NovelToon NovelToon
Suami Dadakan Untuk Cantika

Suami Dadakan Untuk Cantika

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Perjodohan
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Cantika perempuan miskin dari desa ,karena salah paham warga hingga dipaksa menikah dengang pria yang baru ia kenal,dan Cantika tidak menyangka kalau suami dadakannya adalah CEO, bagaimana Cantika menjalankan rumah tangga dadakannya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bekerja di Cafe

Dinding apartemen mewah yang ditempati Arka dan Cantika berwarna krem lembut, dihiasi dengan lukisan abstrak yang harganya mungkin setara dengan biaya makan didesa satu tahun.

Di sudut ruangan, sebuah jendela besar menjulang dari lantai hingga langit-langit, menyuguhkan panorama Jakarta yang sibuk, bising, dan penuh warna. Namun bagi Cantika, pemandangan itu tak ubahnya seperti layar televisi yang hanya bisa ia tonton tanpa bisa ia sentuh.

Sudah dua bulan cantika berada di sini. Segala kebutuhannya tercukupi; lemari pakaiannya penuh dengan merek ternama, meja makannya selalu menyajikan hidangan lezat, dan kartu kredit di dompetnya memiliki limit yang tak masuk akal. Namun, di balik semua kemewahan itu, Cantika merasa jiwanya perlahan mengerut. Ia merasa seperti burung dalam sangkar emas cantik dipandang, namun sayapnya mulai kaku karena jarang dikepakkan.

Sore itu, keheningan apartemen terasa mencekik. Cantika berdiri di depan jendela, menatap orang-orang di bawah sana yang berlarian mengejar bus atau sekadar berjalan kaki sambil berbincang. Ia merindukan rasa lelah setelah seharian beraktivitas. Ia merindukan sensasi memiliki tujuan di pagi hari.

"Aku tidak bisa terus-menerus begini,aku tidak mau berdiam disini " bisiknya pada diri sendiri."Aku harus bicara dengan Mas Arka ."

Suara pintu utama yang terbuka mengejutkannya. Arka telah pulang. Lelaki itu masuk dengan langkah tegap, melepaskan jasnya dan melemparkannya ke sofa dengan gerakan yang efisien namun dingin.

Arka adalah sosok yang sulit dibaca. Pernikahan atau lebih tepatnya kesepakatan ini memang tidak dilandasi oleh cinta. Arka melakukan ini sebagai bentuk tanggung jawab, dan Cantika menerimanya karena keadaan yang mendesak.

"Mas." Panggilnya lirih .

"Kenapa belum makan?" tanya Arka tanpa menoleh, sembari melonggarkan dasinya.

Cantika menarik napas dalam, mengumpulkan sisa keberanian yang ia miliki. "Mas Arka, kita perlu bicara."

Arka menghentikan gerakannya. Ia berbalik, menatap Cantika dengan tatapan datar yang selalu berhasil membuat nyali perempuan dua puluh tahun itu ciut.

"Tentang apa? Kalau soal uang belanja, bukankah sudah kutambah kemarin?"

"Ini bukan soal uang," potong Cantika cepat. "Aku ingin bekerja."

Hening sejenak. Arka kemudian tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar meremehkan. "Bekerja? Untuk apa? Kau punya segalanya di sini, Cantika. Kau tidak perlu berkeringat,apalagi berjualan kripik hanya untuk mendapatkan beberapa lembar rupiah. Duduklah manis, nikmati fasilitasmu, dan jangan cari masalah."

Wajah Cantika memanas. "Ini bukan soal mencari masalah. Ini soal harga diri. Aku merasa terkurung di sini, Arka. Apartemen ini mewah, tapi bagiku ini penjara. Aku ingin merasa berguna. Aku ingin menjadi mandiri, meski hanya sedikit."

Arka berjalan mendekat, memperpendek jarak di antara mereka. Aura dominannya terasa sangat kuat. "Mandiri? Kau masih dua puluh tahun. Kau bahkan belum tahu bagaimana kejamnya dunia luar,ini di Kota tidak seperti desa Tempatmu . Dan di sini kau aman. Di luar sana, kau hanya akan menjadi mangsa."

"Aku lebih baik menjadi mangsa yang mencoba bertahan hidup daripada menjadi pajangan yang mati perlahan karena bosan!" suara Cantika meninggi, getaran di nadanya menunjukkan betapa seriusnya ia.

