NovelToon NovelToon
Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana

Status: tamat
Genre:Petualangan / Dikelilingi wanita cantik / Fantasi Wanita / Ahli Bela Diri Kuno / Pusaka Ajaib / Tamat
Popularitas:4.1M
Nilai: 4.8
Nama Author: Rudi Hendrik

Penyakit aneh Pendekar Sanggana Joko Tenang membuatnya akan lemah lumpuh di dekat wanita, padahal perjalanannya selalu berurusan dengan wanita.

Untuk bisa menyembuhkan penyakitnya dan menjadi pendekar normal, Joko justru harus memiliki delapan istri. Bagaimana cara Joko bisa melakukannya?

Pada saat yang sama, Joko pun harus kehilangan seluruh kesaktiannya pada kali pertama melakukan hubungan suami istri sampai delapan istri ia miliki.

Bagaimana cara Joko menghadapi kerasnya dunia persilatan dalam kondisi tanpa kesaktian? Temukan jawabannya hanya di Pendekar Sanggana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Mengejar Putri Sagiya

Tirana memasuki kamarnya dengan wajah dingin. Ia membawa sekeranjang bambu buah apel berkulit merah gelap mengkilap. Hilangnya Putri Sagiya menghadirkan pertanyaan-pertanyaan di benaknya.

Saat pandangannya melihat kepada lemari kayunya, Tirana segera meletakkan buahnya ke ranjang dan ia bergerak memeriksa laci tempat ia menyimpan kotak kayu birunya. Ternyata laci itu sudah kosong.

“Putri pencuri!” maki Tirana kesal.

Buru-buru ia berlari ke luar dan langsung ke depan rumah. Di depan ia bertemu dengan ayahnya.

“Yang Mulia Putri membawa kotak birumu,” kata Turung Gali sekeluarnya Tirana.

“Dia akan merasakan bagaimana membuat Gadis Penjaga marah!” kata Tirana marah.

“Kau jangan membuat kacau di istana, Tirana!” kata Turung Gali.

“Aku tidak pernah membuat kacau di istana, Ayah. Putri Sagiya yang sangat memaksaku untuk datang ke istana. Tapi akan aku rebut kembali milikku sebelum masuk ke istana!” kata Tirana. “Bersahabat beberapa tahun memang tidak cukup membuatnya mengenalku dengan baik.”

“Saran Ayah, biarkan Putri Sagiya membawa kotak biru itu, tidak perlu kau masuk istana,” kata Turung Gali.

Dari dalam rumah muncul ibu Tirana, Pira Lili.

“Apa yang ingin kau lakukan, Gadisku?” tanya Pira Lili  lembut.

“Putri Sagiya telah mencuri kehormatanku, maka aku harus menyelamatkan kehormatanku. Aku tidak akan sampai membunuh seorang pun, Ibu,” kata Tirana.

“Ibu percaya denganmu, pergilah!” tandas Pira Lili.

Turung Gali tidak berkomentar lagi. Ia dan istrinya sangat mengenal karakter putri sulungnya tersebut.

Bress!

Tirana menghentakkan lengan kanannya seperti melempar sesuatu. Maka tiba-tiba sebuah pola sinar merah berbentuk lingkaran jaring laba-laba besar menempel di pagar halaman. Selanjutnya, Tirana berkelebat masuk ke dalam sinar jaring laba-laba dan lenyap seperti masuk ke alam lain.

Tirana menggunakan ilmu Lorong Laba-Laba untuk memperpendek jarak tempuhnya.

Tirana muncul begitu saja di jalan mendaki yang menuju ke atas hutan. Kemunculannya yang tiba-tiba itu agak mengejutkan warga desa yang sedang berjalan. Namun, warga yang juga bukan orang biasa tersebut bisa mengerti siapa Tirana adanya.

Tirana cukup populer di Kampung Cahaya Bumi dengan nama Gadis Penjaga. Bukan hanya karena kecantikannya yang sulit dicari tandingannya, tapi juga karena kesaktiannya yang tinggi di usia muda membuatnya dihormati di kalangan para pendekar.

Bress!

Tirana menghentakkan lengan kanannya seperti melempar sesuatu. Maka tiba-tiba sebuah pola sinar merah berbentuk lingkaran jaring laba-laba besar menempel di dinding batu jalanan yang menanjak. Selanjutnya, Tirana berkelebat masuk ke dalam sinar jaring laba-laba dan lenyap seperti masuk ke alam lain.

Tirana menggunakan ilmu Lorong Laba-laba untuk memperpendek jarak tempuhnya.

Dalam hitungan detik semata, Tirana muncul tiba- tiba di jalan sebuah desa di atas bumi di tengah hutan. Kemunculannya yang seperti setan itu hanya menarik perhatian sejenak orang sekitar. Sebab, selanjutnya Tirana kembali melepas Lorong Laba-labanya dan masuk menghilang ke dalamnya.

