NovelToon NovelToon
Me And The Credit Queen

Me And The Credit Queen

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:730.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rabiha Adzra

Zaman sekarang mau dijodoh-jodohkan, siapa yang mau?. Bram, sepupu Byakta Aryasatya berusaha menjodohkan sepupunya itu dengan sepupu istrinya. Tahu sendiri keluarga dari sebelah Bella, istri Bram banyak yang alumni pondok pesantren bahkan ada yang memiliki pondok pesantren. Sementara pemahaman Bella sendiri standar saja meskipun dia menutup aurat juga. Byakta menolak tawaran Bram.

Di hari pertama, Byakta masuk kerja karena menggantikan posisi Manajer Keuangan yang resign, dia dikejutkan oleh ruangan divisi keuangan yang ramai bak pasar. Banyak karyawan perempuan sedang sibuk memilih-milih barang.
Zeevana yang punya lapak langsung dipanggil Byakta keruangannya. Gadis itu dilarang buka lapak di dalam kantor. Zeevana sangat kesal dengan Byakta padahal dia tidak mengganggu jam kerja. Byakta saja yang datangnya kepagian. Sejak hari itu Zeevana bersikap tidak bersahabat dengan atasannya itu.
Ternyata Zeevana adalah sepupu Bella. Bella juga akan menjodohkan Zeevana dengan sepupu suaminya.
Akankah Zeevana menerima perjodohan dari sepupunya ?
Impian Zeevana yang ingin memiliki suami yang bisa menjadi imamnya dunia akhirat akankah terwujud ?
Sementara Byakta yang sudah mengetahui dengan siapa dia akan dijodohkan, jadi berpikir ulang untuk mencoba mengenal Zeevana lebih dekat dengan caranya sendiri.

Bagaimana kelanjutan ceritanya...
Yuk lanjut baca aja 😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rabiha Adzra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 34 Thanks My Wife

Keluarga Byakta dan Zeevana sudah berkumpul di rumah Abah Sa'id. Karyawan D'Family Grup dan tak ketinggalan teman sekaligus pelanggan Zeevana pun diundang untuk menghadiri aqiqah jagoan Byakta dan Zeevana.

Abah Sa'id meminta cucunya, Amzari Byakta agar segera aqiqah pada hari ke tujuh kelahirannya.

"Wah, Pak By, Amzari masih kecil saja sudah ganteng begini. Bagaimana kalau besar nanti," puji Bayu, sekretaris Byakta.

"Wajar saja anaknya ganteng gitu. Orang bapaknya saja ganteng," timpal Arie.

Byakta yang sedang menggendong Amzari hanya senyum-senyum saja mendengarkan pujian dari sekretaris dan manajernya itu.

"Ssst, nanti dia bangun," ujar Bram sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir. Setelah dicukur rambutnya tadi, baby Am tertidur dalam gendongan abinya. Wajahnya terlihat damai sekali.

Di tempat yang berbeda, para ibu-ibu dan gadis-gadis berkumpul saling bercengkrama. Mereka pun tak kalah heboh.

"Aku lihat anak kamu tadi lucu banget, Zee," ujar Vera gemas.

"Belum keliatan kali, Mba. Masih tujuh hari juga," timpal Mike.

"Iya, tapi tetap saja gemas tau nggak lihat face-nya cakep begitu," balas Vera tak mau kalah.

"Iya, Zee. Mirip Pak By banget mukanya," tambah Vemy.

"Iyalah, Mba. Orang dia bapaknya," canda Zeevana, yang lain pun jadi ikut tertawa.

"Ayo sambil dimakan snack-nya, ya. Kita nggak ada acara lain selain makan-makan daging aqiqah Amzari," ajak umi Fatimah mendatangi teman-teman Zeevana.

"Iya Umi, terima kasih. Pasti kita makan, kok," ujar Icha tersenyum.

"Yuk, sambil makan ceritanya. Kalian kok malu-malu, sih," ajak Zeevana sambil meledek teman-temannya.

"Kita tuh nggak enak, Zee. Di sana banyak cowok-cowok berjenggot gitu," tunjuk Mike ke arah meja prasmanan yang harus melewati tempat bapak-bapak duduk.

"Ya Allah, Mike. Itu kakak iparku semua," ujar Zeevana.

