Namanya Sinta Anjani, janda satu anak yang mempunyai ambisi untuk mencari suami dan ayah baru untuk anaknya, James. Kegagalan rumah tangga disebabkan oleh mantan suami yang dengan tega menyelingkuhi dirinya bahkan ketika janda itu dalam keadaan hamil. Tentu saja banyak rintangan dalam masa pencarian jodohnya, beberapa konflik keluarga bahkan sahabat baru dalam hidupnya menjadi kendala besar bagi janda itu. Akankah Sinta melabuhkan lagi cintanya? atau dia memutuskan untuk hidup tanpa ikatan pernikahan dan memilih menjadi seorang janda seumur hidup? entahlah kita ikuti saja takdir sang kuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Nurlaeli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMBALI KE JOGJA
"Mbak?"
"Iya Bu Sinta?"
"Besok aku akan pergi ke Jogja, Mbak ikut ya!"
"Memangnya Bu Sinta ada acara apa ya?"
"Bukan apa-apa, aku sudah mengambil cuti dan kita bisa jalan-jalan sebentar."
"Baik Bu," Sinta dan Siti sedang menyiapkan sarapan, selepas kepergian Farah janda itu langsung mengajak Siti untuk masuk kedalam rumah.
"Kalau begitu, nanti malam tolong siapkan keperluan James ya Mbak!"
"Pasti Bu."
Setelah percakapan itu Sinta menuju ruang makan bersama tangan kanannya membawa sepiring nasi goreng, menu sarapan andalan janda itu.
James sendiri sedang asik terlelap setelah mandi dan menyusu, dengan rasa nikmat Sinta melahap sampai tuntas sarapannya.
******
Mata perempuan itu berkobar api cemburu, langkahnya tergesa-gesa menghampiri Doni. Sedangkan yang dituju tidak menyadari kedatangan Farah karena terlalu fokus pada ponsel yang berada di tangannya.
Byur
Kemeja Doni basah kuyup akibat guyuran segelas air putih yang disebabkan oleh Farah, perempuan itu mengambil gelas bekas orang yang kebetulan sudah pergi. Doni langsung berdiri dan mundur dua langkah yang menyebabkan kursi berderit nyaring.
"Farah!" gemerutuk gigi Doni dapat Farah dengar, laki-laki itu tersulut emosi. kedua tangannya saling mengepal.
"Apa!"
"Berani kamu!"
"Kamu fikir aku tidak berani?" Farah memicing, menyingkirkan anak rambut yang mengganggu aktifitasnya.
"Aku ini boss kamu Farah!" sesaat perempuan itu terdiam sebelum menarik mantan pacarnya untuk keluar dari restoran karena risih dengan tatapan orang disana.
Sret
Farah melepas lengan Doni ketika sudah sampai diparkiran, sang laki-laki masih dengan ekspresi yang sama.
"Kamu sudah lupa, apa yang aku katakan?"
"Kamu keterlaluan Farah!"
"Aku?" perempuan itu memutari tubuh tegap Doni, matanya terus menatap tajam orang didepannya.
"Aku yakin istri keriput kamu itu pasti akan marah besar melihat kelakuan kamu."
"Itu bukan urusan kamu."
"Begitukah? Aku tidak menyangka jika pesona janda itu begitu memikat kamu."
"Sudah aku katakan itu bukan urusan kamu!"
"Aku bisa saja membocorkan kelakuan kamu kepada istri tuamu itu, tapi sayangnya aku tidak begitu mempunyai bukti yang kuat."
"Kamu pikir kamu bisa?" Doni meremehkan perempuan yang sekarang menjadi sangat dia benci itu.
"Aku datang kembali saja, kamu masih mau menerimaku. Sekarang aku akui kamu memang sudah bergelimang harta Doni. Tapi ingat! kamu bukan siapa-siapa tanpa perempuan biadab itu."
"Jaga ucapan kamu Farah! Langsung pada intinya saja, apa mau kamu?"
"Aku mau kita kembali bersama seperti dulu, jauhi Sinta!"
"Kenapa? Aku bahkan tidak memiliki hubungan apapun dengan Sinta. Kalau kamu memang mau merebut aku kenapa tidak kamu singkirkan saja istriku?"
"Mana mungkin aku menyingkirkan sumber uang kamu, memangnya aku ini bodoh."
"Cepat atau lambat, aku pasti akan melihat kekalahan kamu."
"Jangan mimpi!"
"Aku beri kesempatan lagi Doni, jauhi Sinta dan harta kamu ini aman lalu kembali bersamaku. Atau semua kelakuan busuk kamu akan aku beberkan kepada bu Doni dan kamu pasti tahu persis apa yang akan terjadi bukan?"
Doni terpaku mendengar ancaman Farah, laki-laki itu tidak mungkin melepas usahanya sejauh ini. Ditatapnya Farah lebih dalam dan menggeram frustasi.
"Aku sangat menantikan keputusan kamu, tapi ku dengar sendiri kalau Sinta tidak tertarik dengan boss nya. Aku harap kamu cukup cerdas mengambil jalan keluarnya."
Brak
Setelah perempuan itu berlalu Doni memasuki mobilnya, membanting dengan keras hingga beberapa orang yang berada disana cukup terkaget.
"Bisa-bisanya aku pernah mencintai perempuan seperti Farah, bahkan kemarin aku sempat terbuai dengan rayuannya."
Doni terus memaki dirinya sendiri, tetap berada didalam mobil tanpa minat melajukannya.
