Entah siapa yang menjebak Bima dengan obat sampai harus memanfaatkan gadis yang tidak berdaya bernama Olivia, di malam pertunangan gadis itu
“Saya khawatir kalau nanti Olivia ….” Bima menjeda ucapannya lalu menghela nafas,“Hamil.”
“Kamu pikir aku mau mengandung anak kamu! Kalaupun aku hamil, pasti akan aku gugurkan,” pekik Olivia
Benarkah Bima dan Olivia dijebak? Mungkinkah Bima dan Olivia akhirnya menjadi pasangan dan melupakan masa lalunya?
====
Spin Off : Jerat Cinta Dibalik Dendam
IG : dtyas_dtyas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 34 ~ Terungkap
Setelah Olivia pamit pada Ibu Salamah dan Mpok Lela, mobil pun perlahan meninggalkan kediaman Ibu Salamah. Dengan tujuan kampus Olivia dan Bima ikut serta karena khawatir dengan keberadaan Helen yang mulai menjadi pengganggu.
“Kamu sudah lama berteman dengan Helen?” tanya Bima di sela fokusnya dengan kemudi.
“Iya, dari kami masih SMA.” Oliv menjawab dengan tidak antusias. “Tapi kayaknya sekarang nggak temenan lagi,” sahutnya sambil menunduk.
Bima mengernyitkan dahi lalu menoleh sekilas dan kembali fokus dengan jalanan dan mengemudi.
“Kenapa begitu?”
“Helen sekarang beda, bagiku dia jahat. Sepertinya setelah pertunangan batal, dia makin aneh. Aku dan Haris yang berantakan, kenapa dia yang bersikap beda seperti … yah gitu deh susah dijelaskan.”
“Karena memang dia yang menjebak kita berdua,” ucap Bima dalam hati.
“Kalau … Fahri?” tanya Bima lagi.
“Fahri juga sama, dia sahabat aku kayak Helen. Aku sengaja menghindar dari dia, kayaknya dia ada perasaan denganku dan ternyata benar. Anehnya Fahri juga berubah, kalau dipikir aku yang sedang merugi dan kena musibah kenapa malah dia yang berkesan dirugikan. Aku tidak habis pikir dengan mereka berdua,” ungkap Oliv dan Bima semakin paham kenapa istrinya menghindar dari pasangan aneh itu dan semakin yakin kalau Helen memang biang keladi dari penjebakan malam itu.
Berjalan di koridor kampus, Oliv memeluk lengan Bima. Merasa lebih aman dengan kehadiran suaminya. Ternyata ada yang menyaksikan kedatangan Olivia dan Bima.
“Fahri, lihat tuh. Lo masih ngarep sama Olivia?” tanya Helen.
Fahri mengepalkan kedua tangannya memandang kemesraan Olivia dan Bima.
“Gue ada perlu dengan Bima, lo samperin Olivia dan buat perempuan itu sibuk,” titah Helen.
“Ah malas, yang ada gue sakit hati sama tuh cewek. Berharap pertunangan dia gagal, gue bisa dapetin malah sama orang lain.”
“Gimana sih, emang lo mau bekasan Bima. Move on, kayak nggak ada cewek lain aja,” ungkap Helen sambil tersenyum penuh kemenangan. Berhasil membuat semua berantakan, walaupun tetap tidak berhasil mendapatkan Fahri tapi dia ada rencana lain yaitu … Bima.
“Udah sana,” ujar Helen sambil mendorong Fahri agar menjauh dan mendekati Olivia.
Olivia dan Bima memang terpisah di depan sekretariat. Masih ada yang akan diurus oleh perempuan itu, dan Bima memilih menunggu di luar. Tanpa terlihat oleh Bima, Fahri memasuki sekretariat dan menghampiri Olivia.
“Oliv,” panggil Fahri.
Wanita itu memastikan apa Helen bersama Fahri, kenyataan tidak terlihat batang hidung Helen membuat Olivia menghela lega.
“Lo lanjut kuliah? Gue denger lo hamil?”
“Memang kenapa kalau aku hamil, tidak ada larangan mahasiswa tidak boleh menikah apalagi hamil ketika kuliah."
“Kamu mulai berani ya? Bukan seperti Olivia yang aku kenal ramah, lembut dan ….”
“Tergantung orang yang aku hadapi, kamu pikir aku harus tetap lembut dengan orang yang sudah bicara menyakiti aku. Maaf, aku bukan manusia bukan malaikat.” Olivia meninggalkan Fahri dan menemui pembimbing akademik untuk mengkonsultasikan perkuliahannya yang akan segera dimulai.
Sedangkan di luar gedung sekretariat, Helen menghampiri Bima setelah memastikan Fahri menemui Olivia.
“Kebetulan,” seru Helen sambil senyam senyum pada Bima.
“Kebetulan juga,” batin Bima. Helen langsung duduk di samping Bima.
“Lo ngapain di sini?”
“Tunggu Oliv.”
“Owh, masih akur?”
“Maksud lo apa sih?” tanya Bima mulai geram dengan ulah Helen.
