NovelToon NovelToon
Good Partner

Good Partner

Status: tamat
Genre:Romantis / Detektif / Pembunuhan / Kriminal / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Cinta Murni / TKP / Tamat
Popularitas:462.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Chocollacious

TERSEDIA VERSI CETAK

Penny Patterson, sang detektif wanita berjuang menyelidiki kebenaran dibalik berbagai misteri dan kekacauan di kota asalnya, yaitu kota Magnolia, merupakan salah satu kota terdamai di dunia. Bersama rekan tim andalannya menyelidiki beberapa kasus dihadapinya penuh teka-teki.

Di tengah penyelidikannya, Penny selalu didukung, dibantu, dan dilindungi oleh Adrian Christopher, sang jaksa tampan dan cerdas sangat diandalkannya sejak pertama kali berhubungan sebagai partner kerja baik.

Dibalik suasana penuh ketegangan, Penny merasa partner kerjanya memperlakukannya bukan seperti sebatas partner kerja atau sahabat istimewa. Melainkan seperti menginginkan hubungannya lebih dari itu.

Apakah Penny, Adrian, dan rekan timnya berhasil memecahkan semua kasus mereka hadapi? Apakah Adrian sungguh memiliki perasaan istimewa terhadap partner kerjanya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocollacious, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 34 - Kerja Sama Tim

Sebelum aku menyusun strateginya, aku melepas jaketku dan mengikat rambutku model ponytail agar lebih berkonsentrasi. Sedangkan Adrian menarik sebuah papan tulis ke tengah ruang kerjanya untuk menggambar skema strateginya dan menyediakan spidol.

Jika dipikir-pikir, sepertinya ide kami sebelumnya terkesan sangat rumit dan berisiko. Aku terus berpikir sambil memainkan pulpenku. "Aku baru kepikiran. Sepertinya kita jangan datang sebagai tamunya, terlalu berisiko dan sangat berbahaya. Tapi, kita menyusup diam-diam supaya lebih aman."

Adrian menanggapi ideku memanggut-manggut. "Benar juga sih. Berarti kita menyusupnya saat sore hari. Saat restorannya masih dibuka dan Pak Colin tidak akan pulang ke rumahnya."

"Pagar rumah Pak Colin cukup tinggi, kita harus memarkir mobil dekat dengan pagarnya untuk membantu kita memanjat dan melompati pagarnya."

Adrian menggeleng menatapku dengan tatapan ragu. "Sepertinya itu tidak terlalu efektif. Memanjat pagar terlalu berbahaya. Apalagi kamu bisa terluka nantinya kalau tidak berhati-hati. Akan lebih baik jika kita masuk lewat pintu utamanya."

Aku tertawa gemas mendengar Adrian masih bisa mencemaskan kondisiku di saat menyusun strategi. Padahal aksi itu belum terjadi.

"Adrian."

"Kenapa, Penny?"

"Di saat begini kamu masih bisa mencemaskanku," tuturku tersenyum mengambang padanya.

Adrian sedikit memalingkan mata. "Memang aku tidak suka melihatmu terluka terus. Sebaiknya kita memikirkan cara lain supaya kamu tidak terluka, apalagi kamu wanita."

"Tapi bagaimana caranya? Pagar rumahnya itu dijaga dengan sistem keamanan sensor."

"Di kantormu apakah ada detektif yang andal dalam bidang peretasan?"

Perasaanku mulai tidak enak sekarang. Selama ini orang yang paling andal dalam bidang itu hanyalah detektif yang menyebalkan di kantorku.

"Ada sih tapi ...." Kepalaku menunduk lesu.

"Tapi kenapa?" tanya Adrian penasaran.

"Satu-satunya detektif yang andal hanyalah Hans, detektif yang menginterogasiku waktu itu dan salah satu musuhku di kantor."