Arka terdiam. Ia menatap mata Cantika yang berkaca-kaca namun penuh dengan api tekad. Selama ini, ia menganggap Cantika hanyalah gadis muda yang pasrah mengikuti arus. Namun hari ini, ia melihat sesuatu yang berbeda. Ada kegigihan yang nyata di sana. Arka memang belum mencintai gadis di depannya ini, namun ia bukan orang jahat yang tega merenggut hak dasar manusia untuk merasa merdeka.

Arka membuang muka, menghela napas panjang. Ia teringat masa mudanya sendiri, bagaimana ia berjuang membangun kerajaan bisnisnya karena tak mau dikekang oleh aturan ayahnya. Ia melihat cerminan pemberontakan itu dalam diri Cantika.

"Baiklah," ucap Arka lirih.

Cantika terbelalak. "Kamu serius,Mas?"

"Aku memberimu izin," Arka menatapnya kembali, kali ini dengan ekspresi yang lebih serius. "Tapi dengan satu syarat. Kau tidak boleh bekerja di sembarang tempat. Aku tidak mau kau bekerja di tempat yang keamanannya tidak terjamin."

"Lalu aku harus bekerja di mana?"

"Temanku, Dimas, baru saja membuka cabang baru kafenya di daerah Jakarta Selatan. Aku akan memintanya memberimu posisi di sana. Setidaknya di sana aku tahu kau dalam pengawasan orang yang kukenal."

"Tapi Mas Arka, aku ingin melamar sendiri, aku tidak mau ..."

"Itu syarat dariku, Cantika. Ambil atau lupakan sama sekali," potong Arka tegas.

Cantika terdiam sejenak. Meskipun itu tidak sepenuhnya 'mandiri' seperti yang ia bayangkan, tapi ini adalah langkah awal. Sebuah celah di pintu sangkarnya.

"Baiklah. Aku setuju."

### Langkah Pertama

Hari-hari berikutnya menjadi pembuktian bagi Cantika. Setiap pagi, ia bangun lebih awal dari biasanya. Jika sebelumnya ia menghabiskan waktu dengan melamun di balkon, kini ia sibuk menyiapkan diri. Ia memilih pakaian yang sederhana namun rapi: kemeja putih dan celana bahan berwarna gelap. Ia tidak ingin terlihat seperti istri seorang pengusaha kaya saat berada di kafe nanti.

Arka memperhatikan perubahan itu dari kejauhan. Awalnya, ia mengira ini hanya fase sesaat. Ia pikir dalam seminggu, Cantika akan mengeluh tentang kakinya yang pegal atau pelanggan yang kasar, lalu kembali merengek ingin tinggal di rumah. Namun, dugaannya meleset.

Di kafe milik Dimas, Cantika tidak meminta perlakuan khusus. Ia bersedia melakukan apa saja, mulai dari mencatat pesanan, menyajikan kopi, hingga membersihkan meja yang kotor.

Suatu sore, Arka memutuskan untuk mampir ke kafe tersebut tanpa memberi tahu Cantika. Ia duduk di pojok ruangan, bersembunyi di balik laptopnya. Dari sana, ia melihat Cantika sedang sibuk melayani sekelompok mahasiswa yang cerewet.

Salah satu pelanggan tampak tidak puas karena kopi yang dipesannya tidak sesuai keinginan dan mulai membentak Cantika.

Arka nyaris berdiri untuk campur tangan, namun ia menahan diri. Ia ingin melihat apa yang dilakukan istrinya.

Cantika tidak menangis. Ia justru membungkuk sopan, meminta maaf dengan suara tenang, dan menawarkan solusi untuk mengganti minuman tersebut dengan yang baru secepat mungkin. Senyumnya tetap terjaga meskipun ia baru saja diperlakukan tidak adil.

"Khem ....,jangan diliatin aja,kalau cinta tinggal katakan aja , toh juga sudah sah ." Dimas menggoda Arka .

"Apaan sih kamu Dim."

Dimas terkekeh "Aku nggak nyangka kalau kamu dan Cantika sudah menikah ,tapi aku setuju sih kamu menikah dengan dia ,dari pada dengan Viona,kamu di bohongi aja ."

