Dari kecil Raka tidak pernah merasakan kasih sayang seorang Ibu, Ibu nya selingkuh saat ia baru berusia satu tahun. dan saat itu Ayah nya tidak pernah menjalin hubungan dengan seorang perempuan.
Sampai Raka di usia 22 tahun, Ayah nya memutuskan untuk menikah dengan janda satu orang anak.
Disanalah hidupnya berubah setelah berkenalan dengan Adik tirinya bernama Nadine, Nadine baru berusia 20 tahun, mahasiswi semester 4 jurusan Tata boga.Dan ternyata mereka satu kampus.
Nadine tidak ikut tinggal dengan keluarga barunya, ia memilih untuk tinggal di apartemen nya, tapi sesekali ia akan menginap di rumah keluarga barunya, dan disanalah Mereka sering bertemu dan berinteraksi. mau di rumah ataupun di luar.
Ada kejadian dimana membuat Raka mulai jatuh cinta dan tertarik kepada Nadine.
kira-kira kejadian Apa ya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga empat
***
Pagi itu, matahari baru saja naik tinggi ketika Nadine dan Raka sudah bersiap dengan koper besar di sisi pintu apartemen. Suasana apartemen yang semalam dipenuhi rasa canggung, kini berganti dengan semangat perjalanan baru. Nadine memakai kemeja putih longgar dipadu celana jeans, wajahnya segar meski sempat kurang tidur karena deg-degan. Raka tampil santai dengan kaus hitam dan jaket denim, rambutnya sedikit berantakan tapi justru membuatnya terlihat semakin dewasa.
“Udah yakin nggak ada yang ketinggalan?” tanya Raka sambil menenteng tas ransel berisi dokumen perjalanan.
Nadine memeriksa koper sekali lagi. “Hmm… baju, skincare, sepatu, dokumen, kamera kecil… kayaknya lengkap. Abang sendiri gimana?”
Raka mengangguk mantap. “Abang sih bawa yang penting-penting aja. Nanti di Lombok kita kan udah ada tim fotografer sama MUA. Jadi nggak perlu pusing soal properti.”
Mendengar itu, Nadine jadi tersenyum kecil. Ia sempat tak percaya, perjalanan ini bukan sekadar liburan biasa, tapi sekaligus awal dari perjalanan cinta mereka. Bayangan mengenakan gaun cantik di tepi pantai, berpose bersama Raka dengan latar langit senja, membuat jantungnya berdegup lebih kencang.
“Kayak mimpi ya, Bang…” gumamnya lirih saat keduanya sudah masuk ke dalam mobil.
Raka menoleh, menatapnya dengan tatapan teduh. “Bukan mimpi, Din. Ini kenyataan yang kita buat bareng-bareng.”
Perjalanan ke rumah orang tua mereka dilalui dengan percakapan ringan. Sesampainya di sana, Raka sempat masuk sebentar untuk mengambil kopernya yang sudah ia siapkan sejak kemarin. Nadine ikut masuk, dan mereka berdua pamit dengan penuh senyum. Orang tua mereka, meski masih menyimpan segurat keraguan, tetap memberi doa dan restu.
“Hati-hati di sana ya, jangan lupa kabarin,” pesan Bu Rini sambil merangkul putrinya erat.
“Iya, Bu. Doain aja semuanya lancar,” jawab Nadine sambil tersenyum haru.
Raka menunduk sopan. “Doakan juga pemotretan kita sukses, Bu , Yah, Biar nanti pas waktunya… semuanya lancar sampai ke pelaminan.”
Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan ke bandara. Suasana di dalam mobil kembali hening sesekali, lalu pecah oleh obrolan kecil—tentang destinasi wisata yang akan dikunjungi, tentang rencana pemotretan, bahkan tentang makanan khas Lombok yang ingin mereka cicipi. Nadine mencatat semua di ponselnya, seakan ia tak ingin melewatkan satu pun detail.
Begitu sampai di bandara, keramaian langsung menyambut. Orang-orang berlalu-lalang dengan koper masing-masing, papan informasi keberangkatan menampilkan deretan jadwal penerbangan, dan aroma kopi dari kedai di sudut terminal menyebar ke udara. Raka berjalan di depan sambil menggenggam koper besar, sementara Nadine menenteng tas tangan kecilnya.
“Abang, tiket sama boarding pass udah Abang pegang kan?” Nadine bertanya dengan nada was-was.
Raka mengangkat map plastik beningnya. “Aman. Kamu tenang aja. Abang udah cek tiga kali.”
Nadine menghela napas lega, lalu terkekeh. “Aku kayaknya lebih deg-degan daripada Abang”
“Wajar, ini pertama kalinya kita pergi berdua dengan status yang… berbeda.” Raka menatapnya, senyum tipis muncul di bibirnya.
Setelah melewati proses check-in dan pemeriksaan bagasi, mereka duduk menunggu boarding di ruang tunggu. Nadine menyandarkan kepalanya sebentar di bahu Raka, merasa nyaman meski ada banyak pasang mata di sekitar. Raka membiarkannya, bahkan meraih tangan Nadine dan menggenggamnya erat.
