Warning⚠️ dilarang boom like, jika tidak suka dengan karya ini, ... kalian boleh skip.
Bangun dari koma, Calista Nandini menatap aneh sekelilingnya. Asing, terlihat sangat asing. Lalu, siapa lelaki itu? Kenapa dia mengaku sebagai suaminya? Semua itu terus menari-nari di dalam otaknya, dan berusaha mencari sebuah jawaban atas dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shizi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab (34)
Leo berdiri, sedikit kesal dan berbicara dengan nada sedikit meninggi. “Lalu aku harus bagaimana agar bisa memahami situasi ini!”
“Lupakan soal siapa ‘Calista’ lalu, aku akan mulai bertanya kepadamu. Apa hubunganmu dengan Anastasia?”
Satu tangan berada di pinggang dan satunya lagi berada di wajah. Leo mengusap penuh frustasi karena sebenarnya orang yang diungkit oleh istrinya hanyalah sebagian masa lalu yang berusaha dilupakan. Leo menyipitkan kedua matanya, tidak disangka jika istrinya mengungkit soal wanita itu lagi.
Yakin untuk mengatakan siapa Ana yang sebenarnya. “Cinta pertamaku, apa kamu akan marah?”
Calista mengangkat kedua bahunya. Tidak ada kesedihan yang terjadi justru dirinya tersenyum dan itu semua disaksikan oleh Leo.
“Kamu tidak marah,” ujarnya lagi karena Calista diam dengan ujung bibir terangkat.
“Kenapa harus marah, setiap orang punya masa lalu. Begitu juga denganku, tapi tidak seberuntung sekarang.”
Iris terang milik Leo naik turun. Tidak mengerti dengan ucapan dari istrinya. Yang ia ketahui sewaktu ayahnya membawa wanita itu … dia memiliki perasaan selayaknya anak kecil, dalam pikirannya. Memangnya ada dengan gangguan seperti itu ingat akan masa lalunya atau memang Calista sengaja berbohong dan menjadi idiot demi sebuah tujuan? Itulah yang sekarang bergelut di dalam hati Leo.
“Jujur saja, apa kamu sengaja merencanakan semuanya hingga berhasil masuk ke dalam rumahku? Aku curiga jika kamu perempuan waras. Bukan seperti pada saat dibawa ayah pulang waktu itu,” ujar Leo dengan ekspresi penuh tanya.
Helaan napas itu dibuang perlahan. Sulit dimengerti selayaknya dua orang yang tak sejalan. Begitu juga dengan dirinya dan Leo karena antara yang asli dan yang palsu bahkan lelaki itu butuh waktu untuk menemukannya. “Leo, apa kita bisa berjalan di satu arah? Bahkan kamu tidak bisa menilai barang asli dan yang palsu.”
Merasa tidak terima hingga Leo pun berceletuk. “Apa maksudmu!”
Calista berdecak, Leo pintar dengan bisnisnya, tapi tidak untuk menilai seseorang berdasarkan penglihatan saja. “Dimulai dari wanita gila itu, bahkan kamu tidak bisa menilai hingga terjebak dengan sikapnya.”
“Itu kesalahan fatal yang pernah aku lakukan.”
Calista berdecak. “Cih, dasar!”
Kening yang semula tanpa garis kini mulai nampak. Leo benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh sang istri dan benar-benar membuatnya bingung. “Katakan saja, jangan berbelit karena aku bukanlah seseorang yang pandai menunggu!” serunya.
“Berapa kali aku mengatakan jika Calista sudah mati dan yang ada di depanmu bukanlah dia. Apa kamu masih percaya dengan ucapanku? Konyol, tapi seharusnya kamu sadar sedari awal akan sikapku dan kenapa aku terus berusaha menghindar dari kamu.”
Tubuh kecil itu harus bertarung dengan tangan besar milik Leo hingga napas Calista tak terkontrol hingga, ia bisa mengibaskan tangan dari lelaki tersebut dengan nada bicara keras. “Lepaskan! Sedari awal kamu memang bukan suamiku, bahkan membantuku pun kamu tidak bisa Leo. Sekarang apa yang aku harapkan dari kamu? Sama sekali tidak ada!”
Leo tertegun melihat kemarahan Calista, ia tidak ingin hal yang sama terulang lagi. Emosinya yang tak terkontrol akan membahayakan nyawa istrinya seperti tiga minggu lalu.
Dengan berusaha menenangkan Calista karena tidak ingin amarahnya meluap Leo pun tak segan untuk menimpalinya. “Jika bisa membantumu bisa mengembalikan istriku yang sesungguhnya. Aku pun bersedia apa pun yang kamu perintahkan,”
Sedikit muak, bahkan puluhan kali Calista mengatakan jika Calista memilih menyerah dengan hidupnya. “Apa aku bisa seberuntung kamu Calista, meski di dalam tubuh ini bukan ragamu, tetapi Leo berharap kamu kembali.”
Melihat Calista diam, Leo pun berbicara lagi. “Kenapa diam? Atau kamu tidak ingin istriku kembali?”
Masih tidak berani menjawab. Benar apa yang ada dipikirannya selama ini, jika kejujuran itu terbuka maka Ana dianggap perebut atas hidup orang lain. Apakah itu adilnya untuknya? Sama sekali tidak, justru di kehidupan ini semua masalah datang menghampirinya.
“Leo, ketika aku koma untuk kedua kalinya. Aku berada di dalam mimpi yang rumit karena di satu sisi. Aku hanya ingin tahu tentang diriku, tapi di sisi lain. Seseorang memilih menyerahkan hidupnya untukku. Dia—memberikan tubuh ini kepadaku karena tak mungkin aku kembali ketika jasadku terpendam ke dalam tanah …,”
Sejenak, mengatur napas karena Calista perlu memberitahu yang sebenarnya karena ia tidak ingin disebut sebagai ‘Perampas’. “Namun, tahukah kamu jika aku sekarang berada di dua jalan yang buntu. Bahkan untuk bernapas saja butuh kehati-hatian,” lanjutnya.
Leo tertegun, menyimak setiap kalimat yang keluar dari mulut Calista. Antara percaya dan tidak, tetapi jika semakin di pikirkan itu sama halnya dengan dirinya berada di pusara sebuah labirin. Berputar dalam banyak jalan dan untuk menemukan jalan keluarnya ia perlu sebuah kecerdasan.
“Baiklah, jika istriku sudah tiada. Lalu siapa kamu yang sebenarnya? Apa yang bisa aku bantu untuk menyelesaikan masalahmu.”
Berhasil, akhirnya Calista berhasil menyakinkan Leo. “AY grub, hotel Clarisa. Di baliknya ada beberapa orang pengkhianat. Jika kamu benar-benar ingin membantuku, maka belikan aku rumah milik Anastasya. Rumah itu belum terjual mengingat pernah ada pembunuhan yang menewaskan pemiliknya,”
Dengan dada bergemuruh Leo pun menimpali. “Ca, ini bukan soal uang. Aku bisa membelikan apa pun yang kamu mau, tapi kenapa harus rumah yang jelas-jelas di situ pernah ada pembunuhan!”
“Hanya itu yang aku minta jika kamu tulus ingin membantuku,”
“Lalu, apa yang sebenarnya terjadi. Ada hubungan apa antara kamu dengan AY grub, hotel Clarisa dan juga rumah itu?”
“Aku, aku adalah ….”
Belum sempat Calista menjawab. Dari arah luar terdengar sebuah ketukan.
pokoknya harus tuntas tuhhh buat terus kasih Clue siapa istrinya yg sekarang 👍😍😁