"Oh, kakak iparmu, Zee," sela Vemy.

"Abah Sa'id pintar mencari menantu, ya?," lanjut Vemy.

Yang lain sontak menoleh ke arah Vemy meminta penjelasan apa maksud dari ucapannya itu.

"Maksudnya, menantu Abah ganteng-ganteng semua," sambung Vemy cekikikan. Zeevana dan yang lain pun ikut tertawa geli.

💞💞💞

Acara aqiqah telah berjalan dengan lancar. Zeevana membaringkan baby Amzari ke dalam box bayi setelah disusui olehnya. Bayi itu tertidur nyenyak di sana. Zeevana menatap terharu, bayi mungil di hadapannya. Sungguh luar biasa karunia Allah. Dia bisa melahirkan penerus keluarga Aryasatya dari rahimnya. Zeevana kini merasa menjadi wanita yang sempurna karena telah menjadi seorang istri dan juga seorang ibu.

Zeevana tersentak kaget ketika Byakta tiba-tiba memeluknya dari belakang. Suaminya itu ikut menatap bayi mungil mereka.

"Mas!," panggil Zeevana.

"Jagoan Mas, ganteng kayak abinya kan?," tanya Byakta sambil menempelkan pipinya ke pipi Zeevana.

"Iya, Mas. Wajahnya nggak ada yang mirip sama aku," jawab Zeevana pelan.

Byakta kemudian membalik badan Zeevana agar menghadap ke arahnya.

"Kamu ibu yang luar biasa, Sayang," puji Byakta. Zeevana hanya tersenyum kecil.

"Semua ibu juga akan seperti itu, Mas," ucap Zeevana kemudian.

"Nggak!. Kamu masih sanggup ke kantor sehari sebelum HPL karena ada rapat. Mas sudah ketar-ketir takut kamu brojol di kantor," jelas Byakta mengingat bagaimana kondisi Zeevana sebelum melahirkan.

"Kata Umi agar lahirannya normal, aku harus banyak bergerak, Mas. Aku takut sekali di operasi," cerita Zeevana tentang alasan dia belum mau mengambil cuti kemarin.

"Terima kasih, Sayang. Kamu sudah menjaga buah cinta kita dan telah berjuang melahirkannya," ucap Byakta.

Dia mengecup kening Zeevana, mata, hidung, ke dua pipinya lalu berakhir di bibir.

"Mas!!. Nanti kebablasan. Aku masih nifas, lho." dorong Zeevana sambil tersenyum geli.

Byakta terkekeh. "Iya, Sayang. Mas tahu, kok."

Byakta menjawil hidung mancung Zeevana. "Mas akan sabar menunggu," bisik Byakta mesra ke telinga Zeevana.

💞💞💞

Satu bulan kemudian.

Usia baby Amzari sudah satu bulan lebih, berat badannya sudah bertambah. Menyusunya juga kuat sekali. Mama mertuanya sangat membantu Zeevana jika dia sedang pergi ke kantor.

"Zee, ini baby Am pup. Kamu masih lama di kamar mandinya?," tanya Dwina.

"Iya, Ma. Ini lagi mandi," jawab Zeevana dari dalam kamar mandi. Dwina pun segera mengganti popok baby Amzari karena cucunya itu sudah risih.

"Cup...cup. Cucu oma, kita jalan keluar ya," ujar Dwina setelah mengganti popok cucunya.

Dwina menggendong cucu kesayangannya itu. Kedua anak Berliany perempuan semua, jadi cucu laki-laki di dalam keluarga mereka memang sangat diharapkan. Makanya Dwina dan suaminya sangat menyayangi baby Am.

Pulang dari bekerja, Byakta segera membersihkan diri agar bisa mencium baby Amzari. Zeevana akan mencak-mencak jika dia belum mandi, tapi sudah berani mencium dan menggendong baby Amzari.

Sikap protective Zeevana ada benarnya juga. Pikir Byakta. Karena dia sudah seharian berada di luar rumah dan berinteraksi dengan orang lain, maka akan sangat rentan bagi bayi untuk terkena penyakit.

Aroma khas bayi menusuk hidung Byakta. Dia sangat menyukai aroma itu. Zeevana sudah lama memandikan baby Amzari sebelum dia pulang.

