SPIN OFF Ayah Untuk Safira
Dihadapkan dengan kenyataan bahwa status dirinya merupakan anak rahasia, membuat Safira harus extra hati - hati untuk bersikap dengan seorang pria. Belum lagi sikap sang ayah yang seolah enggan menganggap keberadaannya. Semakin membuat Safira membenci sosok ayah biologisnya.
Beruntung Safira masih memiliki sosok laki - laki yang bisa ia jadikan sosok panutan. Laki - laki yang nantinya akan menjadi role mode nya untuk mencari tambatan hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putrijawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapture 34.
Setelah mengantarkan Safira menemui teman - temannya, Bima tidak langsung pulang. Ia memilih menunggu di area parkir sampai gadis itu selesai dengan kedua temannya.
Sambil menunggu, tentu saja calon CEO itu memilih mengerjakan pekerjaan kantornya. Memeriksa beberapa file yang memang diserahkan oleh asisten pribadi ayahnya untuk di pelajari.
"Perasaan gue kenapa jadi gak enak gini, ya ?" gumam Bima yang mulai merasa gelisah.
Pemuda itu memejamkan matanya sejenak sambil menyandarkan punggungnya yang terasa pegal. Ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Ternyata tidak terasa sudah sejam lebih ia menghabiskan waktu dengan berkutat pada laptopnya.
"Apa Fia belum selesai sama temen - temennya, ya ?" gumam pemuda itu seraya memeriksa ponselnya. Keningnya mengerut saat tak mendapati pemberitahuan apapun yang masuk ke ponselnya dari Safira.
"Gue cek ke dalem aja kali, ya. Sekalian pesen minuman." ucapnya seorang diri.
Baru saja ia akan membuka pintu mobilnya, dering di ponselnya membuat pemuda itu mengurungkan niatnya.
"Baru juga mau disamperin." ucap Bima seorang diri saat mendapati nama Safira yang terpampang di layar ponselnya.
"Halo, Fi. Kamu bel---"
[Bim. Tolongin aku. Kepala aku berat banget. Aku gak tau dibawa mereka kemana.]
Suara parau Safira berhasil membuat jantung pemuda itu berdetak dua kali lebih cepat. Tenggorokannya terasa tercekat hingga tak mampu menjawab permintaan gadisnya itu.
"Fi, kamu, kamu bisa kas---"
Belum lagi sempat pemuda itu menyelesaikan kalimatnya, suara seorang pria diseberang sana semakin membuat irama jantungnya berdegup tak karuan.
[Wah, akhirnya kita bisa berada dikamar yang sama, ya. Dan sebentar lagi kita akan berada di ranjang yang sama. Berbagi peluh dalam penyatuan kita.]
Demi apapun, Bima merasa dunianya berhenti berputar. Bayangan Safira yang saat ini berada dalam kungkungan pria lain membuat dadanya terasa sesak. Bima merutuki kebodohannya yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya hingga lalai menjaga gadisnya.
[In your dream.]
Itu adalah suara Safira yang terdengar menolak keinginan pria tersebut. Lalu setelahnya, Bima dapat mendengar suara berisik dan pekikan Safira yang sepertinya tengah melakukan perlawanan.
Bima sendiri masih mematung ditempat. Secepat mungkin ia menggelengkan kepalanya untuk memulihkan kesadarannya dari rasa terkejut. Pemuda itu menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri. Lalu ia mendapati sebuah gedung yang tak jauh dari Kafe.
"Pasti dia dibawa kesana." ucapnya bermonolog.
Tanpa membuang waktu, Bima langsung bergegas menuju gedung bertingkat tersebut. Ia bahkan memarkirkan mobilnya secara asal. Lalu dengan tergesa segera menuju resepsionis untuk menanyakan suatu hal.
"Selamat sore, Mas. Ada yang bisa saya bantu ?" tanya petugas wanita dengan senyum sopannya.
"Maaf, Mbak. Saya ingin bertanya, apa ada pengunjung atas nama Safira Mazzaya yang menginap di hotel ini ?" tanya Bima sambil mengatur kekhawatirannya.
"Sebentar, ya Mas, saya periksa terlebih dulu."
Bima hanya mengangguki ucapan petugas wanita tersebut. Matanya memindai sekitar berharap menemukan seseorang yang dikenalnya.
"Maaf, Mas. Tidak ada nama Safira Mazzaya yang menginap disini."
Bima terdiam sejenak. "Kalo Aqilah, Mbak ? Aqilah Jayadi. Atau Aqilah Putri Jayadi."
Bima kembali menunggu dengan perasaan tak karuan. Ia harus segera menemukan keberadaan Safira agar sesuatu yang buruk tak terjadi padanya.
