Hati Zara Aurora dibuat tak berdaya akan pesona Affan Zayendra. Semua tak akan menjadi masalah andai pria itu bukan putra dari wanita yang diperistri ayahnya.
Wajah yang rupawan serta kebaikan hati yang pria itu miliki membuat hati Zara sulit berpaling, namun siapa yang menyangka diam-diam Affan menyimpan luka yang dalam. Sebuah peristiwa membuat semuanya berubah. Pria penuh kasih itu berubah menjadi sosok tak berperasaan yang bahkan tega menjadikan Zara sebagai budak hasratnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noah Arrayan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Puluh Empat
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Affan tampak begitu geram karena ia mendapati Yuda dan Zara berada di dalam tenda. Sebelumnya Affan bertemu salah satu panitia dan mendapatkan info Zara berada di tenda karena gadis itu telah selesai mengikuti kegiatan.
"Kak Yuda cuma nemenin Zara bang, tadi sama Chelsea juga tapi Chelsea lagi ke toilet sebentar" Jawab Zara takut-takut. Ia menyayangkan kenapa di saat Chelsea tidak ada Affan malah datang. Hal itu pasti akan menimbulkan prasangka di benak kakak tirinya itu.
"Harus banget berduaan di dalam tenda? apalagi kalian berdua ini pacaran, siapapun pasti akan berfikir kalau kalian sedang melakukan sesuatu" Meski marah namun Affan merasa sedikit lega mendapati Zara masih berpakaian utuh begitupun dengan Yuda.
"Seperti yang Zara bilang, tadi kami bertiga dengan Chelsea, baru beberapa menit yang lalu dia pergi ke toilet" Timpal Yuda.
"Tadi Zara terpeleset dan kakinya terkilir" Lanjut Yuda tak ingin prasangka Affan semakin jauh.
"Apa? kenapa bisa?!" Affan mendekat ke arah Zara. Wajahnya terlihat panik.
"Zara nggak sengaja nginjak batuan yang licin. Tapi uda dipijit sama kak Yuda dan uda sedikit lebih baik" Ucap Zara.
"Ceroboh!" Dengus Affan dengan wajah masam. Kekhawatirannya mendadak lenyap mendengar ucapan adiknya yang terkesan memuji Yuda.
"Maaf" Cicit Zara lemah.
"Apa yang Zara alami itu musibah bang, bukan karena Zara ceroboh" Balas Yuda, tak terima Affan menyudutkan kekasihnya.
"Yasudah, aku bawa Zara pulang duluan kalau begitu" tutup Affan tak ingin melanjutkan perdebatan karena diam-diam Affan mengkhawatirkan kondisi Zara.
"Aku boleh ikut pulang bareng Zara nggak?" ucap Chelsea yang baru masuk ke tenda dan mendengar Affan akan mengajak Zara pulang. Zara menatap pada Affan yang tanpa ekspresi, gadis itu berharap Affan akan menolak permintaan Chelsea.
"Chel nggak boleh, nggak enak sama yang lain. Kalo Zara emang kondisinya nggak memungkinkan buat ikut rombongan" ucap Yuda yang membuat Zara merasa lega.
"Tapi aku kan sahabatnya Zara, mereka pasti ngerti kalo aku ikut nemenin Zara pulang duluan kak" Timpal Chelsea yang masih berupaya untuk ikut pulang bersama Zara. Hal itu semakin membuat Zara menaruh curiga pada sahabatnya itu, mengingat obrolan mereka sebelumnya tentang permintaan Chelsea untuk didekatkan dengan Affan. Sepertinya Chelsea benar-benar tertarik pada kakak tirinya.
"Udah Chel ikuti aja aturan, jangan membantah" ucap Zara sambil tersenyum agar Chelsea tak merasa tersinggung dengan penolakan nya.
"Kamu nggak mau aku temenin Za? aku khawatir loh sama kamu" rayu Chelsea dengan wajah memelas.
"Kan ada bang Affan Chel, kamu nggak usah khawatir ya" balas Zara yang membuat Chelsea mencebik.
"Pakaian kamu uda disiapin? kita pulang sekarang kalo semua uda beres" potong Affan yang mulai gerah akan drama yang ia saksikan.
"Uda bang" balas Zara sambil menunjuk koper miliknya.
"Iya uda ayo" Affan meraih koper yang ditunjuk oleh Zara.
"Ayo Zara, kita coba berdiri ya. Kalo kakinya masih sakit kakak gendong aja ke mobil" ucap Yuda yang jelas membuat Affan segera melepaskan koper di tangannya.