Seandainya saja Nathan juga andal dalam bidang peretasan, aku tidak akan meminta bantuan Hans. Aku sih agak malas meminta bantuan musuhku sejak dulu. Lagi pula nanti Hans akan meremehkan aku lagi dilihat dari sikap sombongnya. Tapi apa boleh buat, ini demi pekerjaan. Terpaksa aku membujuknya dengan baik.

"Penny? Penny? Kamu sedang memikirkan apa?" tanya Adrian menepuk pundakku.

Aku baru tersadar dari lamunanku. "Tidak apa-apa."

"Kamu yakin akan meminta bantuan Hans?"

Aku mengangguk percaya diri. "Hanya dia yang bisa kita andalkan saat ini dan juga di antara semua orang yang memiliki keahlian itu hanya Hans yang kukenal."

"Baiklah, kalau begitu kita melanjutkan menyusun strateginya lagi."

Aku beranjak dari kursi mengambil spidol menggambar denah rumah Pak Colin. "Setelah Hans berhasil meretas sistem sensor itu, lalu kita memasuki rumahnya. Pintu depan diawasi beberapa pengawal ketat. Satu-satunya pintu yang tidak ada pengawalnya itu, yaitu pintu belakang halaman rumahnya."

"Aku dan Nathan yang akan menghalangi para pengawal itu. Kamu, Tania, dan Hans langsung berlari ke pintu belakangnya," tuturnya sambil melanjutkan menggambar skemanya.

"Semoga rencana ini berhasil."

"Rencana ini berhasil berkat idemu yang cemerlang, Penny," pujinya menatapku dengan pandangan berbinar.

"Padahal misi kita belum dijalankan. Lagi pula awalnya adalah idemu, Adrian. Memang kamu jenius!" pujiku mengacungkan jempol padanya.

Ketika kami berdua fokus mengamati gambar skema yang digambar kami, kami menggeserkan tubuh kami perlahan terfokus melihatnya hingga tidak sengaja kepala kami saling terbentur satu sama lain. Bukan saling meminta maaf namun entah kenapa rasanya sangat menyenangkan. Tanpa kami sadari, kami tertawa bahagia sampai puas saling memandang dan menyentuh kepala.

Keesokan pagi, aku datang ke kantor lebih awal karena aku harus membujuk Hans untuk membantuku. Hans merupakan salah satu detektif paling rajin sehingga ia selalu tiba di kantor lebih awal. Aku menarik napasku panjang membuangnya perlahan, lalu memanggilnya dengan baik dan mengajaknya memasuki ruang rapat.

Di dalam ruang rapat, Hans menduduki kursinya berlagak sombong menatapku tersenyum sinis.

"Ada apa nih? Tumben kamu memanggilku ke sini."

"Aku ingin meminta bantuanmu."

"Minta bantuan apa? Kamu meminta bantuanku jika ada maunya saja."

"Kamu masih ingat ketika kamu menginterogasiku waktu itu. Aku bilang bahwa aku pasti akan menangkap pelaku sebenarnya."

Hans mengangkat kaki di kursi. "Iya, aku masih ingat. Sampai sekarang aku masih ingin menagih utangmu mengenai hal itu."

"Aku tahu pelaku sebenarnya menyembunyikan sesuatu yang penting di rumahnya. Pagar rumahnya dijaga ketat dan sistemnya itu berupa sensor. Aku tahu kamu adalah detektif yang paling andal dalam bidang peretasan di kantor ini."

Hans menatapku tajam sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Jadi kesimpulannya, kamu ingin aku membantumu meretas sensor itu?"

"Maukah kamu membantuku? Aku akan mentraktirmu makanan enak nanti," bujukku meminta bantuannya dengan lembut.

"Baiklah aku akan membantumu untuk kali ini saja. Ingat janjimu nanti," patuh Hans langsung tanpa berpikir panjang keluar dari ruang rapat.

