Betty Thompson, merupakan murid baru di Richlands High School. Ia pindah ke Virginia setelah sebelumnya tinggal di California. Betty terbiasa berpindah-pindah tempat tinggal bersama ibunya.
Betty memiliki kepribadian tertutup, tidak banyak bicara dan menolak terlibat dengan banyak orang.
Di Virginia, Betty bertemu dengan orang-orang tak terduga yang perlahan memasuki hatinya.
Menceritakan romansa diantara Betty Thompson dan Daniel McKnight. Daniel merupakan cowok paling hot di sekolah. Entah sejak kapan ia mulai menyukai Betty , tetangga barunya.
Juga menceritakan lingkaran pertemanan baru Betty dengan Inez Robinson, Laura Roberts, Alicia Brook dan Jared James.
...
"Aku bisa mengurus diriku sendiri." —Betty Thompson.
".... Kau harus berhenti bersikap seolah-olah semuanya baik-baik saja, Beth ...." —Daniel McKnight.
Note: Semoga kalian semua suka dengan ceritanya 😊☺. Terima kasih semua yang sudah mau membaca cerita ini 😊😘
This story inspired from Betty by Taylor Swift.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sin Cera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33: Mengakhiri Taruhan
Ini hari pertama Lucas kembali masuk sekolah, dan kembali mengikuti latihan. Walaupun ia dipindahkan sebagai pemain cadangan, ia tetap harus menghadiri latihan football, yang sejak dulu selalu ia lakukan setengah hati. Hanya karena ayahnya yang merupakan pelatih football, akhirnya ia harus terjun ke dunia football juga.
Lucas sekarang berada di ruang ganti bersama beberapa anggota tim yang lain. Ia segera melepas bajunya dan menggantinya dengan seragam football.
"Kudengar kau dirawat di rumah sakit," ujar Axel sambil mengganti bajunya.
"Ya," jawab Lucas pendek. Ia malas menjelaskan lebih lanjut kepada Axel.
"Apa kau mengalami cedera? Jika benar, karir football-mu bisa berakhir," komentar Axel dengan salah satu sudut bibirnya terangkat.
"Kuharap juga begitu. Sayangnya ... aku tidak mengalami cedera," sahut Lucas sambil tersenyum kecut.
"Oh .... Ya!" Lucas membuka lokernya. Lalu, mengambil uang sepuluh dollar di dompetnya.
Lucas berjalan menghampiri Axel, dan meletakkan uang sepuluh dollar di tangan Axel. Sementara Axel hanya mengangkat satu alisnya, tak mengerti.
"Aku membatalkan taruhan kita," kata Lucas.
Axel mengerutkan keningnya. "Taruhan?"
"Betty Thompson," Lucas mengingatkan.
Axel tersenyum miring. "Ah .... Ya! Gadis itu," kata Axel sambil menganggukkan kepalanya. "Kenapa tiba-tiba, Luke? Padahal kemarin kau sangat bersemangat," komentar Axel.
"Tidak ada alasan," kata Lucas sambil berlalu pergi. Hendak meninggalkan ruang ganti.
"Apa kau malah jadi menyukainya?" tanya Axel. Membuat Lucas menghentikan langkahnya.
"Tidak," jawab Lucas tegas. "Aku hanya berutang budi padanya," batinnya.
Jawaban Lucas membuat senyum menyeringai terbit di bibir Axel. "Kalau kau tidak suka dengannya, bagaimana jika aku saja yang mendekatinya?" tanya Axel sedikit berteriak, karena Lucas sudah berjalan menjauh.
"Terserah kau saja. Aku tidak peduli," komentar Lucas sambil berjalan menuju pintu keluar, dan tidak menoleh sedikit pun ke arah Axel.
....
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Daniel sambil melemparkan botol air mineral kepada Lucas, saat mereka beristirahat sejenak seusai latihan.
Lucas menangkap botol yang dilemparkan Daniel. "Jauh lebih baik dari biasanya."
"Maaf, aku memindahkanmu sebagai pemain cadangan. Karena pertandingan tinggal beberapa hari lagi, dan kau banyak melewatkan latihan sebelumnya karena sakit." Daniel mengambil tempat duduk di samping Lucas. Mereka sekarang sedang duduk di pinggir lapangan.
Lucas menegak air pemberian Daniel. "Aku senang kau memindahkanku ke pemain cadangan. Aku bisa lebih banyak beristirahat," komentar Lucas.
Daniel menatap ke arah lapangan football yang luas. Beberapa anggota tim nampak beristirahat. Ada yang sedang berbincang dan sekedar duduk-duduk. Ada yang sedang merenggangkan tubuh dan lain sebagainya. Di sudut lain lapangan, nampak anggota cheers yang sedang sibuk berlatih. Lalu, di kursi penonton nampak terisi segelintir murid yang sedang menonton orang-orang yang sibuk di lapangan.
"Sejujurnya ... kau pemain yang hebat, Luke."
Lucas menyentuh pundak Daniel. Membuat Daniel mengalihkan atensinya. "Lupakan tentang football dan permainanku," kata Lucas serius.