Tirana kembali muncul di sebuah jalan hutan yang cukup lebar, lalu menghilang kembali dengan cara yang sama.

Sementara itu, dua kuda yang ditunggangi oleh Putri Sagiya Riangga Liya dan pengawal pribadinya, Pengawal Tingkat Tiga Jatria Gaga, berlari kencang di jalan lebar yang diapit oleh barisan pepohonan besar. Barissan pohon membuat jalan itu memiliki kesan keangkeran yang tinggi.

Putri Sagiya tiba-tiba menarik kencang tali kekang kudanya, membuat tunggangannya itu berhenti tajam. Sang Putri berhenti, Pengawal Gaga juga berhenti mendadak dengan tangkas mengendalikan tunggangannya.

Putri Sagiya memandang ke atas pohon nan tinggi dan besar. Ia mengangkat tangan kanannya dan menggerakkan sekilas jemarinya.

Sesosok tubuh tiba-tiba muncul dari atas dan meluncur turun dari ketinggian. Seorang pria berpakaian prajurit turun mendarat di bumi dengan pijakan yang lembut, seperti mendaratnya sehelai daun. Pria muda berusia kepala tiga itu segera menjura hormat di depan kuda Putri Sagiya.

“Sembah hamba, Yang Mulia Putri!” ucap prajurit tersebut dengan pandangan menunduk sedalam-dalamnya.

“Prajurit, jika ada seorang wanita cantik berpakaian putih, halangi dia, jangan sampai lolos ke arah kerajaan!” perintah Putri Sagiya.

“Baik, Yang Mulia Putri!” jawab si prajurit tegas.

Setelah itu, Putri Sagiya langsung beranjak pergi bersama kudanya. Pengawal Gaga pun mengikutinya. Si prajurit kembali naik ke atas pohon dengan kecepatan memanjat yang tidak biasa. Prajurit itu adalah salah satu dari prajurit jaga di kawasan yang merupakan jalan masuk ke arah kerajaan.

Setelah keluar dari jalan angker itu, Putri Sagiya dan Pengawal Gaga masih harus melalui sebuah desa yang posisinya berada di depan benteng utama kerajaan. Desa itu bernama Pupus Gelap. Antara Desa Pupus Gelap dan tembok tinggi kerajaan ada tanah lapang nan luas berumput hijau.

Putri Sagiya dan Pengawal Gaga terus memacu kudanya  menyusuri jalan utama yang membelah Desa Pupus Gelap menuju kerajaan yang istananya menjulang tinggi. Sekeluarnya dari Desa Pupus Gelap, keduanya melintasi tanah lapang menuju gerbang utama benteng kerajaan.

Benteng kerajaan yang tinggi dan panjang dibangun dari bahan batu yang tebal dan kuat. Pintu gerbangnya dari kayu yang kuat, keras dan tebal. Di depan gerbang berwarna merah yang tertutup itu berbaris sepuluh prajurit penjaga.

Melihat kedatangan dua kuda yang berlari kencang dari kejauhan, membuat kesepuluh prajurit yang berjaga segera siaga. Pengawal Gaga dari jauh mengangkat tangan kanannya memberi tanda. Prajurit yang di atas menara gerbang segera mengenali siapa yang datang.

“Yang Mulia Putri Sagiya tiba! Buka gerbang!” teriak prajurit di atas menara.

Kesepuluh prajurit penjaga depan gerbang segera membelah menjadi dua kelompok, memberi jalan yang lebar. Mereka turun berlutut memberi penghormatan. Sementara prajurit pembuka pintu gerbang yang besar segera bekerja. Dua daun pintu gerbang bergerak membuka.

Kuda Putri Sagiya dan Pengawal Gaga datang dengan cepat. Putri Sagiya terus melesat bersama kudanya masuk ke dalam benteng dengan melalui sebuah lorong besar sejauh beberapa tombak. Sementara Pengawal Gaga menghentikan kudanya di depan gerbang.

“Jika ada wanita cantik berpakaian putih datang, jangan biarkan masuk!” kata Pengawal Gaga kepada para prajurit itu.

“Baik, Pengawal!” jawab mereka kompak.

Pengawal Gaga segera memacu kembali kudanya menyusul Putri Sagiya.

Di tempat lain, ternyata pesan Putri Sagiya benar adanya bagi para penjaga di daerah berpohon tinggi dan besar.

Beberapa prajurit yang berjaga di daerah berpohon besar itu agak terkejut saat mendapati kemunculan seorang wanita berpakaian putih seperti munculnya sesosok siluman dari alam lelembut.

Bress!