Aku menggelengkan kepalaku sambil tertawa usil melihat Hans terlihat girang sekali setelah mendengar tawaranku barusan. Ini pertama kalinya aku berhasil merayu Hans tanpa memerlukan waktu lama. Ya, memang sejak dulu ia selalu senang setiap kali ditraktir siapa pun.

Pada saat bersamaan, Tania dan Nathan sudah tiba di kantor juga. Aku memanggil mereka berdua ke ruang rapat dan memberitahu kepada mereka mengenai apa yang telah kurencanakan semalam bersama Adrian.

Sore harinya, ini merupakan saatnya aku dan teman-temanku beraksi. Sebelum mengunjungi rumah Pak Colin, aku memeriksa keadaan restoran memastikan Pak Colin berada di sana. Karena ia berada di sana, maka aku memiliki waktu yang cukup lama untuk menyusup rumahnya. Aku langsung bergegas mengendarai mobilku menuju rumah Pak Colin. Sesuai dengan rencana awal, aku memerintahkan Hans meretas sensor pagar rumah dulu.

Setelah 10 menit berlalu, akhirnya Hans berhasil meretas sehingga pagar terbuka dengan lebar. Kami semua terkagum melihat aksinya barusan. Memang aku tidak salah memanggilnya untuk membantuku.

"Luar biasa!" seru Nathan heboh.

"Kamu hebat sekali, Hans! Bahkan Nathan saja tidak bisa melakukannya," puji Tania sambil menatap Nathan tersenyum sinis.

"Ah, ini hal kecil bagiku," balas Hans sombong.

"Sebaiknya kita masuk sekarang!" ajakku.

Kami langsung masuk ke rumah itu dan banyak pengawal yang mengepung kami. Sekarang giliran perannya Adrian dan Nathan yang mengatasi para pengawal. Adrian dan Nathan mengepalkan tangan mereka mulai menghajar para pengawal itu satu per satu.

"Penny, Tania, dan Hans cepat pergi dari sini!" pekik Adrian tegas sambil melawan para pengawal itu.

"Kalian semua tenang saja. Aku dan Adrian pasti akan bisa mengatasi ini," tambah Nathan membantu Adrian melawan para pengawal.

Aku menatap Adrian dari kejauhan sangat mencemaskannya sekarang melihatnya bersama Nathan berjuang tanpa mengenal lelah. Ia menolehkan kepalanya ke arahku menampakkan senyuman ceria padaku mengangguk pelan menandakan bahwa ia baik-baik saja. Melihatnya seperti itu, aku sedikit lega lalu beralih pada temanku.

"Ayo cepat kita pergi ke halaman belakang!" ajakku pada Tania dan Hans.

Aku, Tania, dan Hans berlari ke halaman belakang, untungnya kami selamat lolos dari sana. Ketika kami sudah berada di dalam rumah, aku membagi tugas pada mereka berpencar mencarinya.

"Tania, kamu cari di lantai dua. Sedangkan Hans cari di lantai tiga. Cari sekelilingnya tanpa melewatkan apa pun!"

Kami semua berpencar dan melaksanakan tugas masing-masing. Sedangkan aku mencari di lantai dasar. Aku memasuki ruangan pribadinya dan membuka laci mejanya namun tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Kemudian aku juga terus mencari lagi di setiap area tapi masih tetap tidak ketemu.

Tak lama kemudian, Hans dan Tania menghampiriku.

"Apakah kalian menemukan sesuatu?" tanyaku pada mereka berdua.

Tania menggeleng pasrah. "Aku sudah cari ke seluruh kamar di lantai dua tapi tidak ada benda-benda penting di sana."

"Sedangkan aku sudah mencari sampai teliti di seluruh ruangan lantai tiga bahkan sampai pot tanaman tapi tidak ada benda penting yang disembunyikannya," tambah Hans dengan napas tersengal-sengal.

"Jadi gimana, Penny? Kita tidak punya banyak waktu lagi!" tanya Tania mulai panik.

