“Satu juta tahun sekali, alam semesta memilih wadahnya. Dan kali ini, pilihan itu jatuh pada pemuda yang hampir mati."
Rimba Dipa Johanson hanyalah pemuda yatim piatu yang bertahan hidup di kerasnya pinggiran kota. Hidupnya nyaris berakhir tragis saat dikeroyok preman hingga sekarat di sebuah parit gelap. Namun, di ambang kematian, sebuah cahaya misterius menarik jiwanya masuk ke dalam warisan kuno.
Didampingi oleh Lara, pelayan dimensi yang cantik namun misterius, serta Cesar, serigala legendaris dari Hutan Asura, Rimba memulai perjalanan kultivasinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khatix Pattierre, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: BERBURU RECEH DI MEJA DADU
Angin malam menyapu pelataran parkir kampus saat Rimba dan Firman berjalan beriringan. Pertemuan dengan Bima dan Sheila tadi menyisakan rasa penasaran di benak Firman, namun bagi Rimba, hal itu hanyalah intermeso kecil di tengah rencananya yang lebih besar.
"Sekarang apa rencanamu, Rim?" tanya Firman sambil memutar kunci kontak motornya.
Rimba tidak langsung menjawab. Ia hanya menyunggingkan senyum tipis yang sarat makna—sebuah senyum yang membuat Firman merasa ada sesuatu yang "berbahaya" sekaligus mengasyikkan yang akan terjadi.
"Apa yang membuatmu tersenyum begitu?" tanya Firman heran.
"Kamu bawa motor, kan?" Rimba balik bertanya.
"Bawa, memangnya kenapa?"
"Kita cari receh yuk?" kata Rimba santai.
Firman mengernyitkan dahi. "Maksudmu... kita pergi ke tempat pertarungan bawah tanah lagi? Ke Underground Arena?"
"Gak lah. Saat ini Underground Arena sedang pailit gara-gara uangnya kita kuras habis malam itu. Kasihan kalau dikuras lagi," jawab Rimba sambil tertawa kecil. "Kita cari recehan saja di tempat lain. Tolong antar aku ke kasino terdekat dari sini."
Mata Firman membelalak. "Kamu mau berjudi?"
Rimba mengangguk mantap. "Ayo lah, antar aku."
Tanpa banyak protes, Firman memacu motornya membelah malam Kota Provinsi yang kian gemerlap. Rimba mengikuti dari belakang dengan motor besarnya, sementara Cesar duduk dengan tenang di jok belakang, tampak seperti pengawal yang sangat waspada. Mereka berhenti di sebuah kawasan komersial kelas atas; sebuah hotel bintang lima yang menyatu dengan kasino termegah di kota itu.
Setelah memarkirkan kendaraan, keduanya melangkah menuju lobi. Petugas keamanan yang bertubuh tegap sempat memperhatikan Cesar dengan curiga, namun melihat Rimba yang bersikap tenang dan elegan, mereka tidak berani menghalangi.
"Nanti, kamu jangan pernah ikut main. Biar aku saja. Tidak akan lama kok," bisik Rimba pada Firman saat mereka memasuki aula kasino yang riuh dengan suara mesin slot dan aroma cerutu mahal. Firman hanya mengangguk patuh; ia memang tidak mengerti sama sekali dunia perjudian.
Rimba berjalan santai mengelilingi aula, matanya menyapu berbagai meja permainan. Mulai dari Baccarat, Roulette, hingga Poker. Akhirnya, langkah kakinya berhenti di sebuah meja permainan dadu tunggal (Sic Bo versi sederhana).
Ia duduk di kursi pemain dan bertanya pada bandar yang mengenakan rompi hitam rapi. "Berapa minimal bet di sini?"
"Minimal satu juta, Tuan. Dan untuk maksimalnya... meja ini tidak memiliki batas," jawab bandar itu sopan.
Rimba mengangguk. Ia mengeluarkan sebuah kartu hitam (Black Card) miliknya dan menyerahkannya untuk digesek. "Tukarkan chip senilai sepuluh miliar," ucapnya datar.
