Follow IG : renitaria7796
Sequel dari Novel TERPAKSA MENIKAHI MANTANKU.
Maxim Sylvestone harus merendahkan dirinya jika ingin mendapati seorang gadis kecil bernama Liora Putri Alexander. Seorang wanita kaya yang membuatnya jatuh cinta, bahkan ketika gadis itu baru bisa berjalan.
Sayangnya, Liora sudah dijodohkan kepada anak sahabat orang tuanya. Apakah Liora menerima perjodohan itu? Lalu, bagaimana Maxim merebut kembali cintanya? Apa ia harus mengungkapkan siapa ia sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon renita april, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKHIRNYA
Liora bangun dari tidur lelapnya. Dia tidak menemukan Maxim di sisi sampingnya. Liora turun dari tempat tidur. Dia masuk ke dalam kamar mandi membersihkan diri.
Selesai dengan ritual mandinya. Liora turun ke bawah mencari cintanya. Saat sampai di bawah. Batang hidung Max tidak tampak sama sekali.
"Kenapa rumah sepi. Di mana Maxim?" gumamnya.
Liora menuju dapur. Dia mengambil roti tawar untuk sarapan. Pintu rumah terbuka. Maxim masuk dan segera menghampiri Liora yang tengah sarapan sendiri.
"Pagi sayang," ucap Maxim seraya mengecup pipi Liora
"Pagi ... kamu dari mana?" tanyanya.
"Kamu habiskan dulu sarapanmu. Aku ada kejutan untukmu." Max mengansurkan air minum kepada kekasihnya.
Liora meminum beberapa teguk air. "Kejutan apa?" Dia penasaran akan kejutan yang di berikan oleh Maxim.
"Nanti kamu bakal tahu. Yang jelas ini tentang kita berdua," sahut Max.
Liora semakin penasaran di buatnya. Dalam pikirannya menerka-nerka apa yang akan di berikan oleh pujaan hatinya itu. Liora tidak ingin meminta apa pun.
Dia tahu kondisi mereka sekarang. Mereka harus berhemat dengan harta yang mereka miliki. Maxim juga tidak bisa ke kota. Akan sangat beresiko jika mereka sampai terekam CCTV.
Liora meraih kedua tangan Max. Dia mengecupnya dan mendekatkan kedua tangan Maxim di sisi pipinya. Liora memejamkan mata menikmati hangatnya dekapan tangan besar Max.
"Aku tidak ingin apa pun. Aku hanya ingin bersama denganmu," ucap Liora.
Max tersenyum. Dia mengecup kening Liora. "Aku juga ingin bersamamu. Kali ini kita akan bersatu selamanya."
Liora beranjak dari duduknya. Dia mengikuti langkah kaki Maxim keluar rumah. Liora dan Max berjalan menyusuri jalanan desa. Sampailah keduanya di sebuah rumah.
Maxim mengetuk pintu rumah. Tidak berapa lama seorang wanita membuka pintu. "Sudah datang rupanya. Masuklah?"
"Dia Liora calon istriku. Aku serahkan semuanya kepadamu," ucap Max.
Liora mengernyit. "Sayang ... ada apa ini?"
Maxim mengusap lembut rambut Liora. "Kamu ikut dengannya. Kamu percaya padaku, kan?"
Liora mengangguk. "Aku percaya padamu. Aku akan ikut dengannya."
Wanita itu membawa Liora masuk ke dalam rumah. Maxim pergi meninggalkan Liora dengan wanita itu. Liora di ajak masuk ke dalam kamar.
Dia di dudukkan di kursi meja rias. Liora masih tampak kebingungan. "Nama kamu siapa?"
"Saya Rose," jawab wanita yang membawa Liora.
"Kamu mau apa?" kembali Liora bertanya.
"Aku akan merias dirimu. Hari ini akan menjadi hari sejarah untukmu," sahut Rose.
Rose merias wajah Liora. Dia membubuhkan make up di wajah yang tanpa polesan riasan pun, akan tetap cantik. Selesai merias wajah, Rose beralih menata rambut Liora.
Rose tersenyum dengan hasil karyanya. "Kamu sangat cantik."
Liora tersenyum seraya menatap dirinya di cermin. "Terima kasih."
Rose mengambil gaun panjang berwarna putih. Dia memberikannya kepada Liora. "Ganti pakaianmu dengan yang ini."
Liora mengangguk dan mengambil gaun dari tangan Rose. Liora membuka kancing kemeja yang dia kenakan, saat Rose sudah keluar dari dalam kamar.
Gaun yang Liora pakai cukup sederhana. Namun gaun itu tidak mengurangi betapa anggunnya sang putri yang memakainya. Gaun itu sangat pas di tubuh Liora.
"Sudah selesai?" tanya Rose di balik pintu.
"Tolong resletingkan gaunnya," pinta Liora.
