Panggil saja aku Mentari umur ku yang masih belia di paksa dewasa. Harus menerima masalah begitu berat dalam keluarga. Ibu ku mati bunuh diri tak sanggup menerima ke jahatan yang ayah ku berikan.
Ayah ku menjual ku kepada mami Tiara hanya untuk membahagiakan istri mudanya. Bagaimana kehidupan ku selanjutnya?
Atau aku mati saja ikut bersama ibu ku di surga. Bagaimana nasib adik ku Revalina jika aku mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gupita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbongkar
"Kenapa berhenti, Bu?"
"Kalian berdua liatin Ibu, kaya gitu. 'Kan, Ibu jadi malu," jawabnya jujur. Akhirnya mereka bertiga tertawa bersama-sama.
*****
"Huh! Nyebelin," ucap Jesica sambil membanting paperbag belanjaannya tadi.
"Kenapa, Sayang?" tanya Leo bingung.
"Anak kamu, tuh. Di tempat umum, berani teriak-teriak di depan aku mukaku," keluh Jesica.
"Jangan marah, dong. Memangnya Mentari bisa keluar dari sekapan Mami Tiara."
"Memangnya, anakmu cuma Mentari saja. Revalina mulai membangkang," terangnya.
"Alah, Mama aja yang lebay, Om." Gio sedikit membela Revalina.
"Kenapa kamu membelanya, Gio," sungut Jesica.
"Apa si, Ma. Nggak usah lebay deh." Gio meninggalkan Jesica dan Leo.
Gio menaiki anak tangga dengan kesal, ia masuk ke dalam kamarnya. Ternyata kamar yang ditempati Gio adalah bekas kamar Revalina. Gio sedang mencari sesuatu di nakas. Seingatnya di sana ia menaruh barangnya. Sebelum pergi keluar kota untuk sekolah. Gio tidak menemukan buku yang ia cari melainkan foto Revalina duduk tersenyum sendirian yang ia temukan.
"Cantik," gumamnya.
"Sekolah di mana dia, sekarang? Masa iya, gue suka sama sodara tiri, sendiri," lanjutnya.
Gio menyimpan foto Revalina di dalam dompetnya, agar tidak ketahuan sang mama. Pasti akan heboh jika mengetahuinya itu. Bukan heboh lagi, mungkin dia akan di usir dari rumah jika menjalin hubungan dengan saudara tirinya.
*****
Leona yang bersiap-siap untuk ke kampus hari ini. Karena Leona termasuk orang sulit berteman dengan seseorang. Terkadang Leona sedikit dingin dengan teman sekelasnya hanya Reyhan yang mampu berteman dengan Leona. Tiba-tiba terbersit ide untuk mengajak Mentari pergi ke kampus bersama.
Mentari
Kirim alamat tinggal lo, sekarang.
Leona mengirimkan pesan untuk Mentari cukup lama Mentari membalasnya.
Leona
Jalan xxxx no xxxx, mau ngapain?
Tak lama Leona menelpon Mentari, "Gue mau jemput, lo."
"Oh, ok," jawab Mentari lalu mematikan teleponnya.
Mentari mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi. Tiba-tiba Revalina menyerobot kamar mandinya. Membuat Mentari sedikit kesal lalu menendang pintu kamar mandi.
"Va, 'kan gue duluan! Bukan lo," sungut Mentari.
"Maaf, Kak. Udah kebelet nih!" teriaknya dari dalam kamar mandi.
"Ya Tuhan, Reva. Pagi ini gue ada ujian."
"Lima menit, ya lima menit!" teriaknya lagi.
Akhirnya Mentari keluar dari kamar, ia duduk di meja makan. Ibu Fatimah dari dapur membawa makanan menaruhnya di atas meja. Mentari hanya menopang dagunya menatap Ibu Fatimah.
"Kamu kenapa, Tar? Pagi-pagi udah cemberut aja, memangnya nggak kuliah?"
"Lagi bad mood," jawabnya singkat.
"Membuat kesalahan apa lagi si, Reva?" tanya Ibu Fatimah dengan lembut.
"Kamar mandi di buat semedi, lagi bertapa dia, Bu. Kesel, mana pagi ini mau ujian," terangnya.
"Jangan kaya orang susah, mandi sana di kamar, Ibu," titahnya.
"Emb, Ibu baik, banget." Mentari memeluk Ibu Fatimah.
"Sudah, sana. Jangan drama, nanti telat kamu," tuturnya.
Mentari pun bergegas masuk ke kamar ibu Fatimah. Selesai itu dia mengamati kamarnya yang sederhana. Ada foto ibu Fatimah waktu muda bersama suaminya. Ada perempuan disampingnya ikut mengandeng tangan ibu Fatimah.
Kenapa mirip, Ibu, pikir Mentari.
"Kenapa, Tar?" Tiba-tiba suara ibu Fatimah mengagetkannya.
Hampir saja pigura yang Mentari pegang terjatuh, "Maaf, Bu. Mentari lancang telah menyentuh pigura ini."
"Oh, ku kira kenapa? Itu foto, Ibu bersama suami dan sahabat, Ibu."
"Namanya siapa, Bu?"
"Sinta namanya, dulu kita kenal semasa Ibu kursus jahit, kenal lah dia, Tar. Tapi, kalo dilihat-lihat kamu, mirip sekali sama dia."
Mentari meneteskan air matanya, ia seperti merindukan sang ibu yang sudah berada dalam surga. Ibu Fatimah binggung melihat Mentari menangis, ia langsung memeluknya. Mentari yang dipeluk oleh ibu Fatimah semakin menangis tersedu-sedu.
"Kamu kenapa menangis, Tar?"
"I-ini, i-ibu Mentari," ucapnya tergagap, rasanya sakit sekali mengenang sang ibu.
Sinta pergi dengan cara tak logis menurut Mentari. Jika mengingatnya menjadi trauma terbesar dalam hidupnya. Ibu Fatimah merasakan apa yang Mentari rasakan.
"Apa?" Ibu Fatimah sedikit terkejut lalu ikut menangis.
"Ibu, mengenal ibumu dulu, adalah gadis ceria. Setelah mengenal ayahmu, ibumu berubah menjadi diam, murung. Tak lama itu, ibumu tak ada kabar. Kenapa kamu tidak, pergi ke rumah kakek dan nenekmu, Tar? Malah kabur ke rumah, Ibu."
Mentari sangat terkejut saat mendengar ia mempunyai keluarga.
"Apa? Kakek, nenek?" gumamnya pelan.
"Ibu, nggak bohong 'kan?"
"Loh, jadi selama ini kamu tidak, tahu?"
Bersambung.....
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like,komentar,vote & hadiah.
Stay tune terus ya guys,jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.
Terimakasih atas dukungan kalian.
1 like pun sangat berarti untukku ❤❤❤