"Maaf, Mas. Tidak ada nama Aqilah di daftar pengunjung." ucap petugas resepsionis tersebut membuat Bima mengacak rambutnya frustasi.
Pemuda itu masih tampak berpikir. Namun otaknya seakan tak berfungsi untuk menemukan solusi atas masalahnya.
Bima berjalan sedikit menjauh dari meja resepsionis. Pandangannya tertuju pada lorong menuju lift.
'Gak mungkin gue periksa satu persatu kamar yang ada. Buang waktu.' ucapnya dalam hati.
Disaat yang bersamaan, ponsel dalam sakunya berdering. Dengan cepat Bima langsung mengeluarkan ponselnya dan merasa beruntung dengan nama yang muncul dilayar ponselnya.
"Halo."
[Bim, lo dimana ? Gue dapet telpon dari Fia. Kayaknya dia dalam bahaya.]
"Lo dapet telpon juga ? Mending sekarang lo langsung cek gps Fia. Gue---"
[Gpsnya nunjukkin dia lagi di hotel Emerald. Gue sama Rinal udah dijalan kesana. Lo mending cepetan nyusul.]
"Gue udah disini. Kira - kira lo bisa hack CCTV hotel untuk liat Fia ada dikamar mana ? Gue udah coba nanya sama resepsionis tapi gak nemu." ucap Bima frustasi.
[Oke. Gue usahain. Lo tunggu aja disana. Bentar lagi kita berdua bakal nyampek.]
Sambungan langsung terputus secara sepihak. Pikiran Bima semakin kacau saat mengetahui kebenaran tentang keberadaan Safira.
Ditempat lain, Aqilah nampak gelisah di tempatnya. Tadi setelah membawa paksa Safira masuk ke kamar hotel, Aqilah langsung pulang meninggalkan temannya itu. Bahkan ia menolak ajakan Bilqis untuk menikmati makanan di Kafe yang ada dihotel tersebut.
"Gimana keadaan Safira sekarang, ya ?" gumam Aqilah cemas.
Gadis itu sampai menggigiti kuku jari tangannya saking cemas memikirkan Safira. Berkali - kali ia memeriksa ponselnya berharap ada kabar dari Bilqis mengenai temannya itu. Namun sepertinya Bilqis tengah sibuk dengan kesenangannya.
"Kalo setelah ini Safira malah benci sama gue gimana ?" tanyanya seorang diri.
Aqilah mengacak rambutnya frustasi. "Harusnya gue gak usah ikutin rencana Bilqis. Harusnya gue biarin aja dia bertindak sendirian. Kalo gini ceritanya, bisa - bisa gue ketauan lagi sama Mama Papa." ucapnya menyesali perbuatannya.
Gadis itu tak bisa mengenyahkan Safira dari pikirannya. Meski ia sudah mencoba melarutkan diri dengan sosial medianya, nyatanya kekhawatirannya terhadap Safira semakin bertambah. Rasa bersalahnya terus muncul dan menghantuinya.
Ceklek.
Pintu kamarnya terbuka, bersamaan dengan munculnya Adit disana.
"Ish. Lo bikin kaget aja tau, gak ?" bentak Aqilah kesal.
"Lah. Gue udah ketok pintu dari tadi. Lo ngapain emangnya sampek gak denger gedoran gue dipintu ?"
"Berisik, lo!"
Melihat kakaknya kesal, Aditya menghela nafas pelan. "Sori, sori. Eh, kak. Tadi lo ketemu sama Fia 'kan ?" tanyanya mengalihkan.
Aqilah menatap sekilas pada adiknya. Ingatannya tentang ucapan Safira yang mengatakan jika gadis itu telah memiliki seseorang yang tengah dekat dengannya kembali muncul.
"Gimana, kak ? Dia pasti makin cantik." ucap Adit terlihat antusias.
Aqilah berdecak pelan. "Mending lo cari cewek lain, deh. Safira udah punya gebetan."
"Maksud lo pacar gitu ?" tanya Adit memperjelas.
Aqilah melirik sekilas pada adiknya. Ia membenarkan posisi duduknya untuk menghadap Aditya.
"Dia, sih bilang bukan pacar. Tapi mereka deket. Dan katanya lagi, cowok itu lebih tua dari dia. Mungkin aja selera Aqilah cowok yang dewasa. Lo 'kan lebih muda dari dia."
Giliran Aditya yang berdecak kesal mendengar jawaban kakaknya. "Umur kita cuma beda tujuh bulan, doang. Bukan tujuh tahun. Gue masih punya kesempetan sebelum janur kuning melengkung."
Aqilah memutar bola matanya jengah. Adiknya itu memang tengah buta dan bodoh karena cinta. Mana mungkin bisa dinasehati.