Zira Aqilla gadis yang berusia 23 tahun. Apakah sudah mencapai kesuksesan untuk seorang Zira. Tinggal di Ibu Kota tanpa didampingi orangtuanya harus mencoba peruntungannya bekerja sana-sani membuka usaha kecil-kecilan, demi mewujudkan impiannya menjadi wanita karir.
Hidupnya berubah ketika di ujung mencapai kesuksesan mungkin final dari kerja kerasnya selama ini. Tetapi Zira harus menelan pil pahit, memiliki sahabat yang dekat dan membagi kasih sayang belum tentu mengantarkannya ketitik sukses, malah menjerumuskanya kedalam masalah yang besar, demi menutupi sebuah kesalahan yang mengantarkan Zira ketitik kehancuran.
Bertemu dengan CEO perusahaan terbesar di Asia, Addrian Admaja Wijaya, pria yang memiliki ketampanan di atas rata-rata berkulit putih, tinggi ideal, wajah yang begitu arogan dan berkarismatik bersikap dingin, Bertemu dengan Zira karena sebuah kesalahan.
Bagaimana, Zira harus menghadapi masalah yang timbul tanpa di ketahui sebabnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 34 RONI DAN ZIRA
" Puttri lo kelihatan bahagia, bahkan tanpa masalah sedikit pun, gue gak tau apa yang terjadi, di sisi lain Addrian bersikap seakan-akan lo cewek menyedihkan yang harus mendapatkan keadilan, sementara lo di sini baik-baik aja tanpa masalah." Batin Zira yang terus melihat Puttri tertawa bahagia
" Bagaimana Puttri, jika lo tau kalau pacar lo perkosa gue, dan bahkan mengandung anaknya apa lo akan tetap senyum, atau justru lo nggak peduli." Zira terus bergemuruh dihatinya Seakan dia Inging menceritakan semuanya yang terpendam di hatinya.
Saat ini posisi Zira memang begitu menyedihkan dia harus menanggung semua penderitaan yang tidak tau apa sebabnya. Saat ingin mengetahui semuanya sahabatnya yang selama ini kunci permasalahan justru kembali bahkan seperti tanpa dosa, ya memang sih Puttri juga tidak tau apa yang terjadi dan bukan Puttri juga, kan Kayla penyebabnya.
Zira hanya bisa melihat Puttri yang masih tetap tertawa, Tanpa sadar air mata wanita itu jatuh.
Zira tidak ingin teman-temanya melihatnya menangis dan langsung menghapus kasar air matanya.
" Sas, gue duluan ya, soalnya, gue ada janji hari ini." Zira berdiri tiba-tiba seakan tidak nyaman.
" lo kok, cepat amat, kan belum pesan makan." Ucap Aca,
" gue, udah makan sama Tasya tadi." Jawab Zira bohong.
" Ya, kita kan baru ketemu Zir, lo gak kangen apa sama gue, gue masih pengen cerita banyak sama lo, dan lo harus tau kalau.."
" Sorrry, ya gue buru-buru." Zira, memotong pembicaraan Puttri dengan sinis, mengambil tasnya dan langsung pergi.
" Zira, kenapa ya, kok kayak aneh gitu." Batin Saski merasa ada yang tidak beres dengan sahabatnya.
" Zira," Panggil Aca, namun Zira tidak menjawab sama sekali sampai punggung wanita itu tidak terlihat lagi.
Zira, berlari keluar dari Cafe tersebut, merasa batinya tidak kuat harus satu meja dengan kunci permasalahannya. Zira berjalan dipinggir jalan ditengah keramaian kota Jakarta berpikir keras seakan menghitung langkah kakinya, masih tidak percaya dengan pertemuan sahabatnya Puttri.
Wanita itu terus melangkahkan kakinya tanpa tujuan yang jelas menundukkan kepalanya kebawah seperti orang yang mencari uang jatuh di jalan, Tanpa sadar kepala itu berhenti di sebuah dada yang tegap.
Zira yang pandanganya kebawah melihat Sepasang sepatu, Zira mengangkat secara perlahan kepalanya seperti ada orang yang berdiri tegak di depanya, Zira menelusuri seakan menilai sang sosok dari sepatu yang iya pakai sampai ke celana dan perlahan menuju wajahnya.
" Roni." Wanita itu langsung menjauh, saat tau siapa yang menghentikan langkanya.
" Ngapain kamu di sini." Tanya Zira.
" Ini, Jalanan, tempat umum." Desis Roni.
" Lo, sendri ngapain jalan kayak orang linglung gitu." Tanya, Roni.
" Gue- Gue -gue gak tau." Jawab Zira memang bingung tidak tau apa yang harus di lakukanya.
Roni mendengus mendengar pernyataan Zira, yang memang seperti orang linglung.
" gue lapar, lo mau ikut makan nggak." Tawar Roni tiba-tiba membuat Zira sedikit kaget.
" Kenapa, lo pikir gue gak punya duit."
" Nggak, gue gak bilang."
" Lo, mau ikut apa nggak. Buruan ayok." Tanya Roni lagi, Zira masih bingung, tetapi mengikuti Roni yang sudah menyebrang jalan, mereka sampai di warung khas Padang yang ada di pinggir jalan.
Roni, langsung duduk seakan sudah terbiasa Zira masih bingung, dan mengikuti Roni duduk didepannya. Melihat disekelilingnya seakan matanya menelusuri tempat itu. Sampai 2 piring nasi lengkap dengan lauknya terhidang di meja mereka.
