Putus cinta membuat seorang gadis bernama Emeery menerima perjodohannya dengan seorang duda beranak dua. Namun, sikapnya yang tengil membuat sang duda pusing tujuh keliling, akankah Emeery mampu menaklukkan dinding es suaminya, yang bahkan belum move on dari sang mantan?
Kalau ada, sembilan duda ~
Mau duitnya saja, semuanya ~
Ini dada, isinya duit semua ~
Penasaran dengan kisah mereka? Ikuti ceritanya di sini🤗
Jangan lupa follow
Ig @nitamelia05
fb @Nita Amelia
TT @twins✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Dessert Spesial
Emeery dandan secentil mungkin, meski dia tidak tahu Gerry akan suka atau tidak dengan kabar yang akan dia berikan, dia tetap optimis. Dia yakin Tuhan tidak pernah salah memberikan takdir, siap atau belum, terima atau tolak, kita tetap harus menjalaninya. Toh, ini hanya dunia.
"Kalian udah siap belum? Daddy nggak pulang soalnya, langsung ke restoran," ujar Emeery bertanya kepada kedua anaknya yang masih di dalam kamar.
"Belum, Mom. Tapi kenapa kita makan di lual? Bocen ya macakan Bibi?" balas Sansan dengan ucapan polosnya. Emeery langsung ketar-ketir, karena bibi yang dimaksud juga ada di sana, sedang menguncir rambut bocah cantik itu.
"Eh enggak gitu, Daddy yang ajak, katanya ada suprise," jawab Emeery sambil tersenyum lebar. "Bibi mau makan apa? Nanti kasih note aja ke pesan ya, aku bungkusin."
Wanita yang sudah menyentuh kepala lima itu pun mengangguk. "Baik, Non, terima kasih ya."
"Sama-sama, Bi," balas Emeery.
"Cepatlah, dari tadi kamu ini lama sekali," celetuk Ethan, mendengus sambil melipat kedua tangan di depan dada. Nampaknya dia sudah sangat bosan menunggu.
"Cabal kakak," balas Sansan, tersenyum ke arah cermin.
"Kepalamu itu hanya satu, tapi bibi menghiasnya lebih dari satu jam," cetus pria kecil itu. Sansan langsung cemberut, dan Emeery berusaha melerainya sebelum percekcokan semakin besar.
"Sansan cantik sekali malam ini, Daddy pasti suka melihatnya, kalo sudah selesai ayo kita keluar," ajak Emeery melihat bibi sudah selesai dengan pekerjaannya, dia menggandeng tangan Sansan untuk turun dari kursi.
"Ayo, Mom, kita tinggalkan Kakak," balas Sansan sambil menarik tangan ibunya. Mendengar itu Ethan makin mendengus, beginikah nasib seorang pria? Bahkan sejak kecil pun harus menunggu wanita berdandan begitu lamanya.
***
Mobil yang ditumpangi ketiga orang itu melandas cepat ke restoran yang sudah dipesan. Setelah sampai Ethan berjalan memimpin di depan, Sansan yang tak mau kalah kembali menarik tangan ibu sambungnya.
"Pelan-pelan, Sayang, Daddy tidak mungkin menghabiskan makanannya," ujar Emeery, dia sedikit kesulitan karena memakai heels setinggi lima centimeter.
"Aku tidak mau kalah dari Kakak," balas Sansan, melirik sebal ke arah Ethan yang tampak masa bodoh. Hingga akhirnya mereka tiba di ruangan VVIP, Gerry langsung bangun dari duduk untuk menyambut.
"Untung nggak macet, jadi kita nggak saling nunggu," kata Gerry bergantian mengecup pipi ketiga kesayangannya. Namun, Ethan langsung mengelapnya kasar.
"Iya, Kak, kebetulan anak-anak juga udah pada laper nih, langsung makan aja yuk," balas Emeery langsung mengajak Gerry untuk menyantap hidangan.
Gerry mengangguk dan menarik kursi untuk Emeery.
"Daddy!" rengek Sansan, karena dia juga ingin diperlakukan bak princess.
"Sabar, Sayang," ujar Gerry yang sudah paham dari raut wajah putrinya.
Setelah semua orang duduk, satu persatu makanan yang ada di atas meja masuk ke dalam mulut. Emeery tak berhenti tersenyum, begitu juga dengan dadanya yang terus berdegup kencang.
"Aku punya dessert spesial, tapi aku nggak yakin kamu suka," kata Emeery setelah mereka selesai makan malam.
Gerry mengernyitkan dahi.
"Nggak sukanya kenapa? Aku suka semua kok makanan yang kamu pilih, lagian aku nggak punya alergi apa-apa," balas Gerry dengan jujur.
"Yang ini beda, karena bahan-bahannya aku yang pilih, pihak restoran cuma nyiapin," kata Emeery dengan mata yang semakin berbinar.
"Wah aku jadi penasaran. Kalau begitu keluarkan saja sekarang," ujar Gerry penuh antusias.
"Aku mau blonis coklat," sambar Sansan.
"Sebentar ya, Sayang, Mommy sepertinya punya menu baru untuk kita," kata Gerry sambil mengusap puncak kepala Sansan.
"Aku tidak mau mencicipinya!" timpal Ethan langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Teringat dengan rasa masakan yang pernah Emeery buat. Benar-benar tak masuk di tenggorokannya.
"Ethan, jangan begitu dong, hargai usaha Mommy ya," balas Gerry, meski dia tidak yakin buatan Emeery kali ini bisa ditelan.
"Nggak apa-apa, Daddy, kita langsung keluarkan aja ya."
Emeery memanggil pelayan yang sudah dia ajak kerja sama. Dia membawa satu buah piring yang tertutup, lalu meletakkannya di atas meja, tepat di depan Gerry.
"Hanya satu piring ini?" tanya Gerry sambil menatap istrinya. Emeery segera mengangguk.
"Bagi-bagi," katanya.
Tanpa menunggu lama Gerry langsung membuka penutupnya. Namun, bukan dessert yang ada dalam bayangan otaknya, sebuah alat tergeletak di sana dengan dua garis merah. Gerry menatapnya tidak percaya, kemudian mengangkat pandangan untuk bertanya pada Emeery.
"Sayang, ini?" pertanyaannya tercekat.
Emeery mengangguk lagi.
"Ethan sama Sansan mau punya adik," jelas Emeery yang membuat kedua bocah itu saling pandang.