Vera Amaira Alice seorang gadis berusia 18 tahun. Gadis ini sedang menempuh pendidikan di universitas ternama di Jakarta. Ia adalah gadis nakal yang amat mengesalkan. Karena kenakalannya, Vera di paksa menikah dengan pria dingin yang tak lain ialah dosennya sendiri.
Drag Baraq Abraham seorang pria berusia 26 tahun. Drag sangat terkenal di universitas tempatnya mengajar. Selain tampan dan berwibawa, ia juga di nobatkan sebagai dosen terkiller yang di takuti seluruh siswa.
Bagaimana jadinya jika Gadis nakal di sandingkan dengan dosen terkiller di kampus? Yuk ikuti terus kisahnya.
Cerita ini 100% Munir fiksi. Jika ada yang tak suka dengan gaya bahasa, sifat tokoh dan alur ceritanya, silahkan di skip.
🌸Terimakasih:)🌸
Ig : Jannah Sakinah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jannah sakinah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengigau
"Apa sebegitu tampannya saya, hingga kamu melamun seperti itu?" ucap Drag sangat percaya diri. Dia suka sekali menggoda istri nakalnya ini. Vera menampilkan wajah mengesalkan nya.
"Ih, percaya diri sekali!" ucap Vera membuat Drag terkekeh geli.
"Harus percaya diri memang," ucap Drag tersenyum indah pada Vera.
Setelah pembicaraan singkat itu, akhirnya mereka pun makan bersama tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Di selah menikmati makannya, Drag mengarahkan satu suapan ke arah Vera. Vera menghentikan kegiatan dengan tatapan datar ke arah Drag.
"Nggak usah sok romantis!" ketus Vera namun tetap menerima suapan itu. Drag hanya tersenyum menanggapi istri nakalnya itu.
Waktu terus berjalan, hari sudah gelap. Semua manusia yang tinggal di mansion sedang sibuk dengan mimpinya. Sama halnya dengan Vera, dia sibuk dengan mimpinya. Hingga tubuhnya bergerak seperti cacing kepanasan.
"Plak." Tanpa sadar Vera menampar wajah Drag.
Drag yang merasakan tamparan itu terbangun dari tidurnya. Drag menatap Vera yang terlelap dengan tangan yang menyentuh pipinya.
"Vera." Panggil Drag pelan menahan amarah.
Drag mendudukkan tubuhnya tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Vera. Drag yang tak nyaman pun berniat pindah ke sopa. Sebelum turun dari ranjang, Drag memperhatikan pergerakan Vera yang tidur seperti cacing kepanasan. Gadis itu tak merasa terusik sedikit pun dengan kehadiran Drag.
Tidak biasanya istriku ini tidur seperti ini. gelisah sekali. Batin Drag dengan tangan yang mengusap peluh di dahi Vera.
"Bug!" Tanpa Drag sadari kaki Vera menendang tubuhnya. Vera benar-benar tak sadar jika dirinya telah menyakiti Drag.
"Vera!" ucap Drag sangat kesal.
Vera tetap setia menutup matanya tanpa memperdulikan ucapan Drag. Tanpa Drag sadari, sendari tadi Vera sudah terbangun dari tidurnya. Gadis itu menerbitkan senyumnya yang hampir tak terlihat.
Hhhh rasain tu. Batin Vera bersorak senang dengan kejahilannya .
Drag yang masih mengantuk akhirnya segera melangkahkan kakinya menuju sopa. Sebelum menutup matanya, Drag menyempatkan diri melihat Vera yang tertidur pulas di rajang.
Waktu berlalu begitu cepat, kini subuh telah tiba. Suara adzan dari handphone milik Drag mulai terdengar. Drag yang sudah terbiasa shalat subuh segera bangun dari tidurnya. Drag duduk sembari mengusap kedua matanya menghilangkan ngantuk.
"Vera bangun," ucap Drag ketika sudah berada di sisi Vera. Tangan kekar nan berurut itu menggoyang tubuh Vera secara perlahan.
"Hm," Vera hanya berdehem ngantuk dengan mata yang masih tertutup.
"Ayo shalat," ajak terus menatap Vera.
"Lagi haid-lagi haid," ucap Vera beralasan. Gadis itu enggan bangun dari tidurnya.
"Beneran haid?" tanya Drag tak percaya, ia mengangkat sebelah alisnya menatap Vera.
"Hm." Jawab Vera lagi dengan deheman mengantuknya. Mata Vera enggan untuk membuka. Dia sangat nyaman dengan tidurnya ini. Bahkan gadis nakal ini tak memperdulikan Drag yang berada di dekatnya.
