Setara untuk segala bibit, bebet, bobot dan kedudukan adalah aturan tak tertulis namun paten dalam pernikahan para bangsawan.
Kerajaan memiliki aturan ketat soal pernikahan, selain harus setara maka hubungan pernikahan harusnya memiliki keuntungan untuk kerajaan. Seperti memperkuat wilayah kerajaan atau membangun relasi yang lebih luas.
Tapi apa jadinya, jika pangeran mahkota memilih calon istrinya sendiri demi memperkuat kekuatan kedudukannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Korban Sistem
Pagi di mansion selalu terasa terlalu tenang.
Cahaya matahari musim panas jatuh lembut menembus jendela-jendela tinggi ruang makan utama. Pantulannya menyentuh meja panjang yang dipenuhi porselen putih, gelas kristal, dan rangkaian alat makan yang tersusun rapi.
Di tengah meja, bunga-bunga segar tampak baru diganti.
Semuanya terlihat indah.
Dan kenyataan bahwa pagi ini kembali mempertemukannya dengan Madam Elish membuat suasana semakin tidak menyenangkan.
Ia duduk tegak di salah satu kursi besar dengan punggung yang masih terasa pegal akibat latihan kemarin.
Madam Elish berdiri tak jauh darinya.
Tatapan wanita paruh baya itu tetap setajam biasanya. Tongkat tipis di tangannya perlahan terangkat menyentuh dagu Lilly.
"Tegakkan tubuh Anda. Angkat dagu."
Lilly menahan napas pelan sebelum memperbaiki posturnya.
"Bangsawan harus tetap terlihat elegan bahkan saat kelaparan."
Tongkat itu kembali bergerak pelan. Mengetuk bagian meja terdekatnya.
"Dan jangan menggenggam sendok terlalu kuat."
Lilly mengendurkan jemarinya perlahan. Bahkan sarapan pun terasa seperti ujian.
Ia hanya ingin mengisi perut dengan tenang. Bahkan sandwich dari toko franchise langganannya terasa jauh lebih nyaman dibanding seluruh hidangan mewah di hadapannya sekarang.
Suasana ruang makan begitu sunyi hingga denting kecil peralatan makan terdengar jelas.
Lilly mulai memotong makanannya perlahan. Semua gerakannya terasa diawasi.
"Seorang calon Putri Mahkota tidak boleh memperlihatkan rasa gugupnya di meja makan."
Nada suara Madam Elish terdengar datar tanpa kesan menghakimi.
Namun wanita itu memperhatikan segalanya. Ia mengetuk pelan bahu Lilly yang tampak terlalu tegang. "Turunkan sedikit bahu Anda."
Untuk beberapa saat Lilly hanya diam. Sampai akhirnya rasa kesal itu benar-benar lolos begitu saja.
"Apakah semua bangsawan hidup sesulit ini?"
Madam Elish memandangnya singkat.
"Dunia bangsawan dibangun dari kesempurnaan yang dipaksakan, Lady."
Lilly tersenyum tipis tanpa emosi berarti.
"Kalau begitu kedengarannya hidup akan melelahkan."
Madam Elish terdiam sesaat.
Pandangan matanya jatuh pada hidangan di depan Lilly sebelum berkata pelan,
"Itulah mengapa banyak senyum yang bukan berarti kebahagiaan."
Ada sesuatu dalam nada suara wanita itu yang terasa dingin.
Lilly menoleh ke arahnya. Namun Madam Elish segera kembali menatapnya tegas.
Semakin lama ia benar-benar merasa dirinya perlahan menghilang. Semua hal di tempat ini terasa bertentangan dengan kehidupannya dulu.
Bahkan untuk mandi sekalipun banyak ritual yang harus dilakukan.
Suara langkah kaki terdengar dari arah pintu masuk ruang makan. Ketukan sepatu itu menggema lembut di seluruh ruangan.
Noah berjalan masuk sambil membawa tablet di tangannya. Kemeja putih dan rompi berwarna sand membuat penampilannya terlihat jauh lebih santai dibanding biasanya.
Dan...
Lilly langsung teringat pada salep pereda pegal yang dikirim pria itu semalam.
Perasaan hangat kecil yang muncul karenanya kini justru berubah menjadi canggung.
Madam Elish dan para pelayan segera menundukkan kepala.
"Salam, Yang Mulia Pangeran."
