beruntung. Saat ini ia melihat sendiri bagaimana malangnya nasib anak itu.
Setelah cukup lega Reina pun melepaskan pelukannya lalu mengelap air matanya.
" Maafin Reina Tante...baju Tante jadi basah karena terkena air mata saya." Ucap Reina yang tidak enak.
" Nggak papa kok,kamu nggak mau makan dulu ?" Tanya Rita.
" Nggak Tante,aku masak di rumah saja nanti." Jawab Reina menolak karena dia tidak berselera.
" Pak Mamat nanti berhenti di restoran yang biasa ya." Ucap Rita .
" Baik nyonya." Ucap pak Mamat membelokan mobilnya ke restoran langganan majikannya.
Pak Mamat pun memarkirkan mobilnya di parkiran restoran.
" Ini mang,beli makanan seperti biasanya saja. Di bungkus ya." Ucap Rita yang memberikan uang 500 ribu.Pak Dadang menerima uang itu lalu keluar dari mobil membeli makanan kesukaan nyonyanya.
" Kamu nggak pilih-pilih makanan kan sayang ?" Tanya Rita lembut.
" Nggak Tante semua Reina makan kok." jawabnya.
" Ya udah biar nanti kamu nggak perlu masak di rumah, persediaan camilan atau bahan-bahan di dapur masih ada ?" Tanya Rita lagi karena ia sekalian jalan pulang.
" Nggak Tante udah itu aja udah cukup..." Ucap Reina menunduk." Hutangku ke Tante dan kak Bram sudah sangat banyak,aku selalu merepotkan Tante" Ucap Reina sendu.
" Tante ikhlas Re,nggak usah di ganti pun Tante nggak akan nagih... itung-itung Tante berbuat kebaikan,Tante selalu menghamburkan uang dan tidak pernah bersyukur, selalu mengeluh setiap nggak dapetin tas incaran Tante." Ucap Rita yang tidak sadar bercerita.
Reina hanya tersenyum saat Rita terus saja bercerita tanpa henti,dan Reina hanya mendengarkan karena berkomentar pun ia bingung.
Pintu mobil pun di buka,Pak Mamat kembali dengan membawa 3 kantong plastik berukuran sedang.
" Sudah nyonya,mau mampir lagi ke tempat lain ?" Tanya pak Mamat sebelum menjalankan mobilnya.
" Nggak ada pak udah." Bukan Rita yang menjawab tapi Reina.
" Loooo Tante kan mau beliin kamu camilan sayang." Ucap Rita.
" Nggak usah Tante aku nggak terlalu suka nyemil,mending kita segera pulang dan istirahat saja." Ucap Reina tersenyum." Ayo pak jalan,ke alamat xxx gang xxx pak." Ucap Reina memberi tau alamatnya.
" Baik nona." Ucap pak Mamat melajukan mobilnya meninggalkan restoran dan menuju ke alamat yang di beri tau tadi.
Begitu memasuki kawasan tempat Reina tinggal banyak orang yang melihat karena mobil yang di pakai Rita bukan mobil yang biasa di pakai Bramasta. Semua orang takjub melihat mobil mewah lewat di tempat yang masih terpencil di pinggiran kota.
" Itu pak yang halamannya luas cat hijau." beri tau Reina ke pak Mamat.
Pak Mamat langsung membelokkan mobilnya ke halaman rumah yang di tunjukan. Untuk sesaat Rita memperhatikan dari dalam mobil rumah Reina yang begitu sederhana namun sangat rapi dan sejuk.
Reina pun turun dari mobil di susul Rita yang juga turun. Pak Mamat mengambil barang-barang yang tadi di beli dan membawanya mengekori di belakang Reina dan Rita.
Bi Sumi yang kebetulan sedang berada di teras rumah melihat ada mobil mewah memasuki halaman rumah Reina ia pun langsung menghampiri.
" Regina...." Teriak bi Sumi.
Yang di panggil pun langsung menoleh dan mengangguk kepalanya." iya bi ini saya".
Bi Sumi langsung menghampiri dan memeluk Reina sambil menangis. "Maafin ya Re karena belum sempat jenguk kamu sama nenek." Ucap bi Sumi.
" Nggak papa bi, Reina sudah sembuh kok." Ucap Reina pelan. Perlahan bi Sumi pun mengendurkan pelukannya lalu melihat ke arah Rita dan sopirnya.
" Kenalin bi ini tante Rita mamanya kak Bram dan ini sopirnya pak Mamat " Ucap Reina mengenalkan ke bi Sumi.
Bi Sumi pun mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Rita dan sopirnya. " saya bi Sumi tetangganya".
Rita menjabat tangan kembali dan tersenyum. "Kalau pingin mampir rumah saya di sebelah bu" Ucap bi Sumi ramah.
" Kapan-kapan saja." Ucap Rita yang juga menjawab dengan ramah.
Bi Sumi pun pamit untuk pulang ke rumah. Reina membuka pintu rumahnya yang sudah 3 hari ini tidak dia huni.
" Silahkan masuk Tante,maaf rumahnya kayak gini keadaannya." Ucap Reina mengajak Rita dan pak Mamat masuk.
" Ini di taruh di mana non ?" Tanya pak Mamat.
" Sini pak biar saya taruh di belakang." Ucap Reina menerima paperbag yang di bawa pak Mamat lalu pergi ke dapur untuk menaruhnya di sana.
Rita melihat setiap sudut rumah Reina,ia melihat kamar nenek Sri dan kamar Reina dari pintu tidak berani masuk." Ya Allah ternyata rumahnya seperti ini." Rita merasa sesak sekaligus merasa tertampar karena kehidupannya berbanding terbalik dengan ia yang serba ada dan berkecukupan.
Merasa puas berkeliling ia pun duduk di kursi teras depan rumah memandang bunga-bunga yang begitu indah bermekaran. Reina kembali ke depan membawa minuman teh untuk Rita dan pak Mamat.
" Looo pak Mamat mana Tan ?" Tanya Reina saat sampai di teras.
" Balik ke mobil." Jawab Rita yang mengalihkan perhatiannya melihat Reina.
" Ini di minum dulu tehnya...biar aku panggil pak Mamat dulu ke sini minum teh." Ucap Reina setelah menaruh tehnya di meja.
Rita hanya mengangguk dan tersenyum sambil memperhatikan Reina yang menjauh.
--->>>