" Lo, kenapa, belum sadar dari tadi, lo tenang aja kalau cuma makan di sini gue masih mampu traktir lo." Ucap Roni yang memang melihat Zira kebingungan.
" Gue, gak nyangka aja orang kaya lo bisa makan di tempat kayak gini." Ucap Zira bingung sementara Roni sudah mulai memakan makanannya.
" Maksud lo apaan memang kenapa makan di tempat kaya gini."
" Ya, secara kan, lo itu tinggal di Luar Negri, pastinya hidup lo itu penuh dengan kemewahan, makanan western, dan gue rasa lo gak akan pernah makan, makanan sederhana kayak gini."
" Cih." Roni menyunggingkan senyumnya.
" Zira- Zira, gue dah miskin kali, gue bukan orang kaya, kayak dulu lagi, jadi gue harus tau diri, bisa memposisikan diri gue."
" Sorry, ya Roni bukan maksud gue, mengarah kearah sana."
" Santai aja, lagi pula dulu juga gue sering makan, di tempat kayak gini lebih enak dari pada di Cafe."
" Lo, memang benar."
" Makan dong punya lo, gue dah mau habis tau." Ucap Roni memang Roni makan begitu lahap sampai tinggal separuh, Zira pun tersenyum dan mulai memakan makanannya.
" Gimana, enak nggak." Tanya Roni.
" Enak, ini langganan lo." Tanya Zira sambil mengunyah, Roni hanya mengangguk.
" Lo, mau coba ikan punya gue nggak." Tawar Roni menyodorkan pada Zira, Zira pun spontan mengambil tawaran Roni, dan langsung memakan ikan yang ditangan Roni langsung kemulutnya.
" Gimana, enak." Zira, mengangguk memang makanan yang iya makan begitu enak, belum lagi dia memang tidak belum makan.
" Sorry Zir ada, nasi." Roni spontan tanpa izin Zira mengambil nasi yang di ujung bibir Zira, Zira pun terdiam memang kedekatannya dengan Roni baru saja terjadi hari ini, Zira tersenyum membiarkan tangan Roni mengambil nasi yang ada di ujung bibirnya.
" Ni."
Roni dan Zira melanjutkan makanannya, Ternyata pemandangan yang mereka tampilkan terlihat jelas Di mata Addrian, Addrian yang berada dipinggir jalan di dalam mobilnya, melihat pemandangan keromantisan Zira dan Roni seperti pasangan kekasih.
Addrian mengepalkan tanganya, Melihat Zira yang tertawa seakan begitu nyaman bersama Roni, urat lehernya nya terlihat menahan emosi.
" Shitt,,, Zira-Zira, kamu benar-benar gampangan." Jas Addrian seakan penilaiannya kembali seperti awal menilai Zira yang begitu buruk.
Addrian memukulkan tanganya ke stir mobilnya, merasa kesal seperti dilanda kecemburuan, dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi merasa panas melihat pemandangan yang baru saja di lihatnya.
Addrian kembali kekantornya, Sesampai di ruangan Addrian langsung memukul mejanya dengan kedua tanganya seakan pikirannya masih mengarah pada Zira dan Roni.
Addrian mengambil sesuatu dari lemari di bawah mejanya, ya gelas dan botol anggur Addrian langsung menuang minuman beralkohol itu kegelasnya dan langsung meneguknya, sampai gelas yang di isi separuh itu habis, dia seakan melampiaskan kemarahannya keminuman yang bisa mendinginkan hatinya.
" Thanks, ya Roni lo udah anterin gue." Zira Turun dari motor Roni, dan membuka helmnya dan memberinya pada Roni.
" Biasa, aja, kali, lo juga pernah anterin gue kekampus." Roni mengambil helm dari tangan Zira.
" Iya, sih, berarti soal antar mengantar kita impas, entar kalau ada waktu gue traktir lo."
" Ok, gue tunggu."
" Ok, gue masuk ya."
" Mau, gue tungguin nggak, biar sekalian pulang." Tawar Roni melihat arlojinya memang sudah menunjukkan jam 6 sore, sementara Zira memang harus kekantor Adbver. karena ingin menyerahkan laporan.
" Nggak usah, gue tadi udah suruh Saski jemput, kebetulan juga lagi otw kemari, paling bentar lagi nyampe, gue cuma bentar aja memang, mau ngasih laporan aja." Jelas Zira.
" Ok, kalau gitu gue duluan."
" Ok, thanks ya." Roni melajukan motornya dan Zira pun memasuki perusaan Adbver.
Zira berjalan menaiki lift, keluar dari lift Zira menuju meja Rima yang memang ingin ditemuinya, tetapi meja itu kosong. Zira mencoba melihat di sekelilingnya mencari-cari orang yang ingin ditemuinya tetapi tidak terlihat sama sekali.
" Mbak, lihat Rima nggak." Tanya Zira pada Cleaning servies, yang kebetulan lewat membawa kain pel, memang kantor begitu sepi mungkin para karyawan sudah mulai berpulangnya mengingat sudah sore hari.
" Oh, Bu Rima sudah pulang Bu." Jawabnya.
" Oh, gitu ya, padahal saya mau anterin laporan, tadi soalnya gak sempat." Keluh Zira.
" Langsung Keruangannya pak, Addrian aja bu kayaknya pak Addrian masih di dalam." Ucap sang Cs yang memang melihat bosnya itu belum pernah keluar.
" Oh, gitu ya, makasi ya."
" Iya, Bu saya permisi ya mari Bu."