“Ih, nyantai aja kali.”
Bima berusaha menahan emosi karena ada informasi dan kebenaran yang harus dibuktikan. Sambil membuka ponselnya mengaktifkan salah satu aplikasi dan kembali menyimpan ke dalam saku kemeja flanel yang ia pakai.
“Lo kenal Oliv udah lama?”
“Udahlah, baik buruk juga gue tau. Kenapa, lo mulai menyesal nikahi dia?”
Bima bergeming, merasa Helen mulai tergiring dengan arah pertanyaannya.
“Bukannya kakak lo gagal tunangan dengan Oliv? Kok bisa lo masih sahabatan sama dia?”
“Jangan salah, lo pikir gue mau dekat dengan Oliv. Cuma sandiwara karena gue benci sama bini lo itu. Gimana enggak, udah jelas gue ngarep sama Fahri dari jaman SMA eh malah Oliv yang disuka sama Fahri. Kak Haris juga langsung terpana, terpukau, terpesona waktu gue kenalin sama Oliv. Perhatian Kak Haris ke gue berkurang semenjak dia dekat sama Oliv, apa-apa Oliv. Gue nggak suka.”
Bima tidak bisa menduga kalau Helen bisa mengungkapkan alasan kekesalan yang menurutnya tidak masuk akal karena hanya berdasar rasa cemburu.
“Kenapa lo nikahin Olivia?” tanya Helen.
Bima mengedikkan bahunya, salah menjawab dia tidak akan mendapatkan pengakuan atau informasi lain. Ia memilih lebih berhati-hati dalam bicara.
“Terpaksa ya, atau lo diancam keluarga Olivia?”
“Ya … gimana ya?”
“Gue kasih tahu ya, cewek udah rusak ya rusak aja. Kemarin waktu lo cari-cari Oliv, dia bilang ke mana?”
“Belum dibahas, sampai sekarang. Dia lebih banyak diam,” jawab Bima.
“Pura-pura baik dan jaga image, lo yakin mau teruskan pernikahan?”
“Entahlah, yang jelas kejadian malam itu mengacaukan semua. Termasuk hidup gue.” Bima berkata tanpa menatap Helen, berharap wanita itu segera mengatakan hal penting lainnya.
“Gue bisa jamin hidup lo lebih baik, termasuk dapat jabatan di perusahaan keluarga gue,” seru Helen.
“Dengan syarat?”
“Tinggalin Oliv.”
Bima tertawa, membuat Helen heran. Jika Helen bukan seorang wanita mungkin bogem mentahnya sudah mendarat berkali-kali di wajah itu.
“Kok lo ketawa sih.”
“Lo kenapa sih, kayaknya benci banget sama Olivia.”
“Karena Oliv selalu dapat apa yang gue inginkan, bahkan gue udah atur sedemikian rupa agar malam itu berantakan. Ternyata berhasil, orang menduga kalau dia murahan bahkan sekarang dia malah menikah sama lo. Maaf karena lo harus terlibat, tapi jangan khawatir gue akan tanggung jawab sesuai penawaran gue tadi dan kayaknya gue mulai suka lo deh.”
Gotcha.
Bima bersorak dalam hati mendengar pengakuan dari Helen.
“Jadi, lo yang udah atur gue dan Oliv ….”
“Iya.”
“Helen!”
Bima dan Helen menoleh, ternyata Olivia sudah berada di belakang mereka duduk dengan kedua tangan mengepal menahan emosi dan wajah tidak ramah.
“Jadi … kamu?”
Bima berdiri dan menghampiri Olivia.
“Apa? Lo dengar yang gue bilang? Bagus deh jadi bisa to the point. Siap-siap Bima ninggalin lo karena dia cuma terpaksa.”
“Ini sebenarnya ada apa sih?” tanya Fahri.
Olivia menatap Bima yang sudah berada di hadapannya. Pria itu tersenyum lalu mengulurkan tangan mengusap pipi istrinya.
“Kamu terpaksa harus bertanggung jawab menikahiku?”
“Ya nggak lah, gil4 aja. Masa gue terpaksa,” seru Bima.
“Loh, Bima. Bukannya ….”
“Cukup, jangan bicara lagi," sentak Bima memotong ucapan Helen dan mengeluarkan ponsel dari sakunya lalu menunjukan ke arah Helen. “Gue rekam semua omongan lo tadi. Berdoa aja kalau keluarga Olivia nggak akan menuntut lo, karena kalau gue pengen banget lo masuk jeruji besi seperti yang gue alami. Ayo sayang, kita pulang,” ajak Bima lalu merangkul bahu istrinya.
“Heh, kurang ajar! Lo jebak gue ya?” teriak Helen.
walaupun gak sepenuhnya salah tp keadaan yg bikin Bima bersalah..
lawannya keluarga kalangan atas pula...
kuat² yaaa Bima🤭
wkwkckk..good job,teruslah berkarya, bravo anak2 bangsa yg hebat , aku bangga padamu 🥰💪🙏