“Besok sore kita baru mulai pemotretan. Malam ini kita istirahat dulu di hotel. Fotografer sama MUA sudah bilang mereka akan nyusul langsung ke sana,” jelas Raka sambil menatap layar ponselnya, memastikan jadwal yang sudah disepakati.
Nadine mengangguk pelan. “Aku nggak sabar. Rasanya masih nggak percaya kita beneran akan punya foto prewedding.”
“Percaya aja,” bisik Raka dekat telinganya. “Ini baru awal perjalanan panjang kita.”
Ketika panggilan boarding terdengar, keduanya saling menatap dengan senyum tak bisa disembunyikan. Mereka menggenggam tangan satu sama lain, melangkah menuju gerbang keberangkatan dengan hati penuh harapan.
Perjalanan menuju Lombok bukan sekadar perjalanan liburan. Itu adalah langkah pertama menuju kehidupan baru—sebuah cerita cinta yang mulai diabadikan, bukan hanya lewat lensa kamera, tapi juga lewat kenangan yang akan mereka simpan selamanya.
.
Pesawat yang mereka tumpangi mendarat mulus di Bandara Internasional Lombok menjelang sore hari. Dari balik jendela, Nadine bisa melihat hamparan bukit hijau dan laut biru yang membentang, membuat dadanya terasa lapang. Udara hangat khas daerah pesisir langsung menyambut ketika mereka turun dari pesawat.
“Udara di sini beda ya,” ucap Raka sambil meraih koper dari conveyor belt. “Segar banget, bikin semangat langsung naik.”
Nadine tersenyum kecil, menarik koper miliknya. “Aku udah nggak sabar besok lihat pantainya.”
Setelah itu, mereka menuju mobil sewaan yang sudah disiapkan. Raka sebelumnya memang sudah mengatur segalanya—mulai dari transportasi, hotel, sampai pemesanan tim fotografer, make-up artist, Semua detail ia tanggung sendiri, tanpa membiarkan Nadine repot memikirkan biaya.
“Aku masih nggak enak, Bang,” ucap Nadine pelan di dalam mobil saat mereka melaju menuju hotel. “Harusnya aku ikut bantuin soal biaya.”
Raka menoleh, menatapnya sambil tersenyum hangat. “Nggak usah dipikirin. Ini tanggung jawab Abang. Abang yang ngajak, Abang yang siapin. Kamu cukup nikmati semuanya.”
Perjalanan dari bandara ke hotel memakan waktu sekitar satu jam. Sepanjang jalan, pemandangan sawah luas, perbukitan, hingga garis laut biru membuat Nadine beberapa kali membuka jendela, membiarkan angin masuk. Raka sempat mengabadikan ekspresi kagum Nadine dengan kamera ponselnya diam-diam.
Begitu sampai di hotel tepi pantai, langit sudah berwarna oranye keemasan. Hotel bintang lima itu megah dengan desain modern tropis—lantai marmer, aroma wangi bunga segar, dan pemandangan laut lepas dari lobi kaca.
“Selamat sore, ada pesanan atas nama Raka Aryasatya Wicaksana,” ucap Raka di meja resepsionis.
Resepsionis mengecek komputer, lalu tersenyum ramah. “Benar, Pak. Satu kamar suite ocean view untuk empat malam.”
Nadine sempat menoleh kaget ke arah Raka. “Satu kamar?” bisiknya dengan wajah memerah.
Raka hanya terkekeh kecil, lalu menepuk punggung tangannya lembut. “Tenang aja. Kamarnya luas. Lagian, kita kan udah calon pengantin. Nggak ada yang salah.”
Nadine tak bisa membantah, meski wajahnya terasa panas. Ia hanya menunduk sambil mengikuti Raka ke lantai atas.
Begitu pintu kamar terbuka, Nadine terpesona. Kamar suite itu sangat luas, dengan ranjang king size, balkon langsung menghadap laut, dan kamar mandi elegan dengan bathtub kaca transparan. Angin laut masuk melalui balkon yang terbuka, membawa aroma asin yang khas.
Raka menaruh koper di sudut ruangan, lalu berbalik menatap Nadine yang masih terpaku di depan balkon. “Bagus kan? Abang pengen kamu nyaman di sini. Besok fotografer sama MUA datang jam delapan pagi. Semua udah beres.”
Nadine menoleh, senyumnya merekah penuh rasa syukur. “Abang pikirin semuanya sampai detail gini…”
Raka melangkah mendekat, menatapnya lembut. “Abang cuma mau yang terbaik buat kamu, sayang, Kamu layak dapat itu.”
Nadine menunduk, hatinya hangat sekaligus berdebar. Perjalanan panjang tadi seakan terbayar dengan momen ini—berdua, di kamar hotel tepi laut, bersiap menyongsong hari esok yang penuh kenangan.
raka seror nabungnya🤣🤣🤣
sok kaget dn sok suci lo🤣🤣🤣
udah sering tidur pelukan dn bahkan dgn keadaan naget,