Arka hanya diam dia hanya menatap kearah Cantika dengan sembunyi sembunyi ,Dimas yang melihatnya hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

"Dia keras kepala, ya?" suara Dimas terdengar di samping Arka

"Dia hanya sedang mencoba membuktikan sesuatu," jawab Arka pendek.

"Aku kagum padanya, Ka. Banyak orang di posisinya akan memilih bersantai dan menghabiskan uang suaminya. Tapi dia? Dia datang tepat waktu, tidak pernah mengeluh, dan dia sangat cepat belajar. Dia punya bakat alami dalam menghadapi orang," puji Dimas.

Arka tidak menjawab, namun matanya terus mengikuti gerak-gerik Cantika. Ada rasa aneh yang menyusup di hatinya bukan cinta, belum tapi sebuah rasa hormat yang mendalam. Ia melihat Cantika yang biasanya rapuh di apartemen, kini tampak begitu hidup dan bersinar di bawah lampu-lampu kafe yang remang.

### Malam yang Berbeda

Malam itu, saat mereka sampai di apartemen, suasana terasa berbeda. Cantika tampak sangat lelah, ia melepas sepatunya dan duduk di sofa dengan desahan lega. Namun, wajahnya tidak menunjukkan kesedihan. Ada binar kebahagiaan yang tidak pernah Arka lihat selama dua bulan terakhir.

"Bagaimana harimu?" tanya Arka. Ini adalah pertama kalinya ia memulai percakapan tentang pekerjaan Cantika tanpa nada sinis.

Cantika menoleh, sedikit terkejut. "Melelahkan. Kakiku rasanya mau copot. Tapi ... aku senang. Tadi ada seorang nenek yang memuji kopi buatanku. Katanya, itu kopi terenak yang ia minum minggu ini."

Arka berjalan ke dapur, mengambilkan segelas air putih dan memberikannya pada Cantika. "Kau tidak harus melakukan ini jika sudah merasa terlalu lelah."

Cantika menerima gelas itu, jemarinya bersentuhan dengan jemari Arka selama sedetik. "Lelah ini berbeda, Arka. Ini lelah yang membuatku merasa benar-benar ada.

Terima kasih ya, sudah memberiku izin."

Arka terdiam melihat ketulusan di mata Cantika. Di apartemen ini, di bawah lampu kristal yang mahal, ia menyadari bahwa selama ini ia telah salah menilai. Ia mengira kemandirian adalah tentang uang, padahal bagi Cantika, kemandirian adalah tentang memiliki kendali atas hidupnya sendiri.

"Besok kau masuk jam berapa?" tanya Arka kemudian.

"Jam sepuluh pagi. Kenapa?"

"Aku akan mengantarmu. Kebetulan aku ada rapat di dekat sana," dusta Arka. Padahal kantornya berada di arah yang berlawanan.

Cantika tersenyum lebar. Senyum yang begitu manis hingga membuat jantung Arka berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. "Terima kasih, Arka."

Malam itu, di apartemen yang tadinya terasa seperti penjara, udara mulai terasa lebih ringan. Tembok-tembok besar itu tak lagi terasa menghimpit. Cantika tahu perjalanannya untuk benar-benar mandiri masih panjang, dan ia tahu Arka mungkin belum mencintainya. Namun, ia tidak lagi merasa seperti burung yang sayapnya patah. Ia adalah perempuan yang sedang belajar terbang kembali, dan untuk pertama kalinya, ia merasa masa depannya tidak lagi sekadar bayangan di balik jendela kaca.

Kemandirian bukan hanya tentang bekerja, melainkan tentang keberanian untuk menyuarakan keinginan dan membuktikannya dengan tindakan.

Dan bagi Arka, belajar menghargai kebebasan orang lain adalah langkah pertamanya untuk memahami apa itu cinta yang sesungguhnya. Cinta bukan tentang memiliki sepenuhnya, melainkan tentang memberi ruang untuk tumbuh bersama.

1
Nadia Zalfa
double up thorr. ..suka sama ceritanya cantika😍
MayAyunda: diusahakan kak🙏
total 1 replies
Lovelynzeaa🌷
lanjut thor, up yg bnyk
MayAyunda: di usahakan kak ..🙏🙏
total 1 replies
Alex
semoga segera kebongkar kebusukan mu viona dan Cantika gak sedih lagi arka gak bngung lagi 🥰
MayAyunda: iya kak
total 1 replies
Bu Dewi
lanjut kak
MayAyunda: siap kak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!