Rose masuk ke dalam kamar. Dia membantu menaikkan resleting gaun yang Liora kenakan. Rose memasangkan kerudung putih di kepala Liora.
"Kamu sudah siap dan cantik. Sekarang, kita pergi ke tempat acara," ucap Rose.
Liora dan Rose keluar dari dalam rumah. Di depan rumah sudah ada Charles yang menunggu mereka. Charles menampilkan senyum simpul saat melihat calon pengantin yang sangat cantik itu.
"Calon mempelainya sangat cantik," puji Charles.
Liora tersipu malu. "Terima kasih, Paman."
Charles berdiri di samping Liora. Dia memberikan lengannya. Liora melingkarkan tangannya mengandeng Charles. Mereka berjalan ke tempat acara.
Liora sudah mengerti akan ada acara apa yang menantinya. Dia memakai gaun pengantin dan penutup wajah transparan. Liora merasa jantungnya berdegup kencang saat ini.
Pasalnya Maxim tidak memberitahu apa pun. Dia gugup untuk saat ini. Tangannya sudah dingin meski dia memakai sarung tangan. Charles menepuk tangan Liora agar tidak bergetar.
"Santai saja ... jangan gugup," ucap Charles.
Liora mengangguk tersenyum. "Iya .... "
Rose menyingkir dari keduanya saat mereka telah sampai di tempat acara. Tempat itu tidak jauh dari rumah yang Liora kunjungi. Acara pernikahan di adakan di sebuah lapangan hijau.
Sudah ada hiasan serta kursi tempat tamu yang duduk. Tamu yang hadir terdiri dari orang-orang setempat. Semua yang hadir berdiri menyambut kedatangan sang mempelai wanita.
Max sudah berdiri di depan menunggu kedatangan calon istrinya. Lorong jalannya sang pengantin sudah di hias dengan bunga. Sederhana namum indah tak kala mata memandang.
Desa yang mereka tempati berada di atas bukit. Suasana sejuk serta damai. Semakin menambah indahnya acara pernikahan tersebut. Liora seperti berada di dunia fantasi. Dia seperti berada di sebuah film yang menikah di atas bukit.
Charles sebagai pendamping membawa Liora berjalan menuju calon suaminya. Maxim terlihat gagah dengan tuxedo yang dia kenakan di tubuhnya.
Charles memberikan tangan Liora pada Max. "Jaga dia, cintai dan sayangi."
"Pasti," jawab Max dengan meraih tangan Liora. Lalu membawanya ke hadapan pendeta.
Maxim dan Liora mengucapkan janji suci pernikahan. Max membuka kerudung yang menutupi wajah cantik yang merona itu. Max mendaratkan kecupan di bibir manis Liora.
Kini keduanya sudah sah sebagai pasangan suami istri. Max memasangkan cincin di jari manis istrinya. Begitu juga dengan Liora. Semua tamu yang hadir bertepuk tangan. Sepasang suami istri yang berbahagia itu, kembali menyatukan bibir mereka.
"Kapan kamu mempersiapkan ini semua?" tanya Liora.
"Sebenarnya aku sudah lama menyiapkan ini. Aku ingin menikahimu. Tapi hubungan kita tidak di restui. Paman Charles dan bibi Silvia yang membantuku menyiapkan ini semua," jawab Maxim.
Para tamu memberi ucapan selamat kepada sepasang pengantin baru itu. Betapa bahagianya Maxim. Dia sudah memiliki Liora seutuhnya.
"Maxim, Liora ... selamat untuk kalian berdua," ucap Charles.
"Terima kasih, Paman," sahut Maxim dan Liora bergantian.
"Selamat sayang," ucap Silvia dengan mengecup kening Liora.
"Terima kasih, Bibi," jawab Liora.
Liora meneteskan air matanya. Dia bahagia dengan pernikahan ini. Namun di sisi lain dia juga bersedih. Di saat hari bahagianya, tidak ada satu pun orang terdekatnya yang hadir.
Andai hubungannya bersama Maxim di restui. Sudah pasti Liora akan sangat bahagia. Dia akan menjadi wanita yang sangat beruntung.
Maxim melihat raut sedih di wajah sang istri tercinta. "Apa kamu tidak bahagia?"
Liora mengeleng. "Aku sangat bahagia. Sungguh aku bahagia karna menikah denganmu. Keinginanku dari kecil tercapai. Kamu tentu ingat, saat aku mengatakan hanya aku yang akan menjadi istrimu."
"Kenapa kamu menangis?" tanya Maxim.
"Aku hanya bersedih karna tidak ada orang terdekat kita di sini," jawab Liora lirih.
Maxim memeluk Liora erat. Dia mengerti akan kesedihan yang istrinya rasakan. Di hari bahagia seperti ini. Tentu Liora ingin membagi kebahagiannya bersama dengan orang-orang yang dia sayangi.
TBC
Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.