Namun, baru saja para prajurit itu saling memberi isyarat untuk melompat turun, sosok wanita yang adalah Tirana itu sudah berkelebat maju seraya melepaskan sinar jaring laba-laba ke batang pohon. Selanjutnya, Tirana pun menghilang. Sementara para prajurit itu hanya bisa saling pandang bingung.

Tirana kemudian muncul di tengah tanah lapang di depan tembok benteng kerajaan. Kemunculan yang tiba-tiba cepat ditangkap oleh prajurit di atas menara.

“Perempuan berpakaian putih datang!” teriak prajurit di atas menara.

Peringatan itu tidak hanya membuat sepuluh prajurit di depan gerbang bersiaga dengan tombak panjangnya masing-masing, tapi belasan prajurit panah yang ada di atas tembok benteng segera menarik senar busurnya dengan anak panah siap dilepaskan.

“Bidik...!” teriak pimpinan prajurit yang bertanggung jawab di area gerbang utama itu.

Tirana berlari kencang ke arah gerbang laksana seekor kuda yang hendak menabrakkan diri ke pintu gerbang yang tertutup.

“Berhenti!” seru pemimpin prajurit kepada Tirana.

Namun, Tirana tidak mengindahkan seruan itu, ia tetap berlari cepat ke arah sepuluh prajurit yang siap menghadang dengan tombak-tombak panjangnya.

Ketika Tirana semakin mendekat, pemimpin prajurit di atas tembok bertitah, “Panah!”

Seseset...!

Namun, Tirana yang berlari cepat tiba-tiba berubah melesat laksana anak panah. Sejumlah anak panah yang menyerangnya berjatuhan menancap di tanah yang ditinggalkannya.

Bress!

Sepuluh prajurit yang sudah bersiaga di depan gerbang jadi terkejut karena Tirana tahu-tahu sudah mencapai mereka. Sebelum mereka menggerakkan tombaknya, mereka sudah terdorong berjatuhan ke tanah. Seiring itu, Tirana melepaskan sinar merah jaring laba-laba yang menempel di pintu gerbang.

Tirana masuk begitu saja dan hilang bersama hilangnya sinar merah itu. (RH)

1
S P Lani
ga jelas mau 8 nya ke tu da tunda dgn kematian dong
S P Lani
tiap awal cerita suka ga jelas arah nya pendekar jokonya cuman karakter tambahan di novel ini mah .selalu awalan karakter baru dgn sejumlah Maslah MC cuman akhir cerita aja
S P Lani
pendekar darimana ini penjudi ga bisa melawan ilmunya goib apa gimana?
S P Lani
sok misterius kalau ga mau kawin ga usah datang mening menghilang selamanya jadinoerawan tua aja si
S P Lani
sok misteri 🤭🤭
Ilham Risa: hai kak, mampir yuk ke novel aku "Pembalasan Pemuda Yang Disingkirkan" terimakasih
total 1 replies
S P Lani
tingkat kepedulian MC sama tim nya cuman sehalus bulu sehelai tidak ada makna bahwa MC nya orang berbudi baik cuman baik di pandangan dia sanak saudara yg bukan saudara ga usah peduli .itu inti MC nya di cerita penulis ingin mah ya🙏🙏
S P Lani
ceritanya bikin pusing dgn MC nya yg bener bener ga peduli kalau bukan urusan nya. kalau dia punya Maslah bergerak .katanya orang yg peduli dunia ada sesuatu tak tergerak hatinya
S P Lani
pertarungan di benteng nya tidak menggambarkan keseluruhan orang lor we kan bos
S P Lani
di mana letak kesamaan nya dgn cerita awal .ini per episode ganti MC gitu? ga ngerti jln pikiran penyadur nih
S P Lani
keren darimananya? hubungan cerita awal sama cerita ini gimana hubungan nya bro
S P Lani
ga jelas anjng cerita di awal sama ini apa hubungan nya
S P Lani
apa hubungan nya sama cerita arak kayangan anjng ga ngerti karakter di arak kayangan pada kemana
S P Lani
kaya polisi indonesia sama polisi India setelah mati baru datang bantuan hahahha
Om Rudi: terimakasih sudah mampir. semoga betah di novel Om Rudi, SP Lani🙏🙏
total 1 replies
S P Lani
tolol kesan nya kalau pun ada ga segitu nya kali takut sama wanita
Muhamad Yasri
Luar biasa
Jhonny Afrizon
emang udah bodoh,jadi tambah bodoh baca cerita ini,hah
Jhonny Afrizon
ini ceritanya muter muter di situ aja,jadi membosankan
Jhonny Afrizon
sekumpulan orang bodoh,masa gak kalo masih suci apa gak,emang gak berasa apa di badan,hah
Jhonny Afrizon
nama MC harusnya bukan Joko tenang,tapi Joko panik😜
Jaka Kelana
Biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!