sebagian dari kisah ini terinspirasi dari kejadian nyata..
Armala Anggun, ingin menguji takdir, sejauh mana takdir mempermainkan kehidupan cintanya.
Menikah dengan seseorang yang bahkan dia tidak tau namanya, apalagi rupanya. tapi dia berusaha menerima laki-laki asing itu sebagai suaminya.
Jemicko Putra Nawar, dan Gama Maziantara Gundala, sama-sama memendam perasaan
kepada Mala. keduanya terus berusaha mendekati Mala.
diantara mereka, siapakah suami Mala yang sebenarnya?
Follow
Ig ➡️ makee949
fb ➡️ Si (Mak Ee)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mak Ee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 31.
Dewi sedang mencari-cari buku di lantai dua. dia cekikikan sendiri saat membayangkan Gama dan Mala. apakah Gama akan mengungkapkan perasaannya pada Mala? kira-kira, Mala menerimanya tidak ya?? ia berharap mereka bisa bahagia bersama. Gama adalah pria yang baik. jadi Mala tidak mungkin menolaknya kan?
Dewi mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. jauh disana, dia seperti melihat seseorang yang ia kenal. ia menyipitkan matanya agar bisa dengan jelas melihat orang itu. senyumnya langsung mengembang, itu benar orang yang dia kenal. dengan segera Dewi menghampirinya.
"mas Micko?!" panggil Dewi pelan dan ragu dari arah belakang Micko. dia masih ingin memastikan apakah itu benar Micko atau bukan.
Micko menoleh kearah datangnya suara. dia melihat Dewi yang sedang tersenyum ramah.
"benar mas Micko rupanya. sedang apa disini mas?"
"oh,, Dewi. sedang mencari buku. kau juga sedang mencari buku?"
"iya mas. sudah dapat bukunya?"
"belum, sulit sekali menemukannya."
hati Dewi sedang berbunga-bunga. jarang sekali kesempatan seperti ini datang. apakah ini yang namanya takdir? secara tiba-tiba bertemu dengan orang yang ia suka secara kebetulan. perasaan bahagia yang luar biasa. ternyata takdir itu rasanya semanis ini ya..? membuat hati berdebar-debar. batin Dewi.
"kamu sudah dapat bukunya?"
"belum juga mas. bagaimana kalau kita mencarinya bersama." Dewi menawarkan idenya. itu akan menjadi sebuah kesempatan yang bagus untuk mereka berdua.
"boleh.." ucap Micko acuh, ia terus mencari-cari buku di deretan rak-rak yang ada diruangan itu.
"sudah lama aku tidak bertemu dengan mas Micko. sejak mas Micko pindah kos. mas Micko pindah kemana sih?"
"tidak pindah Wi, aku sekarang menempati rumahku." jelas Micko.
"ooo.. kapan-kapan aku boleh dong ya mampir ke rumah mas Micko?"
Micko sontak menghentikan langkahnya, dan menatap kearah Dewi. dia ingin mengatakan 'tidak boleh' pada Dewi, lalu selanjutnya apa? lagipula kata-kata itu terdengar sangat tidak sopan. walau diucapkan dengan nada bercanda sekalipun.
"boleh,," akhirnya itu yang diucapkan Micko. Dewi tidak mungkin benar-benar datang kan?
"makaaih ya mas. mas Micko sendirian kesini?"
"iya, kamu juga sendiri?"
"tidak mas. aku bersama Mala dan Gama. mereka sedang ada dilantai bawah." jelas Dewi. ia tidak menyadari, jawabannya membuat Micko merasa resah.
"Gama? sedang apa dia bersama Mala?" Micko mulai menyelidik.
"entahlah mas. aku kurang tau." Dewi bisa saja menceritakan kejadian yang sebenarnya, tapi ia tak suka ikut campur urusan orang. lagipula, menurutnya bercerita tentang Mala dan Gama tidak ada hubungannya dengan Micko.
Micko buru-buru meletakkan buku yang baru dia pegang tadi ketempatnya semula. kakinya sudah melangkah hendak menemui Mala dan Gama di lantai bawah. bisa-bisanya istrinya itu menemui pria lain selain dirinya? membayangkan hal itu membuat Micko geram. dia mengepalkan tangannya kuat-kuat. tapi langkahnya terhenti karna Dewi menghentikannya.
"mas Micko mau kemana?"
"mau ke lantai bawah, sepertinya tidak ada buku yang ku cari disini." Micko beralasan.
"mas Micko, sebelumnya ada yang ingin kusampaikan padamu mas."
"nanti saja ya Wi," tolak Micko. ia ingin segera menemui Mala. saat itu juga.!
"aku menyukaimu, mas." kata Dewi tiba-tiba. membuat Micko terhenyak dan tak mampu melanjutkan langkahnya. ia membalikkan badannya dan menatap Dewi yang sedang memejamkan matanya dengan erat.
"barusan kau bilang apa?" Micko ingin memastikan apa yang baru ia dengar tadi. mendengar pertanyaan itu, perlahan Dewi membuka matanya.
pada dasarnya Micko tau tentang perasaan Dewi, tapi ia tidak menyangka kalau Dewi bisa seberani itu mengungkapkan perasannya. ditempat umum lagi.
"aku menyukaimu. aku sudah menyukaimu sejak lama mas. aku juga selalu melihatmu."
"dewi,, kau tidak seharusnya mengatakan itu."
"kenapa tidak boleh? tidak ada yang melarang kan? setauku mas Micko juga tidak punya kekasih. jadi apa salahnya kalau aku jujur tentang perasaan ku?"
Micko terdiam, tidak bisa menjawab semua pertanyaan Dewi. ya, jatuh cinta memang bukan kesalahan. dan mencintai juga bukan kejahatan. akan beda kasusnya kalau Micko dan Mala bukan pasangan suami istri. tapi mereka sudah terikat dengan pernikahan. dan itu membuat perasaan Dewi menjadi sebuah kesalahan.
"Wi, maafkan aku, kita jangan bahas ini sekarang ya. aku harus segera pergi."
"kenapa mas Micko selalu menghindar?" Dewi memaksa Micko untuk mendengarkannya.
"Wi,, tolong jangan seperti ini."
"mas Micko tidak bisa pura-pura tidak tau perasaanku. jangan membuatku malu mas. aku sudah terlanjur mengatakannya padamu." wajah Dewi berubah kemerahan. air matanya sudah menggenang diujung mata, siap tumpah.
Micko yang menyadari hal itu jadi tidak tega. dan berusaha menenangkan Dewi.
"ayo kita kebawah, aku akan menjelaskan semuanya. alasan kenapa aku tidak bisa menerima perasaanmu." Micko menjelaskan dengan suara pelan.
dia sengaja mungkin ngawal kamu tuh makanya ngikutin trus balik lg 🤣