Keheningan sesaat melanda meja itu. Para pemain lain yang mengenakan jas mewah menoleh, menatap heran pada anak muda berpakaian sederhana yang baru saja menggelontorkan sepuluh miliar tanpa berkedip.
Sebelum bandar mulai mengocok, Rimba mengangkat tangan. "Tunggu. Boleh saya cek dadunya?"
Bandar itu ragu sejenak, namun karena nominal taruhan Rimba sangat besar, ia mengizinkan. Rimba mengambil dadu itu, memutarnya di sela jari. Secara halus, ia mengalirkan sedikit Qi-nya ke dalam dadu tersebut. Jika dadu itu memiliki rangkaian elektronik atau pemberat magnetis, Qi Rimba akan langsung merusaknya secara permanen. Setelah memastikan dadu itu standar internasional—di mana sisi yang berlawanan selalu berjumlah tujuh—ia mengembalikannya.
Bandar memasukkan dadu ke dalam gelas pengocok, mengocoknya dengan ritme cepat, lalu menangkupkan gelas itu di atas tadah porselen. "Silakan pasang taruhan Anda."
Dengan indra pendengarannya yang telah mencapai tingkat dewa, Rimba sudah tahu posisi dadu di dalam gelas itu. Angka 3 menghadap ke atas. Ia pura-pura berpikir sejenak, lalu mendorong semua chip-nya ke satu kotak kecil. All-in di angka 3.
"Dia gila!" bisik salah satu pemain. Memasang semua uang di satu angka spesifik adalah cara tercepat untuk bangkrut.
Bandar mengangkat gelas. "Angka 3. Kecil. Ganjil."
Suasana meja mendadak riuh. Chip Rimba kini bertambah menjadi 20 miliar dalam sekali putaran.
Putaran kedua dimulai. Dadu kembali dikocok. Kali ini Rimba mendengar bunyi gesekan angka 6 yang tertelungkup, berarti ini berarti menghasilkan angka 1. Ia memasang 10 miliar di 'Kecil' dan 10 miliar di 'Ganjil'. Hasilnya? Angka 1. Kemenangan mutlak. Chip-nya kini berjumlah 40 miliar.
Ritual itu berlanjut. Rimba tidak pernah meleset. Ia seolah bisa melihat menembus gelas porselen tersebut. Dalam beberapa putaran, uang yang awalnya 10 miliar telah membengkak menjadi lebih dari 5 triliun rupiah. Rimba kemudian menggeliatkan tubuhnya, bersandar malas seolah sedang bosan.
"Sudah cukup. Aku mulai mengantuk. Aku ingin berhenti," kata Rimba sambil mengumpulkan gunung chip di depannya.
Saat ia hendak berdiri, dua orang pria bersetelan safari hitam menghampirinya. "Chip-nya biar kami yang bawa, Tuan. Saat ini, Tuan diminta untuk menghadap manajer kasino terlebih dahulu di ruang dalam," ucap salah satu keamanan dengan nada yang sopan namun menekan.
Rimba hanya tersenyum tipis. "Tentu."
Ia mengikuti mereka menuju sebuah ruangan elegan di lantai atas. Firman diminta menunggu di meja bar. Cesar, sang serigala hitam, tetap berjalan di sisi kaki Rimba, membuat para penjaga keamanan menjaga jarak aman karena ngeri melihat tatapan mata Cesar yang dingin.
Di dalam ruangan, seorang laki-laki paruh baya duduk di balik meja kerja jati yang mewah, sedang menghisap cerutu mahal. "Duduklah," katanya tanpa menoleh.
Rimba duduk di sofa kulit dengan santai, sementara Cesar duduk di lantai di sampingnya. Pria itu menghembuskan asap cerutu ke udara, lalu menatap Rimba tajam.
"Kami tidak akan membayar kemenanganmu," ucap pria itu tenang. "Dalam pantauan sistem kami, kamu bermain curang."