"Tunggu sebentar, beri aku waktu berpikir dulu!" Aku berjalan mondar-mandir sambil berpikir keras.

Jika Pak Colin tidak menyembunyikan benda itu di kamar walaupun ruangan pribadinya, pasti ia menyembunyikan sesuatu di ruangan rahasianya yaitu tempat di mana orang tidak akan pernah menemukannya. Aku terus memikirkannya sambil menggarukkan kepalaku.

Tiba-tiba ada satu hal yang terlintas di pikiranku. Di buku catatan Pak John tertulis kata 'Versailles'. Lalu saat Pak Colin mengajakku dan Adrian makan bersama di rumahnya, kami membicarakan mengenai lukisan istana Versailles itu. Apakah mungkin ada sesuatu di balik lukisan itu?

Dengan sigap aku berjalan mendekati lukisan itu dan menyentuhnya.

CLIK

Aku tidak sengaja membuat lukisan itu posisinya miring dan ternyata ada pintu rahasia terbuka tiba-tiba. Bola mata Tania dan Hans terbelalak, sorot mata mereka terfokus padaku.

"Penny, apakah ini?" tanya Tania yang terkagum melihatku.

Aku mengangguk. "Iya, ini adalah ruang rahasianya yang dimaksud Pak John."

"Ternyata kamu ini lumayan cerdas juga ya, Penny." Pertama kalinya sebuah pujian tulus dikeluarkan dari mulut Hans.

"Ayo, kita masuk ke ruangan itu sekarang!" ajakku.

Di ruangan ini, ternyata banyak foto-foto termasuk fotoku ditempel di dinding. Selain itu, juga ada banyak ponsel di meja seperti sedang menjual ponsel. Pasti semua ponsel ini digunakan untuk sementara saja. Sorot mataku tertuju pada satu ponsel yang tergeletak sendirinya di meja khusus dan juga benda-benda lainnya. Selain itu, ada laporan keuangan Elite Company yang asli di sini juga.

Tania bergidik ngeri melihat fotonya yang ada di kumpulan foto itu. "Astaga kenapa bisa ada fotoku di sini!"

"Ternyata selama ini semua bukti ada di ruangan ini," kata Hans sambil melihat benda-benda di meja itu.

Aku menunjuk salah satu tumpukan berkas laporan keuangan. "Tidak hanya kasus ini juga, bukti kasus 15 tahun yang lalu juga ada di sini. Bukti yang didapatkan pihak kepolisian saat 15 tahun yang lalu itu adalah palsu. Aku bisa melihatnya dengan jelas. Kertasnya sudah mulai pudar dan dilihat dari tintanya, ini adalah dokumen asli."

Tatapan mataku beralih pada sebuah brankas terletak di sudut ruangan. "Ada brankas di situ, coba kamu buka, Hans!"

Dengan sigap Hans mencoba membuka brankas itu. Akhirnya brankas berhasil terbuka dan isinya berupa dokumen-dokumen rahasia.

"Ini adalah jackpot!" seru Hans matanya terbelalak.

"Ini luar biasa!" seru Tania terkejut melihat isi brankasnya.

"Sedang apa kalian di sini?" Suara Pak Colin terdengar di telingaku tiba-tiba.