"Halo, anak Abi," sapa Byakta tersenyum melihat anaknya.

Dia kemudian menciumi pipi chubby baby Amzari yang masih dibaringkan di ranjang.

"Mas, pakai baju dulu," omel Zeevana melihat Byakta sudah berada di dekat baby Am.

"Iya, Sayang," ujar Byakta menurut lalu berdiri tepat di hadapan Zeevana.

Aroma segar dari badannya sehabis mandi menyeruak ke hidung Zeevana. Badan Byakta yang tampak berotot karena rajin berolah raga itu membuat Zeevana tersipu. Apalagi Byakta sedang menatap intens istrinya itu sehingga membuat jantungnya berdebar kencang.

"Mm...mas," gumam Zeevana gugup ketika Byakta melingkarkan tangannya ke pinggang Zeevana.

"Susah sekali sekarang mau memeluk kamu begini," ucap Byakta pelan.

Zeevana melirik baby Amzari yang asik bermain-main sendiri dengan menggerakkan kaki dan tangannya.

"Jadi iri sama baby Am yang selalu dicium dan dipeluk uminya," lanjut Byakta menyurukkan kepalanya ke leher Zeevana.

Sebenarnya Zeevana tidak bermaksud mengabaikan suaminya itu. Mungkin dia sudah kelelahan karena seharian sudah mengasuh Baby Amzari jadi tidak sempat melayani kebutuhan suaminya.

"Mas, nanti malam ya," bisik Zeevana sebelum dia terlena dalam pelukan suaminya itu.

Sayup-sayup adzan maghrib terdengar. Byakta tersenyum kemudian melepaskan pelukannya.

"Mas, mau siap-siap sholat dulu," ujar Byakta melirik baby Amzari.

"Baby Am digendong, Yang. Ini sudah maghrib," lanjut Byakta sambil memakai baju koko dan celana panjang lalu keluar dari kamar.

"Iya, Mas," ujar Zeevana menurut. Dia mengendong baby Am. Sehingga bayi itu merasa aman dalam dekapannya ketika adzan Maghrib berkumandang.

Zeevana teringat dengan ucapan Abahnya kepada Zelva, kakaknya ketika baru memiliki bayi. Ketika waktu Maghrib tiba, anak-anak (khususnya anak bayi) harus segera digendong atau dipangku hingga waktu Maghrib berlalu karena pada saat Maghrib, setan-setan menyebar mencari tempat untuk berlindung.

"Bila malam menjelang, tahanlah anak-anak kalian karena sesungguhnya setan berkeliaran pada saat itu. Bila malam sudah gelap maka lepaskanlah mereka dan tutuplah pintu serta sebutlah nama Allah karena sesungguhnya setan tidak membuka pintu yang tertutup. Ikatlah (tutuplah) tempat-tempat air dan sebutlah nama Allah. Tutuplah bejana-bejana kalian dan sebutlah nama Allah sekalipun dengan meletakkan sesuatu di atasnya dan padamkanlah lampu-lampu (pendiangan api) kalian.” [HR Muslim no 2756]

1
Rahmaniar
suka ceritanya 👍👍
Nurul Badriyah
sy udh berkali2 baca novel ini, ga ada bosennya...critanya ringan tp nyata
Mbak Latif
saya syuka bacanya the real kehidupan sehari**
Eliani Elly
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Eliani Elly
👍👍👍👍
Eliani Elly
baru nyimak
Licha Mas
jadi pingin ikut ngredit kalau selaris itu mbak Zee...
Ismalinda
baguslah
Herlini
good
Adzkhia Sbw
itu Poto profil yg cewek kayak Mualimah aku di pondok
nadya insan
lanjut kak
Yayang Cinta
aq suka ceritany thor, ga berbelit2 sma ga bnyk episode.. tiga kata dri qu I like you
Moelyanach
sukaaa
Moelyanach
itu kyk saya jualan dipbrk, bedanya zeva jualan tas brended nah aku, jualan gorengan dan kopi. 😂😂
Betty
akhir yg bahagia senang nya. 🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏👏👏👏👏👏👏
Betty
srlamat utk byakta dan zeevana yg menjadi org tua baru.
Betty
oooo ........ td.... zeevana
Betty
haha.........
Betty
makin seru + lucu
Betty
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!