Rimba mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya berkilat. "Buktikan. Bagian mana yang aku melakukan kecurangan?"
Pria itu sedikit terkejut melihat ketenangan Rimba. Biasanya, orang yang dituduh curang di kasino akan panik atau marah-marah. "Kalau tidak curang, bagaimana mungkin seseorang bisa menang setiap putaran tanpa kalah sekalipun? Belum pernah ada sejarahnya di kasino ini."
"Telingaku tajam. Aku hanya mendengar dadu itu jatuh," jawab Rimba datar.
"Aku tidak percaya!" pria itu memukul meja. "Ambilkan dadu ke sini!" perintahnya pada anak buahnya.
Tak lama, satu set dadu dan gelas pengocok diletakkan di meja depan Rimba. Pria itu sendiri yang mengambil gelas tersebut, mengocoknya dengan keras, lalu menelungkupkannya. "Coba tebak. Jika kamu bisa menebak tiga kali benar berurutan, aku akan membayar semua uangmu."
Rimba menyandarkan punggungnya. "Apa itu taruhannya? Jika aku benar semua, kau bayar. Jika aku salah, aku pulang tanpa membawa apa-apa. Begitu?"
"Iya, begitu!" jawab pria itu cepat.
Rimba menutup mata sejenak. "Angka 6."
Pria itu membuka gelas. Benar. Angka 6.
Keringat mulai muncul di kening manajer itu. Ia mengocok lagi, lebih lama dan lebih acak. "Tebak!"
"Angka 2," jawab Rimba tanpa ragu.
Gelas dibuka. Angka 2. Wajah pria itu mulai pucat.
Putaran terakhir. Pria itu menggunakan seluruh tenaganya untuk mengocok, dadu berhenti. "Angka 3," ucap Rimba sebelum ditanya.
Gelas dibuka, dan benar saja, angka 3 terpampang nyata.
"Bagaimana? Sekarang bayar uangku," tuntut Rimba.
"Tidak! Tidak mungkin! Ini pasti sihir! Kamu curang! Tangkap dia!" teriak pria itu dengan suara gemetar, kehilangan kewarasannya.
Dalam sekejap, situasi berubah. Rimba tidak lagi duduk santai. Dengan gerakan yang lebih cepat dari kedipan mata, ia menerjang ke depan. Sebuah bilah tipis berwarna biru transparan—pedang yang terbentuk dari pemadatan Qi murni—sudah menempel di leher pria itu.
Seorang pengawal tegap mencoba menyerang dari samping, namun Cesar lebih dulu beraksi. Rahang kuat Cesar menyambar lengan pengawal itu, membanting tubuhnya ke dinding hingga pingsan seketika.
"Kamu mau membayar uangku, atau kamu mau mati sekarang?" bisik Rimba dengan nada dingin yang menusuk.
Pria itu menelan ludah. Ia merasakan sensasi perih di lehernya, dan setetes cairan hangat mulai mengalir membasahi kerah kemejanya yang mahal. Ia sadar, ia baru saja menantang sosok yang bukan lagi manusia biasa.
Manajer kasino itu bisa merasakan ujung tajam pedang pendek Rimba yang dingin mulai menggores kulit lehernya. Kematian terasa begitu dekat, hanya sedetik saja ia salah bicara, ia tahu kepalanya akan menggelinding di atas permadani mahal tersebut.
"Cepat... cepat panggil Neneng!" perintah pria itu dengan suara serak dan bergetar hebat.
Seorang pengawal yang sedari tadi berdiri terpaku di sudut ruangan, nyaris tidak berani bernapas, segera tersentak. Ia berlari keluar secepat kilat. Tak butuh waktu lama, pintu ruangan kembali terbuka. Masuklah seorang wanita dengan penampilan yang sangat menarik, mengenakan setelan formal yang elegan. Langkahnya terhenti, matanya membelalak melihat pemandangan di depannya: bosnya sedang ditodong oleh seorang pemuda, sementara seorang pengawal lain tergeletak tak berdaya di bawah ancaman serigala hitam.