"Sini saya lihat," ucap Drag dengan tangan yang mencoba melepaskan celana yang di kenakan Vera. Vera yang merasakan sentuhan Drag segera membuka matanya.
"Ah,,," teriak Vera langsung bangkit dari tidurnya. Dia tidak menyangka jika suaminya itu nekat ingin membuka celananya. Vera segera menjauhkan tubuhnya dari jangkauan Drag.
"Apaan sih, nggak sopan tau!" kesal Vera menatap tajam ke arah Drag.
"Apanya yang tak sopan? orang buka celana istri saya sendiri kok. Yang tak sopan itu buka celana istri orang. Paham tidak Vera!" ucap Drag dengan nada dingin dan tegas.
Ngeselin banget. Batin Vera menatap nyalang ke arah Drag.
"Sudah Vera, cepat pergi ke kamar mandi," perintah Drag dengan tegas pada istrinya nakalnya itu.
"H." Vera membuang mukanya lalu berjalan menuju kamar mandi dengan penuh keterpaksaan. Gadis nakal itu menekukkan wajahnya di padu wajah cemberut. Drag yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya maklum dengan sikap kekanakan Vera.
Setelah selesai mengambil wudhu, Vera dan Drag pun melaksanakan shalat subuh bersama. Vera yang tak terbiasa shalat hanya mengikuti gerakan Drag dengan sangat malas dan penuh keterpaksaan.
"Cepat mandi, jangan bermalas-malasan! Pagi ini jadwal kelas saya loh," ucap Drag sembari melipat sajadah dan meletakkannya di lemari khusus alat shalat.
"Hm," Vera berdehem malas membuat Drag sangat gemas dengan gadis nakal itu.
"Cepat sana mandi," perintah Drag dengan tegas dan penuh ancaman.
Cerewet banget sih pagi-pagi! Nggak tau apa orang masih mengantuk dan lemas! Batin Vera kesal sembari melirik suaminya dengan tajam.
"Kalau kamu lihatin saya terus, kapan selesainya?" ucap Drag dengan lembut walaupun hati dan pikirannya kesal melihat tingkah laku Vera.
"Iya-iya," nyinyir Vera lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Gadis itu pergi dalam keadaan terpaksa dan mulut yang ngedumel.
Sabar Drag, sabar. Memang sudah resiko kalau menikah dengan gadis nakal dan ke kanak-kanakan. Batin Drag mengelus dadanya dengan nafas yang di buang secara perlahan.
Beberapa menit Vera di kamar mandi, akhirnya gadis itu selesai juga membersihkan dirinya. Kini giliran Drag lah yang membersihkan dirinya.
"Cepat siap-siap, saya tunggu di bawah," ucap Drag sudah berpakaian rapi.
"Ye,,, galak banget sih!" nyinyir Vera memperhatikan Drag yang hendak turun ke bawah.
Tak ingin Drag marah lagi padanya, Vera bergegas menyiapkan semua keperluannya untuk di bawah ke kampus.
"Apalagi ya?" gumamnya pelan mencoba mengingat sesuatu.
"Sepertinya sudah semua deh," ucap nya santai lalu segera menyusul Drag ke lantai dasar.
Di ruang makan terlihat Vera berjalan menuju salah satu kursi. Drag memperhatikan Vera yang terlihat enggan duduk di sampingnya.
"Kenapa duduk di sana? duduk sini," ucap Drag menepuk kursi di samping nya.
Vera yang mendengar perintah suaminya itu tak menanggapi. Dia lebih memilih duduk di kursi paling ujung di meja makan itu. Padahal, semua sarapan pagi ada di dekat Drag.
"Hm." Dehem Drag mulai kesal namun ia masih bisa menahan emosinya. Drag bangkit dari duduk nya lalu berjalan ke arah vera.
Mau apa dia ke sini? ah sudahlah. Mungkin dia mau ke lantai atas untuk mengambil barang yang tertinggal. Batin Vera positif thinking dengan bahu yang di naik turunkan. Dia sangat acuh dengan apa yang akan dilakukan Drag.
Drag semakin mendekat ke arah Vera. pria tampan itu berjalan dengan gaya maskulin nya. Langkahnya tidak terlalu cepat namun masih terlihat gagah dan elegan.
Loh loh, kenapa dia ke sini sih. gerutunya sangat kesal. Vera terus menatap nyalang ke arah Drag yang semakin mendekatinya. Tak lama berjalan, kini Drag sudah berdiri di samping Vera. Vera mendongakkan wajahnya menatap wajah tak berekspresi itu.
Tanpa menunggu lama, Drag menjulurkan tangannya ke punggung dan kaki Vera. Dengan sigap Pria tampan dan atletis itu mengangkat tubuh mungil Vera.
tetap semangat