"Mulutmu harimaumu"
Demikian lah peribahasa sederhana yang seringkali kita dengar. Dijadikan pengingat agar kita berhati-hati dalam bertutur kata.
Sayangnya itu tak berlaku untuk seseorang di luar sana. Dengan ringan lisannya berucap tanpa peduli imbas negatif yang ditimbulkan.
Malam-malam penuh kegelisahan dan ketakutan pun mulai datang menyapa. Ditambah sosok tak kasat mata yang datang dengan membawa rasa sakit tak berujung, membuat siapa pun targetnya akan terkunci dan tak bisa lari kemana pun.
Ternyata serangan serupa tak hanya tertuju pada mereka yang tak pandai menjaga lisannya. Bahkan seseorang yang berusaha menjaga lisannya pun tak luput menjadi target mereka yang mendengki.
Dan hanya cara khusus yang bisa mendamaikan mereka yang 'tertahan'. Akan kah mereka bersedia pergi?.
Simak ceritanya ya. Terima kasih ... 🙏🏻😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Liat Juga ...
Sosok itu ternyata adalah sosok pocong yang menyerupai Ginah. Pocong itu berdiri di balik jendela ruang tamu. Sosoknya tak terlihat karena tersamar oleh gorden jendela yang menjuntai. Tak ada yang menyadari kehadirannya dan itu sangat menguntungkan untuknya.
Tepat saat ibu Harsa mengalungkan kalung emas sebagai pengikat ke leher Laras tadi, pocong itu nampak menangis. Dia terus di sana hingga semua orang tertawa mendengar gurauan ibu Harsa.
"Sebelum pulang, makan malam di sini dulu ya Bu," kata Sartika tiba-tiba.
"Duh ga usah repot-repot Bu. Kami bisa makan di rumah nanti," sahut ibu Harsa.
"Eh, jangan. Kasian Laras, udah masak banyak khusus buat menjamu kalian, masa ga dimakan," kata Sartika sambil melirik kearah Laras.
"Oh, jadi Laras bisa masak?. Wah kalo gitu saya jadi tenang deh. Harsa pasti bakal gendut karena punya istri yang jago masak nanti," sahut ibu Harsa.
"Makanya dicoba dulu masakan calon menantunya Bu. Mudah-mudahan suka ya," kata Sartika sambil menarik lembut lengan ibu Harsa menuju ruang makan.
Melihat keakraban Sartika dengan calon besan membuat Sastro lega. Dalam hatinya Sastro bersyukur dan memuji Sartika yang bisa menempatkan diri mengisi kekosongan peran ibu yang biasanya ditempati oleh Ginah.
\=\=\=\=\=
Setelah makan malam Harsa dan kedua orangtuanya pun pamit. Sastro dan keluarganya mengantar mereka hingga keluar pagar.
Laras menghampiri Harsa yang duduk di balik kemudi lalu menyerahkan bungkusan besar berisi beberapa jenis kue.
"Ini apa lagi. Kok banyak banget," kata Harsa.
"Cuma kue Mas. Sengaja aku siapin buat kamu bawa pulang," sahut Laras.
"Ngerepotin dong," kata Harsa tak enak hati.
"Ga kok," sahut Laras sambil tersenyum.
"Ok, aku terima ya. Makasih ...," kata Harsa.
"Sama-sama. Kamu hati-hati bawa mobilnya ya Mas. Pelan-pelan aja ga usah ngebut," pesan Laras.
"Iya Sayang. Kamu juga langsung istirahat ya, keliatannya kamu capek banget. Ga usah begadang karena aku ga bakal telpon nanti," kata Harsa.
"Ok ...," sahut Laras singkat.
Tak lama kemudian mobil Harsa tampak melaju meninggalkan kediaman Sastro.
Setelah mobil Harsa tak terlihat lagi, Sastro dan keluarganya kembali ke dalam rumah.
Sementara itu mobil Harsa melaju dengan tenang melewati jalan desa. Sepanjang perjalanan ibu Harsa tak henti bicara mengenai Laras dan keluarganya. Nampaknya wanita itu sangat bahagia dengan langkah yang diambil sang anak tadi.
"Waktu kamu ngomong sama pak Sastro tadi, jujur ibu kaget lho Har. Saking kagetnya sampe speechless dan ngerasa ga kenal kamu. Seolah kamu itu bukan orang yang lahir dari rahim ibu," kata ibu Harsa antusias.
"Apaan sih Bu. Ga usah lebay deh," sahut Harsa dengan wajah merona hingga membuat sang ibu tertawa.
"Kalo menurutku di moment itu Harsa justru keliatan keren Bu. Mirip aku waktu muda dulu. Iya kan?" kata ayah Harsa sambil menarik turunkan alisnya.
"Ck, tau ah," sahut ibu Harsa sambil melengos.
Gantian Harsa dan ayahnya yang tertawa melihat reaksi sang ibu.
