Namanya Diandra,wanita berusia 27 tahun sudah menikah dengan suaminya yaitu Bagas berusia 30 tahun,dan usia pernikahannya sudah sampai di 4 tahun. Tetapi hingga kini mereka belum dikarunia seorang anak. Diandra dan Bagas bersabar karena mereka percaya semua itu adalah kehendak Tuhan. Tetapi tiba tiba Diandra merasa ada yang berubah dari suaminya terutama sikap Bagas. Diandra mencoba menepis perasaannya itu dan masih berpikir positif pada suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yasmin Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Pertengkaran Bagas dan Sinta
Menjelang malam Sinta baru sampai di rumahnya, karena setelah dari rumah Diandra tadi dia memilih untuk merefresh kan kepalanya yang sudah sangat penat oleh pikiran tentang Bagas dan juga rasa cemburu butanya pada Diandra.
Dia lihat motor Bagas sudah ada di garasi, artinya Bagas sudah sampai di rumah.
Setelah memarkir mobilnya di garasi Sinta segera turun dari mobilnya dan masuk kedalam rumah.
Dia lihat Bagas sedang bersantai di ruang tengah.
"Dari mana aja kamu?" tanya Bagas tiba tiba.
Sinta sedikit terkejut tapi dia berusaha tenang dan mengatur nafasnya untuk menjawab pertanyaan Bagas.
"Dari rumah Diandra" jawab Sinta jujur dan tegas.
Bagas tampak terkejut mendengar jawaban itu. Dia berdiri kemudian berjalan mendekati Sinta.
"Mau apa kamu ke sana?" tanya Bagas sedikit marah.
"Mau bilang sama dia untuk jangan ganggu kamu lagi"
"Bisa ya kamu berpikir seperti itu?. Sejak aku bercerai sama dia ,Diandra gak pernah sekalipun mengusik" jelas Bagas sambil menatap Sinta tajam.
Sinta diam, tapi hatinya terus saja tidak bisa menerima apapun itu, meski Diandra tidak pernah mengusik tapi Bagas masih gak bisa melupakan Diandra, itu yang sinta gak bisa menerima.
"Aku sakit hati sama kamu, aku rela melakukan apa aja untuk kamu, tapi kenapa sekarang kamu jadi berbeda" ucap Sinta marah.
"Kamu mau apalagi?, aku sudah menikahimu, aku sudah melepas rumah tanggaku demi menikahimu, dan aku bertanggung jawab untuk anak yang kamu kandung" jelas Bagas.
"Mana cinta yang kamu bilang waktu itu?" tanya Sinta.
Bagas diam, hatinya jelas bingung karena cinta yang dulu pernah ada pada Sinta mulai pupus dari hatinya, berbeda dengan perasaannya pada Diandra. Mungkin benar dia hanya ingin bermain main menjalin hubungan dengan Sinta, hanya sebatas penasaran, tapi karena penasaran itu sekarang dia harus menerima akibatnya.
"Jawab!!!!!" bentak Sinta tiba tiba.
Bagas langsung saja menatap Sinta tajam, ada perasaan gak terima saat Sinta membentaknya.
"Kamu anggap aku apa?, mainan kamu?" tanya Sinta lebih keras lagi.
"Gak nyangka aku kamu perlakukan aku seperti ini, saat kamu datang dengan segala curhatanmu tentang rumah tanggamu, tentang keinginanmu untuk punya anak, aku mendengarkan, aku menjadi orang yang paling perduli sama kamu, sampai akhirnya aku luluh dengan rayuan rayuanmu, menerima setiap ucapan manismu, janji janjimu, sampai aku hilangkan harga diriku demi kamu, aku rela kamu perlakukan apa aja, sekarang kamu gak ingat sama semua itu? Kamu sudah lupa?" celoteh Sinta panjang diantara deru nafasnya karena menahan marahnya.
"Aku hancurkan persahabatanku, karena terlalu gilanya dan percayanya aku sama kamu, aku kehilangan sahabatku, 2 sekaligus Diandra dan Nina, tapi apa yang aku terima sekarang dari kamu, apaaaa? " bentak Sinta lagi sambil menepuk nepuk dadanya menahan sesak.
Bagas hanya diam, karena dia sama sekali gak merasakan kepedihan hati Sinta, baginya itu bukan kesalahannya, karena dia menganggap justru Sinta lah yang terlalu berperan untuk mendekatinya.
"Kenapa kamu setega ini sama aku? Kenapa bisa kamu membohongiku? Aku sama sekali gak menyangka kalau kamu bakal seperti ini?"
"Kamu bisa diam gak?" ucap Bagas akhirnya. Tapi bukan jawaban yang Sinta mau.
Sinta terus menatap Bagas tajam dan berusaha menahan emosinya yang makin memuncak. Tapi dia harus bisa menahan diri karena dia tahu bakal ada keributan besar pastinya.
Tapi jujur Sinta gak bisa menerima jawaban yang bukan dia inginkan.
"Kenapa kamu minta aku diam? Bukan itu jawaban yang aku mau dari mu" seru Sinta akhirnya.
"Kamu mau aku jawab apa, berharap aku menjawab apa? Bersyukur aku sekarang menikahimu dan bertanggung jawab untuk anak itu" jawab Bagas masih dengan egonya.
"Bukan cuma itu yang aku mau, memang aku sudah jadi istrimu, tapi aku berhak menuntut kebahagiaan dari kamu"
"Kebahagiaan seperti apa lagi? Aku sudah memberikan hak hakmu, menafkahimu, memenuhi kebutuhanmu" Bagas terus saja merasa sudah menjadi laki laki dan suami yang baik, padahal bukan itu saja yang harus dia lakukan.
Sinta menangis, air matanya jatuh membasahi kedua pipinya.
"Apa begini juga yang kamu lakukan pada Diandra selama pernikahan kalian" tanya Sinta disela isak tangisnya, jujur dia merasa ini gak adil, saat dia sudah mengorbankan segalanya justru Bagas gak bisa menjadikannya wanita yang paling dicintai.
Bagas menatap Sinta merasa terkejut dengan pertanyaan Sinta. Karena dia pun menyadari kalau dia gak seperti ini pada Diandra, Diandra adalah wanita yang sangat dia cintai. Dan dia sangat menyesal karena kecerobohannya dia harus kehilangan Diandra, harus berpisah dengan Diandra, suatu hal yang gak pernah dia bayangkan sebelumnya.
"Andai aku tau kamu hanya mempermainkan ku sudah dari awal aku menolakmu" ucap sinta lirih, menyesali apa yang sudah dia lakukan.
"Aku gak terima dengan keadaan ini, ingat Bagas kamu sudah menghancurkan perasaan ku, kamu kira aku akan melepaskan mu begitu saja? Ucap sinta dengan nada mengancam.
Bagas hanya diam mendengar ocehan ocehan sinta. Untuk sekarang gak ada yang bisa dia pikirkan, dia juga gak perduli dengan kalimat kalimat yang sudah Sinta utarakan.