"Neneng... cepat transfer semua kemenangan anak muda ini! Sekarang juga!" seru pria itu begitu melihat wanita tersebut. Suaranya mengandung kepanikan yang luar biasa.
Neneng, yang rupanya adalah bendahara atau kepala operasional keuangan kasino tersebut, bergerak dengan efisiensi yang menakjubkan. Tanpa banyak tanya, ia segera menghitung tumpukan chip yang dikumpulkan Rimba tadi. Rimba memberikan nomor rekeningnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap memastikan bilah pedangnya berada di posisi yang tepat.
Hanya dalam hitungan menit, jemari Neneng menari di atas layar tabletnya.
Ting!
Notifikasi berdering nyaring di saku celana Rimba. Ia merogoh ponselnya dengan tangan kiri, melirik sekilas, dan mendapati saldo rekeningnya telah bertambah sebesar lima triliun rupiah lebih. Semuanya sesuai, tanpa kurang satu rupiah pun.
Rimba menarik tangannya. Secara ajaib, pedang pendek yang tadinya berkilau biru transparan itu lenyap begitu saja ke udara, menguap seperti embun yang terkena matahari. Kesunyian yang berat segera menggantung di langit-langit ruangan. Tak ada yang berani bergerak, bahkan untuk sekadar mengusap keringat.
"Terima kasih atas kerja samanya," ucap Rimba santai. Ia berbalik, bersiul kecil memanggil Cesar, dan berjalan keluar ruangan dengan langkah seringan kapas.
Di area bar, Firman sudah tampak gelisah. Begitu melihat Rimba muncul dengan wajah tanpa beban, ia segera berdiri. "Sudah selesai?"
"Sudah. Ayo kita pulang, aku sudah mengantuk," ajak Rimba.
Mereka berjalan santai menuju parkiran, melewati para penjaga yang kini hanya bisa menunduk, tak berani menatap mata Rimba. Udara malam yang segar menyambut mereka saat mereka sampai di samping kendaraan masing-masing. Sebelum Rimba menghidupkan mesin Harley-nya, ia mengutak-atik ponselnya sebentar.
"Fir, itu ada sedikit buat jajan. Semoga kamu bisa jadi pengacara sukses suatu saat nanti," kata Rimba sambil menghidupkan motornya yang menderu gagah.
Ponsel Firman bergetar. Ia membukanya, mengharapkan nominal yang mungkin cukup untuk membeli motor baru. Namun, begitu matanya menangkap angka yang tertera di layar, ia melotot hingga hampir keluar. Seluruh tubuhnya mendadak kaku.
"Banyak sekali, Rim? Ini... ini dua ratus miliar?!" seru Firman terbata-bata, suaranya nyaris hilang karena takjub.
"Buat modal kamu menyelesaikan kuliah dan membangun firma hukummu sendiri nanti," jawab Rimba santai seolah baru saja memberi uang parkir.
"Terima kasih banyak, Rim... aku... aku tidak tahu harus bilang apa," Firman menatap Rimba dengan pandangan penuh rasa syukur yang mendalam. Matanya berkaca-kaca menatap angka yang tak pernah ia mimpikan seumur hidupnya itu.
"Sudahlah, ayo pulang," ajak Rimba lagi.
Mereka pun meninggalkan area hotel bintang lima itu, membelah kepadatan malam kota yang belum juga terurai. Cahaya lampu jalanan berpendar di helm mereka saat mereka beriringan hingga sampai di persimpangan besar. Firman melambai sebelum berbelok menuju arah rumahnya.
Rimba terus memacu motornya menuju kawasan kampus yang sunyi. Begitu ia memastikan Firman telah hilang dari pandangan dan tidak ada mata manusia yang mengawasi di jalanan yang gelap itu, Rimba melambatkan motornya. Dalam satu kedipan mata, ia, motornya, dan Cesar menghilang dari aspal jalanan, kembali ke dalam ketenangan dimensinya yang abadi.
kalo bisa alur ceritanya yg panjang