"Ngomong-ngomong masakannya Laras enak juga ya Yah," kata ibu Harsa kemudian.
"Iya. Kalo ga malu aku nambah tadi," sahut ayah Harsa.
Harsa dan ibunya pun tertawa mendengar ucapan sang ayah.
"Eh, tapi kalian tau ga?" tanya ibu Harsa setelah tawanya reda.
"Tau apaan Bu?" tanya Harsa.
"Tadi waktu kita ngelamar Laras, ga sengaja kan ibu ngeliat keluar lewat jendela yang di belakang ustadz Firman. Sekilas ibu liat di deket jendela bagian luar kaya ada sesuatu gitu. Karena penasaran ibu liat lagi dong. Ibu kirain cuma ornamen atau benda apa lah gitu. Tapi pas ibu perhatiin ternyata itu pocong lho," kata ibu Harsa dengan santai.
"Masa sih. Ibu salah liat kali," kata ayah Harsa.
"Ga mungkin salah liat Yah. Aku yakin itu pocong. Orang bentukannya aja mirip guling versi jumbo kok. Sekarang kalo dipikir-pikir, mana ada guling ditaro di luar begitu. Kalo pun iya, terus buat apa. Sedangkan malam ini kan banyak tamu yang datang untuk ikutan ngaji di sana," sahut ibu Harsa.
"Iya juga. Terus berapa lama pocong itu di sana Bu?" tanya Harsa.
"Mmm ... kayanya pas kita ke ruang makan pocong itu pergi deh," sahut ibu Harsa.
"Kalo sosok asing itu pocong, kenapa Ibu baru bilang sekarang?" tanya ayah Harsa.
"Abis mau gimana lagi Yah, masa cerita di depan orang-orang tadi. Yang ada mereka pasti ketakutan dan lamaran anak kita batal nanti," sahut ibu Harsa.
"Iya juga. Menurut ibu, pocong itu mau ngapain di sana?" tanya Harsa sambil menatap jalan di depannya.
"Mungkin mau ikut nyaksiin anaknya dilamar sama kamu," sahut ibu Harsa asal.
Tentu saja jawaban sang ibu membuat Harsa terkejut. Saking terkejutnya dia sontak menginjak pedal rem lalu menoleh ke belakang tepat kearah ibunya.
"Maksud Ibu, pocong yang ibu liat itu pocong ibunya Laras?!" tanya Harsa.
"Kan itu baru dugaan. Kenapa kamu serius gitu sih Har?" tanya ibu Harsa.
"Bukan apa-apa Bu. Soalnya ... " Harsa sengaja menggantung ucapannya karena teringat dengan permintaan Laras.
Ya, Laras memang menceritakan apa yang terjadi setelah kematian Ginah. Tentang teror pocong Ginah yang melanda desa, juga tentang Kematian sang ibu yang diduga diguna-guna oleh orang yang tak menyukai mereka.
Saat mendengarnya pertama kali Harsa terkejut bukan kepalang. Dia tak menyangka Laras dan keluarganya akan mengalami kejadian yang tak menyenangkan seperti itu.
Selama ini Harsa mengenal Laras sebagai sosok yang baik dan santun. Dia tak percaya jika gadis seperti Laras lahir dari seorang wanita yang dikenal sebagai pembuat onar.
Walau akhirnya Harsa bisa bertemu dengan Ginah, tapi itu tak cukup untuknya mengenal wanita yang telah melahirkan Laras. Karena beberapa jam setelah mereka bertemu, Ginah justru meninggal dunia. Lebih mirisnya lagi Ginah diduga meninggal tak wajar karena dikirimi ilmu hitam.
Lamunan Harsa buyar saat sebuah tepukan mampir di bahunya. Harsa menoleh dan mendapati sang ayah sedang menatapnya dengan tatapan cemas.
"Kamu gapapa kan Har?" tanya ayah Harsa cemas.
"Oh, aku gapapa kok Yah," sahut Harsa.
"Alhamdulillah, syukur lah. Ayah kira kamu ketempelan Har," gurau ayah Harsa.
Harsa hanya menggelengkan kepala lalu kembali melajukan mobilnya.
Sambil mengemudi, Harsa terus memikirkan cerita sang ibu tadi. Dia percaya apa yang dilihat sang ibu adalah pocong Ginah seperti rumor yang beredar selama ini.
Saat Harsa masih memikirkan bagaimana wujud pocong mirip Ginah itu, tiba-tiba sesuatu jatuh di jendela depan mobilnya. Sesuatu berupa benda berwarna putih mirip pocong itu nampak melintang menghalang pandangannya.
Harsa pun berniat menghentikan mobilnya. Tapi sebelum niatnya terwujud, sesuatu mirip pocong itu bergerak lalu membalikkan tubuhnya hingga memperlihatkan wajahnya yang menghitam dan rusak itu.
\=\=\=\=\=
mkne pikir dulu sblm bertindak