"Kamu tolong bawain koper aja, Zara biar aku yang urus" Ucap Affan cepat. Ia memberikan koper Zara pada Yuda sementara pria itu langsung menggendong tubuh adiknya. Hati Zara merasa berbunga-bunga atas perlakuan Affan saat ini. Sementara Yuda hanya bisa menuruti apa yang Affan perintahkan meski raut kecewa gak bisa ia sembunyikan.
"Terus aku gimana?" tanya Chelsea.
"Kamu bareng rombongan aja Chel, pakaian kamu juga belum siap kan?" Balas Yuda yang membuat Chelsea mau tak mau menurut. Ia juga tak bisa memaksa karena Affan juga sama sekali tak merespon dirinya sejak tadi.
🍁🍁🍁
"Bagian mana saja yang dipegang pacar kamu?" tanya Affan ketus ketika mereka telah meninggalkan lokasi perkemahan.
"Maksud abang?" Tanya Zara bingung.
"Nggak usah pura-pura nggak ngerti. Tadi ke tenda kamu digendong sama dia?" Zara menangkap ekspresi kesal di wajah Affan meski mata pria itu fokus menatap jalanan.
"Enggak bang, tadi dibopong aja" jawab Zara apa adanya.
"Ya tetap aja dia nyentuh kamu. Kenapa nggak langsung telfon aku aja sih" gerutu Affan yang membuat Zara mengerutkan keningnya. Ia merasa sikap Affan saat ini begitu konyol, terlihat seperti seorang kekasih yang tengah menahan cemburu. Zara memalingkan wajahnya ke luar jendela sambil mengulum senyum. Namun Zara tak ingin larut dalam khayalan yang nantinya akan membuatnya kecewa.
"Kan abang masih ada kerjaan" jawab Zara lirih.
"Terus yang dipijit bagian mana aja?" tanya Affan lagi. Nada bicara pria itu masih terdengar ketus.
"Cuma pergelangan kaki bang" Jawab gadis itu.
"Yakin cuma pergelangan kaki? nggak sampai naik-naik ke betis atau paha?" Kali ini Affan menghentikan mobilnya dan menatap serius pada Zara. Mendapat tatapan Affan membuat Zara merasa salah tingkah.
"Yakin bang, kak Yuda cuma mijitin pergelangan kaki aja karena bagian itu yang keseleo" ucap Zara berusaha meyakinkan meski ia hampir tak fokus karena tatapan mata Affan yang membuat jantung nya berdegup dengan kacau.
"Bisa aja kan karena terlalu sakit kamu jadi nggak sadar atau malah menikmati sentuhan tangannya" lagi-lagi Zara seperti melihat kecemburuan di wajah pria itu.
"Zara berani sumpah bang, Zara 100 persen yakin kalau kak Yuda nggak nyentuh Zara seperti yang abang bilang" Meski menyenangkan melihat kecemburuan yang Affan tampakkan namun hati Zara sedikit gusar karena kecurigaan Affan padanya.
"Pas bantuin kamu jalan dia pasti pegang pinggang kamu kan? Tangan kamu juga pasti melingkar di lehernya" tatapan Affan semakin tajam. Zara mengangguk pelan, ia tak bisa mengelak karena memang demikian adanya.
"Kamu suka disentuh Yuda?" Zara memejamkan matanya, menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu kemudian menatap sendu pada sang kakak.
"Dalam kondisi Zara yang kesakitan dan sulit berjalan apa menurut abang Zara akan sempat memikirkan hal-hal seperti yang abang tuduhkan?" Lirih Zara.
Affan tiba-tiba menarik Zara dan memeluknya. Pria itu menciumi leher gadis itu sembari mengusap punggung Zara dan bagian-bagian yang kemungkinan telah tersentuh tangan Yuda.
Setelah itu Affan melepaskan dekapannya pada tubuh Zara dan meraih wajah gadis itu dengan kedua tangannya. Zara hanya terpaku menatap Affan dengan raut wajah yang memerah.
"Aku sudah menghapus sentuhan tangan kotor ketua panitia itu. Cukup kali ini saja, lain kali jangan pernah biarkan dia menyentuh kamu sedikitpun" Bisik Affan, setelah nya pria itu menyatukan bibirnya dan Zara, menyesapnya dengan dalam dan penuh perasaan.
"Berjanjilah Zara" Bisik pria itu. Dengan tubuh lemah karena perlakuan tiba-tiba Affan, gadis itu mengangguk patuh.
🍁🍁🍁
Haii...
Dua hari nggak ketemu, pada kangen nggak? 🥰