*****
Tiga manusia berbeda usia itu tengah dalam perjalanan, Sinta menyetir dengan tenang. Siti yang duduk di kursi belakang tertidur bersama James dalam pangkuannya. Mereka sudah menempuh perjalanan itu selama satu jam, sebelumnya Sinta sudah mencoba menelfon Bram lagi. Tetapi ponselnya masih tidak aktif, janda itu cukup merasakan deguban yang begitu kencang. Sebentar lagi dia akan kembali melihat Bram, laki-laki yang sudah sekian kali dia tolak.
-------
"Mbak tunggu saja didalam mobil!"
"Baik Bu."
Perjalanan panjang itu akhirnya selesai juga, kini Sinta telah sampai didepan rumah Bram. Tubuhnya dia angkat untuk keluar dari mobil dan melangkah pelan, rumah besar itu tampak sepi. Bahkan mobil-mobil yang biasa terparkir banyak disana kini tidak ada satupun. Sinta terus membawa langkah kakinya hingga dia berdiri tepat didepan pintu.
Tok tok tok
Satu ketukan tidak mendapat respon, Sinta ulangi hingga ketiga kalinya namun tetap tidak ada jawaban.
"Nyuwon sewu?" satu perempuan parubaya muncul dibelakang Sinta sambil menenteng belanjaan.
"Mbak siapa ya?" asisten rumah tangga itu bertanya kepada Sinta dengan sopan.
"Aku mencari Bram, orangnya ada,kan?
"Maaf Mbak, mas Bram sudah tiga minggu belum pulang kerumah."
Sinta kembali mengingat bahwa Bram memang berada di Bandung antara dua hingga tiga minggu sampai sekarang, perempuan itu merasa cemas berlebih.
"Apa Mbak tidak mendengar kabar dari orang tua Bram?"
"Saya hanya mendapat perintah untuk mengurus rumah ini selama mas Bram belum kembali."
"Kalau begitu terimakasih Mbak, aku permisi dulu."
"Iya Mbak, sama-sama."
Brak
Sinta telah masuk kedalam mobil dan menutup pintu, matanya menerawang kemana dia harus mencari laki-laki itu.
"Ibu kenapa?"
Sinta menoleh kebelakang menatap Siti sekilas, matanya entah sudah sedari kapan meneteskan air.
"Bram belum pulang sampai sekarang Mbak."
"Kok bisa Bu?"
"Pembantu dirumah itu juga tidak tahu."
Sinta menyalakan mesin mobil itu dan menuju suatu tempat, mungkin itu bisa membantu dirinya menemukan info tentang Bram. Meski dia sendiri tidak yakin, tetapi itu satu-satunya jalan yang ada di pikirannya sekarang.
Tuuut tuuut
Ponselnya terus bekerja menelfon Natasya, tujuan Sinta adalah bertemu gadis itu. Beberapa panggilan tidak terjawab, dia mengambil arah menuju kantor gadis itu bekerja. Mungkin berbasa-basi dengan Natasya bisa membuat gadis itu bercerita tentang Bram, tanpa Sinta yang harus bertanya sekalipun pasti jika Natasya mengetahui tentang keberadaan Bram maka gadis itu akan bercerita.
Dua puluh menit berlalu dan Sinta sudah sampai didepan kantor Natasya, seperti tadi Sinta meminta Siti untuk tetap menunggu didalam mobil. Dia mulai berjalan masuk dan menanyakan Natasya kepada pegawai disana, setelah diberitahu ruangan gadis itu Sinta melangkah kesana. Matanya meneliti setiap inci perusahaan yang bergerak di bidang fotografi itu, belum juga Sinta sampai ditempat yang dia tuju netranya sudah menemukan sosok Natasya terlebih dahulu. Gadis itu sedang bercengkrama dengan seseorang yang tidak begitu asing bagi Sinta. Meskipun laki-laki itu membelakangi Sinta namun dia hafal dengan punggung dan rambut itu. Natasya tampak tersenyum malu-malu dan pipi kirinya dicubit mesra oleh si laki-laki.
Tidak punya harga diri rupanya
Lanjut lagi
Mau lanjut baca nih
Maaf tekat
Lama ya, kita nggak berjumpa.wkwkwk
Btwe sekarang author sudah ada kerjaan lain. Alhamdulillah.
Aku datang membawa info tentang cuan. Hehe.
Apakah di sini ada yang mau menjajal platfrom lain? Kebetulan saya salah satu Editor Akuisisi di sana. Maaf sebelumnya, saya sengaja tulis ini di kolom komentar. Takutnya kalau lewat pengumuman menyinggung pemilik rumah. Buat kalian yang mau dapat fee hingga 400 dollar. Boleh whatsapp ke saya 081413030520.. untuk info lain saya jelaskan di wa ya teman-teman. Terima kasih.
apa dibiarkan menggantung..
up trus Thor sukak banget sma karyamu lope lope
semangat terus jangan sampai DOWN
Contohnya dilapak aku banyak siders yang baca perhari tapi kamu lihatkan yang komen hanya itu2 saja, like cuma seberapa? Tapi itu tak apa? Yang penting Aku sudah memberikan yang terbaik untuk mereka kalau masalah like dan komen itu Bonus bwat aku yang penting mereka BACA.
Sebenarnya aku nulis ini desakkan dari temen2 sesama author padahal aku sibuk banget kerja.Ini aku juga nulis di sela-sela waktu santai kalau gak ada kerjaan.Makanya saat ada yang minta bwat crazy Up itu tidak mungkin terjadi...??!
Semangat jangan sampai menyerah begitu mudah 🤗🤗🤗
main main ke karyaku ya mkasih