1
martina melati
kesempatan mumpung ada y
martina melati
hehehe... sekali mendayung 2 ato 3 pulau sanggup y /Facepalm/
martina melati
shrsny jangan terbuka beri info, walo pd jaksa sekalipun... cukup katakan, iy sedang bertugas.
martina melati
jangan2 bastian yg menusuk... hehehe, malah curiga y/CoolGuy/
martina melati
katany langsung kabur, melihat jauh koq bisa tahu 2x penusukan... gk cocok nih infony dg kondisi mayat yg dtemukn... luka gores memanjang dsekitar perut
martina melati
cari suami sikorban... berhutang pd sp?? kmungkinan suruhan x
martina melati
gt donk... hrs sergap, agar kasusny lekas terungkap beneran pembunuhan, bunuh diri ato kecelakaan
martina melati
knp bsk sih? bukanny hr ini aja, gercap donkkk
💗vanilla💗🎶
mampir ni thor 😁
Ka
kok saya curiga sama si ray
IG : Chocollacious: monggo kak, bawa sapu sekalian ngikutin ray diam diam dr belakang 🤣
total 1 replies
Daisy Hamra
Aku curiga sama si Ray.
IG : Chocollacious: monggo curiga kak, kalo perlu buntutin diam diam🤣
total 1 replies
KS_Hyde
Sorry g respect sm km Darren, hbs sih kelakuanmu sblmnya itu sungguh menguras emosi
IG : Chocollacious: sama aku bodo amat🤣
total 1 replies
KS_Hyde
Sumpah kl aku ada di sn, dah ku bunuh dr awal dtg. Greget bgt
IG : Chocollacious: sabar sabar kak😅
total 1 replies
KS_Hyde
plisss gpp tembak aja sumpah, ikhlas bgt aku. Kl aku jd penegak hukum, aku memihakmu, Adrian biar km g dpt sanski
IG : Chocollacious: mungkin aku bisa wakilin hrsnya🤭
total 1 replies
KS_Hyde
Ya Tuhan knp kisah nya begini semua, g ada happy² nya:)
IG : Chocollacious: karena authornya memang demen nyiksa pemeran utamanya🤣
total 1 replies
KS_Hyde
Jinja??? Woahh tmpt begini idaman buat kepolisian
IG : Chocollacious: authornya pun jg mau kerja di sana🤣
total 1 replies
ZasNov
Keren banget nih Kak Choco, dua novelnya udah terbit cetak..😍👍
Semoga semakin sukses ya Kakak..🥰
IG : Chocollacious: amiin makasih kak🥰
total 1 replies
Neng Yuni (Ig @nona_ale04)
Aaaa, selamat yaaa, Kak Choco. gegara baca ini jadi semangat lanjutin remake anak emas aku juga 😍 Peny Adrian jaya jaya jaya 🔥🔥😍
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): tau, tuh. padahal udah yakin banget 🤣 eh, tapi endingnya bener juga, kan
total 2 replies
Tia Supriyanto
Polisi atau apa sih mereka, rame2 bawa pistol lagi kok keok, sebenarnya yg goblok yg nulis apa yg baca ya
IG : Chocollacious: kak, terima kasih masukannya. tapi alangkah baiknya jika memberikan kritik dengan bahasa yang lebih halus. memang ini cerita pertamaku sejak di dunia literasi jadinya bakal banyak kesalahan. lalu, sampai sekarang aku masih belum sempat menyempatkan waktu untuk revisi. sebenarnya aku tau banyak amat kesalahannya sampai jariku rasanya gatal ingin revisi, tapi urusan di RL yang menghalangiku melakukannya.

mengenai polisi membawa pistol kok bisa keok? dari sepengalaman aku riset dr berbagai film yg pernah aku tonton, polisi sebenarnya tidak boleh sembarangan memakai senjata api kecuali hanya untuk menakuti musuhnya. mungkin penggambaran adegannya masih kurang tepat, jadinya aku memang pengen revisi sebenarnya
total 1 replies
Tia Supriyanto
Cerita pembodohan, katanya taekwondo ban item kok ada perlawanan sama sekali
IG : Chocollacious: ga pembodohan. emgnya haruskah detektif itu selalu sempurna di mata manusia? coba kakak baca novel atau nonton film, pasti ada sisi kelemahannya. mengenai sabuk hitam, itu karakter Penny memang sengaja dia agak mulut besar, meski dia cewek, mana mungkin bisa melawan pelaku pelecehan hanya seorang diri. semua cewek ketika berhadapan dengan pelaku pelecehan pasti akan trauma dan ketakutan dong.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!