Noah hanya mengangguk singkat sebelum duduk di kursi seberang Lilly. Dan justru membuat Lilly semakin canggung.
"Bagaimana hasilnya, Elish?" tanyanya tenang.
"Lady Lillyane berkembang cukup baik."
Ekor mata Lilly bergerak pelan ke arah Madam Elish.
"Itu pujian?"
Suaranya lirih.
Namun ruangan yang terlalu sunyi membuat ucapannya terdengar jelas.
"Lady, etiket mengajarkan untuk tidak berbicara saat orang lain masih berbicara."
Lilly langsung terdiam. Ia membenarkan kembali posisi duduknya.
Di sisi lain meja, Noah menyesap tehnya perlahan. Senyum samar tampak di sudut bibirnya..
Nyaris tak terlihat.
Sarapan kembali berlangsung formal.
Madam Elish beberapa kali membenarkan posisi jemari Lilly, cara memegang alat makan, hingga postur duduknya yang harus tetap sempurna.
Sementara Noah lebih banyak diam sambil membaca dokumen di tabletnya.
"Lady Lillyane?"
Suara Madam Elish membuat Lilly menoleh ke arah wanita itu.
"Ya, Madam."
Madam Elish meletakkan cangkir tehnya perlahan di atas meja.
"Hal terpenting bagi seorang bangsawan, khususnya para wanita..."
Ia berhenti sejenak.
"Bukanlah kecantikan. Dan bukan pula status keluarga."
Tatapannya terangkat lurus ke arah Lilly.
"Melainkan pengendalian diri yang sempurna."
Kerutan samar muncul di dahi Lilly.
"Sebab dunia ini dipenuhi orang-orang palsu yang mungkin tersenyum di hadapan Anda."
Senyum tipis Madam Elish tampak begitu getir.
"Namun mengharapkan kehancuran Anda di saat yang sama."
Lilly menatap wanita itu cukup lama.
Masih berusaha memahami maksud di balik kata-katanya.
"Lady?"
Panggilan Madam Elish membuat Lilly tersadar kembali.
Dan dari sisi seberang meja—
Noah memperhatikan perubahan kecil pada ekspresi gadis itu.
Untuk beberapa saat suasana di meja makan itu tampak jauh lebih sunyi. Akan tetapi semuanya hanya sesaat, sebab di tengah keheningan, Morgan masuk dengan langkah cepat.
"Yang Mulia Pangeran. Ada telepon dari Istana."
Noah mengangguk singkat sebelum bangkit dari kursinya. Dan setelah pria itu pergi, suasana ruang makan terasa jauh lebih sunyi.
"Pelatihan sarapan selesai," ucap Madam Elish tenang.
"Kita akan melanjutkan dengan minum teh dan latihan postur."
Lilly berdiri perlahan lalu menyingkir ke sisi lain ruangan.
Tatapannya jatuh pada Madam Elish yang mulai merapikan alat makan sendiri.
Wanita itu memutar pelan pergelangan tangannya yang tampak lelah sebelum kembali menyusun porselen di atas meja.
Ada rasa getir kecil yang tiba-tiba muncul dalam hati Lilly.
"Madam."
Madam Elish mengalihkan pandangannya.
"Apakah dunia bangsawan benar-benar sekejam itu?"
Madam Elish tersenyum samar.
"Mereka tidak sepenuhnya kejam."
Ia menjeda ucapannya sesaat.
"Hanya saja semakin tinggi status seseorang..."
Tatapannya tampak meredup tipis.
"Semakin sulit ia hidup sesuka hatinya."
Lilly terdiam cukup lama sebelum kembali bertanya pelan,
"Apakah hidup di istana melelahkan?"
"Tidak."
Jawaban itu datang terlalu cepat.
"Apakah kau memiliki keluarga?"
Gerakan Madam Elish berhenti. Hanya sesaat.
"Aku tidak memilikinya."
Wanita itu kembali merapikan alat makan dengan tenang.
"Dan aku juga tidak akan menikah."
Nada suaranya tetap datar.
"Hidupku sudah terikat pada istana."
Lilly memandang Madam Elish dengan cara berbeda.
Bukan lagi sebagai wanita menyebalkan yang terus menekan dan memberinya arahan sembari mengacungkan tongkat.
Melainkan seseorang yang telah hidup terlalu lama untuk istana.
******