"Ada apa, Luke? Tidak biasanya kau berbicara seserius ini denganku," komentar Daniel sambil tersenyum kecil.
"Ini tentang Betty."
Perkataan Lucas membuat rahang Daniel mengeras. Seketika ia melayangkan tatapan tajam ke arah Lucas. "Apa lagi yang ingin kau lakukan terhadapnya, Luke? Aku jelas sudah memperingatkanmu," kata Daniel di sela-sela giginya yang terkatup rapat. Ia sudah mencengkram kerah baju Lucas.
"Woah ... santai, Man," komentar Lucas sambil mengangkat kedua tanganya. Lucas melepaskan cengkraman tangan Daniel di bajunya. "Aku hanya ingin mengatakan bahwa, aku sudah membatalkan taruhannya."
Pernyataan Lucas membuat Daniel kembali tenang. Ia mengalihkan pandangannya dari arah Lucas, dan segera menegak air minum dari botol di tangannya. "Baguslah," komentar Daniel sambil menutup kembali botol air mineral.
"Tapi, kurasa kau harus berhati-hati terhadap Axel. Ia bilang, ia ingin mendekati Betty," perkataan Lucas membuat Daniel menolehkan kepalanya kembali ke arah Lucas.
"Kalian ...," geram Daniel tertahan.
"Woah ... kau tidak bisa menyalahkanku. Aku sudah tidak terlibat lagi dalam hal ini. Aku juga tidak menyuruh Axel untuk mendekati Betty," Lucas membela diri sebelum mendapatkan amukkan dari Daniel.
Daniel mengusap wajahnya frustasi. "Bisakah kalian tidak mengganggu Betty? Dia tidak melakukan apapun terhadap kalian!"
"Bukan kalian. Hanya Axel. Ingat! Aku sudah tidak terlibat," koreksi Lucas.
Daniel segera beranjak berdiri. Lucas menahan tangannya. "Kau mau ke mana?" tanya Lucas.
"Memperingatkan Axel." Daniel menepis tangan Lucas.
"Jangan sekarang. Ini masih jam latihan. Kau bisa terkena masalah," komentar Lucas.
Benar apa yang dikatakan Lucas. Daniel kembali duduk.
"Dan juga, Daniel ...."
"Apa?" sahut Daniel langsung.
"Jangan katakan kepada Axel bahwa kau mendapatkan informasi ini dariku." Lucas mengangkat kedua bahunya acuh. "Aku hanya tidak ingin terlibat dengan urusan kalian," komentarnya.
Daniel hanya menganggukkan kepalanya sambil memikirkan apa yang harus ia katakan kepada Axel.
....
Hari sudah sangat sore ketika tim football selesai dengan latihan mereka. Semua anggota tim sudah dibubarkan. Murid-murid berhambur meninggalkan lapangan football. Para anggota cheers sudah selesai latihan sejak tadi. Para pelatih pun sudah tak terlihat lagi di lapangan.
Daniel segera menghampiri Axel yang hendak menghampiri bagunan sekolah. "Axel," katanya sambil menyentuh pundak Axel.
"Ada apa, Daniel?" tanya Axel santai.
"Aku perlu bicara denganmu."
Axel mengangkat alisnya dengan tatapan bertanya. "Apa ini suatu hal yang serius?"
Daniel menganggukkan kepalanya mantap. "Sangat serius, dan sangat penting, Axel. Sebentar saja," kata Daniel sambil membawa Axel ke pinggir lapangan yang sudah tak lagi terlihat orang-orang di sekitarnya.
Axel hanya mengangkat bahunya dan segera berjalan mengikuti Daniel.
"Apa yang ingin kau katakan, hingga membawaku ke tempat sepi seperti ini," komentar Axel sambil mengedarkan pandangannya kesekitar.
"Well, sebenarnya aku hanya ingin mengatakan bahwa kau harus mengurungkan niatmu untuk mendekati Betty Thompson," kata Daniel langsung dan menatap ke arah Axel penuh peringatan.
Hal itu membuat Axel malah menyungingkan senyum miringnya. "Beritanya cepat sekali ya, tersebar."
"Aku serius, Axel," kata Daniel penuh penekanan.
Axel terkekeh. "Aku bahkan belum melakukan apapun, Daniel. Kau terlalu paranoid. Apa kau menyukai gadis itu?"
"Bukan urusanmu! Yang jelas kau harus menjauhinya!"
"Kalian tidak berkencan bukan? Jadi, seharusnya aku sah-sah saja jika ingin mendekatinya," komentar Axel membuat Daniel membuang nafas jengkel.
"Aku serius, Axel. Jika kau tidak ingin babak belur. Jangan coba-coba mendekati Betty," Daniel kembali mengancam. Kali ini ia tak menunggu jawaban Axel. Ia segera beranjak pergi meninggalkan Axel.
"Jika kau mengancamku seperti itu, aku malah semakin ingin mendekatinya," teriak Axel sambil menyeringai. Ia lalu berjalan mengikuti Daniel yang sudah berderap ke arah gedung sekolah lebih dulu, jauh di depannya.
"Sialan, Axel!" rutuk Daniel dalam hati karena kesal.